Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Keseruan berkumpul bersama


Aku dan Netta sebagai tuan rumah ingin memberikan yang terbaik untuk keluarga kami pada saat menginap di rumah, jarang banget keluarga bisa diajak menginap bermalam, apa lagi mami, ia tipe orang susah mau menginap di tempat orang, tidak bisa tidur katanya, tetapi saat di rumah kami ia tertidur lelap saat menjelang pagi.


“Tulang, kalau mandi dan ganti baju ada pakaianku,” ujar ku .


“Boleh bere, uda gerah ini.” Tulang  meminjam pakaianku dan ibu-ibu pakaian Netta.


Untuk keperluan lainya  mall juga dekat.


Setelah berkumpul di rumah kami dan tulang memberi kami makan, berkatnya terasa bangat, karena kebersamaan keluarga yang  begitu kompak, saling bercanda bercengkrama . Tidak ada yang pertengkaran, apa lagi saat lae Rudi datang, ada saja  ide yang ia pikirkan untuk menghibur keluarga.


“Bapa uda jangan pulang, kita bakar-bakar ikan , bikin naniura aku sudah pesan,” ujarnya siang itu, saat tulang dari Bandung ingin pulang.


“Bah hape naing mulak iba.”


(Wah padahal, sudah mau pulang ini) ujar tulang dari Bandung.


“Kita bikin nanihopingan  dan itak gugur , Bapa uda,” sambung Netta.


“Toho. Do boru, baenonnmu!?”


(Betul kamu mau bikin Nak!?) Tanya tulang bersemangat.


Ia duduk kembali, padahal  sudah sempat mau pakai sepatunya ingin pulang ke Bandung, natulang kami atau istrinya sampai merepet karena tulang batal pulang.


“Ai nabohado on! Mulak inna nakking!”


(Bagaimana sih katanya mau pulang!)1 ujar natulang  mengoceh.


“Nantinya saja inang nguda pulangnya, masih macet jam sekarang pulang ke Bandung,” bujuk lae Rudi. Netta ikutan membujuk dan berhasil.


Berkumpul bersama keluarga itu sangat berharga, itulah yang pikirkan Netta, selama ini tulang kami  itu jarang ikut berkumpul  sama keluarga karena  sibuk.


Tidak ada selama ini yang bisa membujuk tulang untuk menginap di rumah keluarga karena kesibukannya. Tetapi saat Netta yang membujuknya dengan  itak gugur dan nanihopingan, ia langsung mau.


Nanihopingan itu makanan  khas kampung Netta. Aku tidak tahu di kampung lain, waktu kami  pulang makanan itu di sajikan juga.


Nanihopingan itu dari beras di tumbuk diayat hingga menjadi tepung beras. Tepung beras itu di campur dengan pisang dan kunyit lalu ditumpuk. Itulah nanihopingan kalau yang tidak biasa akan merasa aneh karena tidak dimasak dan warnanya juga kuning.


Sementara pohul-pohul, tepung beras yang sudah halus di di cetak pakai genggaman tangan, lalu di kukus, itulah di sebut pohul-pohul, makanan ala kampung dari Samosir, itu mampu menjerat hati tulang kami yang super sibuk.


Mendengar keluarga masih berkumpul di rumah kami,  kelurga yang dari Jakarta pada datang, jadilah rumah kami ramai seperti ada hajatan.


“Tapi, harus kau yang bikin sendiri ya Boru … persis  seperti yang di bikin Inong yang di kampung,” ujar bapa uda.


“Siap bapa uda, hu duda pe sandiri pe taho asa pas rasanya”


(Siap bapa uda aku tumpuk sendiri pun biar pas rasanya) ujar Netta


Apa kalian tahu? Dari semua  tulangku dan tanteku yang datang. Semua Bertanya sama Netta, dari sini aku sadar, umur hanyalah angka.


Bahkan mami dan tante Ros yang sudah suhu harus bertanya sama Netta juga.


“Mama paima ini diapain tahe?” Tanya tante Ros.


“Oo … holan mangallang do diboto ho Ros.”


(Oo … hanya makannya kamu tahu Ros) ujar  mami


“Emang … kakak tahu?”


“Tahulah."


