
Kabar yang aku dengar dari Kak Eva ikut mengguncang, aku tahu apa yang dirasakan Netta saat itu.
Netta tidak menceritakan tentang kecelakaan Aldo padaku tadi, mungkin ia pikir aku akan cemburu lagi.
Padahal aku tahu kalau Netta tadi sangat sedih, aku tahu kalau ia tadi menahan tangisan saat aku menelepon.
Netta sudah bersahabat dengan Aldo dari mereka duduk dibangku SMP, duduk di bangku yang sama, selalu bersaing untuk menjadi juara, berlanjut sampai kuliah, bahkan bekerja di rumah sakit yang sama. Saat aku bertanya padanya;
“Aldo dan kakaknya bagai malaikat penyelamat dalam perjalanan karierku Bang,” ujar Netta suatu malam.
“Memang apa mereka lakukan sampai kamu memuji mereka setinggi langit?”
Netta menarik napas panjang.
“Dari aku smp dia sudah sering membantuku, tapi ada satu hal yang tidak bisa aku lupakan … Aldo mencuri uang mamanya agar aku bisa ikut pertandingan bersamanya di luar daerah.
Masih banyak lagi bantuannya, dia sahabat sejatiku .... Bang, bisakah kamu jangan cemburu padanya?” Tanya Netta padaku malam itu.
“Tidak bisa Ta, selagi kamu masih dekat padanya aku akan selalu cemburu.”
“Lalu bagaimana caranya agar abang tidak cemburu lagi?”
“Dia pergi jauh darimu, kalau tidak, dia menikah, aku janji kalau keduanya terjadi aku tidak akan cemburu jika kalian suatu ketika bertemu kembali,” jawabku.
“Pergi jauh bagaimana, dia kan kerja di sini dan dia sekolah lagi saat ini, di sini juga."
“Ada caranya agar dia menjauhi mu dan aku tidak cemburu lagi.”
“Apa?” tanya Netta lagi
“Mati,” Cletukku dan berjalan ke dapur, padahal aku hanya asal bicara, bukan sungguh - sungguh.
Netta mengikuti dan memukul punggungku dengan marah , saat aku menyumpahi sahabatnya mati.
“Baiklah begini saja biar aku tidak cemburu, kita buat perjanjian.”
”Apa?”
“Jika kamu bertemu dan jalan sama si Aldo tanpa aku, kamu akan tidur diluar sama si milon,” ucapku saat itu.
“Baik siapa takut,” balas Netta dengan percaya diri.
Itulah sebabnya tercetus perjanjian konyol tersebut.
Setiap kali Netta cerita siapa Aldo untuknya darahku selalu mendidih api cemburu, itulah alasanku menciptakan perjanjian konyol itu.
Beberapa minggu sejak aku membuat perjanjian tersebut, Netta mengajakku jalan-jalan ke Bogor bareng Aldo dan calon istrinya, setelah cerita banyak dengan lelaki berkulit putih tersebut, akhirnya aku memilih percaya padanya.
Sejak saat itu aku tidak lagi cemburu pada Aldo karena ia sudah punya calon istri.
*
“Apa ini? Kenapa jadi begini?” gumamku begitu shock setelah melihat media sosialnya di banjiri ucapan bela sungkawa.
Aku semakin panik saat nomor Netta tidak bisa dihubungi, aku sudah berniat menyusul Netta malam itu juga.
“Mang, gak usah, kita tunggu saja di sini. Bagaimana kalau kita melayat saja,”usul papi mereka melarang ku menyusul Netta ke Bali.
“Ya Bang, takutnya nanti eda datang abang pergi jadi gak ketemu,” ujar Arnita.
“Sudah jangan panik, dia akan baik-baik saja,” ujar papi menepuk-nepuk pundakku.
Aku menurut, aku menunggu Netta dan kami rencananya akan melayat ke rumah duka di rumah sakit. Satu malam itu aku bisa tidur, itu artinya aku selama dua hari berturut-turut tidak tidur.
“Kamu kemana Dek, kenapa tidak mengangkat teleponku,” ujarku putus asa.
*
Saat pagi tiba, kami satu keluarga melayat ke rumah sakit.
Lututku terasa bergetar saat melihat lelaki muda itu terbujur kaku di dalam peti kayu balutan jas berwarna putih, wajahnya penuh luka.
Pelayat begitu banyak dengan seragam khas dokter karena dua kakak perempuan Aldo juga dokter, salah satunya bekerja di rumah sakit yang sama dengan Netta dan Aldo.
