Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Selalu Sibuk Kerja.


Kehidupan kami dan Netta, berpindah-pindah bagai keong, sebentar di Bali sebentar di Jakarta, setelah setelah beberapa bulan kami tinggal di Bali, kini,  Netta kembali bertugas di rumah sakit Jakarta, menurutku pribadi, aku  sebenarnya lebih suka Netta tugas di Jakarta, dekat dengan kantorku dan  dekat juga dengan keluarga, aku berharap ia selamanya di tugaskan di Jakarta.


Setelah Netta pindah ke jakarta,  jadwal kerjanya semakin padat, ia selalu pulang malam, terkadang tidak ada libur.


“Perasaan dulu jam kerja kamu tidak  sepadat ini Dek, kamu sadar gak kalau kamu itu sudah seperti robot kerja. Kamu tidak ada libur lagi sekarang”


“Rekan kerjaku lagi cuti melahirkan, jadi aku mengantikan tugasnya, Bang”


“Dek, bisa gak  kamu sekali-kali menolak permintaan orang lain? Jadi orang jangan terlalu baik, jangan terlalu ramah yang ada nanti kamu dimanfaatkan terus”


“Mereka juga keadaan mendesak Bang, kalau aku ada  halangan mereka juga menggantikan , itu namanya saling tolong menolong"


“Tapi, waku kamu  habis untuk kerja, kerja tidak ada lagi  waktu untukku Dek,” keluhku saat menjemput Netta malam itu.



“Memang Abang mau apa diapain? Di kelonin,” ujar Netta bercanda.


“Dek, suami istri itu harus ada waktu berduaan, bukan hanya sibuk bekerja setiap hari”


“Nanti ada saatnya Bang, untuk saat ini, biarkan aku menyelesaikan tugasku dulu”


“Baiklah,” jawabku tanpa protes lagi.


Sudah beberapa kali Netta dapat shift kerja hari minggu, waktu yang harusnya bersama keluarga, kalau ia kerja,  rumah bagai kuburan, hanya aku dan milon yang duduk di taman depan, kalau saat di Bali mau seharian di rumah berdua dengan milon tidak apa-apa. Karena ada pemandangan tepi pantai yang indah, yang bisa  memanjakan mata, tetapi rumah kami yang di Jakarta,  hanya di batasi tembok pagar rumah,  kanan kiri,  hanya ada tanaman hias Netta yang bisa menyegarkan mata.


Kami tiba di rumah, tidak ada malam minggu lagi,  tidak ada acara makan malam di luar, karena Netta pulangnya sudah lumayan larut saat diajak ke luar,  ia sudah mengeluh capek.  Padahal aku berharap tadi bisa makan dengan Netta di luar, karena ia menolak, terpaksa aku makan  lagi di rumah, aku tidak tahu ... ada apa dengan mulutku, maunya makan mengemil tiap jam.


“Tadi katanya sudah makan Bang, kok makan lagi?” tanya Netta  menatapku dengan bingung.


“Memang sudah makan, tapi lapar lagi, tidak tahu kenapa  belakangan ini bawaannya pengen makan, sampai di kantor aku meminta Tiara menyediakan cemilan di ruanganku”


“ Nanti tambah gendut”


“Tidak, setiap pagi aku olah raga untuk bakar lemak”


Netta hanya diam melihatku, aku memasukkan ayam   gulai ke dalam microwave, lalu memakannya dengan lahap.


“Biasanya abang  tidak suka makan ayam kalau sudah malam, apa lagi ini sudah larut  malam”


“Ya, pengen saja kalau mau, sini makan”


Netta menggeleng, ia tidak mau  makan  saat menjelang tidur, saat selesai makan Netta membuatku kesal lagi.


“Besok aku masuk ya Bang, makanya aku mau tidur duluan”


“Masuk  …? Dek, besok itu hari minggu, apa kamu akan kerja nonstop dari mingu ketemu minggu lagi”


“Besok rekan kerjaku ingin membawa mamanya kontrol ke rumah sakit, mamanya sudah tua bangat sudah pikun, jadi harus diawasin , takutnya perawat yang merawatnya kewalahan”


“Ya ampun kamu selalu kasihan sama orang lain, apa kamu tidak kasihan padaku?”


“Bang begini -”


“Sudahlah, kerja saja.” Aku berdiri meninggalkan Netta yang masih duduk di meja makan.


“Kok ngambek lagi …  sifat kamu berbeda belakangan ini, gampang marah, Bang"


“Suami manapun akan marah kalau istrinya hanya sibuk kerja, kerja terus, lalu kapan waktunya untukku,” kataku dengan nada kesal.


