
Setelah pulang dari jalan-jalan, tiba saatnya untuk kami melakukan acara yang sudah lama kami tunggu dengan Netta, ibu mertuaku kembali mengundang tetangga dan saudara dekat yang ada di kampung. Rumah inang mertua kembali rame.
Sekalian acara untuk Lae Rudi sebagai pengantin baru, seperti biasa kalau ada pengantin baru yang akan pulang ke perantauan akan adakan acara yang disebut ‘pajaehon’ meminta anak hidup mandiri bersama istrinya, kalau rumahnya dekat dengan orang tua biasanya dikasih peralatan masak. Karena Rudi dan istrinya akan pulang ke Jakarta, jadi, hanya adakan acara makan-makan.
Keluarga Mertua Rudi akhirnya mengizinkan Lira ikut suaminya ke Jakarta dan sebagai gantinya, anak laki-lakinya akan merawat ibu mereka di kampung, maka hari itu diadakan acara tiga sekaligus, tulang memberi kami makan .
Setelah Ziarah pagi-paginya ke kuburan oppung dan tulang atau bapak mertuaku.
Akhirnya acara yang kami tunggu akhirnya tiba juga hari ini, kami bertiga sudah duduk di atas tikar anyaman.
“Kok aku merasa jantungan ya,” bisikku sama Netta,
Kenapa harus grogi, ini sudah kesekian kalinya kita menghadapi cara seperti kan,” ujar Netta.
“Aku merasa ini sebagai ritual terakhir kita”
“Anggap sajalah seperti itu”
“Aku berharap pulang dari sini, kita dapat pasu-pasu”
“Amin. Tapi jangan terlalu fokus ke situ, berharap boleh tetapi jangan jadi, berpatokan ke situ, maksudku, abang sabar saja … rencana kita akan tetap berjalan tahun depan, bersabarlah, tinggal beberapa bulan lagi,” bisik Netta ia memberiku semangat.
“Baiklah Hasian”
Tivani hanya diam saat mengikuti acara adat hari itu, saat orang tua bicara pakai bahasa daerah Candra yang bagian translate untuk istrinya. Tetapi ikut senang melihatnya karena ia begitu antusias, saat mengikuti semua deretan acara, padahal saat pesta pernikahan mereka dulu Tivani sempat ingin pergi dari panggung pengantin karena bosan mengikuti rentetan panjang adat pernikahan mereka.
Hari itu, ia banyak tersenyum walau ada sebagian keluarga kami yang mengunakan bahas Batak untuk memberi nasihat panjang lebar padanya, tetapi walau a tidak mengerti artinya ia tetap mendengarnya dengan sopan.
“Salut aku sama si Vani, walau ia tidak mengerti bahasanya, tetapi dia mau mendengarkannya,” bisik Netta.
“Karena dia sudah jatuh cinta sama keluarga kita”
Candra sangat terharu saat tulang kami mendoakannya juga agar cepat dapat momongan, tidak ada yang menyingung soal tante yang masuk penjara.
Lalu lanjut akan memberi kami ikan ulos lagi, di mulai dari tulang menyuapi kami makan dan memberi ulos, hal yang sama juga di lakukan untuk Candra dan Tivani, akhirnya acara penting itu akhirnya terlaksana juga, semoga membawa berkah untuk Lae Rudi, juga Candra dan kami.
*
Setelah serangkaian acara itu selesai, besok harinya setelah hampir dua minggu di kampung akhirnya keluarga pulang satu persatu, tetapi keluarga kami akan langsung ke medan, karena oppungku dari papi mengadakan pesta perayaan ulang tahun, jadi semua anak-anak dan cucunya harus datang.
Tiba di Medan, aku merasa sangat capek, sepanjang perjalanan dari kampung aku sangat lelah, berharap tiba di rumah oppung, aku langsung tidur.
“Abang nguap mulu, tidur saja kalau mengantuk,” ujar Netta saat di dalam mobil menuju Medan.
