
“Tidak perlu, aku tidak apa-apa Bi, aku hanya memikirkan Netta, aku mencarinya ke rumah temannya saja dah,” kataku, aku berdiri.
“Tapi ini masih malam Than, ini baru setengah empat pagi Nak, kamu ganti baju dulu istirahat dulu,” kata Papi.
“Tidak apa-apa Pi, aku harus tau Netta dimana? Aku tidak akan bisa tenang jika ia belum ketemu Pi.”
“Baiklah, kamu naik mobil Papi saja, tunggu di sini Papi ambil kunci mobil, lelaki paru baya itu meninggalkanku, ia naik keatas dan mengambil kunci mobil, menunggu beberapa menit Papi datang membawa jaket dan baju untuk aku pakai “Ini ganti bajumu Than , papi tidak mau kamu sakit, ini jaket,” dengan cepat tangannya membaluri badanku yang kedinginan dengan minyak angin, Papi seorang bapak yang sangat perhatian sama anak-anaknya, ia lelaki panutan ku sejak kecil, lelaki yang tidak banyak bicara, tapi giat dalam bekerja. Lelaki yang luar biasa karena bisa bertahan dengan sikap Mami yang tamak.
“Baiklah aku pamit Pi aku pamit Mi,”
“Hati-hati Than, kabari Papi kalau ada kabar dari Netta, nanti Papi bantu ikut cari, hati-hati Than bawa mobilnya tidak usah ngebut iya, kamu tidak tidur satu malam papi khawatir.”
“Iya Pi.”
Mami terlihat diam tidak perduli saat aku pamit, ia duduk berlipat tangan di dada, ia terlihat melamun. Sementara Arnita sibuk dengan ponselnya, sibuk berbalas chating dengan seseorang. OK baiklah aku tidak perduli dengan yang lain aku hanya ingin melihat Netta, memastikan iya baik-baik saja dan sehat. Hanya itu, tidak perduli ia tinggal dimana saat ini aku harus menemukannya.
Seperti aku membangunkan semua orang di rumah Mami pagi ini, karena aku mereka semua bangun baik asisten rumah tangga dan supir.
Aku menyusuri dingin angin malam dengan perut kosong dan kepala yang sudah mulai berat, mobil berwarna hitam itu, menyusuri jalanan malam , aku baru ingat Netta punya teman yang mungkin tahu kemana Netta pergi. Aldo teman Netta yang berwajah tampan itu mungkin tahu kemana Netta pergi.
Walau sering sekali Lelaki berkulit putih mirip Oppa Korea itu, sering sekali aku dibuat cemburu karenanya, karena ia mencintai Nettaku diam-diam.
Aku sering sekali bilang ke Netta kalau aku cemburu, bila ia menyebut nama Aldo, tapi Netta akan tertawa meledekku bila aku bilang cemburu, aku merindukan tawa itu,
Aku wajar cemburu pada Aldo karena ia sepertinya menang banyak dariku.
Tampan, muda, kaya, calon Dokter. Tapi Netta bukan tipe orang yang macam-macam, ia bilang kalau ia hanya menganggap Aldo hanya seorang sahabatnya aku percaya padanya. Walau aku masih tetap cemburu .
Hingga Mobilku tiba di salah satu komplek mewah di Depok, aku hapal rumahnya karena Netta beberapa kali minta di temenin ke rumah itu untuk meminjam buku, kalau tidak mengerjai PR sama-sama.
Aldo juga tinggal bersama kakak perempuannya seorang Dokter juga. Jadi wajar lelaki tampan itu bisa di komplek mewah seperti ini, karena keluarga Aldo juga di kampung orang yang terpandang jadi wajar Aldo dan kakaknya bisa hidup mewah seperti saat ini.
Kadang aku berpikir seandainya kalau aku tidak menikahi Netta, akankah mereka bersama?
MUngkin Nettaku tidak sengsara seperti saat ini, mendapat ibu mertua yang kejam seperti Mami dan punya adeik ipar yang seperti penyihir seperti Arnita.
Hingga akhirnya tiba di depan gerbang rumah berlantai dua ber cat kuning, rumah Aldo dan kakaknya.
Aku melirik jam yang melingkar di tanganku ini baru jam setengah lima, tidak mungkin rasanya aku bertamu sepagi itu, itu sangat menganggu . Aku berpikir lebih baik untuk menunggunya.
Menyadarkan kepalaku di sandaran jok mobil, menutup mataku, tidak tidur satu malam membuat bagai di beri minum obat tidur. Karena baru tutup mata sudah masuk ke alam mimpi.
Tok ...!
Tok ...!
Padahal perasaanku baru lima menit menutup mata, suara ketukan dari kaca mobil membangunkan ku, saat buka mata,
Aldo berdiri, aku membuka pintu mobil dan keluar. Sepertinya lelaki tampan ini habis lari pagi terlihat dari keringat yang membasahi baju olah raga yang dia pakai.
