
Akhirnya pesta berakhir dengan sangat meriah, terkadang apa yang kita pikirkan akan buruk, belum tentu akan buruk, ternyata malah kebalikannya.
Dari awal saat kami masih di Jakarta, kami berpikir kalau pernikahan Lae Rudi akan berantakan, karena di lakukan dengan desakan dan tergesa-gesa, tidak pernah menduga kalau pesta pernikahan Lae Rudi akan semeriah itu, rupanya dugaan kami salah, sangat meriah mewah, semua melebihi ekspektasi kami.
Malam itu semua orang tepar kelelahan, kakiku sampai keram karena berdiri mondar mandir sebagai parlopes atau pelayan.
“Pi … tolong urut betisku, aduh kakiku naik betis,” keluh mami, ia meringis, bagaimana tidak, mami sepanjang pesta selalu goyang dan menari dan sawer semua orang.
“Mami si terlalu heppot tadi,” ujar kak Eva.
“Itu bukan heppot mama Arkan, kakak itu hanya bergembira, sini aku yang urut.” Tante Ros yang memijit kaki mami.
Rumah oppung kembali rame, lebih rame dari saat oppung meninggal, karena hampir semua keluarga besar Nainggolan pulang dari perantauan, hanya tante Candra yang tidak ikut karena ia sedang meditasi di hotel prodeo.
Aku senang keluarga kami tidak menyingung tentang tante saat pesta, karena sebelumnya aku sudah memperingatkan keluarga agar jangan bertanya tentang tante ke Candra dan istrinya, dan mereka melakukannya, maka itulah Candra dan Riko bersikap santai.
“Pengantin besok-besok saja bulan madu, kita tidur rame-rame saja dulu di sini,” ujar mami.
Wajah pengantin baru langsung memerah.
“Mami ngapain sih ngomong begitu, jadi malu eda itu,” ujar kakak Eva.
“Bangun dulu kalian semua kita bicara sedikit tentang pesta hari ini,” ucap tulang yang dari Bandung
Semua keluarga yang sudah terlihat capek kembali duduk, seperti biasa dalam setiap ada pesta malamnya selalu ada pembahasan tentang pengeluaran dan biaya pemasukan, karena dalam pesta ada Batak ada juga istilah ‘memberi tumpak’ kasih bantuan pada yang punya pesta.
“Setelah selesai makan makan, kini forum pembahasan tentang pesta dibuka.
“Kita patut mengucap syukur pad Tuhan Yang Maha Esa , karena pesta anak kita berjalan dengan begitu baik, ini semua diluar perkiraan kita, saya sendiri tidak menduga orang yang hadir begitu banyak, bahkan Gereja sampai penuh, saya sendiri sangat kaget, tetapi itu semua berkat kemurahan Tuhan dan … karena akkang oppung Tika, kalau kakak tidak rajin datang ke adat, ke pesta, tidak ramah ke orang mungkin mereka tidak akan datang, jadi itu patut syukuri.
Jadi sehatlah selalu kakak ya, untuk merawat semua anak-anak kita ini, masih ada lima orang lagi yang akan kakak perjuangkan,” ujar tulang.
Inang mertuaku hanya mengangguk, wajahnya terlihat sangat terharu dan bahagia karena pernikahan anaknya berjalan dengan baik, setelah semua keluarga memberi kata sambutan dan ucapan selamat sama kedua pengantin, Kini pembahasan biaya.
Uang yang masuk setelah di hitung jumlahnya, hampir setengah, belum lagi saweran saat lae Rudi menyanyi sama istrinya, suara Lae Rudi sama inang bao itu memang bagus, saat ia nyanyi dapat uang banyak juga, salut sama mereka yang pintar nyanyi.
Jadi, untuk biaya pesta Lae Rudi kali ini, semua tertutupi karena semua keluarga menyumbang, bahkan merek dapat lebih dari tulang Bandung anggota dewan itu menyumbang paling banyak, jadi, sangat bersyukur karena keluarga dari mami akhirnya dewasa dalam berpikir, mereka saling mengasihi.
Malam itu tidak ada ketegangan, tidak ada perselisihan yang ada tawa dan canda .
