
Papi dan aku menelepon keluarga untuk datang mengumpul, bahkan papi minta seorang supir untuk menjemput keluarga kami yang cari alasan tidak bisa datang, tetapi nanti, giliran disusun rencana, ia marah-marah di belakang hari, agar tidak terjadi hal seperti itu, papi membayar seorang supir, untuk mengantar dan menjemput mereka.
Papi benar- benar serius mengurus pernikahan lae Rudi, papi tidak ingin melihat aku dan Netta saling diam-diamman lagi seperti kemarin.
Papi tidak tahu …. aku dan Netta hari itu marahan bukan karena rencana pernikahan lae Rudi, tetapi, karena aku cemburu sama bule keparat yang mencoba menggoda Netta, papi benar-benar orang tua yang baik, ia tidak ingin melihat anak-anak dan menantunya bertengkar.
Maka tepat hari minggu setelah pulang ibadah, semua keluarga akhirnya datang memenuhi undangan kami, setelah makan kenyang, barulah di mulai pembahasan, sudah tradisi di dalam adat Batak, harus selesai makan dulu, baru memulai pembahasan, karena kata leluhur jaman dulu seperti ini;
‘Molo nungga butong butoha, maol do ro rimas dohot akka bada’
(Kalau perut sudah kenyang, tidak ada amarah dan pertikaian )
Tulang dari Bandung sebagai hula-hula Nainggolan, memulai pembicaraan, untuk membahas acara pesta di kampung, sebelumnya keluarga Nainggolan meminta pesta akan diadakan di Jakarta, karena Lae Rudi tidak ada cuti.
Karena keluarga Nainggolan juga sudah banyak merantau di Jakarta dan Bandung. Tetapi keluarga pihak perempuan menolak karena calon mertua lae itu memang sudah sakit.
Jadi setelah lae dapat cuti berkat bantuan Beny, semua keluarga bernapas lega, rencana akhirnya berlanjut ke depannya.
“Jadi … karena si Rudi sudah dapat izin untuk libur, kita bisa lanjut rencana kita ke depannya, jadi siapalah keluarga kita yang bisa ikut pulang untuk membantu kakak mama Netta mengurus pesta di kampung?” tanya tulang.
“Au abang, hami ma mulak, nungga makkatai hami nabodari dohot akkang dohot anakta di huta”
(Akulah Bang, kamilah pulang sudah bicara sama kakak dan sama anak kita Saut di kampung) ujar tulang Gres, ia bertindak sebagai bapak untuk lae Rudi, jauh-jauh hari, tulang sudah menelepon semua keluarga dan raja adat di kampung, jadi Netta dan Lae Rudi merasa tidak kehilangan bapak.
“Nungga pas bei anggia, homa bapak ni halakki”
(Sudah pas itu dek, kalaulah bapak mereka,” ujar tulang yang dari Bandung, menatap tulang Gres dengan kagum. Bapa uda Bandung tulang kami juga, tetapi beliau dari oppung kakak beradik yang kandung saudara mami itu tulang, Bapak Netta, tulang Gres dan tulang Kembar yang dari bogor.
“Ya, Bang, aku belum dapat cuti,” keluh tulang kembar.
Aku angkat jempol untuk perhatian tulang Gres dan nantulang, untuk Netta dan adik-adiknya semenjak bapak mertua meninggal, tidak harus dengan uang, walau hanya perhatian itu sudah sangat berharga untuk adik-adik Netta dan abangnya, karena hal itulah lae Rudi tidak pernah pindah dari rumah mereka sampai ia mau menikah.
Jarang ada orang yang sejalan suami istri untuk membantu pihak dari suami, biasanya dalam rumah tangga, kalau hal seperti itu … hal itu yang akan jadi biang masalah dan akan timbul omongan;
‘Holan keluargam, holan keluargam’
(Hanya keluargamu, hanya keluargamu)
Tetapi nantulang kami tidak seperti itu, ia menganggap keluarga dari pihak istri dan keluarga pihak suami sama, benar- benar salut. Aku berharap Gres kalau sudah besar, sikapnya seperti mamanya baik dan penuh kasih sama keluarga.
Setelah semua keluarga sepakat, kami akan pulang ke kampung lagi, tulang Gres dan semua anak-anaknya akan ikut pulang semua untuk pertama kalinya.
Arnita jadi tuan tanah yang baik di keluarga kami, karena ia tidak bisa ikut pulang karena sedang hamil, jadi ia dan suaminya menawarkan diri untuk membayar semua tiket pergi semua keluarga kami, aku tidak enak sama Juna, jadi untuk pulang ke Jakarta aku dan Netta yang akan membayar.
