Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Saat sepupu curhat


Setelah selesai serapan kami masih duduk di meja menikmati hembusan angin pantai, tetapi pertanyaan Tivani tentang cakaran di leher Candra, kembali membuat suasana jadi hening. Namun Panggilan telepon dari papi menyelamatkanku dari kecanggungan itu.


“Ya Pi” Papi menelepon lagi.


“Kalian jam berapa pulang ke rumah?”


“Tunggu aku tanya candra dulu Pi.” Aku menutup layar ponsel dengan telapak tanganku.


“Jam berapa Can?”


“Bilang saja bentar lagi Bang”


Tiba-tiba Tivani menolak lagi.” Jangan sekarang besok saja”


“Papi, tunggu ya kami bicarakan dulu baik-baik


sama Vani”


“Jangan lama-lama  Mang, tulang ini akan pulang ke Bandung sama ke Surabaya, mereka harus benar-benar memastikan  semua baik-baik saja baru mereka baru pulang"


“Baik Pi”


Aku  menutup teleponnya, setelah habis serapan barulah kami membujuk  Tivani.


“Tolonglah Vani, kita harus pulang sekarang, semua keluarga menunggu kalian”


“Tapi bagaimana kalau tulang itu membentak aku lagi”


“Tidak lagi, sebenarnya tulang kami itu baik,"ucap ku berkata lembut, aku bisa melihat sikap Tivani semakin di galakkin atau ditekan, ia akan galak.


Jadi aku berpikir aku dan Netta harus membujuknya dengan sabar.


“Lalu kenapa kemarin istrinya mengataiku kurang didikan.” Tivani menolak pulang.


“Kalau kita tidak pulang bapa uda itu akan membawa pasukannya dan memborgol kita berdua, kamu mau? Dia  itu gila,” ujar Candra, akhirnya suaminya akhirnya ikut bicara.


“Baiklah, tetapi istri abang ikut bersamaku, ya”


“Kamu harus panggil Kakak Vani, nanti mereka menegur mu, dari pada mereka melakukannya, lebih baik aku mengatakannya sekarang,” ujar Candra


“Ribet. Tapi baiklah, aku akan panggil seperti yang kalian inginkan


"Kalau begitu mari kita pulang." Netta berdiri.


Setelah dibujuk dengan segala cara akhirnya ia mau pulang dengan kami ke rumah.


                              *


Semua keluarga masih berkumpul di rumah kami, seharusnya  mengumpulnya di rumah tante Candra karena yang bermasalah keluarga mereka, tetapi karena Kakak Eva yang dapat arisan jadi karena semua orang serba jadilah istilah.


‘Sada ditembak du hona’ Artinya satu acara dua tujuan, acara yang pertama untuk arisan  satu oppung dan kedua untuk memperbaiki rumah tangga Candra dan Tivani.


“Ya Sudah, aku ganti baju dulu,"ujar Vani.


“Bia aku temanin, sekalian ambil barang kami, dari kamar” ujar Netta, ia  takut Vani kabur.


Aku dan Candra duduk di bawah menunggu para istri turun, aku sengaja tidak bertanya apa-apa padanya, aku tidak ingin ia merasa malu.


“Abang tidak bertanya? " Aku mengalihkan pandanganku dari layar ponselku.


“Tentang apa?”


“Tentang berapa ronde  tadi malam?” Aku tertawa geli, lucu juga mendengar hal itu dari adik sepupu. Kalau itu Bonar atau Alvin teman,  tidak apa-apa karena sudah biasa bersikap bar-bar. Tetapi mendengar dari adik sendiri rasanya kayak  geli, karena selama ini Candra yang aku kenal tenang dan selalu kalem kami juga tidak terlalu dekat dari dulu hanya sekedarnya saja, karena tante dulu melarang anak-anaknya bergaul denganku karena aku nakal.


“Kenapa kamu di hajar ?” Tanyaku sembari tertawa.


“Wah … bringas donk”


“Bukan hanya bringas  Bang, dia seperti orang yang kalap”


Awalnya aku merasa lucu saat Candra curhat soal ranjang panas mereka berdua, tetapi melihat ia bercerita  tanpa beban, aku merasa  mendengar curhatan seorang sahabat.


“Artinya kamu donk yang kewalahan”


“Ya”


Tapi tiba-tiba wajahnya mendung,  lalu ia berkata dengan suara pelan nyaris tidak terdengar olehku.


