Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
RIP Aldo


Kami masih  berdiri melihat Netta yang begitu terpukul karena kehilangan sahabatnya.


“Ta, tidak ada  lagi yang marahin kita berdua kalau  kita lupa absen, tidak ada lagi yang  mengajari kita berdua,” ujar dokter Dilla, memeluk Netta.


“Aku memintanya menunggu tadi”



Visual dr. Aldo Situmorang.


“Dia mencarimu tadi Ta sebelum dia tutup mata, dia mencarimu.” Dilla semakin memeluk tubuh Netta, tetapi  untuk calon pengantinya.


Dilla kakak perempuan Aldo, sekaligus senior Netta, Netta sama dokter Dilla seperti kakak adik,  bahkan si milon,  Dilla kakak yang memberinya  untuk Netta, aku bisa merasakan kesedihan Netta.


“Dia siapanya?” Tanya ibu-ibu di depan kami pada anaknya yang juga seorang dokter.


“Dia sahabatnya dari kecil Ma, satu kampungnya mereka berjuang bersama  hingga bisa jadi dokter” jawabnya lagi.


“Dekat bangat sama kaka juga”


“Dia, sudah seperti adik untuk dr. Dilla,” ujarnya lagi.


Itu cukup menjawab pertanyaan yang ingin ditanyakan mami padaku, dari saat Netta datang, mami sudah  melihatku dengan gelisah , tetapi hanya aku almarhum yang paham  tentang rasa yang dimiliki keduanya. Netta mengangap Aldo sahabat terbaiknya.


Melihat wajahnya yang pucat, aku sudah sempat khawatir kalau  ia akan pingsan atau  menangis kencang.


Saat semua keluarga dan teman-temannya menangis  kencang, tetapi Netta masih bisa mengendalikan dirinya,  ia menjaga perasaan calon istri Aldo dan menjaga perasaan kami yang ada  di sana, ia meremas kepalannnya tangannya dengan kuat.


‘Terimakasih Hasian karena kamu tidak menangis histeris, terimakasih karena kamu kuat’ ucapku dalam hati.



Foto BY copas


Netta masih menangis  disamping peti, ia memeluk dokter Dilla yang terus  menangis hiteris.


“Pak Paima,  bujuk Netta dia sudah pucat bangat,” ujar mami.


“Biarkan Mi, biarkan dia puaskan dulu,”jawabku.


                             *


Haari semakin siang dan jenazah akan diantar ke kampung,


Bapak yang tadi,  maju lagi ke depan.


“Mamereng waktu hita, nungga boi ra ditutup peti naon, di pasahat ma tu panguni huria”


(Melihat waktu, kita sudahhin saja, kita akan tutup petinya, kita serahkan ke pemuka agama) ujar oppung itu lagi.


Mendengar peti akan ditutup calon istrinya menangis histeris, begitu juga dengan semua teman dan keluarga. Karena ini akan terahir mereka melihatnya di dunia, kontrak hidup yang di berikan Sang Pencipta di dunia sudah habis,  Tuhan memanggilnya kembali dengan caranya yang penuh misteri


Tetapi,  satu hal yang pasti semua manusia akan mati, hanya cara memanggil dan  tempatnya yang berbeda-beda, tidak lama kemudian dari pihak Gereja dan diberangkatkan dengan doa


Lagu Kidung berkumandang sebelum mentup peti dari BE 353


Lirik.


Di Surgo do hasonangan I


(Di surga aman dan tenang)


Inganan na dumengganni


(Tempat yang paling Indah)


Dst ….


Mendengar lagu pujian yang biasa dinyanyikan saat berduka, bulu kudukku merinding, tiba-tiba aku melihat tubuh Netta bergetar, aku  ingat setiap kali Netta  mendengar lagu itu, tubuhnya akan bereaksi. Lagu dari buku ende berbahasa Batak itu,  mengingatkan Netta saat almarhun bapaknya meninggal sebelum pernikahan kami.


Dengan cepat aku maju ke depan menghampiri Netta, memeluk pundaknya bukankah aku sudah berjanji padanya.


‘ Aku sudah berjanji padamu,  aku akan selalu berada di sampingmu, di kala kamu sedih dan dikalah kamu bahagia’


“Tenanglah Hasian, aku ada di sini bersamamu,”bisikku memeluk pundaknya dengan erat.


“Tolong … bawa keluar Ito, sebelum dia pingsan,” ujar dr. Dilla di sela tangisannya.


