
“Heii! Kamu berani membanding-bandingkanku sama bocah itu ,iya.
Sudah, sudah.
Dokter keluar saja, aku tidak mau Dokter yang memeriksaku lagi,” kataku kekanak-kanakan.
Siapa yang menduga, Niat ingin membuatnya cemburu, malah aku yang di buat panas, aku tidak menduga Dokter yang tersenyum manis itu kakaknya Aldo, lelaki yang diam-diam cinta pada Istriku.
Aku terkena jebakan sendiri.
Itu semua karena aku marah-marah di waktu yang salah.
Dokter cantik itu keluar setelah melakukan pemeriksaan padaku, kakaknya saja cantik seperti ini, pantas Aldo juga seperti orang Korea putih bersih,kataku menatap Netta.
“Tadi aku hanya ingin membuatmu cemburu Ta, kok jadi kamu yang menanyakan adik nya si Aldo, Aldo itu.”
“Kucing garong mah memang tidak bisa melihat ikan, pasti diembat,”
kata Netta cuek.
Netta mengibaratkan aku dengan kucing garong, padahal, aku niatnya ingin membuatnya cemburu,
“Enak saja ngatain aku kucing garong, aku itu kucing Siberia,” kataku ingin membuatnya tertawa, tetapi gagal.
Sejak kami mulai bersama, pertengkaran, cemburu, bercanda, semua itu mengawali perjalanan rumah tanggaku dengan Netta, saat aku bertobat dan meninggalkan Mikha, dan kembali kejalan yang lurus, sekarang aku jalani dengan seluruh hidupku tanpa beban.
Dua hari sejak pulang dari rumah sakit, aku masih tahap pemulihan di rumah, aku hanya menginap satu malam di rumah sakit saat itu,
Aku tidak betah di rumah sakit, aku ingin Netta yang menjagaku dan merawat ku di rumah.
Ia setuju dan membawaku pulang, kini setiap hari, ia yang berperan jadi suster dan jadi Dokter untukku.
Rasanya sangat berbeda saat istri yang merawat.
“Bang kita pulang ke rumah Bou iya, aku tidak enak, kita sudah lama tidak ke rumah,”
kata Netta.
“Baiklah, tanganku juga sudah pulih, tapi kamu sudah siapkan mental yang kuat untuk menghadapi mereka?”
“Sudah, pasang obat kebal di hati,”
jawab Netta.
Aku cepat juga pulihnya, tidak sia-sia punya istri calon Dokter, semua berubah dalam hidupku termasuk pola hidupku.
Sejak bersama Netta , aku sudah jarang pergi ke Bar, pernah beberapa kali, tapi itupun aku perginya dengan Netta dan beberapa Temannya dari Kampus.
Pernikahan Kami sudah hampir tiga Tahun, dan sudah 7 bulan sejak aku memutuskan tinggal dengan Netta, Tapi sejak 7 bulan bersama, Netta belum hamil juga, kami sudah pergi ke banyak Dokter, semua bilang baik, Tapi kami tetap akan sabar untuk menanti sampai berkat indah itu datang.
“Abang jagan merokok lagi, iya.” kata Netta malam-malam sebelum kami tidur.
“Kenapa, ibu Dokter?”
Tanyaku merangkul pinggang ramping Netta, aku berharap suatu saat perut datar itu, tidak datar lagi, tapi melendung dan ada buah cinta kami di dalam.
Tapi sepertinya keinginan itu masih belum ter wujud,
Mami semakin menekan Netta, Mami sering meneleponku menanyakan hal itu, karena sudah hampir tiga tahun belum juga hamil, tapi tidak sekalipun ia marah, saat Mami memarahinya lewat sambungan telepon, memarahi Netta seperti biasa.
“Bang merokok itu, tidak bagus untuk kesuburan, aku akan memberi abang vitamin untuk abang minum, abang berhenti saja, iya,”
bujuknya, tatapan matanya memohon,
“Susah Ta, tapi aku akan berusaha,”
kataku , tidak ingin berjanji, karena aku tahu, susah untuk menghentikan kebiasaan ku merokok, aku salah satu laki-laki dari penduduk planet Bumi ini yang susah menghentikan kebiasaan buruk itu.
Mungkin aku akan berhenti, jika pabrik rokok sudah berhenti ber-operasi.
