Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Kemarahan di kantor


“Sudah!


ayo ke kantor polisi, bini lu biar anak buahku yang antar, kalau orang kayak lu di biarkan, akan kebiasaan nanti memalak orang lain dan menipu orang lain dengan cara memaksa dan pakai kekerasan, yang tadi gerombolan kamu kan?”


kata Beny tegas.


Membawanya kekantor polisi dan istrinya diantar ke rumah.


Aku membiarkan Beny menyelesaikan tugasnya, walau hati sedikit merasa iba pada Istrinya, tapi polisi memang tidak boleh lalai, siapa yang tahu itu istrinya apa bukan atau penipu juga.


Ah sudahlah, ini semua karena Netta membuat masalah pagi-pagi, membuat semua ini terjadi.


Menarik nafas panjang sebelum menjalankan mobilku.


Hatiku belum sepenuhnya tenang, jantungku masih berdetak tidak stabil, aku merasakan hariku buruk sejak bagun karena marah-marah.


Itu semua karena tuntutan Mami yang memaksa kami harus punya anak, saat Netta ingin memeriksaku, aku tersinggung, seharusnya tidak apa-apa karena niatnya baik , tapi otak bebalku yang tidak bisa menerima.


Otakku dan hatiku kini bertolak belakang, saat hatiku bilang untuk kebaikanku, tapi otakku bilang itu merendahkan.


Akan susah jadinya jika hati dan otak tidak sejalan seperti yang aku rasakan saat ini.


Aku terpaksa menghentikan dan meminggirkan mobilku di sisi jalan untuk menghindari hal yang buruk seperti yang terjadi tadi, karena perasaanku juga masih belum tenang, meninggalkan Netta menangis di rumah membuatku tidak tenang sebenarnya,


ia pasti terluka saat aku mengingkari janji yang sudah dengan susah payah kami memperbaiki retakan-retakan itu, tapi aku dengan bodohnya aku malah menghancurkan.


Tiba di depan kantor


“Selamat pagi pak, sapa Toni.


“Pagi,” kataku tanpa basa basi.


Melongos masuk ke ruanganku, kalau sudah melihat raut wajahku seperti itu, anak-anak biasanya langsung kocar- kacir mengambil kegiatan masing-masing.


Kalau biasanya masih bersantai, tapi kali ini semua ambil posisi masing-masing.


Duduk di kubikelku dengan kepala berdenyut dan urat leher masih mengeras saling bertarikan.


Saat aku melongos masuk anak-anak tadinya becanda tiba-tiba hening .


Mereka pasti sudah pasti tahu kalau aku sedang marah.


Aku keluar lagi, mata mereka melirik dari kursi masing -masing dengan takut-takut.


“Ada apa pak?


apa bapak mau kopi”


tanya sekretarisku berdiri.


“Hubungi Lina, suruh ke kantor polisi.”


Kataku dengan nada tegas.


“Bawakan laporan semua, laporan-laporan proyek yang macet sekarang juga keruangan saya, suruh Pak Toni keruangan saya juga sekarang!”


“Ba-baik Pak.”


Kalau sudah seperti ini, aku bisa jamin tidak akan ada lagi anak-anak nongkrong minum kopi santai di Pantry kantor.


Saat semua orang akan terlihat sibuk, atau sekedar menyibukkan diri.


Saat Toni tiba di ruanganku memberikan berkas laporan, emosiku kembali meledak, lelaki berkulit hitam ini , jadi pelampiasan amarahku.


“Bapak bagaimana sih!


semua ini di surat kontraknya sudah lewat waktu pembayaran. Apa bapak tidak menagih?


orangnya tidak akan membayar sendiri kalau bukan kita yang menangihnya pak, bagaimana saya mau bayar gaji karyawan dan biaya operasional.


Jika semua pembayarannya mandek seperti ini,”


kataku membanting dengan keras kertas itu di atas meja, lelaki itu, hanya bisa menunduk.


“Sudah pak, saya sudah datangi langsung ke kantornya Pak, memang dananya yang belum ada katanya,”


kata lelaki itu dengan takut-takut.


“Kapan?”


Tanyaku menatap tajam


“Janji tiga hari Pak.”


Ia mengeluarkan berkasnya dari tasnya lagi.


“Baik usahakan sampai ada, bapak boleh keluar,”


Harusnya Bos yang baik itu, bisa membedakan urusan pribadi dan mana urusan pekerjaan.


Tapi otakku kali ini di kuasai ego yang besar, dan hatiku seakan mati rasa, maka semuanya salah di mataku.


