Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Jika banyak pikiran tubuhpun akan sakit


Tante masih keras kepala tidak mau disalahkan atas apa yang terjadi pada Candra. Pertengakaran besar sudah beberapa kali terjadi, saat tante menjodohkan Candra.


“Aku tidak ada harga diri sebagai suami di rumah  Bang, dia selalu melakukan sendiri tanpa persetujuanku”


"Sabarlah, kita sudah tua, pergi dari rumah akan menambah masalah nantinya." Papi menasihati.


Tidak lama kemudian tante turun dari atas ia kembali marah-marah, menjadikan semua orang jadi pelampiasan kemarhannnya.


“Tan, biarkan saja dulu di sini istirhat,” ujar kak Eva.


“Biar aku nanti mengantar pulang,” ucapku menawarkan.


“Apa kamu ingin, aku bolal-balik Jakarta -Bogor. Apa kata orang nanti, melihat Candra  kabur”


“ Terserah tante sajalah  kalau  begitu, aku hanya memberi masukkan saja, karena Eda tadi baru memberi suntikan padanya, “ kata Kak Eva.


“Selalu saja memikirkan apa kata orang lain, padahal anak kamu hampir mati,” ujar bapa uda.


“Aku tidak ingin tetangga dan orang-orang kantor sampai tahu kejadian ini, aku bisa malu”


“Sudah berhenti berdebat, sekarang Abang Candra mau di bawa ke mana? Mau pulang atau bagaimana?” Tiba-tiba Edo bangun dari sofa. “Kalian memintaku pulang ke rumah, apa hanya ingin melihat kalian bertengkar?”Edo marah besar melihat kedua orang tua berdebat.


“Bapa tua menyarankan bawa berobat saja”


“Tidak perlu, kita bawa pulang saja, aku bisa mengobati” balas tante.


“Ma, abang itu butuh pemulihan mental”


“Memangnya dia gila?”


“Kalian bawa saja berobat sebelum terlambat sulit nanti memulihkannya  kalau sudah ketergantungan,” ujar mami membuka suara,  ia tiadak ingin nasip Candra sepertiku dulu.


“Kakak Diam, kamu puaskan melihat anakku hancur, ini yang kamu lihat dari aku!”


“Aku gila ya!” Mami berdiri.


“Kamu yang gila!”


Pertengkaran pasangan kembar itupum tidak terelakkan lagi, suara mereka melebihi  speaker hajatan.


“Hadeh … mulai lagi. Bodoh amatlah.” Edo tidur lagi.


“Aku peduli pada mereka, anak-anakmu anak-anakku juga Rita,” ujar mami memanggil nama kecil tante.


“Kamu tidak pernah perduli, kamu hanya sayang pada anak-anakmu”


“Dengar aku sudah merasakan sakit seperti ini … bagaimana Jonathan  sempat depresi karena sikap egoisku, aku berharap kamu tidak sampai merasakan itu,” ujar mami dengan volume suara yang semakin merendah, ia berharap tante tidak melakukan hal yang salah seperti yang ia lakukan.


‘Mami  benar-benar sudah berubah’ ucapku dalam hati.


“Aku tidak megalami apa yang kamu alami karena dosamu lebih banyak”


“ Banyak dosa? Memang apa dosaku?”


“Menggambil kekasih orang lain bukan itu licik?”


Wajah mami tiba-tiba pucat, lalu ia menatap papi.


“Jangan mengungkit masa lalu. Tuhan sudah memberi  keluarga dan anak-anak”


“Sampai kapanpun aku tidak akan melupkan penghianatanmu,” ujar tante.


“Apa  maksudnya?” tanya kak Eva  berbisik ke kupingku.


“Aku juga tidak tahu”


“Apa mungkin papi kekasih tante di masa lalu?”


Aku menggeleng tidak tahu, sementara Netta hanya diam.


“Dek … apa kamu tahu sesuatu?’ tanyaku  berbisik juga sama Netta.


“Nanti kita bahas tentang mereka Bang, kita pikirkan tentang Candra dulu”


‘Astaga jangan-jangan papi juga mantan kekasih tante, makanya ia selalu bersaing sama mami’ aku membatin.


“Terserah kamu saja, jika ingin hidupmu damai , buang dendam dari masa lalumu dan syukuri apa yang kamu punya, "ujar mami


“Jangan mengajariku, aku lebih pintar darimu,” ujar tente  dengan sombongnya.


“Baiklah terserah kamu saja,” ujar mami mengalah, kalau biasanya ia tidak mau kalah kalau bertengkar atau berdebat,  kali ini , setelah melihat Netta, mami langsung diam.


“Lalu bagaimana?” Edo berdiri.


Karena tante memaksa, Aku dan Edo membantu Candra Turun  membawanya ke mobil, tetapi  bapa uda  ingin Candra dibawa ke dokter.