Tangis kedua kakak perempuannya sangat memilukan hati, bahkan kakak pertamanya beberapa kali pingsan melihat adik bungsu mereka yang tidak bernyawa.
“Ito, bohado dokkonon nami tu oma? hape nungga di tuhor kabaya nattoari naeng tu pesta mon itooo ….”
(Ito … apa yang akan kami bilang ke mama, padahal sudah dibeli kebaya untuk pesta pernikahanmu ito, sudah dijahitkan kebayanya) ujar kakak perempuan nya menangis histeris.
Mami yang berdiri di samping ikut menangis terisak-isak mendengar tangisan Kakak Aldo, setelah melihat kakak perempuan Aldo, ternyata mami juga mengenal keluarga mereka.
“Oh, iya ampun, mamanya dia guru mami dulu saat SMA,” ujar mami.
‘Maafkan aku Bro, jika banyak ucapanku yang menyakiti hatimu saat itu’ ucapku dalam hati.
“Tabereng waktu nungga ginjang ari. Adong dope sipaima on ta, asa ta tutup batangna asa ditaruhon tu huta bakkena on.”
(Kita lihat waktu sudah mulai siang. Masih ada yang kita tunggu, biar kita tutup petinya karena mayatnya akan kita antar ke kampung)
“Paima jo oppung paimahon donganna, tokkin ro namai, nungga di dalan.”
(Tunggu dulu oppung, nunggu temannya sebentar lagi dia datang sudah di jalan) bujuk kakak perempuan Aldo.
“Bukankah yang itu calon istrinya? Mereka nunggu siapa lagi?” Tanya Kak Eva.
“Anggo holan dongan do Da, tamiang ma dipasahat, unang palelengku”
(Kalau hanya teman lewat doa saja, biar tidak kelamaan) Ujar Oppung itu lagi
“Sabarlah oppung ... Itu dia datang!”
“Itu Eda Netta ….,”ujar Arnita mata kami semua tertuju padanya.
Mata semua orang tertuju pada sosok yang ditunggu-tunggu, ia datang dari pintu, Netta datang dengan tiga dokter lainnya, Netta berjalan pelan dengan tubuh gemetaran, ia seolah-olah tidak percaya dengan apa yang di lihat saat itu, ia tidak bersuara tapi pundaknya bergetar dengan air mata membanjiri wajahnya yang lelah, bahkan pakaian yang ia gunakan masih seragam operasi. Netta di jemput pakai helikopter, karena suami dr. Dilla seorang tentara.
Kami tidak pernah menduga kalau teman yang ditunggu itu adalah Netta.
‘Sebegitu dekat kah persahabatan mereka sampai semua orang keluarganya rela menunggu dia’ ucapku dalam hati.
“NETTAAAA!” Teriak kedua kakak perempuan Aldo berdiri memeluk tubuh Netta yang masih berdiri diam, matanya menatap nanar pada sosok sahabatnya yang sudah terbujur kaku.
“Nungga lao be ibadana Ta, nungga lao be si Aldo ... boha nama on Ta!”
(Sudah pergi dia Ta, sudah pergi dia … bagaimana ini!) Teriak kakak perempuan Aldo memeluk Netta.
Netta masih terdiam mematung, lalu ia mendekat menatap wajah Aldo, tidak lama kemudian tangisannya pecah.
“Hai. Bangun! Aku sudah menyelesaikan ujianmu, kamu berhasil, kamu akan jadi dokter spesialis seperti impianmu, kamu berhasil, bangunlah teman,” ujar Netta dengan suara yang bergetar sedih.
“Lihat Do, seperti biasa kamu mendapat nilai terbaik lagi.” Netta mengeluarkan kertasnya dari sakunya menyelipkan di tangan Aldo.
“Selamat atas keberhasilan mu sahabatku, kamu selalu yang terbaik, aku selalu kalah darimu, kamu berhasil. Tolong bangunlah, agar kita bisa bersaing kembali” ujar Netta mengusap tangan Aldo.
Tangis kakaknya semakin keras, mereka semua memeluk Netta.
Ternyata hari itu, harusnya Aldo yang akan berangkat ke Bali untuk mengikuti ujian tes praktek terakhirnya, sebelum mendapatkan gelar barunya, sebelum berangkat ia kecelakaan, Netta memutuskan menyelesaikan ujian terakhir untuk sahabatnya makanya ia berangkat ke Bali.
Bersambung ….
Helo Kakak... jangan lupa like vote dan kasih hadiah ya, biar viewer Pariban Jadi Rokkap naik. Bantu share juga ya.
Terimakasih Kakak semua