
“Nanti kita bahas, abang lebih baik tutup dan tidur,”
kata Netta
Kenyataan ia bisa membawa mobil itu membuat jantungku makin berdetak lebih cepat,
aku berpikir kami tidak akan selamat, ternyata Netta sudah mahir mengendarai mobil ,bahkan memarkirkan di depan rumah sakit yang sempit, ia bisa mengambil celah untuk parkir,
Netta keren.
Anak kampung yang naik daun.
Hingga aku sudah didorong di ranjang rumah sakit aku masih serasa bermimpi, aku harus beberapa kali mencubit lenganku, memastikan kalau apa yang kami alami tadi bukan halusinasi atau hanya sebuah mimpi, aku mencubit lengan tanganku untuk kedua kalinya.
Pertanyaan bermunculan di benakku, siapa yang mengajarinya?
Sejak kapan ia bisa bawa mobil, Netta pernah keceplosan Aldo pernah mengajarinya naik mobil. Apa bocah nakal itu yang mengajari Netta?
Ah dasar.
Hingga suara suster mengalihkan pandanganku.
“Anda tidak mimpi kok, bapak beneran masuk rumah sakit,”
ini rumah sakit Rose.
Apa bapak mengalami benturan di kepala?”
“Mana istri saya?”
“Istri bapak lagi menunggu di luar ruangan ini pak, tenanglah kami hanya melakukan pemeriksaan ringan,”
kata suster dengan sikap ramah dan sabar.
Ia berpikir aku tidak percaya masuk rumah sakit.
Tapi, aku berpikir bagaimana caranya Netta menjalankan mobil itu, dan Netta membawaku ke rumah sakit.
Tapi sudahlah, sepertinya pertanyaan ku akan mengendap begitu saja dalam otakku, karena seorang suster menyuntikkan sesuatu ke infus ku, aku merasa sangat mengantuk dan tertidur
Terbangun dengan bau harum yang biasa menggelitik hidungku.
Mencoba membuka mata perlahan, Netta tersenyum manis , ia terlihat sangat cantik pagi ini, aku berpikir masih pagi, ia terlihat seperti sekuntum bunga tulip yang sedang mekar.
“Selamat siang Bos,
bagaimana rasanya tidur terlelap setelah di suntik obat bius, untung aku bawa abang kesini, cidera di pundak abang itu lumayan parah, aku kabarin Bou iya abang, aku tidak mau nanti disalahkan gara-gara tidak mengabari mereka,”
kata Netta menatapku dengan sayu.
Aku diam mencoba mengatur potongan-potongan dalam ingatanku, mencoba mengingat hal –hal yang aku ingat hal tidak mungkin aku rasa.
Netta masih menatapku dengan tatapan menunggu jawaban untuk permintaanya.
“Berapa lama aku tidur?”
“Lebih tepatnya setengah hari,” jawab Netta membuka plastik penutup makan siang ku.
“Sekarang jam berapa?”
“Jam satu siang, kenapa Bang, jangan bilang abang ingin mengurus pekerjaan lagi.”
“Harus Ta, aku memastikan sudah sejauh mana tahap pengerjaannya, karena owner nya menyuruhku memberi kabar jam 12 tadi, mana ponselku?”
“Ketinggalan di rumah tadi malam,”
“Kamu bagaimana sih meninggalkan ponselku di rumah, terus bagaimana aku menghubungi kalau sudah seperti ini!”
suaraku meninggi membentak Netta, ia mengedik memundurkan lehernya karena kaget dengan sikapku yang marah-marah.
“Kamu sih, aku sudah bilang tadi malam jangan membawaku kesini, kamu pakai memaksa lagi, begini ‘kan jadinya, aku tidak bisa mengabari tentang apa yang terjadi, aku benci pekerjaan yang tertunda.”
Aku menutup mata, mencoba mengontrol emosiku yang ingin meledak hanya karena hal sepele, kebiasaan lama yang belum bisa aku ubah, sangat tidak suka janji yang aku ucapkan tidak bisa aku tepati.
Ini tentang pekerjaan yang pengerjaannya di buru-buru yang menguras tenaga dan pikiran, pekerjaan yang membuatku berakhir di ranjang rumah sakit ini.
Sikap kasar ku kali ini aku pikir akan membuat Netta menangis atau ia akan ikut marah balik.
Saat aku membuka mata, ia masih duduk menatapku, mencoba membaca lewat ekspresi ku.
“Baiklah, aku akan mengambilnya ke rumah jika itu sangat penting,”
ucap Netta berdiri.
