Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Arnita Melahirkan


Arnita melahirkan.


Mikha kembali masuk ke dalam bui, setelah ia mencoba mengusik rumah tangga Juna dan aku, ia tidak tahu kalau ada seorang jenderal perang di rumah kami. Kak Eva akan selalu melindungi keluarga kami dari masalah.


Dia melindungi keluarga kami dengan caranya yang keras, setelah semua berlalu dan para wanita tangguh itu sudah berhasil melakukan apa yang mereka inginkan, aku dan Netta sudah kembali ke Bali.


“Apakah abang masih marah?” tanya Netta saat aku duduk di luar.


“Masihlah … kalian  semua membuatku tidak bisa berkata-kata dan aku merasa seperti lelaki yang tidak berguna,” ujarku lagi.


“Bang, ambil sisi positif saja jangan lihat dari kelakuan kami yang nekat, tapi coba abang berpikir timbal baliknya, kalau misalkan dia mengancam eda Arnita lagi saat, apa dia tidak tambah stres, padahal wanita hamil itu tidak boleh stres, "ujar Netta.


“Masalahnya kenapa kamu tidak memberitahukan padaku Ta, biasanya juga cerita”


“Kalau aku cerita Eda Eva dan Tivani akan marah, karena aku memberitahukan rahasia”


" Yang bikin aku kaget, mami kok bisa ikut bikin akting begitu, padahal tadinya, aku ingin menyembunyikan semuanya dari mami, aku merasa kayak bodoh, saat tahu kalau itu kerjaan kalian"


"Untuk melawan orang yang licik, kita juga harus licik, Mikha punya niat jahat untuk Juna dan sengaja dia mengancam Arnita, dan mencoba mengusik mentalnya, abang tidak tahu kan apa saja yang ia lakukan sama eda Arnita.Abang tahu gak?"


"Ya tahu, rumah mereka di lemari pakai kotoran," jawabku lagi.


"Bukan hanya itu Bang, dia menyebarkan foto - foto Arnita saat dia masih model dan foto saat mereka di klub malam. Tujuannya apa coba?"


Netta menatapku dengan tatapan serius.


"Ia ingin Arnita dan Anaknya di kandungan celaka, karena itu kak Eva menelepon bou dari Medan menceritakan semuanya, bou awalnya hanya nangis-nangis, eda Eva yang memaksanya melakukan itu"


“Baiklah … tidak ada gunanya menyalahkan toh juga sudah berlalu, baiklah aku tidak marah lagi, sini … aku menepuk kaki, meminta untuk duduk  di pangkuanku”


Memang beberapa hari ini aku marah padanya karena melakukan semua itu tanpa sepengetahuanku, tetapi setelah aku pikir-pikir lagi, mungkin  kalau mereka tidak melakukan itu, mungkin Mikha  masih berkeliaran dan melakukan kejahatan untuk keluarga kita"


“Sepertinya ada maunya ni,” ucap Netta terkekeh, lalu ia duduk di pangkuanku.


“Hasian, bagaimana kalau kita percepat saja rencana kita, untuk punya anak"


"Ayo, kita mau di kamar apa di sofa?" tanya Netta bercanda.


"Bukan itu maksudku borneng, kalau itu mah tiap malam jatahnya, maksudku program bayi yang kita rencanakan"


“Oh itu, kan, rencananya  tahun depan Bang, jadwalnya minta juga saat itu kan tahun depan, sabarlah, tinggal  beberapa bulan lagi untuk pergantian tahun,” ujar Netta mendaratkan bibirnya di pipiku.


“Aku tidak sabar lagi Dek, memang tidak bisa di ganti?”


“Biasanya susah Bang, karena tulang itu, jam  kerjanya padat bangat, tapi coba besok aku tanya lagi,  mudah-mudahan  beliau sudah pulang , dia sudah tiga hari di Batam”


"Ya, coba dek, soalnya kita waktu sudah tenang, lae Rudi sudah menikah dan kita sudah pulang ke kampung, jadi aku pikir sudah bisa di percepat"


"Ya Bang, besok kita coba tanya lagi ... ya"


Berhubung pesta pernikahan Lae Rudi sudah selesai, semua keluarga juga sudah kembali ke Jakarta, aku dan Netta berencana untuk mempercepat waktunya , keluarga juga sudah mendesak apa lagi mami, dia minta kita melakukan tahun ini.


