Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Penganiayaan


Aldo mengepal tangannya sepertinya anak kecil ini ingin memberiku bogem mentah, aku tidak tahu apa itu berasa apa tidak untukku.


Tapi mendengar penuturan dari mereka membuat jantung bergemuruh, ada rasa tidak percaya.


Netta di keroyok membuatku mengepal tanganku dengan kuat, bagian di dalam dadaku yang terasa terbakar, bagaimana mungkin, Iya ampun batin menolak percaya, kalau itu benar terjadi bagaimana Nettaku, bagaimana keadaanya, bagaimana aku melihatnya nanti.


“Terus, kemana Netta?


Netta terluka terus bagaimana keadaanya sekarang, dimana dia?”


Aku berdiri, apa yang aku takutkan ternyata benar adanya.


Netta terluka, maka itu ia tidak mau mengubungi ku, harusnya aku datang lebih cepat, harusnya sebagai suami harusnya aku lebih peka.


Tapi kenapa Netta tidak meneleponku, padahal aku meninggalkan ponselku?


“Kedua wanita jahat itu bahkan mengambil ponsel Netta, mereka sungguh iblis, aku berharap mereka berdua membusuk di neraka, kamu tidak tahu mereka memperlakukan dengan buruk, aku sangat sedih melihat keadaanya, untung paginya, ia sudah menelepon aku, ia ingin main kesini dengan teman-temannya, rencana mereka ingin bakar-bakar ayam sambil kerjakan tugas bersama, tapi paginya ibu bapak sudah datang terlebih dulu, baru sorenya adik kamu dan perempuan itu datang ke rumah memukuli Netta, untung Aldo dan teman-teman menjemput Netta ke rumah kalian, iya Tuhan, ia sudah terkapar dengan kepala terluka dan di kening juga, itu perlakukan yang sangat kejam, sesama perempuan berani berbuat seperti itu, coba kalau Aldo tidak datang ke rumah, mungkin Netta tidak tertolong kali. Ia terlihat trauma, mudah-mudahan Netta tidak apa-apa.”


“Mami datang juga?”


“Iya, tapi tidak ikut dalam pemukulan itu, ibu pak Jonathan datang pagi, adikmu dan perempuan itu datang sore, aku tidak tahu ada sangkut pautnya, aku tidak mau mengurusi, tapi kelakuan adik pak Jonathan dan perempuan itu sudah bisa masuk ranah hukum, kami menyuruh Netta, tapi ia tidak mau, ia tidak mau keluarga bapak malu, ah menyebalkan melihat kondisinya saat itu aku marah padanya karena terlalu lembek, sekaligus kasihan padanya.”


“Sekarang Netta kemana?” tanyaku sekali lagi.


“Ia ke rumah Bapa udanya yang di Bekasi, kami merawatnya di sini selama dua hari, tapi ia ingin ke rumah bapa udanya yang di Bekasi, Jadi mereka menjemputnya kesini.


Netta sudah tidak kuliah lima hari.”


“Tulang bekasi yang datang jemput?”


“Iya bapa udanya Netta, kami juga mengenalnya karena satu kampung.”


Mendengar penuturan kedua kakak adik ini membuatku bagai masuk dalam dunia mimpi, otakku belum mampu mencerna, aku merasa lemas dan kakiku seakan tidak mampu menopang tubuhku, aku merasa tidak bertenaga lagi.


Arnita adik perempuanku menganiaya istriku, ia lebih membela seorang wanita pelakor dari pada istri abang sendiri, ada apa dengannya, apa yang di tawarkan Mikha padanya hingga ia mau seperti itu.


Aku tidak akan memaafkan kalian berdua, dasar wanita jahat, aku akan memberi kalian pelajaran jika benar apa yang dikatakan kedua kakak beradik ini.


Melihat tatapan tidak suka dari Aldo dan kakaknya membuatku ingin cepat-cepat ingin menghilang.


“Aku pamit pulang ito, terimakasih sudah merawat Netta , maaf merepotkan,” kataku.


Aldo menatapku dengan tatapan seakan menabur gendang perang, tangannya masih mengepal kuat.


Tapi aku tidak mempersoalkan, semua tatapan tidak suka dan tatapan pengusiran itu, aku tidak menghiraukannya, meninggalkan rumah Aldo, tapi badanku sekarang tidak bisa diajak kerja sama, mungkin karena lapar dan efek kurang tidur aku berjalan tidak seimbang, kakiku gemetaran dan lututku kehilangan kekuatannya. Aku saja hampir terjatuh di depan kedua orang itu, itu akan sangat memalukan bila itu terjadi, hal itu akan menunjukkan betapa lemahnya aku.


Berjalan menjauh meninggalkan rumah Aldo. Masuk ke dalam mobil dadaku serasa bergemuruh , sakit rasanya bagian hatiku, aku masih hidup tapi istriku bisa dianiaya orang, dan lebih menyakitkan yang melakukanya keluargaku sendiri, aku menggenggam dengan kuat setir mobil.


Aku ingin meluapkan emosiku, menghidupkan mesin mobil dan meninggalkan komplek perumahan itu.


“HAAAAAA… HAAA….!” aku berteriak meluapkan emosiku, memukul setir sebagai pelampiasannya.


Aku memutuskan ingin kembali ke rumah kami, aku baru ingat kalau aku memasang kamera pengawas di setiap ruangan di rumah kami, baik di luar rumah, sejak rumah kami disatroni dua orang berandalan, Netta jadi tambah penakut bila tinggal di rumah, Maka sejak saat itu, setiap sudut ruangan aku memasangnya, bahkan di kamar mandi kami juga aku memasangnya.