“Kalian semua menyumbang sama Rudi, kalau aku tumpakku sama bapaku inilah dan sama Eda,” ujar mami, ia mengeluarkan dua mplop tebal diberikan sama Lae Saut dan inang mertua, kami semua kaget, karena biasanya mami itu paling perhitungan dan pelit, walaupun ia mau mengasih biasanya nominalnya sedikit, tetapi kali ini … melihat amplop coklat tebal itu kami semua melongo.
“Mami sehatkan …”Kak Eva meletakkan telapak tangannya di kening mami, semua keluarga tertawa.
“Ah babami …! Sehatlah”
(Ah, mulutmu itu … sehatlah ) lengan kakak Eva langsung kena tampol.
“Gak … loh … mami itu si holit mangging”
(Holit mangging> Pelit)
“Kan, banyak memberi dapat berkat, kalian yang bilang kalau harta tidak akan dibawa mati”
“Itu betul, kalau begitu kasihlah samak sebagian emasmu yang banyak itu,” ujar tante.
“Benar ya ..!” tante bersemangat, ia pilih anting berlian mami yang dipakai saat pesta
Kami pikir, mami bercanda , eh, ternyata dikasih beneran, ia malah bagi-bagi anting mutia miliknya sama keluarga yang ada di rumah, mereka berebut dan rumah papan itu berisik.
“Ada apa dengan Bou?” Tanya Netta ikut bingung.
“Gak tau, mami didatangi roh kudus kali”
“Padahal biasanya dia paling pelit sama barang, eda Eva saja sampai tidak boleh minjam tapi di sini dia bagi-bagi,” ujar Netta lagi.
Kak Eva memincingkan alisnya menatap Netta.
“Apa menurut Eda, mami sehat?” bisiknya mendekat ke arah kami sana Netta.
“Sehat, tapi kenapa dia tiba-tiba bersikap seperti itu?”
“Itu, mungkin hanya rasa wujud terimakasihnya Ito,” balasku lagi.
“Ya mudah-mudahan saja”
Tetapi saat mami bagi-bagi barang berharga miliknya untuk keluarga papi ikut mendukung.
“Itu … gelang mami yang dipakai kasih sajalah sana inang oppung Tika, sudah sempit di tangan mami aku tengok,” ucap papi.
“Jangan ah, jangan ini … bapak Paima yang belikan ini untukku.” Mami melirikku.
Sudah sangat lama gelang emas itu, dulu aku beli untuk mami saat ia ulang tahun, tetapi setiap kali ada pesta mami selalu memakai gelang yang aku beli, padahal gelang emasnya banyak.
“Ini sajalah buat eda.” Mami membuka kotak dalam tas miliknya dan memberikan satu gelang emas untuk inang mertua, semua orang dalam rumah semakin riuh.
‘Apa mami baik-baik saja? Apa sebenarnya yang mereka berdua pikirkan’ Aku bertanya dalam hati , ada rasa takut juga melihat sikap mami yang tiba-tiba jadi dermawan.
“Mami kayaknya ada maunya ni …. Mami mau minta apa?” Tanya kakak Eva.
Wajah mami langsung serius, semua orang langsung diam, ia menghela napas.
“Ya, mami minta pasu-pasu dan doa, dari itoku Siakkangan , bapaku “
(Ya, mami minta berkat dan doa dari almarhum abangku yang pertama) ujar mami dengan berurai air mata.
Suasana langsung hening.
“Sama eda dan Saut, mungkin aku dari dulu banyak salah, maafkanlah kesalahanku edaku, karena aku mengingkari janji, aku pernah bilang sama almarhum ito, kalau aku akan menjaga Netta sebagai menantu di rumah kami, ternyata aku melukai perasaannya, aku semakin menyadari kesalahanku, mungkin karena kesalahankulah, makanya mereka belum punya anak,” ujar mami menangis, ia minta maaf secara langsung ke Lae saut dan Inang mertua.
Semua orang jadi diam, melihat mami memeluk inang mertua dan Lae Rudi.
“Sudah ito, kita tutup dulu acara malam ini, nanti, kami semua tulangnya akan memberi mereka makan, kebetulan juga Candra dan istrinya datang jadi sekalian”
“Ya Mi, sudah ya, sudah malam, biar tidur kita,” bujuk kak Eva.
Acara malam itu di tutup dengan doa.
Bersambung ...