Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Selingkuh?


Setelah  malamnya menginap di rumah mami.


Besok paginya kami kami akan pulang ke Bali.



Rencana awal hanya kami berlima yang akan pergi,  tetapi saat menjelang pagi, Kak Eva rupanya tidak mau ketinggalan, ia meminta ikut juga setelah Arkan minta ikut sama papi, Arkan memang tidak bisa jauh dari opppung dolinya, karena merengek minta ikut, akhirnya papi terpaksa meminta izin dari sekolah.


“Aku ikut ya Mi”


“Ah … tung dijabu maho,holan naing dohot-dohot doho, molo adong  pese-pese di jamu ma”


(Ah di rumah saja, ingin ikut- ikut saja kamu,  puna anak kecil di rumah saja) Mami mengomeli  Kak Eva.


“Pi, aku ikut ya!” Gagal minta ikut sama mami ia mencoba ke papi di jamin sukses, karena papi, dari kami bertiga anak-anaknya  menurutku, papi lebih sayang sama kakak Eva.


“Boleh gak pi?”


“Ayolah Nang ...,” jawab papi.


“Tuh … papi kan boleh”


“Ehe di jabuma, annon ise manjaga jabu”


(Eee di rumah sajalah nanti siapa yang jaga rumah) ujar mami lagi.


‘ Aku sudah menduga akan berhasil’ Aku hanya tersenyum melihat perdebatan mami sama kakak.


“Gak tau ini mama Arkan, di rumah saja.” Suaminya ikut melarang


Tetapi Kak Eva  orang yang keras kepala, kalau ia  menginginkan sesuatu,  ia akan berusaha keras, maka saat itu juga sama,  ia ingin  liburan ke Bali , walaupun suaminya sudah melarang, ia berusaha membujuk  dan  menyakinkan sampai ia berhasil.


“Kalau kamu juga ikut pergi,  lalu aku sama siapa di rumah …  masa sama bi Atun. Kamu mah, hanya memikirkan liburan” Wajah lae berkerut


“Kamu pikir jadi seorang ibu itu mudah! Walau hanya di rumah, kalian semua salah. Justru kami para ibu yang rentan depresi, karena itu aku mau ikut liburan”


Dari pada  omongannya merembet sampai kemana-mana, suara sudah seperti speaker hajatan, akhirnya mami dan lae mengalah, orang yang keras kepalah atau yang berusaha keraslah yang berhasil.


Saat ingin berangkat di depan rumah Lasria terlihat sangat sedih.


“Apa ada masalah?” Tanyaku  melihat Lasria yang terlihat sangat gelisah.


“Mama tidak mau mengangkat telepon dariku Bang”


“Coba kirim pesan saja,  kasih tahu kalau kita akan bawa bapa uda ke Bali”


“Uda, dari tadi malam malah”


“Tidak apa-apa  jangan khawatir,  kita akan coba hubungi lagi nanti di sana.


Setelah semua beres kita akhinya terbang ke Bali.


Dari kami datang ke rumah tante, berkumpul di sana, lalu membawa  bapa uda ke rumah kami, sampai besok  paginya kami  berangkat


... tante tidak mau mengangkat telepon, hal itu mengudang banyak pertanyaan di hati kami, apa yang terjadi sama tante? Sebagai anak wajar kalau Lasria cemas tetapi dia tidak mau memperlihatkan hal itu pada bapa uda.  Aku kagum sama sikap dewasa Lasria.


             *


Setelah beberapa jam perjalanan Jakarta-Bali akhirnya kami tiba di Bandara Bali, Candra dan Tivani rupanya sudah menunggu kami di Bandara .


“Selamat datang Inang, Amang.” Ia menyalim tangan papi dan bapa uda, lalu mami.


Kak Eva menaikkan kedua alis  matanya tanda bigung.


“Apa dia berubah benaran atau hanya pura-pura baik?” tanya Kak Eva.


“Kak jangan  cepat-cepat menilai seseorang, mana tau dia benaran berubah”


“Ya, mudah-mudahan saja, jangan sampai ada udang di balik batu,” ujarnya kemudian, ia  belum bisa percaya pada Tivani.


Saat kami ingi makan ternyata si Boreneng  juga datang.



Makan terlebih dulu sebelum ke rumah, papi sangat suka melihat suasana restoran, tiba-tiba ia punya keinginan buka cabang di Bali.


“Ah, bilang saja biar kamu bisa dekat sama anakmu,” ujar mami.


