Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Nettania Pariban calon istriku


Hingga malam tiba, acara rapat keluarga besar kami akan dimulai.


Aku sudah duduk di tegah di tempat khusus calon pengantin di kelilingi para orang tua dan pemuka adat.


“Nungga idia si Netta, suruh masuk,” ( sudah dimana si Netta suruh masuk) Salah seorang keluarga meminta masuk. Mendengar namanya di panggil, aku mengalihkan pandangan kearah pintu.


Akhirnya Nettania datang, seorang anak remaja memakai sarung sebagai kain bagian bawahnya, ia diantar teman-temannya, teman-temanya terlihat tertawa menggoda, mereka cengar-cengir .


Dugaanku salah, ia terlihat kalem dan pembawaannya tenang.


“Masuk maho inang, tusonko hundul.” ( masuklah kau nak, di sinilah kau duduk)


“Salam dulu pariban calon suamimu,” kata semua orang yang ada di dalam rumah.


“Halo bang Nathan, selamat datang,” ia menyodorkan tangan ke arahku.


Dug ... Dug ....!


Jantung ini berirama saat ia menyodorkan tangannya dan menatap mataku, kenapa malah aku yang jantungan, kok jadi aku yang grogi sedangkan ia terlihat sangat tenang.


'Kenapa jadi aku yang grogi menghadapi anak kecil' ucapku dalam hati.


“Ha-halo,” jawabku terbata.


Kenapa jadi aku yang gugup, harusnya Ia yang bersikap tersipu-sipu malu seperti teman-temanya, itu yang aku pikirkan sebelumnya.


Ia duduk di sampingku, saat semua mata orang tertuju padaku, aku malah penasaran dengan Netta, aku mencuri-curi kesempatan untuk melihat wujud asli calon istri yang akan aku nikah nantinya.


Ia duduk dengan tenang tatapan mata terlihat biasa saja, ia juga terlihat jarang tersenyum sepanjang kami duduk dalam acara perkenalan matanya menatap kosong.


'Ada apa dengannya? kenapa ia bersikap seolah tidak suka dengan perjodohan ini, kalau ada pihak yang tidak suka dengan perjodohan ini, itu harusnya aku'


Akulah yang tidak mau di jodohkan dengan pariban. Karena aku sudah punya kekasih, umurku juga sudah mapan, tampan dan anak kota juga,


aku di buat penasaran dengan sikap dingin Nettania.


Ini di luar perkiraanku, aku berpikir Nettania akan menyambut ku dengan hati berbunga-bunga dan bersikap malu-malu kucing. Tetapi semua dugaanku salah.


“Bagaimana Nia? dari semua yang kita bicarakan di sini, kita juga perlu meminta pendapatmu, apa ada permintaanmu? Atau barang kali ada tambahan?"Tanya salah seorang keluarga.


“Tidak Bapa tua, Nia tidak ada tambahan, aku akan menuruti apa yang sudah diatur keluarga."


“Bagaimana kau amang, ada tambahan?" bertanya padaku juga, aku sibuk dengan pikiranku sendiri dan mataku melirik Netta.


“Than …! Kamu ditanya,” bisik Mami menyenggol lenganku.


“Ooh apa-apa tadi?” aku kebingungan dengan pertanyaannya, karena tidak fokus.


“Ooooh.. attong da, anon ma bereng-bereng paribanmi( nantilah kamu lihat-lihat paribanmu itu). Suara tawa terdengar dari dalam rumah.


Aku merasakan wajah ini panas karena menahan malu. Netta melirikku dengan ekspresi wajahnya datar membuatku semakin malu.


Hingga rapat malam itu selesai, aku melirik ke dekat pintu, akhirnya ada beberapa pemuda teman buat ngobrol juga. Dari tadi saat aku tiba hanya teman-teman Nettalah yang menemaniku.


Nettania pamit, ia pulang duluan, karena ia tidurnya tidak di rumahnya, ia tidur di kampung Sianduduk rumah salah seorang sintua Gereja.


Ternyata masih banyak rentetan acara yang perlu kami lakukan .


Aku sudah dua hari di kampung Nettania, tapi baru sekali saja aku bertemu langsung dengan Nettania.


