Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Menyimpan sendiri dalam hati


Kini di dalam kamar, aku kembali di landa kejenuhan, makin banyak pikiran


Jam serasa sangat lambat berputar, mataku tidak bisa terpejam lagi, banyak sudah aku lakukan, baca buku, menonton, main game. Duduk di mejaku di depan laptop memantau ke kantor, memantau bagaimana pengerjaan proyek-proyek yang sedang kami tanganin, hampir semua aku lakukan di kamar ini.


Tapi dari sekian banyak yang sudah aku lakukan, aku merasakan jam masih bertengger serasa di situ-situ saja.


Aku mencoba menghubungi ponsel Netta, tidak aktif.


Ada apa denganmu Netta? kenapa ponselmu juga tidak aktif?


Sebenarnya, aku ingin menjemputnya ke Kampus, tapi badanku belum fit, jadi aku memutuskan menunggunya sampai malam.


Menuggu itu sungguh melelahkan.


Kali ini aku sengaja tidak meminum obatnya, aku ingin melihat ia pulang jam berapapun aku harus melihatnya.


Aku melirik jam sudah jam 23:00 malam, suasana rumah sudah sepi, seperti biasa, karena keluarga, jam sepuluh sudah masuk kamar kami masing-masing, dan sudah tidur. Tapi tidak begitu dengan Netta, ia masih diluar sana tidak tahu pastinya apa yang dia kerjakan.


Sekilas aku mendengar suara motor di depan rumah kami, aku pikir hanya orang lain, tapi tidak diduga Netta juga pulang, suara pintu gerbang di buka.


Aku masih bergelut di mejaku memeriksa laporan-laporan dari kantor,


Kreaaak


Suara pintu kamar kami. Netta masuk wajahnya terlihat sangat lelah, tapi penampilannya kali ini tidak seperti kemarin malam, hanya bibir saja yang masih di merahin.


Apa Netta diantar seseorang yang naik motor tadi? aku kembali di hinggapi pertanyaan.


“Abang belum tidur?” tanya Netta menatapku .


“Belum.” Jawabku bernada ketus.


Aku marah, tapi aku tidak tahu kemarahan ku untuk yang mana, apa aku marah karena ia pulang malam? Apa aku marah karena seseorang tadi mengantarnya, atau aku marah karena aku kecewa, karena ia tidak perhatian padaku saat aku sakit.


Mendengar nada suaraku seperti itu, ia diam, tapi kali ini juga ia memasukkan tasnya ke dalam lemari, ia sepertinya takut kalau aku akan memeriksa tasnya.


Masuk ke kamar mandi, ia keluar kembali aku masih duduk di mejaku, aku ingin bicara padanya, aku ingin menanyakan semua padanya.


“Apa abang sudah makan?” ia bertanya lagi.


“Ini sudah jam berapa Netta, siapa yang belum makan jam segini,” kataku terdengar lebih ketus lagi.


Aku pikir itu hanya sekedar basa-basi.


“Aku belum makan, makan Bang,”katanya.


Tenyata ia belum makan, ia membawa kresek hitam ke meja yang ada di teras kamar kami, sepertinya ia membeli nasi goreng dan memakannya di luar sendirian.


Ia menganggap rumah ini seperti rumah orang lain dan ia menempatkan dirinya sebagai orang lain juga, ia tidak pernah menganggap dirinya sebagai seorang menantu, dan mungkin Netta juga menganggap ku hanya sebagai seorang suami kiasan.


Aku masih menatapnya dari balik jendela kaca kamar kami.


Aku tidak bisa menyalahkannya jadi bersikap seperti itu, perlakuan Mami yang selalu memarahinya dan merendahkan mungkin membuatnya bersikap seolah ia orang lain yang hanya menumpang di rumah ini.


Apa yang harus aku lakukan untuk memperbaiki semua ini, dada terasa sesak memikirkannya.


Sehabis makan, ia kembali gosok gigi.


“Kita bisa bicara?” Kataku menatapnya tajam.


Matanya melirik jam yang hampir jam dua belas malam.


“Abang mau bicara apa?” katanya terlihat sangat mengantuk, sebenarnya aku juga tidak tega, mungkin ia sudah sangat lelah.