Tetapi saat kami  datang ke rumah sakit, ternyata  dokter yang akan membantu kami itu akan bertugas di rumah sakit Batam selama beberapa bulan ke depan dan tahun depan ia akan kembali bertugas di Bali.


Mendengar dokter itu ke Batam Sempat lemas, karena aku pikir akan gagal, tetapi Netta selalu berpikir positif


“Baiklah, aku akan sabar untuk menunggu”


Saat papi ingin ke Bali  melihat cafe mereka, Arnita minta ikut, tentu saja semua keluarga panik, karen bulan itu perkiraan akan melahirkan.


“Bagaimana ini Bapak Paima, Arnita minta ikut ke sana,” ucap mami saat menelepon.


“Jangan Mi, takut kenapa-napa d pesawat.” Aku  menolak.


“Dia ingin  Mak Paima jadi dokternya saat melahirkan, katanya,” ujar mami.


Karena Arnita ingin Netta yang menemaninya saat melahirkan dari pada Arnita yang datang ke Bali, terpaksa Netta minta izin di over lagi ke rumah sakit yang di jakarta.


“Kenapa harus kamu Dek, kan dokter semua sama saja”


“Terkadang  kalau dokter yang menangani pasien yang melahirkan seorang laki-laki mereka kurang nyaman, mungkin Eda Arnita juga seperti itu,” ujar Netta.


“Apa kamu tidak keberatan?” Tanyaku sama Netta.


“Tidak, orang lain saja kita tanganin dengan baik, apa lagi pasiennya saudara sendiri, aku pasti sangat senang”


Aku dan Netta kembali lagi ke Jakarta, walau ibu mertua Arnita meminta untuk melahirkan secara secar . Tetap ia ia ingin  melahirkan secara normal, karena itu ia ingin  Netta jadi dokternya.


*


Perkiraan dokter tidak meleset,  hari itu Arnita akan melahirkan.


“Nanti kalau sudah lahir, aku datang ke rumah sakit ya Dek, aku mau ke kantor dulu”


“Abang tidak melihat keponakanmu lahir?” Netta menatapku.


“Tidak usah, nanti saja kalau sudah lahir, nanti Arnita jadi sungkan karena aku ada di rumah. Lagian kenapa tidak dibawa ke rumah sakit saja, dari pada dia kesakitan seperti itu”


Neta tertawa, aku hanya kasihan melihat  Arnita yang meringis kesakitan dan menjadikan Juna jadi sasaran kemarahannya, Arnita sudah satu minggu ini di rumah mami, walau  ibu mertuanya meminta untuk tinggal di rumahnya, tetapi Arnita menolak ia lebih nyaman di rumah mami, karena ada mami dan kakak Eva yang selalu menjaganya.


“Nanti juga di rumah sakit , disuruh tunggu sampai pembukaan sepuluh baru bisa tanganin dokter,” ujar Netta.


"Ta, kalau kamu nanti hamil, kami mau melahirkan dengan cara apa? tanyaku. penasaran.


" Kalau aku lebih memilih yang cesar saja, biar gak lama mengalami rasa sakit"


"Lalu kenapa Arnita tidak memilih itu?"


"Tergantung kenyamanan orang, Bang"


Hari itu Arnita berjuang ingin melahirkan di bantu Netta.


Aku berangkat ke kantor, tetapi pikiran tetap saja ke rumah, karena Arnita dari tadi malam mengeluh mules, sampai paginya ia masih tetap masih seperti itu, mami sudah memintanya untuk di sesar, tetapi ia bilang sangat takut  di operasi, ia lebih memilih  melahirkan secara normal.


Aku berharap Arnita dan bayinya baik-baik saja.


Bersambung.


Bantu like dan Vote ya Kakak