Harusnya aku memeriksa itu lebih dulu tadi sebelum pergi kemana-mana mencari Netta, tapi karena panik aku melupakannya.


Aku harus melihat kejadian sesungguhnya, apakah apa yang dikatakan Aldo apakah separah itu.


Tapi saat aku ingin cepat kemacetan ini menghentikan ku , aku semakin emosi, memukul setir mobil, meng klakson beberapa kali, aku tidak tahan lagi dengan tahan semua ini, ditambah kemacetannya yang menyebalkan ini, kalau sudah seperti ini ingin rasanya aku menghilang.


Setelah bergelut dengan kemacetan beberapa jam, aku akhirnya tiba di rumah kami, aku memarkirkan mobil itu sembarangan, aku tidak perduli lagi, aku harus melihat cctv melihat saksi dari kejadian itu, melihat kebenaran dari cerita Aldo.


Menghampiri layar monitor yang ada di kamar kami di samping meja belajar Netta.


Dengan nafas ter-engah-engah dan badan di basahi keringat, padahal aku sudah menghidupkan pendingin ruangan di kamar kami tadi tetap saja aku merasa panas pada bagian dadaku, dan panas dari kepalaku. Kejadiannya lima hari yang lalu aku memasukkan tanggal 15 karena hari ini tanggal dua puluh, memasukkan tanggal dan bulan dan tahun akhirnya file itu muncul juga,


Melihat rekaman Netta di hari naas itu.


Netta pagi-pagi setelah beres-beres seperti kebiasaannya setiap pagi, sejak asisten rumah tangga tidak kerja lagi, ia mengerjakan semua sendiri, dan terkadang aku bantuin hal-hal yang kecil, aku bahagia bersama Netta, kenapa Mami dan Arnita tidak tahu itu, aku bahagia hidup bersamanya. Bahkan saat ini aku sangat merindukannya.


Dalam layar monitor camera dapur Netta mengeluarkan ayam dari kulkas, mungkin itu ayam yang mereka bakar-bakar tadinya. Dan bangkai ayam itu juga yang membuatku hampir mati berdiri karena memikirkan hal-hal yang aneh, aku pikir itu Netta.


Ia meninggalkan ayamnya, ia membuka pintu gerbang setelah ia melihat Mami yang datang, biasanya ia akan membukanya dengan remote, tapi kali ini melihat Mami yang di depan pintu, ia membuka sendiri gerbangnya dan menyambut Mami dengan baik.


Mami duduk sebentar dengan Netta, tiba-tiba Mami berdiri menampar Netta, tidak jelas apa yang ia ungkapkan dan menarik rambutnya. Netta terlihat hanya diam saja seperti biasanya.


Melihat itu aku merasa sangat sedih, salut dengan Netta yang tidak mau melawan Mami. Mungkin kalau itu menantu yang lain aku yakin mereka pasti sudah melawan dan mungkin menjambak ibu mertuanya balik, Tapi Netta tidak pernah membatah sedikitpun.


Di tengah kemarahannya tiba-tiba Mami mengeluarkan kertas dari tasnya, ia sepertinya memaksa Netta untuk menandatangani, menamparnya beberapa kali, tapi Netta menolaknya, kali ini melempar pas bunga dan meninggalkan Netta, Netta duduk lemah, terlihat ia menangis dengan pundak terguncang setelah mami Pergi. Aku sungguh tidak tahan melihatnya.


Apa yang Mami lakukan sih?? Apa mami sangat senang jika aku dan Netta berpisah?


Aku mempercepat rekamannya hingga sore, dalam rekaman itu Netta terlihat baru mandi dan berpakaian cantik, sepertinya ia ingin belajar bersama teman-temanya.


Bel berbunyi lagi terlihat Netta ragu untuk membukanya, terlihat pagarnya di gedor-gedor. Netta membukanya, masuklah kedua wanita penyihir itu, Arnita dan Mikha.


Tidak seperti Mami, duduk dulu tapi kedua orang ini terlihat seperti orang jahat. Arnita menarik rambut Netta dan kedua orang itu melakukan pemukulan pada Netta dengan tidak berperasaan.


“Arnitaaa… kamu pikir Netta penjahat apa, kamu berani sekali melakukan seperti itu pada edamu sendiri, aku akan memberimu pelajaran.” Aku sungguh tidak tega melihat Netta di perlakukan seperti itu apa lagi mereka menggunting rambutnya, itu sangat menyakitkan aku sampai mengepal tanganku kuat dan menahan nafas menghentikan rekaman itu.


Ini perbuatan yang sangat jahat, aku akan memberi mereka hal yang sama yang diberikan pada Netta.


Melihat itu tidak terasa air mataku menetes deras, aku tidak pernah akan menduga wanita yang aku cintai istriku akan mendapat perlakuan buruk seperti ini


Aku mengusap air mataku dengan kasar, aku harus ke rumah Mami sekarang juga.


Aku harus mengkopi rekaman itu, aku akan menunjukkan pada keluargaku, mereka semua mengira karena aku tidak ada bisa memukuli Netta seperti itu, mereka tidak tahu kalau ada kamera cctv yang melihat dan merekam perbuatan mereka semua. Jika perlu aku akan membawa kekantor polisi.


Bersambung...