“Abang ngapain tidur disini?”
“Apa boleh kita bicara?” kataku mengucek-kucek mataku.
“Boleh, ayo kita ke ke rumah saja,” ajak Aldo aku mengikutinya dari belakang dan duduk di sofa di teras rumahnya.
“Apa kakakmu ada?” tanyaku sebenarnya hanya basa-basi. niatku hanya ingin bicara pada Aldo tapi…
Dokter cantik itu yang pernah merawat ku waktu kecelakaan kerja, Kakak Aldo membuatku salah paham saat itu, ia memujiku dan menggodaku, tidak diduga ia hanya ingin membuat Netta cemburu.
Dokter berparas cantik itu sudah datang, ia terlihat sudah berdandan cantik dan berpakaian rapi, mungkin ia bersiap ingin berangkat kerja,
“Eh, pak Jonathan ada pak?”
“Maaf ito saya bertamu pagi-pagi,”
“Tidak apa-apa pak”
“Saya datang kesini mau tanya-“
“Tentang Netta, kan?” belum juga aku bilang apa tujuan kedatanganku bertamu pagi-pagi, tapi wanita cantik itu sudah memotongnya.
“Iya, apa kalian tahu Netta pergi kemana?” Tanyaku dengan tulus.
Kakak Aldo menatapku dengan tatapan menyelidiki, membuat jadi serba salah
“Kadang orang kaya itu memang sangat menakutkan, bagaimana tega melakukan itu pada orang lemah dan orang yang tidak mungkin melawan, kenapa tidak melakukanya pada orang yang seimbang,”
“Apa maksudnya?”
“Harusnya bapak sebagai suami harus tahu apa yang terjadi pada Netta, ini sudah hari ke lima sejak kejadian.”
“Aku baru pulang kerja dari luar Kota, tadi malam baru tiba, aku menelepon Netta tapi tidak aktif maka itu aku pulang.”
“Iya Netta juga bilang kalau bapak kerja di luar kota, tapi tidak menduga baru mencari tahu sekarang.”
“Tolong bisa jelaskan apa yang terjadi?” aku bertanya karena terlalu lama dan berbelit-belit aku tidak sabar lagi, aku datang mencari karena aku khawatir dengan Netta, mereka hanya menilai ku dari sudut pandang mereka, Tapi tidak tahu bagaimana perjuanganku untuk tiba di Jakarta? Tapi sudahlah, biar aku hanya yang tahu.
“Harusnya kamu tanyakan pada keluargamu kenapa mereka melakukan itu pada Netta, adikmu perempuan itu memukuli Netta, aku bingung… Netta walau ia bukan istri bapak, tapi kenapa keluarga bapak membenci Netta, ia kan sepupu bapak, tapi kenapa adik bapak lebih memilih perempuan yang jadi perusak rumah tangga abangnya yang dibela?.” Kedua Kakak beradik itu menatapku.
“Siapa yang memukuli siapa??”
“Keluargamu memukuli Netta lima hari yang lalu, adik perempuanmu dan seorang perempuan asing datang ke rumah kalian sore itu, mereka memperlakukan Netta dengan buruk bahkan tidak manusiawi , masa perempuan berbuat seperti itu, seakan Netta seorang maling atau pelakor,”
“Maksudnya adikku Arnita yang melakukanya?”
‘”Iya, dan seorang perempuan kalau tidak salah namanya kata Netta Mikha namanya.”
Aku mengepal tanganku dengan kuat, aku marah pada kedua iblis Betina itu terutama Arnita. Kenapa ia jadi berubah sekarang, kenapa ia lebih membela Mikha dari pada Netta , aku ingin tahu apa yang di tawarkan Mikha padanya.
“Kalau kalian tidak bisa menjaga Netta, kenapa dijadikan istri?” sebagai sesama lelaki, aku mengerti kemarahan itu, tapi sebagai suami dari Netta, ia tidak berhak bicara seperti padaku. Karena aku mencintai Netta, bahkan sangat mencintainya, kalau ia sakit aku jauh lebih sakit lagi.
Maka itu siapapun yang menyakiti Nettaku aku akan membuat perhitungan dengannya tidak perduli ia wanita dari masa laluku ataupun ia adikku.
“Jangan bicara seperti itu Aldo, itu masalah rumah tangga Netta.”
“Mungkin kalau itu hanya pertengkaran suami istri, aku tidak mengurusinya, tapi ini ia dikeroyok di perlakukan seperti binatang, apa abang tahu itu?” Aldo menatapku dengan tajam
Aldo mengepal tangannya sepertinya anak kecil ini ingin memberiku bogem mentah aku tidak tahu, apa itu merasa apa tidak. Tapi mendengar penuturan itu jantung bergemuruh.
Netta di keroyok membuatku mengepal tanganku dengan kuat dada bagian didalam dadaku yang terasa terbakar.