“Bawa ke rumah sakit”


“Ke rumah”


Walau, tante menolak di bawa ke rumah sakit,  tetapi bapa udah memaksa membawa, ia tidak perduli walau istrinya teriak melarangnya


“Temanin bapa uda Mang,” ujar papi.


“Tapi bagaimana dengan tante”


“Biarkan saja, ada Edo yang membantu nanti”


“Ya, Bang tolong temanin Bapak,” ujar Edo.


“Ayo Dek.” Aku mengajak Netta dari situ, aku tidak mau ia juga di jadikan pelampiasan sama tante. Seperti biasa jika ada perdebatan dan adu argumen antara orang tua kami anak-anaknya tidak mau membela siapapun kalau tidak bisa dilerai kami semua lebih baik diam.


Netta ikut bersamaku berjalan menuju mobil bapa uda.


“Bapa uda biar kaku saja yang menyetir”


“Baiklah “


Ia pindah ke  belakang menemani Candra yang duduk di jok belakang, aku dan  Netta duduk di depan.


“Amang boru …. Bang Candranya di tidurkan saja di pangkuannya, agar dia cepat  bangun,” ujar Netta sebelum mobil berjalan.


“Baikla maen”


Ia melakukan seperti yang dikatan Netta, aku menghidupkan mobilnya dan melajukan mobil  menuju rumah sakit. Netta menoleh ke belakang.


“Amang boru, kenapa tangannya bergetar?”


“Beberapa hari ini tanganku sering begitu, maen. Dadaku juga sakit,” keluhnya tangannya sebelah lagi memegang dada.


Netta membuka dasbor mengeluarkan  peralatan medis yang biasa simpan disana, ia membalikkan badannya.


“Bang … coba berhenti ada yang aneh dengan amang boru,” ujar Netta.


Tiba-tiba bulu kudukku  merinding


“Oh bapa uda kenapa Ta?”


“Sepertinya hipertensi. Apa dulu amang boru, ada tekanan darah tinggi?”


“Aku gak tahu. Apa kita telepon ke rumah?” tanyaku panik.


“Kita bawa ke rumah sakit dulu Bang, cepat. Amang boru dalam bahaya ini. Netta berpindah ke belakang membantu bapa uda yang tiba-tiba kesakitan memegang jantung”


Kami nyaris  kecelakaan saat aku  menelepon saat menyetir.


“Kemana kalian bawa di Candra jadinya, bagaimana kalau ke tempat kamu dulu,”ujar kak Eva menyorocos.


“Kak … tenang dulu, dengarkan aku baik-baik apa tante masih gila?”


“Tidak lagi Edo memarahinya”


“Begini Kak, bapa udah terkena serangan jantung”


“APA?”


“Aku bilang jangan panik!” Bentakku marah.


Terdengar ia menarik napas panjang. “Baiklah”


“Apa Kak suara Edo di samping kak Eva, ia memberikan pada Edo.


“Do … kamu tenang dulu ya, bapa uda pingsan  kami menuju rumah sakit terdekat, tolong datang sendiri ke sini, aku tidak mau terjadi apa-apa nanti”


“Baik Bang, serlok saja”


Kami membawa Candra dan among boru ke rumah sakit terdekat, tidak terbayang  jika bapa uda tadi yang menyetir mobilnya tiba-tiba ia mengalami sakit jantung, aku yakin sesuatu akan terjadi jika tadi papi tidak memintaku menemani bapa uda.


Akhirnya kami tiba di rumah sakit terdekat membawa bapa uda dan Candra ke ruang ICU.


“Pertolongan pertama yang di berikan sangat bagus, makanya nyawah Bapak anda selamat,” ujar dokter muda itu menatapku.


“Istriku dokter Pak,” ujarku menoleh Netta yang menerima telepon.


“Oh, pantas saja, kalau tadi tidak ada pertolongan pertama sebelum ke rumah sakit, hal buruk akan  terjadi, soalnya darahnya suda mengental dan menyumbat di jantung,” ujar dokter menjelaslan padaku.


Aku dan dokter muda itu sama-sama menatap kearah Netta yang  terlihat berbicara serius dengan penelepon.


Menurut keterangan dokter yang mengani bapa uda,  bapa udah mengalami serangan jantung


Aku sama Netta sudah yakin bapa uda itu, sakit  bahkan saat pesta si Candra, Netta sudah bilang padaku kalau bapa udah terlihat sakit, hanya  ia menahannya, selalu bersikap kuat di depan anak-anaknya terlihat seperti papi.


Aku berharap bapa udah baik-baik saja, kalau bisa meminta, aku  lebih memilih tante yang lebih baik sakit karena ia yang jahat.


Bersambung...