Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Pesta Yang Sangat Meriah


“Gini saja lae, undang semua naposo teman-teman lae, sama teman calon inang bao itu, kita bikin pesta naposo atau pesta remaja, kita bikin meriah, biar lae yang bayar semua biayanya, biar tahu para keparat itu kalau keluarga oppu Tika bukan  seperti dulu lagi yang bisa mereka hina”


“Benar lae!” Wajah Si lamhot langsung bersemangat.


“Bisa kami undang anak remaja gereja?”


“Undang semua teman-teman kalian, tapi jangan undang anak keluarga itu, biar tahu mereka, berani-beraninya mereka sepele sama keluarga kita,” ucapku sangat kesal.


Tidak lama kemudian datang laeku  Andres, ini adek Netta yang saat ini kuliah di USU.


“Ya Lae ada pesta naposo?”


“Ya Lae, kalau ada band musik panggil saja”


“Oh, keren kali … ada kawanku lae, ku panggillah?”


Mendengar ada pesta naposo semua laeku  hoboh,  mereka semua mengundang teman-temanya dan  sibuk menelepon teman-temannya. Netta bahkan tidak melarang, ia ikut mendukung.


“Nanti untuk acara makan-makan naposo, kita pesan catring,” ujar Netta lagi.


“IH … senang kali aku, berarti nanti kita dua kali pesta donk” Parasian yang paling bersemangat.


“Bang aku bilang sama kak Nely ya, aku datang ke rumahnya, biar dia juga mengundang temannya naposo gereja”


“Ah … dokkon ma asa diundang  halletmu ”


(Ah … bilang saja, biar diuandang cewekmu) Inang bao atau kakak ipar, istri Lae Saut bercanda sama adik-adik Netta.


“Gak Kak, aku hanya senag aja, baru kali ini ada pesta naposo di kampung kita, gak sabar aku tunggu besok malam’


Hari yang ditunggu akhirnya tiba.


Jum'at pagi dihalaman rumah oppung sudah dipasang tenda, aku sengaja memesan tenda yang bagus dan dekorasi yang bagus, agar terlihat kesan pesta yang mewah.


“Bah …dan pahatoppu dipasang tenda on?”


(Wah … gak kecepatan di pasang tendanya?” Tanya mami.


“Kita mau peta dua kali Namboru,” balas Si Parasian.


Mami menyengitkan kedua alisnya, karena acara pesta naposo mami tidak tahu, kalau mami dikasih tahu  suka repot urusannya.


“Ya, Mi nanti malam ada acara naposo, untuk teman-teman lae sama calon inang itu”


“Oh, begitu …,” ucap mami tanpa protes.


‘Eh tumben tidak protes, biasanya selalu salah’ ucapku dalam hati.


“Mami tidak protes ?” Tanya Kak Eva.


“Tidak apa-apalah, biar tambah rame, kalau bisa ada musik juga, bisa nyanyi kita”


“Ya ada Mi, nanti nyanyilah mami sepuasnya”


Aku pikir ide mengadakan pesta remaja di larang mami, ternyata  papi dan  tulang malah mendukung, saat mau persiapan acara naposo Candra, Tivani, Riko, tulang kembar dan keluarga hari itu juga datang. Lengkap sudah kemeriahan kami hari itu.


“Jangan undang dia, biarkan  mereka di situ, belum tahu siapa keluarga oppung Saut,” ujar mami hari itu.


“Memang dari dulu keluarga itu seperti itu, waktu hidup pun mama mereka begitu terus … tukang gosip, tukang adu domba.” Tante Ros juga marah.


Rencana awalnya hanya ingin pesta naposo, ternyata mami dan tante Ros marah, mereka mengundang  semua para tetangga  karena mereka nanti yang akan marhobas untuk pesta, hari jumat pagi rumah oppung sama ibu mertua sudah dipenuhi banyak orang


“Ini tidak berlebihan Bang, ini kayak dua kali pesta kita,” ujar Netta.


“Sudah nikmati saja Dek, lihat semua keluarga kita, gembira lihat Tivani, awalnya dia kaku, sekarang dia sudah berbaur dengan semua keluarga,” ucapku.


