Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Marah Sama Mami


Arnita  melahirkan anak  perempuan yang cantik secara normal di rumah sakit tempat Netta bekerja, memang dari jauh-jauh  hari ia sudah  beberapa kali bilang kalau Netta yang akan membantunya melahirkan,  Jika  kebanyakan wanita masa kini, memilih melahirkan secara secar, kalau Arnita justru ketakutan saat di minta melahirkan lewat operasi.


 Tetapi semua itu sudah terlewatkan, kini sudah bertambah lagi keponakanku perempuan, Arnita dan kakak Eva sudah diberikan sepasang anak perempuan dan laki-laki.


Saat keluar dari ruang rapat, mami menelepon lagi memberi kabar kalau  bayinya sudah lahir dengan selamat.


“Sudah lahir si butet Mang”


“Ya Mi, tadi papi sudah memberitahukan”


“Gak ke sini kamu Mang?” tanya mami.


“Nanti aku datang pulang kerja,  mungkin sore”


“Sekaranglah Mang, kenapa harus sore, apa nanti kata orang tua laemu,” ujar mami sedikit memaksa.


“Tapi aku masih ada rapat Mi”


“Tunda saja dulu, besok saja rapatnya, keponakanmu lahir, masa kamu tidak senang”


“Baiklah”


“Baiklah Bang.” Mami menutup teleponnya.


Tidak lama kemudian Juna menelepon.


“Sudah lahir keponakanmu Lae, dia bayi perempuan yang sangat cantik,” ujarnya dengan suara yang sangat bahagia.


“Oh, baiklah selamatlah ya, sudah sepasang anakmu sekarang”


“Ya Lae, tapi ke sinilah, aku sudah  minta sama papi untuk boking  satu lantai ini, untu kita pakai, biar bisa bebas siapa yang datang menjenguk bayinya, datanglah ke sini, aku sudah pesan bir ke sini,” ujar Juna membujukku.


Karena mami sudah memaksa aku datang ke rumah sakit menjenguk Arnita dan bayinya,  sampai di sana, benar saja kata Juna, satu lantai di  boking,  benar-benar cucu konglomerat, di sana di sediakan makan dan minuman bagi tamu yang akan menjenguk cucu mereka.


“Selamat ya ito,” ucapku memberi selamat pada Arnita.


“Gendong, dulu  to,” ujar Arnita.


“Ah, aku takut nanti badannya sakit soalnya baru lahir”


“Tidak apa-apa Mang,  biar nular,” ujar mertua Arnita.


Tidak ingin menolak, aku merentangkan telapak tanganku dan mengendong bayi merah yang baru lahir itu dengan hati-hati, kata Netta bayi baru lahir itu ibarat buah pisang yang matang tulang-tulangnya masih lunak, maka itu aku menggendongnya dengan hati-hati, jujur, baru kali aku berani mengendong bayi, ketiga keponakanku Arkan, Deon, Jeny saat bayi, aku tidak mau menggendong mereka,  takut salah mengendong.


“Tidak usah tegang ito, biasa saja tubuhnya jangan kaku seperti itu,” ujar Kak Eva,  keningku sampai berkeringat saking grogi.


“Aku takut, badannya sakit,” ucapku aku masih berdiri.


Baru juga di gendong aku merasakan ada yang hangat membanjiri kemejaku.


“Kok … ada yang panas?”


Mereka semua tertawa, ternyata bayi baru lahir itu pipis di bajuku.


“Dia pipis, tidak apa-apa Mang, di meninggalkan jejak untuk kamu, dia ingin bilang kamu tulangnya yang terbaik,” ujar mami tertawa, ia mengambil dari gendonganku.


Suasana bahagia terlihat di wajah mereka semua, mataku terus saja mencari Netta, tetapi  tidak ada di ruangan itu.


‘Apa dia bertugas hari ini?’ tanyaku dalam hati.


“Eda, lagi ada operasi, setelah dia bantu Arnita, dia ada jadwal operasi juga”


“Oh, baiklah,” ucapku mengusap pakaianku yang kena pipis dengan sapu tangan, pipis bayi yang  baru lahir memang belum begitu  amis, hanya saja kemeja depanku  jadi basah.


“Apa abang mau ganti? Ini papi ada kemeja di tas mami tadi”


“Gak usah Pi, ini saja biar nular cepat”


Papi hanya mengangguk dan tersenyum. “Netta pasti capek bangat itu, dari tadi malam, tidak  tidur karena Arnita, sekarang dia lanjut ada jadwal operasi lagi,” ujar papi.


“Ya Pi, nanti kami langsung ke rumah  kami saja ya istirahat”


“Jangan Mang, kita di rumah mami saja, rumah kalian sudah beberapa hari kosong lagi”


“Baiklah, aku duduk di luar saja ya Pi.” Aku di luar karena di ruangan Arnita semakin banyak tamu yang datang menjenguk, dari mulai artis dan istri pejabat, karena bapak mertua Arnita seorang pejabat .


