
“Apa??”
Wajah Netta langsung memerah bagai kepiting rebus.
“Memberikan cucu untuk Mami, seperti tuntutannya selama ini.”
“Ta-ta-tapi abang bilang waktu itu-“
“Aku melakukan kesalahan hari itu Netta, kesalahan yang ingin aku memperbaiki.”
“Tapi aku kan masih kuliah, aku belum bisa melakukannya,”
Netta menolak.
“Ta, kamu tau gak, hukum tidak melayani suami.”
“A-a-aku tau bang…!”
Netta mulai seperti cacing kepanasan saat aku meminta hak sebagai suaminya.
“Aku ingin lihat-lihat rumahnya dulu iya.”
Netta berdiri meninggalkanku duduk di sofa, tapi sifat menolaknya terbaca sangat jelas.
Tiba-tiba kepalaku di penuhi kejahilan, secara Netta belum berpengalaman, aku yakin Netta memang dewasa menghadapi setiap ada masalah, kadang aku berpikir Netta itu wanita dewasa.
Tapi ada saatnya ia menjadi gadis polos, apalagi tentang pacaran dan tentang membahas hubungan suami istri.
Aku ikut berdiri, melihat kelakuannya yang mulai salah tingkah, membuatku semakin ingin mengerjainya.
Aku berhak untuk itu, aku suaminya, aku sudah membuang semua yang di belakangku, aku ingin berjalan bersama Netta menjalani kehidupan ini.
Tidak mudah mendapatkan hati Netta, satu tahun lalu aku pikir aku tidaka akan bisa mencintai Netta,
aku berpikir hubungan kami akan kandas, dulu aku berpikir hubungan kami dan Netta paling bertahan hanya satu tahun, karena kami menjalaninya tanpa cinta.
Tapi empat bulan lagi usia pernikahan kami akan dua tahun.
Tapi semakin kesini, aku jatuh cinta padanya, melihat kesabarannya yang luar biasa,
ia wanita yang kuat dan sabar.
Saat aku berselingkuh ia tidak pernah mempermalukan ku di hadapan keluarga,
ia bertindak layaknya seorang istri yang hormat pada Suaminya.
Dari Netta aku paham kejahatan tidak harus dib alas dengan jahat juga.
Tangan Netta membuka salah satu kamar, rencananya akan kamar kami tempati berdua,
aku berharap kali ini Netta sudah menerimaku sebagai suaminya, tidak perlu lagi tidur di bawah dengan terpisah.
“Itu kamar kita Ta,”
“Ha…!” kamar aku mana?”
“Itu yang kamu buka kamar kita berdua Netta…!”
Lagi-lagi ia hanya tersenyum kecil, membuatku merasa malu pada diri sendiri.
“Ini terlalu tiba-tiba, aku butuh persiapan mental,” ia Mengakui kalau ia grogi bercampur panik.
“Ta, kita sudah menikah hampir dua Tahun , aku pikir selama dua tahun kamu sudah mengenalku, semua istri juga akan takut untuk pertama kalinya,”
kataku berharap ia mau.
“Iya! ampun, sudah jam sepuluh ternyata, pantesan aku lapar bangat,”
Netta tiba-tiba berdiri saat aku membahas tentang suami istri.
Dasar anak kecil, baru juga di omongin sudah ketakutan bagaimana kalau aku menggarap mu?
“Kamu, kenapa selalu kabur sih setiap membahas hal itu,” kataku jengkel.
“Aku lapar serius bang, kita’ kan hanya makan siang saja tadi” wajah Netta memelas.
“Benar’ iya, kalau kita sudah makan , kamu tidak akan kabur-kuburan lagi, sebaiknya kamu jadi anak penurut Ta,
aku sengaja membawamu kesini, kalau kamu teriak tidak ada yang mendengarnya.”
Baru kali ini aku melihat wajahnya polos, dan ketakutan matanya melotot tajam pa daku, wajahnya memerah, aku ingin tertawa melihat kepolosan itu.
Tapi di balik wajah polos itu aku bisa melihat kalau Netta belum menerimaku sebagai suami sepenuhnya.
“Abang, membuatku tambah takut saja” Netta menggaruk-garuk kepalanya.
“Baiklah, aku tidak ingin membuatmu takut lagi, takutnya kamu nanti lemas sebelum bertanding,” kataku menahan tawa.
“Aisss.” Netta mendesis cemberut.
