Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Kencan singkat


Mendengar Candra  mabuk aku dan Netta akan bergegas akan membawanya pulang.


Aku mengemudi ke arah Jakarta Pusat,   menurut GPS  lokasi Candra ada di salah satu  bar yang tidak asing bagiku.


“Nanti kita antar dia ke rumah bou Saja Bang?”


“Bou mana?”


“Mami mertua.”


“Oh, aku kirain ke Bogor , kalau ke situ, aku gak mau.”


“Kenapa?” Netta Menatapku.


“Aku gak mau bertemu tante.”


“Baiklah, aku juga,” balas Netta.


Setelah tiba di depan bar, aku  menatap Netta.


“Kamu tunggu di sini saja,ya.”


“Kenapa? Emang ada apa di dalam?”


“Banyak orang mabuk  di dalam.”


“OH, ya uda.”


‘Ah … istriku pengertian’aku membatin.


Aku tahu Netta  masih polos,  belum pernah masuk bar ataupun diskotik, aku tidak mau ia mengetahuinya.


“Bang …! Aku ikut saja deh!” Serunya  setengah berlari.


Baru juga dipuji istri pengertian uda minta ikut si Borneng.


“Di dalam gelap banyak orang mabuknya, teler ini sarang penjahat,” ucapku menakut-nakuti.


“Tidak apa-apa, kan, ada abang yang jaga, aku penasaran seperti apa sih isinya, teman-temanku pada cerita kalau  setiap malam minggu mereka akan ke diskotik.”


“Aduh .... Kamu malah ingin nanti.”


“Tidaklah  yang ada nanti aku dijambak namboru kalau datang ke sini, aku hanya penasaran saja.”


Aku tertawa mendengar nya. “Ya, sudah ayo.” Aku melepaskan jaket dan memakaikan padanya.


Saat masuk, aku menemui manager bar di ruangannya, aku memang kenal, sebab aku dan Kevin dulu sering ke sini saat malam minggu. Kami diantar seorang penjaga. Setelah bicara dengan manager ia meminta anak buahnya mencari ciri-ciri yang dimaksud, aku dan Netta duduk di ruangan lelaki berrambut pirang tersebut.


Melihat tatapan menyelidiki dari manager itu pada Netta, aku merasa tidak nyaman, aku takut ia menyinggung tentang masa lalu yang buruk itu lagi.


“Bro, kami mengunggu di luar saja.”


Aku menggenggam telapak tangan Netta.


“Apa dia kekasih  barumu, Jo?”


“Dia istriku Bang."


“Oh.”


“Kami mau pesan, menunggu di  meja saja.”


“Ok,  siap.”


Keluar dari ruangannya membawa Netta ke meja bartender.


“Kamu mau minum sesuatu Dek?”


“Memang ada apa saja? Ada Jus?” Tanya Netta dengan suara meninggi ke kupingku.


Aku  mencubit pipinya,  mendengar pertanyaan polos istriku, tetapi aku sangat bangga padanya. Aku berharap ia tidak mengenal tempat hiburan malam.


“Biar aku pesan saja.”


“Aku tidak mau minum yang berbau alkohol, bang.”


“Baiklah.”


“Aku memesan  moctail untuk Netta, minuman rasa buah tidak mengandung alkohol,  minuman untukku vodka saja satu gelas.


“Bang … nanti kamu mabuk. Kita ke sini mau mencari bang Candra, kenapa kita jadi minum."


“Satu  gelas tidak akan mabuk kali Dek, ini namanya menyelam sambil minum air kan, anggap saja kita kencan merayakan vallenten.”


Netta tertawa, sebenarnya  bisa saja aku mencari Candra di sekeliling  ruangan itu, tetapi dengan orang sebanyak itu dan tempatnya seluas itu  akan susah, apa lagi mengajak Netta.


Netta  memutar tubuhnya  melihat wanita -wanita seksi yang kebanyakan pakaian mereka kekurangan bahan, ia tidak mengatakan apa- apa. Tetapi mata itu terus  saja mengawasi sekeliling.


“Bang … kenapa kita tidak mencari ke dalam?”


“Jangan  mabuk, Ya,” ucapnya mengingatkanku lagi.


“Sepuluh botol  baru aku bisa mabuk, apa  kamu turun dance denganku?” Tanyaku saat Netta menatap dengan penasaran.