“Aku ingin bicara banyak hal padamu,” kataku.


Aku menarik nafas panjang, rasanya aku berat untuk mengungkapkannya.


“Sebenarnya, kamu menganggap ku siapa sih, Ta?.”


“Suami,” jawabnya.


“Terus, tidak bisa kita bersikap layaknya suami istri?”


Ia terlihat bingung dengan permintaanku.


“Apa aku bersikap tidak sopan dan melakukan kesalahan?” ia menatapku matanya sudah mulai berat dan terlihat sangat lelah dan mengantuk, tapi ia tetap berusaha mendengar ku.


“Kalau kita ingin membahas hal itu, pastikan dirimu sudah siap bang baru kita bicara lagi dan kita enak untuk membicarakannya. Aku sangat mengantuk, aku ingin tidur,” katanya meninggalkanku yang masih duduk menyimak kata-katanya terdengar seperti teka-teki.


Apa maksudnya? Mendengar ia bicara seperti itu membuatku terdiam seketika, apa kata-kata itu untukku, Netta sepertinya menembak ku dengan kata-katanya.


“Netta duduklah, kamu bicara yang jelas, katakan apa maksudmu, jangan selalu menyimpan permasalahan sendiri, jangan menganggap ku hanya suami pajangan untukmu,” kataku marah.


Ia menurut, ia duduk jam sudah berputar meninggalkan angka 12, saat orang lain sudah dalam mimpi indah, Aku dan Netta terlibat ketegangan, sebenarnya hanya aku yang terlihat panas dan merasa otot-otot leherku saling bertarikan, Netta terlihat santai.


“Abang Jonathan, ingin aku bagaimana?” katanya menatapku.


“Aku tidak ingin hidup begini-begini terus ,Ta,” kataku, permintaanku memang terlalu egois sebenarnya, aku memintanya bersikap sebagai seorang istri yang baik untukku sedangkan aku tidak layak di sebut suami untuknya.


“Aku selalu bersikap sopan sebagai istri kok bang, bersikap sebagai menantu juga, terus yang salah dimana nya ?” ia bertanya, aku bingung menjawab pertanyaan balik darinya.


“Iya… salahnya, kamu harus tidur disini bersamaku,” kataku terlalu egois.


Ia memutar bola matanya, ia menarik nafas panjang, rasanya ia berat untuk bicara.


“Aku sudah bilang, kita akan bicarakan hal itu kalau Abang sudah siap.” Katanya lagi.


“Aku siap Ta, memangnya ada apa,” kataku terlalu pede, lagi-lagi ia menatapku dengan tatapan sangat dalam.


“Jangan menyentuh ku kalau kamu punya wanita lain bang Jonathan.”


Mataku langsung melotot kaget, aku kaget saat ia bicara seperti.


“Apa kamu sudah mengetahuinya?,” kataku dengan jantung berdetak lebih kencang, bahkan tanganku terasa berkeringat dingin.


“Iya, aku tau,” jadi jangan membahasnya lagi, Abang urus dulu hati Abang baru bicara padaku,” katanya ia terlihat santai tidak ada beban.


Aku merasa kalau ia jauh lebih dewasa dariku, bahkan pemikiran dan sikapnya. Ternyata umur tidak menentukan orang bisa dewasa apa tidak, Netta yang umurnya jauh di bawah umurku, bisa bersikap dewasa melebihi ku.


“Sejak kapan kamu sudah mengetahuinya, tanyaku dengan hati-hati, aku berpikir mungkin ia mengetahuinya baru-baru, kalau tidak, kak Eva memberitahukannya.


“Sudah lama, tepatnya sejak kamu datang ke kampung untuk menikahi ku,” katanya.


“Apa? maksudmu kamu sudah lama mengetahuinya, berarti sebelum kita menikah?”


“Iya,” ia mengangguk.


Aku sungguh merasa malu dan sangat bodoh , bahkan merasa malu pada Netta.


“Terus, kenapa kamu hanya diam saja?”


“Memangnya aku bisa apa Bang,” katanya tersenyum ketir.


Baru kali ini aku merasa malu dan merasa sangat rendah dan memalukan.


BERSAMBUNG