Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Keluarga harusnya saling mendukung bukan menjatuhkan


Arnita rela menjadi ibu tunggal, ia menolak Juna yang mengajaknya menikah, Juna pasti sudah menyesali perbuatanya, karena pernah menyia-nyiakan Arnita dan anaknya.


Hidup tidak akan pernah lepas dari masalah, baik masalah kecil maupun masalah besar, selagi kita masih hidup di dunia ini.


Tapi terkadang  masih ada orang yang merasa iri dan tidak suka dengan keberhasilan kita, bahkan datangnya dari kelurga sendiri, begitu juga saat ini, aku pikir setelah kami melalui banyak masalah, hidupku akan berangsur baik, tetapi kenyataanya masalah tetap ada.


Kesalahan yang di lakukan Arnita di masa lalu  tidak banyak keluarga yang tahu, karena kami tidak memberitahukan pada keluarga besar yang tahu hanya tulang Bekasi dan Bogor.


Ternyata kabar itu menyebar kemana-mana,   kejadian dua tahun yang lalu, kami menutupinya dari semua keluarga, termasuk dari arisan oppung.


 Kak Eva menolak arisan  diadakan di rumah dan meminta keluar dari arisan demi menjaga kesehatan Mami, mungkin kalau keluargaku masih ikut, mungkin sumpah dan makian akan diterima Mami saat itu.


Itulah alasan kami tidak ikut arisan demi menjaga kesehatan Mami, Namun, tepat hari minggu kemarin, tanpa di undang tanpa mengabari kami terlebih dulu, tiba-tiba tante Candra yang di Bogor datang, tadinya aku pikir mau datang menjenguk kakaknya yang sedang sakit, karena sejak Mami sakit sudah hampir dua tahun, tante candra belum pernah menjenguk.


Saat ia datang aku sebenarnya sudah punya firasat buruk pada tante, karena setiap kali ia datang yang ada pertengkaran yang selau ada.


Baik kali inipun seperti tante datang sendiri, kalau bapa uda atau suaminya ikut ,biasanya aman, sama seperti Papi, istrinya yang lebih galak, tapi selalu suaminya yang bisa menjinakkan.


“Tante mau ngapain datang kesini Pi?” Tanyaku saat melihat ada tante Candra di rumah.


“Sstt, lihat kakaknya mungkin,” kata Papi membantuku servis motor di samping rumah.


“Pasti ujung-ujungnya nanti bertengkar, yang ada Mami tambah sakit.”


“Biarkan saja, itu sudah bawaan dari sananya,” balas papi.


Saat lagi asik berbengkel, kak Eva datang, wajahnya kusut bagai kain tidak disetrika satu bulan.


“Pi, suruh saja tantenya untuk diam, dari tadi dia marah-marahin Mami, aku sudah mengingatkannya, dia malah tambah marah-marah, kasihan Mami diperlakukan seperti itu,” ujar kak Eva.


Papi tidak mau keadaan istrinya makin buruk, karena kami sudah melakukan banyak hal untuk kesembuhan Mami, kami tidak mau kesehatan Mami semakin buruk karena seorang pengacau seperti tante Chandra.


Aku juga ikut cuci tangan, ingin tahu apa lagi yang ingin di katakan tante parbada bolon itu pada Mamiku.


“Bang, aku ingin bicara sama abang,” ujar tante saat melihat  Papi datang.


“Iya boleh katakan saja.” Papi duduk aku  juga ikut duduk.


“Apa yang aku bilang dulu terbukti kan? Aku sudah bilang suatu saat nanti kakak akan menerima hukuman atas perlakuan sombongnya.”


“Diam kamu …! Pergi kau dari sini!” Teriak Mami marah, tiba-tiba saja ia bicara.


Kami semua saling melihat satu sama lain, biasanya Mami itu,  sudah kurang jelas kalau Bicara, tetapi saat tante datang Mami bicara dengan jelas.


“Mami sudah bicara?” Kak Eva menatap tidak percaya.


“Mami rindu bertengkar, makanya dia tiba-tiba bisa bicara,” ujar Papi setengah  berbisik ke arah ku


“Aku bicara benarkan? keluarga ini dapat hukuman dari Tuhan pada akhirnya, Arnita hamil di luar nikah, Nathan rusak, itu akibatnya kalau kalian menyiksa wanita lemah seperti Netta!” Tante  tertawa  menyeringai, seakan-akan  ia tertawa di atas cobaan hidup yang kami alami.


‘Apa begini hubungan kakak beradik? harusnya keluarga  saling mengingatkan, bukannya menertawakan ….’ucapku dalam hati.


Hilang sudah simpati ku sama tante Candra, dari dulu  tante selalu  tidak pernah akur sama Mami, entah apa yang terjadi pada mereka berdua aku tidak tahu, tetapi apa yang di lakukan tante sangat salah, seharusnya jika ia marah sama kakaknya dan tidak suka dengan Mami, Kami jangan ikut di benci, jika hubungan  orang tua kami seperti itu, Lalu bagaimana hubungan kami  anak-anak mereka?


Harusnya tante prihatin dengan apa yang dialami kakaknya, Ini malah ia  merasa puas melihat kami terpuruk, keluarga itu harusnya saling membela, jangankan membela kami di depan orang lain ia malah mengarahkan orang lain untuk menertawakan apa yang sudah yang kami alami selama ini.