“Tidak, aku bisa dance.”


“Anggap saja kita  kencan, seperti mereka. Apa kamu tidak penasaran?”


“Penasaran sih tapi ….”


“Jangan malu, kamu, kan, datang sama suamimu.” Aku merentangkan telapak tanganku meminta tangannya, awalnya ia ragu setelah aku memaksa ia mau.


Aku mengajaknya bukan untuk mengajarinya tidak benar, tetapi melihatnya menatap penasaran aku mengajaknya, dari pada nanti dia penasaran lalu pergi sama orang lain, lebih baik dia pergi bersamaku.


Baru juga beberapa gerakan melihat orang berdesak-desakkan dan melihat para pria yang sudah mulai mabuk, ia langsung merasa risih dan bergelid, dugaanku benar. Netta tidak akan tahan walau hanya lima menit di tempat seperti itu.


“Bang … ayo duduk lagi.” Ia menarik tanganku.


“Kenapa? Anggap saja kita kencan di diskotik!”


“ Gak ah kencan nya udahan saja. Aku pusing, kita keluar saja ya!”seru Netta dengan suara tinggi untuk mengimbangi suara musik.


Saat kami berdiri di meja bartender itu lagi, dua orang berkepala botak  menggotong Candra ke depan kami.


“Ini Bang, kalau saja tidak di jemput mungkin dia sudah babak belur di dalam, kami tidak tahu kenapa orang-orang itu melakukannya,” ujar mereka.


“Bang Candra? Astaga kenapa  wajahnya  jadi seperti ini?” Netta kaget.


“Dia hajar tiga orang.”


“Bang, tolong bawa ke dalam  mobil, aku ingin mengobati luka di wajahnya.”


Mereka berdua memboyong Candra ke dalam mobil, aku mengikutinya dari belakang setelah aku membayar minuman yang  yang kami pesan.


Netta mengeluarkan kotak obat dari dasbor, mengobati luka di wajah Candra, penampilan  Candra   benar- benar hancur, entah apa yang dilakukan orang itu pada nya.


“Netta ... harusnya kamu bicara sama namborumu itu, agar dia tidak memaksaku menikah.”


“Abang diam dulu, biar aku obati lukanya.”


“Kau tahu Ta … pacarku yang pernah aku bilang padamu, dia membenciku, dia menyumpahi ku  tujuh turunan.” Netta  menghiraukan ocehan Candra, ia tetap fokus  mengobati luka menganga di pelipis  Candra.


“Ta … apa kamu mendengarku?” Tangannya memegang lengan Netta.


“Dia mendengarmu … sudah diamlah,” ucap melepaskan tangannya dari lengan istriku.


“Ta …. kamu tahu, aku melakukannya aku pergi ke rumahnya meminta maaf, tapi dia membenciku dia mengusirku Ta … Aa …aa.” Dia menangis seperti anak kecil.


“Lagian abang kenapa datang sekarang, aku sudah bilang, sebelum menikah.”


“Mama tidak memperbolehkan ku Ta, dia mengurungku di kamar dan menyita ponselku, mama takut aku kabur.”


“Haaa? Dikurung?” tanyaku terkejut.


Kalau dipikir-pikir tante sangat keterlaluan, pantas Candra sangat depresi, hilang harga dirinya sebagai lelaki.


Ini seperti aku saat mami berbuat semena -mena sama Netta, banyak orang bilang aku tidak tegas dan pengecut.


Sebenarnya, saat itu aku bukannya tidak mau melawan mami, tetapi karena aku menghormatinya dan aku tidak mau mami sakit hati. Aku mengerti apa yang dirasakan Candra, ia tidak ingin ada kekacauan di rumahnya, sebenarnya dia bukan takut melawan tante, tetapi ia tidak ingin mamanya malu. Terkadang orang tua itu egois, hanya memikirkan  dirinya sendiri, tidak merasakan apa yang dirasakan anaknya ‘nanti apa kata orang’ itulah yang sering aku dengar dari orang tua kami. Aku berharap Candra menemukan jalan keluar.


Bersambung ….


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA.


akak.


Fb Pribadi: Betaria sona Nainggolan


FB Menulis; Nata


Ig. Sonat.ha


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH


Baca juga  karyaku yang lain


-Aresya(TERBARU)


-The Cured King(TERBARU)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (Tamat)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


Bintang kecil untuk Faila (tamat)