
Aku belum sepenuhnya sembuh, tetapi aku sudah dibawa pulang.
Setelah pulang ke rumah aku terkejut ada banyak yang telah berubah, saat aku masuk ke pusat rehablitasi.
Salah satunya rumah Mami, dulunya rumah kami mewah dan luas, sekarang berubah, tidak mewah lagi, seorang wanita duduk di kursi roda, sepertinya sebagian anggota badannya tidak bisa di gerakkan, ia menatapku dengan tangisan tertahan, seorang wanita muda menggendong anak kecil umur satu tahun, berdiri di samping wanita itu.
“Jonathan anakku.” Ia merentangkan tangannya, ingin merangkul ku.
Wanita yang duduk di kursi roda itu adalah Mamiku, wanita malang itu terlihat sangat tua, jauh lebih tua melebihi umurnya.
Semoga teguran yang kami dapatkan ini mengubah kami agar lebih dekat lagi pada sang Pencipta dan pemilik hidup.
Aku beharap, cobaan yang hidup yang kami alami bisa mengubah Mami untuk selalu bersyukur, karena dunia ini bukanlah harta yang paling utama, tetapi kesehatan hati dan jasmani itu paling penting rasa syukur.
‘Sejak kapan Mami setua itu, kenapa ia duduk di kursi roda?’
“Mami…maafkan aku,” kataku bersujud di kakinya, ia membalasnya dengan tangisan.
Aku menghamburkan diri di pangkuan Mamiku, aku kangen, aku rindu, ini semua salahku, aku bersujud di kaki Mami, surgaku di kakinya, kami sudah menerima hukuman atas perbuatan kami.
Bukan hanya itu, aku juga merangkul adik bungsuku yang kini menjadi ibu tunggal untuk putra semata wayangnya, setelah pernikahannya hanya hitungan bulan.
Suasana begitu pilu, masih bersyukur Tuhan masih memberi kami kesempatan untuk bisa berkumpul, setelah melalui semua masalah besar.
“Maaf aku iya dek, aku minta maaf,” kataku memeluk adik bungsuku, aku baru kali ini melihat Papi ikut menangis, saat saling merangkul dan meneteskan air mata.
“Abang…! Aku yang meminta maaf Nita salah.” Arnita menangis di pelukanku.
Tiba-tiba Papi ikut bergabung dan tidak ketinggalan kak Eva, ikut kami saling berpelukan.
Aku ingin sembuh untuk keluargaku, untuk semua orang yang aku cintai itu aku tekatkan saat itu.
Suasana begitu hangat saat itu, keluarga kami yang sempat bercerai berai kini kembali berkumpul walau dengan suasana yang berbeda.
Saat melirik kaca, wajahku yang dulu tampan, hilang setengah ketampanan ku , aku yang sekarang kurus, botak seperti baru keluar dari penjara.
Tetapi tidak mengapa, selagi satu keluarga bisa berkumpul dan saling menguatkan, kami mampu menata ke depan dan berjalan bersama.
“Tan kamar kamu yang itu tidak seluas dari milik kamu yang pertama,” kata Kak Eva.
Ia wanita yang luar biasa, malaikat penyelamat buat keluarga, seorang super hero wanita buat keluargaku, wanita kuat yang berdiri paling depan dalam keluarga kami, saat kami semua terkena masalah.
“Iya tidak apa-apa kak,” kataku tidak sedikitpun protes, dan tidak berhak untuk protes.
“Tan, kamu harus meminum obatmu dengan rutin, aku yakin kamu bisa sembuh total asal ada kemauan,”
kata kak Eva.
“Jangan lupa juga berdoa, serahkan semua pada Tuhan.”
“Iya kak.”
Tapi biar bagaimanapun aku penasaran kenapa Mami seperti itu.
“Istirahatlah Tan,” kata kak Eva yang ingin turun.
“Kak apa yang terjadi sama Mami?”
“Jangan pikirkan Tan, aku takut kamu nanti jadi kepikiran, malah tambah sakit.”
“Baiklah, minum obatmu dulu,” Eva memilah-milah, obat yang aku minum, aku harus rutin minum obat agar aku pulih.
Sangat beruntung kakakku seorang tenaga medis, dari dulu ia yang selalu berperan dalam kesehatan kami, Walau omongannya suka ngegas, dan gaya bicara seperti orang berantem, tapi hatinya sangat baik.