Harusnya, kalau tidak bisa membela lebih baik diam saja, itu akan lebih baik.


Kata Kak Eva, tanteku yang menuliskan dalam postingan status di dunia maya tentang karma dan hukuman Tuhan  semua menjurus pada kami.


“Tante itu harusnya menanyakan kabar Mami, harusnya tante itu mendoakan Mami agar cepat sembuh, bukannya malah seakan Tante puas melihat keluarga kami dapat masalah,” ujar Eva marah.


Wanita kuat itu akhirnya meluapkan kekesalannya, kakak Eva yang selalu tameng untuk keluargaku.


Ia berbahaya kalau sudah marah, sama seperti Papi, kalau sudah  marah tidak perduli di mana dan siapa yang di hadapi, kalau tidak di hentikan takutnya  gelas yang di pegang melayang ke kepala tante.


“Mama Arkan … duduklah Nang, tenang dulu ,” bujuk  Papi dengan suara lembut,  karena papi sudah tahu karakter kak Eva bahaya, kalau sudah marah besar.


“Untuk apa? Mami kamu pantas mendapatkannya, itu kutukan padanya,” balas tante Candra.


“Tante itu adiknya Mami loh … harusnya kasihan bukannya tertawa diatas penderitaan saudara sendiri,” pungkas Eva.


Maka adu debat pun di mulai antara Boru Situmorang VS Boru Nainggolan.


“Dengar iya Tan … manusia di dunia ini tidak ada yang sempurna, apa yang di alami keluargaku selama ini, aku  berpikir itu karena Tuhan baik sama kami dengan memberi cobaan hidup, agar kami bertobat dan kembali berjalan yang benar,” ujar Kak Eva, ucapannya terdengar sangat bijak.


“Itu kutukan, bukan cobaan,” ujar tante Candra, ia tampak seperti preman pasar yang ingin ajak ribut.


“Kutukan kamu bilang ... ? Mulut mu itu yang terkutuk,” ucap Mami tangannya melempar gelas minum dari atas nakas di sampingnya, lemparan itu mengenai kepala tante Candra.


Taaang ...!


Apa yang Mami lakukan  mewakili hati kita semua, aku hanya mau bilang .


‘Syukurin ….’ ucapku dalam hati menahan tawa, mau tertawa ngakak takut dosa.


Bersambung....



Untuk Part ini mengandung bawang ya...agak haru sikit..


tapi sabar ya hahaha.


ikutin terus ceritanya ya kak


“Kita cari restauran paling enak, kita makan enak dulu untuk perayaan, baru kita lanjut belanja setuju?”


“Setuju” suara riuh dan suasana gembira terlihat dari mereka semua.


“Sebentar lae, berhenti dulu sebentar,” ucap Lae Rudi, tiba-tiba ia berlari kesamping mobil ia muntah, ia tampak terlalu bergembira dan membuatnya sampai mual, kegembiraan membuat gejolak dalam lambungnya.


“Ito terlalu gembira dan bercampur panik,” ucap Netta, ia turun menepuk-nepuk pundak abangnya menggosok dengan minyak angin.


“Dang percaya au ito, hera nipi hulala, nungga sempat putus asa au dua taon on ito alani gagal torus.”


( Gak percaya aku dek, kayak mimpi rasanya aku di terima, dua tahun ini aku putus asa karena gagal terus)


Rudi memeluk pilu tubuh Netta, Mertuaku ikut turun lagi, saling merangkul dan saling tangis, itulah pemandangan yang terlihat saat ini, semua keluarga Netta akhirnya turun dari mobil merangkul Rudi.


Aku berdiri di depan mobil melihat kekompakan mereka.


Tapi tiba-tiba ibu mertuaku datang ke arahku, lalu memelukku dengan tangisan yang lebih pilu lagi, membuatku kagok tidak tahu harus berbuat apa.


“Makasih hela karena kamu bagai seorang malaikat di keluarga kami,” ucap mertuaku mendengar itu aku diam membatu, tidak pernah terbayang ada ucapan itu di tujukan untukku apalagi dari keluarga Netta.


Aku menatap Netta dengan bingung, ia tersenyum sangat manis padaku, tiba-tiba ia mendekat membisikkan satu kata untukku membuatku hampir jatuh pingsan lagi.


“Aku mencintaimu, bang” itu pertama kalinya Netta mengucapkan kata cinta padaku, aku sudah hampir bertahun-tahun Menunggu mendengar itu dari Netta, aku semakin mematung lagi, kalau saja tidak ada keluarganya di sana, aku sudah menariknya ke dalam dadaku mengigit pipi dan bibir sekalian, aku harus sabar menunggu moments yang tepat untuk melakukan itu.


“Aku juga mencintaimu Borneng,” bisikku pelan, aku takut kata-kata di dengar laeku.


Hari ini hari yang paling indah padaku, keberuntungan dan cinta berpihak padaku.


Aku menyebut hari ini hari penuh cinta.


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH


Terimakasih untuk kakak semua karena masih mengikuti cerita Pariban jadi Rokkap sampai Bab ini. Terimakasih untuk  kakak semua yang memberi tips dan hadiah untuk author, semoga rezeki kakak semua semakin bertambah, Jangan lupa mampir juga ke karya receh ku yang lain ya;


Baca juga  karyaku yang lain


-Aresya(TERBARU)


-The Cured King(TERBARU)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (Tamat)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (on going)


Bintang kecil untuk Faila (tamat)