Netta mengeluarkan kunci mobil dari saku jaket miliknya.
Netta Bawa mobil pulang
dalam keadaan marah?
untung otakku masih sedikit bisa diajak berpikir.
“Terus… aku bagaimana?
aku lapar, aku haus,”
kataku membuat alasan untuk menghentikannya, agar tidak pergi membawa mobil dalam keadaan marah.
“Terus abang ingin aku mengerjakan yang mana, dulu?”
“Aku ingin makan dan minum obat, dulu.”
Hadeh kenapa aku bangun-bangun langsung marah-marah sih, mungkin Toni sudah mengabarinya, soalnya tadi malam aku kan sudah berpesan padanya , aku bermonolog sendiri.
Menyesal karena sudah terlanjur memarahi perempuan cantik itu, kini senyum indah ala bunga mekar itu sudah berubah wujud bagai batang kaktus di gurun pasir, tidak ada lagi senyum manis lagi seperti saat aku bangun, senyum indah itu telah menghilang dengan suaraku yang meninggi tadi, wajah itu kini sudah datar.
Hal yang paling aku tidak sukai darinya, aku tidak suka kalau ia bersikap tegas dan berubah jadi pendiam seperti itu.
“Maaf” Ucapku saat ia menyuapiku.
“Baiklah,” jawabnya singkat,
Butuh waktu beberapa Jam untuk ia tersenyum dan bercanda denganku lagi, saat ia menyuapiku suasana hening, hanya suara sendok yang terdengar bersentuhan dengan piring
Ah harusnya tidak membuatnya marah tadi.
Hingga makan itu ludes tidak bersisa, Netta tidak sedikitpun membuka mulutnya.
“Ta, aku’ kan sudah meminta maaf, apa harus mendiamiku seperti ini, aku sakit, itu karena kepalaku sakit dan pundak ku juga sakit,” aku mencoba mencari perhatian darinya.
“Abang harus meminum obat, setelah itu Dokter akan mengganti perban di kepala abang.”
“Tapi aku merasa ada bagian yang sakit lagi dari Tadi, saat kamu tiba-tiba mendiamkanku.”
“Bagian mana?”
“Hatiku.”
“Nanti Dokter akan memberikan obatnya juga.”
“Haa?
Obat untuk hatiku?’
kataku menatap matanya.
Tidak berapa lama seorang Dokter muda berwajah cantik memeriksaku, aku bisa membayangkan Netta memakai jubah itu nantinya, tinggi badan mereka sama bahkan senyumnya sama.
Saat aku tersenyum hanyut dalam lamunan tanpa sadar Dokter itu membalas ku dengan senyuman, aku mengira ia salah paham padaku.
“Pacar bapak melihat bapak,loh.”
“Oh ia istriku Dok, ia juga seorang calon Dokter,”
kataku merasa bangga.
“Oh, benarkah?
Oh istrinya, saya pikir tadi pacarnya.”
“Senyum yang di pamerkan Dokter cantik semakin manis, ia melirik Netta.
“Oh, bapak itu sangat tampan, mapan dewasa lagi, seseorang pasti sangat senang.
Melihat Netta cemberut, aku pikir Netta cemburu .
Aku berpikir akan membuat tamba cemburu lagi.
“Tidak juga, ia tidak begitu senang, ia sepertinya tidak begitu senang.”
Ckkk” kalian berdua ngomong apa sih?
Kak Nela juga, sudah sana, aku bisa menggantinya nanti,”
kata Netta menghardik pinggang Dokter cantik itu terlihat sangat dekat membuatku kebingungan sendiri.
“Oh, benarkah ibu Dokter…?”
“Eh… tunggu, kalian saling mengenal?”
“Iya.
Ia kakaknya Aldo!”
kata Netta dengan mata meledekku balik.
“Haaa!?”
“Aldo lagi ngapain, kak?”
“Kenapa nyariin adikku, sudah punya suami tampan, mapan,” kata Dokter cantik itu lagi.
“Aldo lebih tampan, kakak.”
Kata Netta
“Heii! Kamu berani membanding-bandingkan ku sama bocah itu, iya.
Sudah, sudah. Dokter keluar saja, aku tidak mau Dokter yang memeriksaku lagi,”
kataku kekanak-kanakan.
Siapa yang menduga niat ingin membuatnya cemburu, malah aku yang di buat panas, aku tidak menduga Dokter yang tersenyum manis itu kakaknya Aldo lelaki yang diam-diam cinta pada Istriku.
Aku terkena jebakan sendiri. Itu semua karena aku marah-marah di waktu yang salah.
Bersambung...