“Sudah,ceritakan lah,” kataku meletakkan gelas itu di atas nakas di samping ranjang.
“Itu berawal saat kamu mulai kehilangan arah Tan, saat itu tangan Mami sudah mulai suka kebas, setiap kamu pergi dari rumah di temukan di jalanan, penyakit Mami itu bertambah satu- persatu, mulai tangan terasa kebas, mata mulai rabun dan leher mulai kaku, puncaknya saat kamu kejang-kejang, Mami jatuh pingsan tapi masih bisa bangun, walau tidak banyak bergerak.
Tapi saat Nita pulang ke rumah, setelah di pukuli suaminya, dan tante yanga dari Bogor datang mengetahui semua kejadian di keluarga kita, tante menyebarkan kesemua arisan keluarga besar.
Tante menyalahkan Mami, dan memojokkannya dalam group arisan, keluarga kita yang jadi bahan omongan.
Akhirnya Mami tepar dengan semua yang terjadi, Mami menyalahkan dirinya akhirnya kondisinya drop dan stroke.”
“Apa yang terjadi dengan Arnita?”
Suaminya memukulinya terus-terusan saat hamil, dan memaksa meminta uang sama Mami, sekali dua kali ia mau, tapi ketiga kalinya ia pergi meninggalkan suaminya dan melahirkan di sini.
Wajah kak Eva terlihat sangat mendung.
“Tan Mami tidak punya apa-apa lagi, semuanya sudah habis untuk mengobati mu dan berobat Mami juga, kontrakan Mami sudah di jual, mobil dua-duanya di jual, rumah, bahkan perusahaan yang mereka berdua bangun hancur , bangkrut di bikin Brayen, dia menggelapkan uang perusahaan dan dia kabur sama pacarnya ke luar Negeri, keluarga kita saat ini jatuh ke jurang yang paling dalam.”
Semuanya lenyap, bahkan di timpa utang, aku tidak tahu kemana harta yang tujuh turunan yang di banggakan Mami selama ini, kakak malu, satu-satu penghasilan keluarga kita dari restauran papi, hanya itu, kita terpuruk, bahkan aku dengar papi sudah mengadaikan surat-surat rumah ini untuk biaya pengobatan mu dan pengobatan Mami Tan,”
kata Kak Eva, wajah terlihat sangat sedih seakan- akan ada beban yang lebih besar lagi.
“Maafkan aku iya kak,” kataku menyesal.
“Jonathan, kamu harus sembuh, kamu harus membungkam mulut mereka semua, banyak yang bilang kalau kamu tidak akan sembuh, banyak menertawakan keluarga kita saat ini.”
“Baik kak.”
“Aku tidur di kamar di sebelah kamu, kalau ada apa-apa ketuk saja ,” kata Ka Eva matanya memerah.
“Arkan mana kak sama lae?” aku menanyakan karena dari tadi aku tidak melihatnya, biasanya kalau ada kak Eva sudah pasti sudah ada suaminya yang setia mendampinginya.
Ia terdiam sejenak dan matanya berat, ada bendungan yang hampir tumpah.
‘Jangan bilang kakak juga ada masalah dalam rumah tangga, jangan, jangan katakan itu’ aku berbisik dalam hati.
“Arkan di rumah oppungnya sama bapaknya juga.”
“Apa ada masalah kak?”
Ia menggeleng, tapi ia kembali duduk dan menangis di pundakku, menangis sesenggukan melihat wanita kuat itu menangis, jantung ini serasa ingin berhenti berdetak, tidak sanggup rasanya aku menanggung beban hidup bila rumah tangga kakakku juga ikut hancur.
“Aku tidak akan sanggup Tan melihat keluargaku hancur, bagaimana aku melihat itu, tapi mertuaku menyuruhku fokus mengurus keluargaku, dan meminta Arkan di urus mereka, dan pak Arkan di suruh tinggal di sana, aku seakan di usir secara tidak langsung, mungkin mereka malu Tan,” katanya kini tangisan itu semakin menjadi.
“Tidak akan kak pasti lae itu orang yang bijak sana percaya sama aku, mungkin dia meminta kakak seperti itu agar lebih fokus mengurus kami,” kataku menyakinkan kakakku, walau aku sendiri tidak yakin.
“Benarkah, kamu yakin Tan?”
“Iya kak,” kataku berusaha tetap tenang, saling menguatkan satu sama lain, itu yang di perlukan keluarga kami saat ini.
Bersambung …