Tawaku lepas tidak tertahan saat melihat wajahnya kesal, sesekali ia memegang wajahnya yang memerah.
“Makan masakan padang saja,” Netta mengambil jaketnya.
“Ayo,” katanya kemudian.
“Kemana?
Aku sudah memesannya lewat aplikasi, kelamaan kalau kita makan keluar, nanti kamu keburu capek.”
“Berhenti-berhenti menggodaku haaa!
Aku tidak mau melakukanya,” kata Netta bibirnya cemberut.
“Kamu kayak anak kecil Ta,” sukses membuatnya panas,
“Kamu takut iya Ta, kamu belum pernah pacaran iya Ta?” kataku membuat matanya menatapku seperti banteng mengamuk, aku tau ia tipe wanita yang tidak pernah mau di rendahkan.
“Kata siapa takut haa, ia mendekat tanpa di duga ia berani juga, tangannya bergelantung di leherku dan mendekatkan bibirnya dan ia ********** dengan kasar.
Setelah ia melakukannya, ia kabur ke kamar mandi.
“Hei, dasar anak kecil, itu kasar,” kataku menahan, Tawa.
“Bodo!” jawabnya dari balik pintu kamar mandi.
“Sebaiknya kamu mandi yang bersih dan wangi Ta,”
aku tidak mau kamu nanti bau.
“Dasar otak ngeres, aku tidak mau keluar dari kamar mandi.”
“Aku akan mendobraknya, Ta,” jawabku santai.
“Ta! Cepat, makanannya sudah datang nih…! Kamu harus makan dan mandi yang bersih karena keduanya dibutuhkan kataku semakin menggodanya, aku juga tidak mengharapkan kami melakukannya saat itu, tapi aku ingin memberitahukan Netta dengan satu hal, walau dengan bercanda, aku tidak mau ia terlalu kaku tegang denganku, aku ingin bercanda dan bicara santai dengannya. biar tidak jenuh.
“Bodo,
abang makan sendiri saja,” jawab Netta dari kamar mandi , padahal makanan yang kami pesan belum datang sebenarnya.
Aku diam, aku tidak mau Netta tidak keluar dari kamar mandi.
Makanan pesanan kami sudah datang, aku menatanya di atas meja, tinggal menunggu Netta di kamar mandi.
Netta setelah hampir 10 menit baru keluar dari kamar mandi, aku berhenti menggodanya, membuatnya sedikit lebih tenang.
Saat ia keluar dari kamar mandi matanya menatap kanan-kiri.
“Sini makan Ta, aku sudah lapar,” kataku.
Netta diam mencoba menimang ucapan ku, mungkin ia berpikir kalau aku menggodanya lagi.
“Abang gak mandi?”
Netta mendekati meja makan dengan sikap was-was.
“Nanti saja, habis makan, aku sudah tidak kuat lagi aku kelaparan.”
Sengaja menyendok nasi ke piringnya dengan porsi banyak.
“Banyak amat bang,”
“Kan buat porsi dua orang,” aku menarik kursinya agar mendekat denganku.
“Maksudnya kita makan sepiring berdua?”
“Iya biar tambah dekat,” ucapku terdengar tegas, tidak bercanda.
Ia terlihat grogi dan canggung, berusaha menjauhkan tubuhnya lagi dariku, aku tidak tahu sampai kapan Netta, menolak ku.
“Abang salah minum obat, iya apa belum minum obat?”
“Tidak keduanya, aku hanya merindukan istriku, ingin berdua, selama ini saling seperti menjauh.” Menyuap sendok, demi sendok ke mulut ku, Netta melirikku dari ekor matanya, aku tahu apa yang dipikirkan nya.
“Aku tidak tahu apa yang membuat abang Nathan berubah pikiran.”
“Cinta yang membawaku bisa duduk bersamamu hari ini Ta, aku mencintaimu,” kataku dengan tulus.
Tiba-tiba Netta tersedak, saat aku mengungkapkan kata cinta padanya,
“Ini lap mulutmu, baru ngomong begitu saja sudah kesendak.”
“Abang, jangan ucapan kan janji yang tidak bisa kamu tepati nantinya.
Tapi jadilah lelaki yang melakukan banyak hal, tanpa harus berucap.
Melakukan pekerjaan yang baik dan perilaku yang baik juga.”
Aku terdiam kata-kata itu menyindirku, aku tau tidak mudah menggapai hatinya walau dengan rayuan gombal sekalipun.
Bersambung...