“Jangan marah, ini demi  masa depan kita”


“Bukan hanya kamu yang memikirkan masa depan  keluarga kita Dek, aku juga memikirkannya, aku juga bekerja, jadi, menurutku kamu tidak usah bekerja keras bagai kuda seperti itu”


“Nanti, kalau tahun depan, saat anak kita sudah lahir semuanya akan berubah,” ujar  Netta, lalu ia  mengusap perutnya.


“Tahun depan ya biar tahun depan kita pikirkan, rencana punya anak juga, belum di mulai juga,  saat ini, aku hanya ingin kamu tetap bersamaku”


“Ah, abang kayak pengantin baru saja,” ujar Netta.


                                              *


Saat bangun pagi Netta sudah berangkat kerja, ia meninggalkan  kertas ucapan selamat ulang tahun di atas nakas.


~ Selamat pagi Hasian  … Selamat Ulang Tahun, Semoga Panjang Umur Dan Sehat Selalu. Maaf aku tidak membangunkan mu , aku tidak ingin menganggu tidurmu~


                                Dari Istrimu.


“Hari ulang tahun yang menyebalkan”


Ada rasa yang berbeda dalam hati, saat membaca ucapan ulang tahun dari Netta, tetapi orangnya sibuk kerja, tidak ingin mati kesepian di rumah, aku memilih masuk kantor juga, karena hari ini, sebagian orang kantor juga ada yang lembur.


Saat tiba di kantor anak-anak terkejut.


“Saya ingin memantau pekerjaan kalian sudah sampai mana, bawa ke ruangan ku”


Saat aku datang semua  mendadak jadi kalem dan sibuk  mengerjakan pekerjaan masing-masing, padahal sebelum aku masuk suara mereka sedang bercanda terdengar sampai keluar.


Tidak lama kemudian Frans masuk.


“Kami hanya ingin menyelesaikan gambar yang akan di  kerjakan besok Pak."Frans  menunjukkan hasil kerjanya padaku.


Setelah memeriksa hasilnya, dan hasil kerjanya rapi dan pekerjaan bagus, aku senang, jadi aku berbagi kegembiraan  dengan mereka, kebetulan juga aku ulang tahun.


“Berapa orang yang masuk hari ini?”


“Tujuh orang Pak”


“Baiklah,  berhubung karena kerjaan kalian bagus, aku akan mentraktir kalian makan siang, nah … beli makan siang, minuman dan snack untuk orang-orang kantor, berapa orang yang kerja di lapangan hari ini?”


“Sekitar sepuluh orang Pak”


“Beli untuk mereka juga”


“Oh, makasih Bos.” Frans dan anak-anak sangat  senang saat aku traktir mereka makan.


Saat sedang  sibuk bekerja, papi menelepon.


“Mami masak enak untuk merayakan ulang tahunmu, kamu datang ya Mang”


“Tidak usah Pi, aku sedang kerja, Netta juga  lagi kerja,” tolakku.


“Tapi Laemu dan keluarga sudah ada di rumah”


“Aku tidak datang Pi, kalian saja, aku mau pantau anak-anak dulu nanti ke lapangan”


“Kasihan tulang Gres sama tulang kembar Mang”


“Lagian  untuk apa, merayakan ulang tahun seperti itu Pi, aku bukan anak kecil lagi ngapain undang semua keluarga”


“Tidak, kamu harus datang, kami ingin memberimu  kado spesial’


‘Paling juga tiket liburan, ke luar negeri, aku sudah pernah mendengarnya dari Arnita’ aku membatin.


“Lihat nantilah, "Balas ku lagi.


Tidak lama kemudian Netta juga menelepon, memintaku datang.


“Abang harus datang, aku sudah di sini, aku mau kasi kado spesial sama Abang”


“Apa?”


“Datanglah, namanya juga kejutan”


Aku berpikir kalau Netta sudah dapat jadwal untuk program bayi tabung, karena satu hari yang lalu, aku mendengar ia  menelepon dokter, untuk membicarakan hal tersebut.


Apa kah itu kadonya? Kalau  itu aku akan pulang cepat.


Bersambung ….


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA.


Bantu share ya Kakak.


Fb Pribadi: Betaria sona Nainggolan


FB Menulis; Nata


Ig. Sonat.ha


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH


Baca juga  karyaku yang lain


-Aresya(TERBARU)


-The Cured King(TERBARU)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (Tamat)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


Bintang kecil untuk Faila (tamat)