
Burung besi besar milik Negara itu akhirnya membawaku ke angkasa membelah awan terbang bebas meninggalkan Bandara.
Selamat tinggal Ta, berharap saat kita bertemu semua berubah, tidak ada lagi kesalahpahaman dan tidak ada lagi air mata , berharap saat kita bertemu hatimu menjadi milikku sepenuhnya Istriku, Nettaku, kataku dalam hati.
Membetulkan letak kaca mata hitam yang aku pakai, mudah-mudahan orang di dalam pesawat itu tidak ada yang tahu kalau aku meluapkan kesedihanku di balik kaca mata hitam.
Ada rasa yang berbeda yang aku rasakan, aku merasa sebagian dari hidupku tertinggal bersama Netta, baru beberapa menit meninggalkan.
Tetapi, aku sudah merindukan ia lagi.
Setelah beberapa jam perjalanan akhirnya tiba juga di salah satu mes pekerja, oh iya ampun, apa yang di katakan Netta benar, harus siap dengan segala kemungkinan.
Namanya juga mes pekerja proyek, hanya menggunakan bahan seadanya, dari triplek dan dari besi dan sebagian dari seng karena sifatnya sementara, begitu proyek selesai dikerjakan bangunan itu akan dibongkar.
Tetapi, demi apapun juga aku tidak bisa hidup di tempat seperti ini, karena aku datang ke tempat ini bukan untuk sengsara.
Aku anya ingin mencari pelarian dari masalah yang aku alami, karena uang bukan masalah untukku saat ini.
Memilih menginap di salah satu Hotel di kota Sorong menjadi pilihanku.
Ok, untungnya teman yang mengajak kerja sama mempertimbangkan posisi yang sebelumnya.
Ia sudah menyediakan rumah untuk aku tempati selama bekerja di kota itu, kami ada tiga orang dari perusahaanya yang di buat rumah khusus, dan satu orang asisten rumah tangga yang disediakan untuk mengurus kebutuhan.
Aku yang lulusan Arsitektur dan kebetulan mendapat kesempatan desainku yang diterima, maka itu aku dan proyek Toni bekerja sama.
Ini hari ketiga aku tinggal di pulau yang panas ini, baru dua kali aku berkomunikasi dengan Netta, itupun, ia yang meneleponku.
Di saat genting seperti ini, aku masih saja memelihara ego yang tidak berguna dalam otakku, sebagai seorang lelaki aku tidak mau di anggap lemah, itu yang jadi alasanku.
Aku sudah satu minggu sejak tiba di kota ini. Tetapi Netta sudah dua hari tidak menghubungiku, hati ini bertanya-tanya ada apa dengannya?
Kenapa ia tidak meneleponku lagi?
aku bahkan tidak bisa tidur dan tidak fokus kerja, tapi anehnya aku tidak ingin menelepon ia duluan.
Itu dia yang bikin repot, saat hati dan otak tidak bisa diajak untuk saling bekerja sama.
“Ada apa Bro, dari kemarin wajah lu tidak bersemangat?"
Toni menghampiriku yang masih berdiri di belakang proyek.
Bapak satu anak ini yang punya perusahaan, Perusahaan miliknyalah yang mendapat tender besar, aku hanya bagian desainnya saja, dan membantunya mengawasi berjalannya pekerjaan di lapangan.
“Tidak ada apa-apa Bos."
“Telepon saja, jangan ragu, wanita itu butuh dimengerti, ia juga terkadang ingin kita yang menelepon duluan, mereka juga butuh dihargai dan butuh dimanja,”
ucap Toni memberikan masukan.
Toni keturunan Tionghoa, ibunya orang Batak dan bapaknya orang Tionghoa, dan menikah dengan orang Batak juga, jadi ia bisa mengerti karakter boru Batak itu keras.
Aku menatapnya, ia bisa tahu kalau aku lagi memikirkan Netta.
“Tidak, biasanya ia yang meneleponku duluan,”
aku mengalihkan mataku ke gambar yang aku pegang.
“Jangan biarkan ia menunggu Bro, telepon saja,”
kata Lelaki itu, menepuk pundakku.