Marah-marah dari tadi pagi, di tiga tempat seakan membuatku kehabisan tenaga, aku merasa lemas, dari pada aku marah-marah membuat orang lain sakit hati aku berpikir lebih baik tidur, mencoba menenangkan diri.


Kalau aku memaksakan mengurus pekerjaan saat marah, semua akan tambah berantakan, segala sesuatu jika di kerjakan dengan kemarahan maka hasilnya tidak akan baik.


Jalan terbaiknya, menenangkan diri dan mencoba memejamkan mata melupakan semua yang buruk.


Tapi saat menutup mata yang datang bayangan Netta yang menangis tadi pagi.


Aku merasakan hatiku sakit, aku ingin menelepon Netta, lagi-lagi ego lebih menguasai, beberapa kali aku mengetik pesan meminta maaf dan beberapa kali juga aku menghapusnya.


Meletakkan Ponsel diatas meja pada akhirnya pesan yang akan aku kirim untuk meminta maaf tidak kunjung aku lakukan, mencoba memejamkan, niat hati ingin menangkan pikiran, tapi kelakuan bodohku pagi ini silih berganti datang menghantuiku.


Kata-kata kenapa, tiba-tiba berderet muncul di benakku bagai papan reklame digital


Kenapa aku harus marah-marah tadi pagi?


Kenapa menyingung hal itu lagi tadi?.


Satu hari itu mungkin hari yang buruk juga untuk anak-anak di kantor,karena semua kena imbasnya, aku juga merasakan urat leherku menegang karena mulai pagi sampai sore


tidak satupun yang beres, kenapa tiba-tiba aku merasakan semua di kantor melakukan kesalahan.


Mereka yang melakukan kesalahan atau otakku yang rusak aku tidak tahu.


Hari sudah semakin sore karena aku marah-marah aku merasakan jam hari ini sangat melambat berputar, aku menyadarkan kepalaku di kursi dan ketiduran.


Ketukan pintu membangunkan ku,


“Pak’ Ibu menunggu di bawah,” kata Lina


“Ibu siapa?”


“Istrinya pak”


'Netta?


Tumben ia datang ke kantor'


" iya nanti aku turun,”


kataku merapikan rambut dan pakaianku.


Mendengar Netta datang sebenarnya aku sangat senang, tidak biasanya ia datang ke kantorku,


Tok, tok


“Iya masuk.”


“Abang belum pulang?”


wajah Netta terlihat sangat cantik sore ini, penampilannya berkelas, senyum di wajahnya merona dan senyum itu terlihat tulus dan apa adanya.


Tapi kata-kataku yang merendahkannya tadi pagi membuatku tidak percaya diri lagi untuk sekedar menatapnya.


Aku sebenarnya ingin memeluknya dan meminta maaf, tapi sebagi lelaki yang sudah mapan dan punya harga diri yang tinggi, aku tidak melakukannya.


Aku menyibukkan diri merapikan berkas-berkas dan menutup laptop di mejaku dan mengalihkan mata dari Netta.


“Abang ruangannya bagus,”


kata Netta memulai basa-basi, aku mendiamkannya ia menanyakan ini dan itu aku memilih diam, Netta terlihat menghela nafas panjang seperti hilang kesabaran melihat sikapku yang mendiaminya.


Aku tidak bermaksud mendiamkan, itu karena aku belum siap, aku tidak bisa bersikap biasa-biasa saja semua butuh proses.


“Aku datang kekantor abang karena rencana kita tadi malam ingin ke rumah Bou, apa kita mau pergi?”


Suara Netta akhirnya bergetar menahan tangisan.


“Iya sudah, ayo,”


kataku.


Berjalan duluan membelakanginya, aku tahu kalau ia mengusap matanya, menyingkirkan air mata itu dengan buru-buru, di kantor, belum ada yang berani pulang sebelum aku pulang, apalagi aku keadaan marah, jangankan pulang, mengobrol juga tidak ada yang berani, mungkin anak-anak bahkan bernafas pun mereka tahan, kalau aku sudah mengamuk di kantor, permasalahan yang lalu bisa muncul ke permukaan tadi.


Mungkin mereka sangat bersyukur saat Netta datang kekantor, kalau tidak, bisa pulang sampai larut malam mereka, karena aku saat itu ketiduran dan takkan ada yang berani membangunkan, kalau sudah marah seperti itu.


Semua orang di kantor hari ini, semua kena marah semua bagian kena semprot olehku.


Hari ini hari yang buruk.


bersambung