“Gak bisa tidur kalau, mobilnya goyang”
“Kalau mobil yang sedang jalan, ya wajar ada goyangan Bang, kalau diam itu artinya mobilnya berhenti”
“Ngantuk tapi tidak bisa tidur Dek”
Saat turun di rumah oppung emosiku tiba-tiba meluap, ada Brayen di sana.
“Bapa Tua, Bang ….” Belum juga Brayen menyalam kami tetapi otakku sudah panas duluan.
“Kamu muncul di sini!” Aku ingin menghajarnya.
“Bang …! Apa yang ingin kamu lakukan.” Netta dengan panik menarik tanganku mundur, hampir saja aku merusak suasana hari itu. Netta dan Kakak membawaku menjauh dan memberi minum.
“Sudah ito, duduk dulu sebentar tenangkan diri, tolong jangan melakukan hal buruk ito, kasihan mami, nanti dia omelin oppung boru lagi,” ujar Kakak Eva.
Kepalaku masi terasa sangat pusing, mungkin karena dibangunkan saat lagi enak-enak tidur.
“Kenapa sikeparat itu muncul lagi sekarang,” ucapku lagi.
Apa yang dilakukan Brayen dimasa lalu masih sangat membekas di hati kami semua, gara-gara ia mami dulu hampir kehilangan nyawa, ia mencari Brayen ke rumah temannya dan tas dan barang berharga mami di rampok di gang sempit, untung ia melarikan diri, kalau saja tidak lari, mungkin lehernya sudah ditebas menggunakan celurit. Tiba tiba saja penderitaan di masa lalu melintas di benakku. Netta menenangkan ku memijit kepalaku agar lebih rileks.
“Ayo, kamu tidur dulu Mang, nanti setelah tidur aku yakin suasana hati kamu akan lebih baik”
Aku mengikuti papi ke kamar rumah oppung, membawaku tidur di sana, memang sudah penyakit yang susah untuk disembuhkan, kalau enak-enak tidur tiba-tiba dibangunkan aku bisa tiba-tiba marah tanpa sebab yang jelas.
Setelah beberapa jam tidur, aku bangun, mata semua keluarga tertuju padaku.
‘Apa yang aku lakukan tadi sungguh memalukan’ aku membatin, ada rasa malu.
“Sini, duduk Mang”
Baru juga duduk Brayen datang ke depanku, lalu ia meminta maaf.
“Aku minta maaf Bang Jo, aku menyesal atas apa yang aku perbuat di masa lalu,” ujar Brayen.
Antara malu kesal bercampur jadi satu, aku memang asih marah sama Brayen, tetapi bukan begitu caranya menegurnya, apa yang aku lakukan tadi kurang tepat.
“Baiklah, lupakan saja, jangan bahas tentang itu lagi, kepalaku lagi sakit,” ucapku memang kepalaku masih terasa berdenyut pusing, mungkin terlalu banyak daging saat di kampung belum lagi makan durian.
“Tolong maafkanlah Bang, adikmu itu, bapa uda yang membujuknya pulang, karena bapa uda sudah sudah sakit-sakitan”
“Baiklah Bapa uda”
Sebenarnya tidak ada di dunia yang benar- benar bisa memaafkan kesalahan besar seseorang , hanya saja keadaan dan situasi akan memaksa kita untuk ikhlas.
‘Baiklah … akan aku lupakan agar tidak ada masalah lagi’ aku membatin.
Besok harinya, acara ulang tahun oppungku yang di Medan juga berjalan meriah, tapi setelah selesai pesta aku minta izin pulang duluan dengan alasan Netta akan kerja, aku tidak ingin oppungku dan keluarga dari papi mengungkit masalah yang lalu, karena ada Brayen di sana, masa lalu biarlah jadi kenangan, hidup akan tetap berjalan. Malam itu juga kami terbang dari Medan menuju Jakarta
Bersambung.
Kakak yang baik hati jangan lupa selalu kasi like dan vote untuk karya ini ya, kasih hadiah kopi dan bunga juga tidak nolak