Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Pulang kampung yang sangat berkesan


Kapal melaju perlahan di danau Toba, danau yang indah, memandang  gunung dan hamparan pinus di tepi danau Toba, dan hembusan angin  membuat jiwaku semakin terasa kosong.


‘Ini kah namanya rindu setengah mati? Seumur  hidup baru kali ini aku merasa rasa rindu yang sangat menyesakkan dada, aku hanya bisa duduk diam dalam kekosongan, tanpa sadar sebutir kristal  bening menetes dari sudut mataku.


‘Gila … apa aku menangis?’  mengusap mataku dengan buru buru, aku melirik kanan kiri tidak ada yang melihatku meneteskan air mata, aku duduk di tingkat paling atas kapal, sementara Mami duduk di tingkat paling bawah bersama Papi dan perawat yang menjaganya, aku sengaja duduk di atas kapal, suara mesin kapal menutupi pendengaran ku, tapi hati dan pikiran di penuhi bayangan Netta.


Semakin kapal mendekat dan hampir tiba di pelabuhan Pandiangan, semua sudah turun,  hanya aku masih duduk, beberapa tahun yang lalu,  saat kami datang di sambut bak raja.


Tetapi saat ini, kami datang, semua sudah  berbeda saat ini, hanya kami yang di turunkan di pelabuhan Pandiangan.


“Tan cepat turun!” Teriak Papi saat kapal mau jalan lagi.


“Kita naik apa Pi?” Aku bertanya sembari turun dari kapal,  tidak ada kendaraan di pelabuhan.


“Tenang, kemarin aku sudah suruh orang menjemput kita di sini.”


Aku enggan melangkah, aku berharap Netta datang dari Jerman , walau hal itu tidak mungkin.


Hingga mobil bewarna hitam datang menjemput kami, aku berdiri ingin rasanya aku kembali lagi ke Jakarta, tidak ingin melihat kampung Netta dan teman-teman Netta.


“Tan, ayo masuk, nunggu apa lagi …!?” panggil Papi dari dalam mobil.


“Aku balik lagi saja iya Pi, aku sepertinya berat bangat mau kembali ke sana.”


“Kamu mau naik apa? tidak ada kapal lagi jam segini, Ayo ada-ada saja kamu, oppungmu loh yang meninggal Tan,” ujar Papi.


“Baiklah, mari kita pergi,” Kataku menurut walau berat hati.


Sepanjang jalan pulang, aku hanya diam menutup mata.


Dari pelabuhan tempat kami turun, naik lagi ke desa atas Huta Dolok Martahan.


Mobil  kami tiba dan berhenti di Desa Dolok Martahan, saat di depan halaman sudah dipasang tenda, aku sama Papi membantu Mami turun , saat menurunkan koper dari bagasi mobil.


“Horas... amang, selamat datang Bou,” suara itu membuatku hampir pingsan, tidak mungkin, suaranya saja yang mirip pikirku, melanjutkan menurunkan koper.


“Bagaimana perjalanan amang boru?” Badanku langsung spontan berbalik melihat asal suara, aku merasa badanku tiba-tiba ingin ambruk, sosok yang aku rindukan ada di depan mataku.


Ia sangat cantik, aku tidak percaya, beberapa kali mengucek mata merasa tidak percaya, aku mencubit lenganku dengan kuat, ternyata sakit, Aku masih diam menatap Netta.


“Kok kamu diam saja sih Tan?” Papi menyenggol lenganku.


“Netta …!? Kamu datang?”


Ia tersenyum menatapku, Oo … iya ampun ini bukan mimpikan’ Teriakku dalam hati, ingin rasanya aku memeluk Netta, tetapi aku tidak punya keberanian, aku memang selalu lemah di hadapan Netta.


 Mencoba menarik napas panjang, membuang perlahan, menutup mata dan membukanya lagi, memastikan itu nyata apa tidak … tatapi ia masih berdiri di depanku, anehnya, aku merasa seperti mimpi, aku belum percaya.