Pas giliran di suruh membungkus lappet, tetap saja Netta yang di panggil.


“Ehe … lupa aku  bagaimana tahe Mama Paima?”


Mami diteriaki sama  tante dan kaka Eva.


“Mami sotoy … sok tau coy!“


“Karena, uda lupanya,” ujar mami membela diri .


Para wanita dapat giliran bikin lappet, nanihopingan,  pohul - pohul,  itak gugur.


Para bapak - bapak bakar ayam, ikan, bakar lemang, baru kali ini, aku merasakan  indahnya  bersama keluarga, tertawa bercanda itu yang terdengar dari rumah kami.


Baru kali ini  juga aku ikut bakar lemang samapi mata timusson atau kena asap.


Saat sedang asik kipas-kipas arang, api yang bakar ikan, papi duduk di sampingku.


“Percaya gak Bang, kalau kamu dan Netta akan dipenuhi berkat,” ujar papi.


“Memang kenapa, Pi?”


“Karena banyak tamu tak diundang datang ke rumahmu.”


“Ya, kata orang-orang dulu, tamu yang datang ke rumahmu, orang yang membawa berkat untuk yang punya rumah, apa lagi kalau sudah di jamu makan.”


“Jadi apa yang dilakukan Netta ….”


“Ya, papi sangat bangga  sama Netta, karena  tahu betul bagaimana  menjalankan adat Batak.


Beruntung kamu Mang menikah dengan Netta, dia akan menuntun kamu, Eva, Arnita untuk tahu adat, makannya Mang, kamu harus kuat apapun yang dikatakan orang padamu jangan down,” ujar papi.


“Ya Pi.”


*


Makanan semuanya sudah tersaji dan makan sepuas-puasnya, tetapi ada yang sedikit  menimbulkan pertanyaan yang membayar semua makanan  itu lae Rudi.  Bukan karena apa … saat aku ingin membayarnya dia  menolak, aku merasa tidak enak, aku mampu dan tulang dan tante, mamak tua, Arnita.


Semua orang-orang mampu yang rezekinya lebih dari cukup boleh di bilang orang kaya. Tetapi kenapa harus lae Rudi yang traktir semuanya ? ternyata  ….


"Terimakasih lah boru karena sudah kasih kita makan enak,” ujar Tulang.


“Sebenarnya ito Rudi yang traktir bapa uda"ujar Netta.


“Wah … dalam rangka apa ini?”


“Hanya ingin makan bersama saja bapa uda," balas lae Rudi.


"Kita ganti saja uangnya,"bisik ku sama Netta.


“Biarkan saja Bang,” ujar Netta.


“Dek, ini rumah kita.”


“Dia ulang tahun, dia yang memaksaku tadi.”


“OO ….!” Aku akhirnya paham.


“Bah …  dalam rencana mangoli?” tanya tante lagi.


“Hanya ingin makan bersama saja,Bou."


“Ulang tahun sebenarnya lae Rudi,” ucapku.


“Oh … selamat ulang tahunlah bapa, itokku,” ujar tante Ros memeluk lae, tetapi ia menangis.


“Setiap kali aku melihat si Rudi, aku akan ingat ito, almarhum bapaknya,” ujar tante.


Karena wajah laeku mirip sama almarhum tulang, karena ulang tahun lae, tiba-tiba jadi acara formal mandok hata, atau mengatakan sepatah dua kata untuk kami dan lae Rudi.


“Jangan nangis kamu Ros,” ujar papi, kita lagi acara   bahagia  ini.


“Aku hanya  menangis bahagianya  Bang, aku berharap  itoku yang baik itu jadi pendoa untuk keluarga kita semua,” ujar tante Ros.


“Amin semoga.”


Semua keluarga memuji kebaikan Netta dan  bagaimana ia dan laeku, bisa membuat keluarga berkumpul.


Bersambung ….


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA.


Bantu share ya Kakak.


Fb Pribadi: Betaria sona Nainggolan


FB Menulis; Nata


Ig. Sonat.ha


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH


Baca juga  karyaku yang lain


-Aresya(TERBARU)


-The Cured King(TERBARU)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (Tamat)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


Bintang kecil untuk Faila (tamat)