Setelah beberapa duduk melamun di kurs taman rumah sakit, tiba-tiba seseorang menutup mataku dari belakang.


“Coba tebak,” ucapnya dari belakang aku hanya tertawa.


“Si Borneng”


“Salah, aku istrimu”


“Terimakasih  Hasian.” Ia menegak  minuman yang aku berikan.


Wajah Netta terlihat sangat lelah, karena dari malam ia sudah mendampingi Arnita dan mengurus semua keperluannya, setelah Arnita melahirkan, ia lanjut dengan jadwal operasi berikutnya.


“Kamu pucat Dek”


“Aku mengantuk bangat Hasian, aku ingin tidur sebentar saja, sebelum kerja lagi, aku masih ada pasien satu lagi jam tujuh malam nanti”


“Apa kamu mau tidur di mobil?”


“Ya, tapi temenin ya, aku takut kebablasan sampai malam nanti, soalnya masih ada pasien”


“Baiklah ayo”


Membawa Netta ke dalam mobil, ia istirahat di sana, baru juga ia tutup mata, mami telepon, meminta  Netta  datang karena badan bayi Arnita panas.


‘Hadeh, memangnya tidak ada dokter lain apa, di sana kan banyak dokter’ aku kesal, mau marah tidak bisa,  karena  Arnita saudara sendiri, tapi kasihan sama istri, gak tega bangat membangunkan Netta padahal baru lima menit ia terlelap tidur.


“Dek …!” baru panggil sekali saja ia sudah bangun, matanya memerah, aku tahu apa yang ia rasakan pasti ia merasa kepalanya pusing.


“Apa Bang?”


“Mami telepon, katanya  bayi  Arnita badannya panas, apa kamu pusing?”


“Hmmm … aku juga masuk angin”


“Suruh panggil dokter yang lain saja Ya”


Tidak usah, kita  lihat saja sebentar,” ujar Netta.


Saat turun dari mobil Netta sempoyongan dan muntah, tentu saja aku panik, mengurut  belakang lehernya dengan minyak angin , menyesal jadinya aku membangunkannya tadi.


“Saat lagi panik lagi-lagi mami menelepon.


“Dimana si Netta itu sudah di bilang si butet ini lagi panas!”


“Mi … Di situ banyak dokter. Apa harus si Netta!?” Bentakku marah.


Mami diam, mungkin dia kaget karena membentaknya.


“Kok … jadi marah sih,” ujar mami di ujung telepon.


“Sudah Bang,  tidak apa-apa, ayo kita kesana”


“Tapi kamu sakit Dek, apa kamu sudah makan?”


“Belum”


“Astaga …! kamu bagaimana merawat orang, kalau tubuhmu sendiri tidak kamu rawat!”


“Kok jadi marah-marah sih Bang, tadi, kan,  karena belum sempat”


“Makan dulu Netta, sebelum kerja!”


“Ah … sudahlah, susah memang bicara sama orang yang sudah emosian”


Netta  berjalan meninggalkanku di samping mobil, ia menuju ruangan Arnita, aku tidak tahu aku marah sama mami atau sama Netta. Aku duduk lagi di kursi taman, mendengarku marah papi, mami, kakak Eva turun.


“Apa Mang, kenapa marah?” Tanya papi dengan lembut  beliau duduk di sampingku.


“Mami ni, memangnya Netta itu robot!”


“Kok, jadi marah sama mami, kan hanya meminta memeriksa si butet”


“Mami sadar gak, kalau mami itu otoriter sama Netta. Pertama mami memintanya harus jadi dokter Arnita, lalu kami datang dari Bali mi, hanya untuk dokter  pribadi Arnita, mami tidak tahu kalau dari tadi malam, dia belum tidur sama sekali, habis Arnita melahirkan dia lanjut operasi, dia  belum makan juga dari pagi sampai sore ini, aku sudah bilang sama Kakak Eva , aku bawa Netta istirahat sebentar, dia baru saja tidur lima menit,  mami sudah meneleponnya dengan marah-marah, dia barusan muntah-muntah Mi dia pusing katanya, aku membentaknya karena terlalu menuruti permintaan mami.


Mi Please… jaga  perasaan Netta, jangan karena Arnita kaya raya mami mengistimewakannya,  tidak baik membeda-bedakan anak mi,” ujarku dengan marah.


“Mami tidak pernah membeda-bedakan kalian Mang, bagi mami kalian bertiga itu sama saja,” ujar mami menangis.


Kak Eva tidak bisa bicara apa-apa, ia hanya menunduk, apa aku yang terlalu sensitif atau memang mami yang salah, aku tidak tahu, tetapi satu yang pasti, orang tua tidak boleh membanding-bandingkan kehidupan anak-anaknya, walaupun kehidupan anaknya lebih kaya.


Bersambung ….


Jangan lupa lika komen, share juga ya kakak, kalau berkenan kasih hadiah juga agar authornya tambah semangat


terimakasih