Aku berpikir mungkin ia nanti akan menelepon , aku menunggu sampai sore. Sore tiba, aku menunggu malam, malam tiba, menunggu sampai pagi.
Ini bukan membuat bertambah baik, tapi ini akan membuat kami semakin jauh, dan hubungan kami akan semakin renggang.
Aku merasa telah terjadi sesuatu pada Netta, setelah menanti lama aku mencoba mengubungi tapi telepon tidak aktif,
' Ia ampun, suami seperti apa aku ini, bahkan aku tidak punya nomor temannya, Netta yang bisa aku hubungi di saat seperti ini.
Aku harus pulang, bodoh amat dengan pekerjaan ini'
Minta izin akhirnya pada Toni, aku bercerita juga tentang hubungan rumah tanggaku, juga tentang keadaan Netta yang tidak bisa aku hubungi, aku meminta izin pulang.
Pekerjaan akan tetap bisa berjalan tanpa harus aku berada di sana, alat komunikasi sekarang sudah canggih dari Jakarta pun aku bisa memantau bagian pekerjaanku.
Aku orang yang bertanggung jawab, apalagi tentang pekerjaan, aku bisa mengerjakannya.
Tapi yang paling penting saat ini adalah Netta, aku terpaksa meminta bantuan kak Eva, karena hanya ia yang bisa aku percayai orang sampai saat ini.
“Tan, lu kayaknya harus pulang deh,”
kata Kak Eva.
“Kenapa Kak?”
Aku bertanya dengan perasaan yang mulai tidak enak.
“Rumah lu terkunci, gue sama Laemu sudah dua kali ke rumah, tapi Netta tidak pernah ada di rumah."
“Baik kak, aku cari tiket pesawat sekarang."
Tidak ada penerbangan dari sorong ke Jakarta sore itu karena cuaca buruk, hanya ada pesawat kecil yang biasa membawa barang, tidak perduli mau naik pesawat barang atau pesawat ikan yang penting bisa membawaku pulang ke Jakarta saat ini, aku ingin melihat Netta, aku ingin tahu apa yang terjadi, ponselnya tidak bisa dihubungi dan tidak tahu bagaimana keadaanya.
Setelah perjuangan berat diangkut diantara tumpakan barang, akhirnya aku tiba di Jakarta, sudah sangat larut malam, aku tiba di rumah kami.
Benar saja, rumah itu sangat gelap, hanya lampu malam yang menyala di depan, dalam rumah terlihat sangat gelap gulita, mau tidak mau karena tidak punya kunci, aku masuk ke rumah seperti seorang pencuri melompat pagar setinggi hampir tiga meter, butuh kerja keras untuk melaluinya karena ada kawat berduri yang aku pasang di atas pagar.
Untung penjaga keamanan komplek memberikan tangga untuk aku gunakan.
Tapi sebelumnya sudah ada drama antara aku dan mereka, aku dicurigai karena pas patroli, ada seseorang memanjat pagar, mengira aku seorang maling.
“Turun lu, maling lu iya, turun kagak lu ha...? ”
Perintah bapak yang berpakaian hijau itu dengan pentungan di tangan.
“Tenang pak, ini saya yang punya rumah,” kataku mendekat.
“Iya ela pak Jonathan, kenapa bapak pakai manjat tembok segala, dah?”
“Kunci saya kebawa sama istri saya pak, istri saya lagi keluar kota,”
terpaksa aku mengarang cerita
agar kedua orang ini melepaskan ku dan mau membantu.
Dengan cepat bapak yang bertubuh kurus itu mengangkat tangga untuk aku gunakan, berhasil juga naik.
Berterimakasih untuk kedua bapak dan memberikan sedikit uang sebagai uang tip dan uang terimakasih.
Kini aku tinggal memikirkan cara bagaimana caraku masuk kedalam rumahku, aku merasakan ada rasa ketakutan di dalam dada ini, dari sejak dalam perjalan tadi, aku selalu memikirkan hal-hal yang buruk sepanjang perjalanan.
Aku berharap Netta baik-baik saja.
Bersambung....