“Netta … kapan sampai?” Tanyaku dengan susah payah, detak jantung belum stabil aku merasakan telapak tanganku berkeringat.


‘Benarkah wanita cantik ini Netta …? Istriku …?’ Aku masih menatapnya


“Iya Bang, tadi malam aku sampai,” ujar Netta samar-samar.


Ia sangat berubah, kulitnya  putih dan  mulus, wajah cantik terawat, rambut bagian depannya di beri poni sekilas ia seperti orang bule. Tidak lama kemudian datang Ibu mertuaku menyambut kami.


“Oh nungga ro halak eda” (Oh sudah datang Eda: Ipar) menyambut kami dengan hangat.


Mami terlihat diam,  mungkin ia merasa malu, Ibu mertuaku memeluk aku dan memeluk Mami juga, apa ada yang tidak aku tahu, apa yang terjadi? Kenapa Netta disini, aku masih di landa berbagai pertanyaan, apa lagi sikap baik Nantulang ku, atau ibu Mertuaku pada kami, harusnya  dengan semua kejahatan yang  kami lakukan, ia marah dan benci pada kami, atas apa yang diperbuat Mami selama ini pada anaknya.


Belum juga  kami masuk ke dalam rumah ibu mertuaku mama Netta sudah membuat kami tercengang.


“Terimakasih iya Eda, terimakasih amang, berkat Eda Netta bisa jadi dokter,”


Aku masih berdiam, tidak tahu harus berbuat apa juga.


“Mari masuk! mari masuk.


Mertuaku Mama Netta menuntun kami masuk, Netta pergi di panggil salah satu bapak-bapak untuk menyiapkan kopi,  mataku masih mengikuti kemana Netta pergi, saat mengangkat koper ke dalam rumah, di atas dipan (tempat tidur)kayu terbujur kaku seorang wanita tua, Mamanya Mami yang aku panggil oppung boru.


Tidak lama kemudian suara tangisan Mami memenuhi ruangan itu, aku masih duduk tidak percaya, saat aku menoleh kanan-kiri tidak menemukan Netta, aku duduk di pojok kan ruangan menyandarkan kepalaku di dinding, aku masih berpikir kalau itu hanya khayalanku saja, mungkin karena aku terlalu rindu pada Netta.


“Apa abang capek?” suara itu membangunkan ku, tangan Netta menyodorkan segelas air putih, aku membuka mata, seorang wanita cantik berjongkok di depanku.


“Ta? Aku tidak percaya itu kamu,” kataku menutup mata lagi.


“Abang ngapain kayak orang linglung dari tadi?” ujar Netta.


“Ini beneran kamu??”


“Iya, iyalah abang memang ada dua Netta?”


“Aku  masih belum yakin, aku masih berpikir kamu masih di Jerman Ta,” ujarku dengan suara bergetar.


Jangan tanya bagaimana perasaanku, aku tidak bisa mengungkapkan  isi hatiku antara ingin menangis dan ingin tertawa.


Aku menutup mata lagi. “Satu,  dua , tiga.” Aku membuka mata.


“Ta…! Bikini kopi bapa udamu yang datang dari kampung sebelah,” kata bou Bandung.


Sosok Netta itu pergi meninggalkanku.


“Tante juga sudah di sini?” kataku saat tanteku duduk di sampingku.


“Kan, Tante sudah menelepon kamu tadi malam, kalau Tante berangkat duluan sama bapa udamu, kamu lupa?”


“Tante naik apa?”


“Iya ampun Tan kamu mimpi iya? kamu tadi malam pesan tiket Tante kan. Nanti saja bayarnya, kalau Tante sudah gajian,” kata Tante tersenyum kecil meninggalkanku.


Ini bukan masalah uang untuk  beli tiket, aku hanya merasa  otakku tidak berfungsi, aku tidak mengingat.


Rasanya kepalaku sangat pusing belum lagi perut yang semakin lapar.


Bersambung ….


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH


Baca juga  karyaku yang lain


-Aresya(TERBARU)


-The Cured King(TERBARU)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (Tamat)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


Bintang kecil untuk Faila (tamat)