Pagi ini Netta sudah bagun duluan, rencananya kami akan ke rumah Mami setelah pulang dari kampus, seperti yang sudah kami rencanakan tadi malam, tapi pagi-pagi Netta sudah membuat masalah.
Ia menyodorkan satu botol kecil saat aku bangun, dengan mata setengah sadar.
“Apa ini?”
tanyaku belum mengerti.
“Abang mau ke kamar mandi,kan tampung kesini iya bang,”
kata Netta.
“Untuk apa?”
“Hanya ingin memeriksa di laboratorium saja, bang,”
“Kamu pikir apaan?
Kamu pikir aku yang penyakitan?”
kataku tersinggung.
“Iya ampun Bang, tidak, aku hanya ingin memeriksa saja, aku juga, tidak salah’ kan, kalau ada yang sakit kita berobat dan kita sembuhkan.”
“Kamu terlalu menyombongkan sekolah Kedokteran mu Ta, itu menyinggungku ,aku tidak suka dengan sikap seperti itu,”
kataku marah.
“Kok jadi abang marah-marah sih, aku hanya berusaha yang terbaik untuk rumah tangga kita bang,”
kata Netta, Menahan air matanya.
“Sekali aku bilang tidak, maka tidak, kamu belum jadi seorang Dokter Ta, jadi berhenti melampaui batas kemampuanmu,”
kataku menahan emosi,
“Baiklah kalau abang emosi,” kata Netta, meninggalkanku.
Ia mengalah dan pergi ,meninggalkan Botol kecil pembawa bencana itu.
Entah kenapa tiba-tiba aku merasa ketakutan saat Netta , bilang ingin memeriksaku, ternyata egoku masih tinggi, Jika Dokter yang lain memeriksaku, aku merasa tidak apa-apa, tapi sepertinya aku merasa sangat tersinggung saat Netta ingin memeriksanya,
Walau pada akhirnya, aku masuk ke kamar mandi degan berat hati, aku menampung air milikku di dalam botol kecil yang di berikan Netta, dengan perasaan bercampur aduk, aku menatap air berwarna sedikit ke kuning-kuningan itu.
Aku merasa, ada rahasia yang akan jerjadi di balik air yang berwarna kuning itu nantinya.
Tapi aku mencoba menenangkan pikiranku, aku berharap Netta tidak melakukannya, aku merasa tidak bisa melakukan pemeriksaan itu, aku membuangnya ke tempat sampah di kamar mandi.
“Aku tidak bisa melakukannya, kamu jangan sembarangan menuduhku,”
kataku menahan dadaku yang bergemuruh.
“Baiklah bang, tidak apa-apa, saya minta maaf kalau sudah membuat abang tersinggung,” kata Netta.
Tapi lagi-lagi aku tidak bisa menahan luapan emosiku ”
Kamu tidak perlu melakukan itu padaku, kamu belum jadi seorang Dokter, kamu itu masih kecil,”
kataku pakai emosi.
Netta terlihat sangat tenang, seakan aku ini anak kecil yang masih labil.
“Ini minum dulu air hangatnya, kata Netta memberikan satu pil untuk aku minum, aku sedikit merasa tenang, kembali.
Ada apa denganku, kenapa selalu marah-marah tidak terkontrol ih aku?
“Ayo abang, kita serapan, Netta sudah menyiapkan menu sehat untuk kami berdua,”
“Kamu marah karena aku menolak menampungnya?” tanyaku penasaran dengan sikap tenang itu.
“Tidak, untuk apa tersinggung, berarti aku saja nanti yang periksa itu kata Netta menunjukkan botol miliknya, warnanya lebih kuning, aku sering merasa sakit pinggang, aku takutnya ada bagian dalam perutku penyakit lain, aku hanya ingin memeriksanya, kebetulan kami nanti ada praktek di laboratorium.
Itu saja tidak ada maksud lain,” ucap Netta membuatku terdiam.
“Sepertinya aku ada penyakit serius dalam perutku, karena warna sangat kuning, punya abang begitu, gak?”
Netta bertanya dan menatapku.
“Kamu membuatku jijik sih, dari tadi ngomongin itu mulu.”
Kataku tersinggung lagi.
“Ok baiklah, maaf, tidak lagi bang,”
Hal yang satu itu terkadang kalau di tanyakan kebanyakan kaum adam seperti saya tersinggung dan marah,