Tidak ada pikiranku kalau pesta Lae Rudi akan sangat meriah seperti ini, ada perayaan  sebelum pesta, ini pertama kalinya  untuk kami semua, awalnya hanya  untuk pesta naposo, ternyata tulang, mami sama  tante mengundang semua tetangga dari kampung atas sampai kampung bawah, tetapi dia tidak mengundang tiga rumah yang selalu menghina keluarga mertuaku.


Memang kalau borneng sudah marah, rata semuanya, pasti mereka sudah merasa malu saat semua orang datang bergembira, mereka tiga keluarga hanya duduk di depan rumah.


Pesta naposo dan pesta mengundang tetangga hari jumat sampai malam. Pesta yang sangat meriah penuh keceriaan, kami tidak menikmati sendiri, inang mertua bahkan mengundang keluarga pihak perempuan, jadi semua pihak sama-sama bergembira menyambut pesta besok.


Saat acara hiburan, Netta orang pertama yang berani menyumbangkan lagu di panggung, karena hal itulah suasana semakin meriah, mami juga sama tante menyumbangkan suara emasnya.


Aku baru tahu kalau mami pintar nyanyi, Tivani juga menyanyikan satu lagu Mandarin, acara hari itu sukses, bahkan acara naposo berlangsung sampai pagi.


                                    *


Hari yang ditunggu semua orang akhirnya tiba juga.


Pernikahan lae kami Briptu Rudi Hasiholan Lumban Raja Dengan Nely Alexsa Br Pandiangan,  iring-iringan mobil dan motor, mengantar ke dua pengantin ke Gereja.


Mungkin karena malam itu keluarga mengadakan jamuan makan untuk semua tetangga, saat mengantar  pengantin ke gereja, banyak keluarga dan tetangga yang ikut ke Gereja, sampai Gereja sederhana itu  tidak muat.


Tiba di gereja  iringan musik rohani dari buku ende ’ dipasu-pasu Jahowa Debata ma Hamu Na Dua’


(Diberkati Allah Bapa Surgawi  kalian berdua’


 memberi pemberkatan, tangan  Pendeta akhirnya tertopang diatas kepala kedua pengantin, memberkati mereka berdua.


‘Apa yang dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan manusia Mat 19: 6’


Setelah keluar dari pintu Gereja, wajah mereka berdua terlihat dipenuhi suka cita, akhirnya mereka berdua resmi suami istri, setelah banyak rintangan dan pergumulan mereka hadapi. Ucapan selamat dan doa mengiri semua rangkaian pemberkatan mereka. Gereja sederhana yang memberkati mereka, gereja yang dulu kami pakai saat memberkati kami.


Setelah acara Gereja selesai lanjut ke acara pesta adat, inilah acara yang paling panjang, manottor, joget, saweran bergembira itulah  yang tergambar dalam pesta pernikahan lae kami hari itu.


 Netta, mami, tante sebagai boru itulah yang paling sibuk, menuangkan beras, melipat ulos mereka semua sibuk dan selalu bercanda,  aku sebagai parlopes juga ikut sibuk, baru kali ini aku ikut marhobas sebagai pengantar jambar.


Inilah  hebatnya adat Batak, ada saatnya kita jadi raja, dan ada saatnya kita jadi pelayan.


Jika pestanya di keluarga Situmorang aku Raja, dan saat ini aku jadi Pelayan jika di Keluarga Nainggolan lagi pesta.


Sampai malam pesta juga masih berlangsung, jika di Jakarta jam empat pesta sudah selesai di gedung, tetapi jika di sini sampai jam sembilan malam pesta masih berlanjut.


Tetapi semua berjalan dengan baik, tidak ada keributan tidak ada salah paham, kami tidak pernah menduga pesta pernikahan yang awalnya di uber-uber. Tetapi, semua berjalan dengan sangat baik meriah rame dan penuh keceriaan.


Selamat menempuh hidup baru lae Rudi, semoga langgeng sampai tua.


 Bersambung ...