Ia tahu Netta akan mengalami hal itu jika mendengar lagu tersebut, aku membawanya ke luar gedung, memberinya minum, wajahnya benar-  benar pucat bak mayat, tangannya juga terasa dingin.


“Aku tahu Hasian, aku tahu, menangislah kamu boleh menangis jangan di tahan itu akan membuat perasaanmu lega”


Netta menangis kencang di dadaku, aku membiarkan rasa sesak di hatinya untuk dikeluarkan.


Apa dia akan bertemu Bapak  nanti Bang?”


“Ya mungkin,” ujarku  lagi memijit leher Netta


Setelah beberapa menit kemudian, ia merasa tenang, aku membawa Netta ke mobil .


“Ganti bajumu ya, pakaianmu basah”


Tetapi Netta masih diam, tatapannya masih kosong.


“Bang,kemarin pagi …  kami masih bicara, aku sudah bilang  untuk menungguku, tetapi kenapa dia pergi, aku punya hutang maaf padanya, aku punya hutang terimakasih padanya”


“Tidak ada yang bisa menolak panggilan Tuhan Dek … jika yang punya hidup memanggil kita, tidak ada mampu untuk melawannya”


Lalu ia menatapku dengan deraain air mata. “Aku tidak mampu berdiri, kalau itu terjadi padamu, Bang,” ujarnya,  tiba-tiba ia jadi melankonis.


Aku  memeluknya kembali, Netta  lebih membutuhkan pelukan dan bahu tempat ia menyandarkan kepalanya, dari pada kata-kata nasihat, karena,  aku  melihat otaknya belum sepenuhnya menerima kepergian Aldo.


‘”Kamu harus ganti pakaianmu, agar tidak masuk angin,” ujarku lagi.


Aku menarik tas pakaian, melepaskan seragam operasi berwarna hijau tersebut,  menggantinya dengan kaos milikku.


“Aku ingin melihatnya lagi Bang untuk terahir kalinya”


“Berjanjilah padaku kalau kamu tidak menangis lagi nanti,” ujarku.


“Ya.” Netta mengangguk.


Aku membawanya kembali ke ruang duka merangkul telapak tangannya, aku tidak tahan  melihatnya menangis, hatiku ikut sakit.


Peti itu sudah tertutup akan di masukkan ke ambulance dan membawa ke bandara,  lalu akan diterbangkan ke Samosir tanah kelahiran Aldo.


“Selamat jalan Do, sahabat terbaiku, sampai bertemu di surga nanti,” ujar Netta meletakkan tangannya di peti. Ia mencekram telapak tanganku dengan kuat, aku tahu Netta menahan perasaanya


“Ta, aku tidak akan sanggup,” ujar  dr. Dilla memeluk Netta.


“Aku tahu Kak, pulanglah antarkan dia pulang, dia akan bersama amang boru nanti,” ujar Netta.


Aku memang tidak perna merasakan  kehilangan ditinggal mati, terahir kali  aku sedih saat  tulang Netta meninggal, aku sedih karena Netta tidak berhenti menangis saat itu. Kini, aku melihat ia menangis kedua kalinya, ia kehilangan sabahat baik yang selalu  ada  untuknya.


“Selamat jalan Appara, tenanglah di rumah  Bapa di Surga,” ujarku memberi ucapan terahir.


(Appara > adik satu marga)


Saat aku menoleh ke depan, calon istrinya terus menangis histeris, ia pegang beberapa ibu - Ibu agar tidak pingsan.


Tidak terbayang bagaimana sedihnya perasaan calon istrinya, tinggal beberapa bulan lagi untuk  menikah, ternyata yang Kuasa punya rencana lain.


Dalam tangisannya tadi, ia bilang,  kalau mereka sudah menjahit baju pengantinnya, ternyata jas putih yang mereka  jahit,  itu dipakai  bukan untuk menikah , tetapi dipakai untuk menghadap Sang Pencipta.


"Selamat Do sahabatku, kita akan bertemu nanti, di Golgota Baru," ujar Netta mengusap peti berwarna putih tersebut.


Lalu Peti di masukkan ke ambulans dan di bawah ke bandara, ke dua Kakak Aldo ikut pulang mengantar adik ke peristirahatannya


"Selamat jalan Bro" l



Rip


Bersambung


Hai, Hai akak - akak.


Jangan lupa like dan vote, bantu share, kasih hadiah kopi☕ bunga💐 juga boleh


Agar author tidak mengantuk 😊


Mauliate Godang


Terimakasi banyak