“Tenang … ada papi kalau masih ada yang ingin pulang,” ujar papi menawarkan diri.
Mendengar papi akan membayar tiket pulang pergi, semua keluarga dari oppung kakak beradik akhirnya ikut pulang, hitung- hitung pulang kampung gratis.
“Tenang … Pi, nanti aku akan minta diskon sama bapak mertua, kalau kita pulang semua, kalau perlu kita sewa satu pesawatnya” ujar Arnita tertawa.
Ayah mertua, Arnita memiliki saham di perusahaan penerbangan swasta dan baru-baru ini, setelah Arnita hamil cucu kedua mereka, Juna akhirnya dipercayakan terlibat di perusahaan milik keluarnya,. Bahkan Arnita, karena ibu mertuanya senang akan dapat cucu lagi, ia begitu memanjakannya, ulang tahunnya kali ini ibu mertuanya memberikan usaha di bidang travel untuknya.
Jadi kelurga kami menyebutnya tuan tanah yang baik hati, karena tanahnya ada di mana- mana, dan kontrakannya juga ada berbagai tempat. Tetapi bersyukurnya, Arnita tidak sombong dan tidak pelit membantu keluarga, ia bagai padi yang berisi, semakin berisi semakin menunduk.
Kami semua tidak pernah menduga, kalau anak yang dulunya nakal, berubah sangat baik saat ini, ia tahu tulang Gres dan anak-anaknya tidak akan mau pulang membawa semua anak-anaknya, karena memperhitungkan pengeluaran.
Tetapi ia menawarkan diri untuk membayar tiket untuk tulang kami dan anak-anaknya, bahkan hari itu, ia mengajak Gres dan adik-adiknya ke mall membelanjakan pakaian baru untuk mereka pulang,
“Bilang makasih sama edamu Gres,” ucap nantulang saat anak remaja tersebut, ia gembira menenteng banyak belanjaan di tangannya.
“Makasih ya kak Arnita, mudah-mudahan kakak dan dede bayi dalam perut kakak sehat,” ujarnya dengan tulus.
“Ya edaku cantik, makasih atas doanya,” balas Arnita.
“Eh … nyonya tuan tanah borong, mana untukku? Kok aku gak diajak?” Kak Eva baru tiba di rumah, ia baru pulang dari rumah ibu mertuanya.
“Aku ada donk mama Arkan, tante Ros memamerkan tas baru yang dibelikan Arnita, karena tante dan nantulang Gres ikut juga diajak ke mall untuk belanja. Kak Eva makin heboh saat mami juga dibelanjakan.
“Ini tas mami, modelnya kren”
“Ah … gak adil, ayo kamu harus belanjakan buat aku,” ucap Kak Eva menarik tangan Arnita, ia bercanda.
“Mama Arkan minta sama abanglah, kan bos besar,” balas Juna.
“Kalau dari abangmu tidak perlu minta uang, atmnya yang aku ambil langsung,” ujar kakak Eva,
“Preman kali kakak ini,” ucap Juna, semua orang tertawa.
“Ya, istri itu harus tegas, kalau tidak tegas, kalian para lelaki akan macam-macam di luar sana,” ucapnya lagi.
“Na, na sip maho, sehera pareman ni par Parluasan doho hubereng”
“Ni, ni diamlah kau, kayak pereman Parluasannya kamu aku tengok,” ucap mami menyodorkan satu tas untuk kak Eva, walau mereka berdua selalu bertengkar, tetapi keduanya saling mengasihi ia juga membeli untuk kakak Eva.
“Oh … makasih mamiku sayang.” Kak Eva memeluk mami dengan paksa dan mengecup pipi mami terus- menerus, akibatnya si borneng senior itu kesal.
“Awas ma si tusadaanko …!”
(Awaslah, jauh kau …!” Ujar mami melepaskan pelukan kakak Eva, kami semua tertawa melihat kelakuan kakak Eva yang membuat mami jengkel. Papi ikut tertawa melihat istrinya kesal.
Hal-hal seperti inilah yang kami rindukan setiap keluarga berkumpul, selalu ada canda dan keseruan, kalau biasanya keluarga kami selalu bersitegang soal dana dan biaya, tetapi saat itu, semua saling membantu dan bekerja sama, tidak ada ketegangan dan lempar tanggung jawab, bagi-bagi tugas.
Besok harinya kami rombongan pertama bagian yang akan mengurus pesta tiba di kampung , aku berharap semua berjalan dengan baik.
Bersambung .