Banyak hal yang sudah kami lakukan, mengangkat air misalnya.


Pasokan air di kampung Netta masih sangat minim, untuk kebutuhan mencuci dan memasak harus mengangkat air dari sungai yang jaraknya menuruni bukit yang lumayan terjal.


Sekarang aku paham kenapa betis teman Netta yang bernama Betaria


segede palu Hanoman, ternyata untuk mengangkat kebutuhan keperluan air harus mendaki dan menuruni bukit dengan membawa air yang berat di dalam ember di junjung di atas kepala.


Dengan bawaan barang seberat itu wajar banyak anak-anak remaja yang jadi bantet di kampung Nettania, karena sering membawa bawaan yang berat.


Tapi sepertinya Netta, tidak, ia tidak begitu pendek, hanya kulitnya yang terlihat kering terkena panas matahari.


Hari ketiga di kampung. Mami sepertinya tau kalau aku masih sering menelepon Mikha, Mami menyita benda hitam persegi empat itu, hidup terasa mati rasa tanpa ada ponsel di tangan.


Saat ini, aku butuh waktu sendiri tanpa harus ada teman teman Nettania yang terus mengekor ku, ingin jauh dari suara-suara anak-anak yang ikut-ikutan mengekor.


Aku bosan, berharap pernikahan segera berlangsung dan aku bisa kembali ke Jakarta, suasana kampung memang indah, tetapi karena tidak terbiasa aku merasa sudah sangat lama di kampung ini, rasa jenuh melanda.


Rumah Tulangku atau pamanku tidak terlalu jauh dari rumah Nenekku, hanya beberapa meter, rumah sederhana terbuat dari papan.


Aku penasaran, apa ada Netta ada di rumahnya, sejak aku datang hanya malam itu aku bertemu dengannya, saat teman-temannya begitu antusias dan terlihat mengagumi ku, tapi kenapa Netta terlihat biasa saja, bahkan sikapnya tidak begitu bersemangat aku penasaran.


Saat aku berdiri di halaman depan aku mendengar bibiku mamanya Netta marah, tepatnya di pintu belakang rumah mereka. Memarahi seseorang, mendengar namaku di sebut, aku penasaran dan mendekat.


Terlihat Netta lagi mencuci piring dan Bibiku berdiri di belakangnya dengan wajah penuhi kemarahan.


“Aku tidak mau menikah, Ma, tidak bisa di batalkan perjodohan ini, aku di terima di di UNIMED, Mak. Aku ingin kuliah, bukan untuk menikah, aku sudah belajar keras untuk di terima di sana..” (bahasa daerah) wajahnya terlihat memohon.


“Naung gila doho? ... ! nunga ro paribanmu tuson,” ( Kamu sudah gila iya, sudah datang paribanmu kesini) Wajah Bibiku mengeras dan terlihat sangat marah.


“Tolonglah di bicarakan, Mak, aku hanya ingin kuliah dan meraih cita-citaku, tidak ingin kawin muda, kenapa harus aku sih..”


“Kuliah …!kuliah adong hepengmu? Namoraho? mangan pe babam nungga susah, marsukur ho adong manopot ho paribanmu na mora" ( kuliah…!kuliah memang ada duitmu, orang kaya kamu? Makan saja kamu sudah bersyukur, beruntung kamu ada paribanmu orang kaya melamarmu) kata bibiku.


“Aku tidak akan menyusahkan Bapak sama mama, aku akan mencari uang kuliahku sendiri,” kata Netta masih mencoba membujuk Bibi.


“Sip, sip ma babami(diam-diamlah mulut mu) Bibi mengambil panci aluminium.


Taaang ...!


Bibi memukul kepala Nettania degan panci.


“Berhentilah sok kaya, kalau miskin tidak usah tinggi-tinggi cita-citamu, aku sama bapakmu tidak akan mampu menyekolahkan, terimalah nasibmu dan


terima perjodohan ini, menikahlah, tidak usah macam –macam, awas kamu berpikir macam-macam, kamu beruntung Namborumu kaya,” kata Bibiku ia masih berdiri di belakang Nettania.


Bersambung...


Jangan lupa vote dan like iya kakak.