“But ….  she’s not virgin anymore”


Mendengar itu Tiba-tiba aku terdiam sejenak, lalu menanggapinya dengan santai.


“ Hey. Come on Bro, we’re not old people anymore.” Ia menatapku dengan tawa yang tidak bisa aku pahami, wajahnya terlihat datar, tetapi satu hal yang bisa aku tangkap dari sana, rasa kecewa.


“Ok, alright,” jawabnya lagi berpura-pura tegar dan memaksakan diri untuk tersenyum.


“Aku percaya padamu Can,  jangan katakan pada siapapun, cukup aku dan kamu yang tahu, jika kamu menjaga kehormatan dan nama baik istrimu, dia akan meletakkan kepercayaannya padamu, kamu akan orang  satu-satunya yang dia percaya. Itulah yang selalu Netta lakukan padaku, saat ini, dia orang satu-satunya di dunia yang aku percayai. Bukan mami bukan keluargaku tetapi istriku"


Wajahnya masih sedih lalu ia bertanya lagi.


“Apa Netta dulu ….?” Ia menggantung kalimatnya, tetapi aku tahu tujuan pembicaraan itu.


“ Oh, Come on  …. Jangan bahas tentang itu lagi, kalau kamu bertanya tentang Netta dulu , jawabanku. Ya,” jawabku lagi.


“Beruntung sekali,” ucap Candra.


“Kamu tahu kan,  Netta menikah denganku masih kecil Can, baru tamat SMA  belum pernah pacaran dan aku lelaki yang pertamanya ….  kamu lihat kan,  sampai saat ini,  dia masih polos ,” ujar ku.


“Kekasihku boru Sitanggang itu wanita baik-baik Bang, hubungan kami sudah lama, kami sudah punya banyak rencana, bahkan, sudah menabung untuk beli rumah bersama, kami selalu bicara tentang masa  depan. Tetapi, berujung jadi mantan,” ujarnya sedih.


“Sini …. kita harus bicara-”


“Abang percaya gak, mama membuang berlian dan memberikanku imitasi,” ujarnya  dengan mata berkaca-kaca.  Candra  saat itu diluar perkiraan ku, aku pikir pagi ini ia akan happy, rupanya dugaan ku salah, ada kekecewaan yang besar di balik tatapan matanya.


“Can, Tivani wanita moderen dia tidak memikirkan tentang … hal seperti itu”


“Tetapi aku masih mengharapkan wanita yang seperti itu Bang,  dari situ aku bisa menilai dia wanita yang bermartabat”


Aku diam,  aku tidak  tahu harus mengatakan apa-apa, aku berbeda dengan Candra yang masih berpegangan pada prinsip itu, tetapi karena aku sama dangan Tivani, jadi, aku tidak  tahu harus mengatakan apa.


“Aku  tidak tahu harus mengatakan apa Can,  karena aku juga lelaki yang  nakal di masa lalu. Tetapi aku berharap kamu tidak melakukan kesalahan  seperti yang aku lakukan di masa lalu. Dulu, aku menikah dengan Netta, tetapi aku berhubungan dengan kekasihku. Karena hal itulah aku dan keluarga hancur. Aku berharap kamu tidak melakukan itu,” ucapku menasihatinya.


“Baiklah, aku tidak akan melakukan itu Bang, aku tidak ingin bapak sakit lagi. Walau hati ini kecewa dan terluka. Namun, aku berharap semua rasa sakit ini sembuh seiring berjalannya waktu ,” ujarnya tertawa ketir.


“Baiklah, aku percaya padamu Can”


Tidak lama kemudian Netta dan Tivani turun, Tivani berpakaian sopan, mungkin Netta yang mengajarinya.


“Ayo.” Netta mendekat.


     *


Kami pulang dalam  mobil Candra hanya diam, Netta dan Tivani  mulai akrap mereka berdua saling cerita tentang pengalaman pertama saat masuk ke ruangan mayat saat kuliah kedokteran.


‘Aku berharap kamu bisa mengajarinya agar lebih baik lagi Dek agar rumah tangga mereka bisa bertahan dan Candra bisa menerima dia sebagai istri ’ ucapku dalam hati.


Kami akan membawa ia pulang ke dalam keluarga Manurung, dimana ada dua wanita singa di dalamnya, tante dan Tivani.