“Ah itu juga jadi salah satu alasannya ,” jawab papi.


Tidak pernah terpikirkan olehku kalau aku dan Netta aku akan tinggal di Bali dan memilih hunian di sana.


                                *


 Setelah selesai makan.


Kami  langsung menuju rumah Candra,  rencana   mereka  terlaksana.  Tivani membuka ruang praktek di rumahnya dengan  konsep dan tempat yang  mewah.


“Bapak akan  kami rawat di sini, kalau Lasria mau pulang ke Bogor untuk meneruskan kuliah tidak apa-apa, karena aku dan Candra sudah sewa perawat,” ujar Tivani.


Mami dan Kak Eva sampai melonggo  melihat sikap baik Tivani, tetapi ada yang berbeda, Candra masih terlihat dingin.


'Ada apa dengan Candra dia seperti orang yang tertekan' Aku bertanya dalam hati.


Aku berpikir  kalau Candra belum  bisa menerima Tivani dengan iklas, bagi sebagian orang memiliki istri yang kaya raya satu kesenangan. Tetapi untuk  sebagian orang , memiliki istri dan mertua kaya satu beban, hal itulah yang dirasakan Candra , ia tidak suka memiliki istri yang kaya karena mertuanya memandangnya sepele.


 Saat aku keluar rumah, tidak sengaja, aku mendengar Tivani menerima telepon dari orang tuanya, aku mendengar kalau orang tuanya menyebut Tivani pohon uang untuk keluarga suaminya, bahkan meminta Tivani tidak menghamburkan uang keluarganya untuk pengobatan bapa uda.


Sebagai lelaki sakit memang rasanya di sepelekan mertua, bukan hanya aku ternyata Candra juga mendengarnya. Aku tidak tahu apa yang sudah ia alami selama menikah, tetapi yang aku lihat Candra begitu tak berdaya, karena ia juga baru menyelesaikan gelar barunya, sudah pasti belum ada pemasukan, masih mengandalkan uang istrinya.


Setelah  beberapa hari di Bali, papi berencana akan membuka satu cafe juga di daerah Ubut Bali.


Setelah mengantarkan Netta kerja, aku menemani papi keliling Bali, kami berdua seperti turis lokal yang sedang liburan celana pendek,  pakai topi bundar dan baju pantai, berjalan menyusuri setiap sudut keindahan kota Bali.


Aku baru kali ini, jalan berduaan sama papi


“Pi, bagaimana menurutmu tentang sikap Tivani sama bapa uda?”


“Ya aku melihat dia berusa melakukan yang terbaik, tetapi aku tidak mengerti  kenapa sikap Candra begitu dingin sama istrinya? ” tanya papi.


“Mungkin dia hanya butuh waktu Pi, tidak semua lelaki itu bisa langsung menerima wanita dengan mudah ”


“Tapi kamu bisa menerima Netta saat itu”


“Ha! Maksud papi?”


“Awalnya kamu  tidak suka perjodohan  kalian, tetapi setelah melihat Netta dari pertama kamu melihatnya, kamu awalnya penasaran, lalu muncul rasa takjub, lalu kamu merasa nyaman, itu yang papi lihat saat kita di kampung saat pernikahan kalian”


‘Benarkah saat pertama lihat  Netta dulu, aku langsung suka?’ aku bertanya dalam hati dan mencoba mengingat kembali.


“Benarkah? Aku tidak ingat Pi.” Aku tertawa saat papi  bercerita hal-hal lucu saat kami pulang kampung dulu.


Kami berdua duduk di kursi  menikmati kelapa muda dan memandang  keindahan pantai Bali, mata kami berdua dimanjakan cewek-cewek bule yang seksi, papi  cuek dengan semuanya, tetapi  tiba-tiba mataku tertuju pada sepasang pria wanita yang duduk.


‘Astaga apa yang dia pikirkan wanita ini?’


Aku benar- benar marah melihat mereka berdua, tidak memikirkan perasaan keluarga.


“Ada apa?” Papi mengikuti tatapan  mataku.


“Bukankah itu Candra? Lalu siapa wanita itu?”


“Sepertinya mantan kekasihnya, Pi


"Astaga ....!" Cari masalah saja ini anak"Papi geram.


“Haruskah aku memberinya pelajaran?” Aku berdiri ingin menghampiri mereka, tetapi papi melarang.


“Inilah ciri-ciri rumah tangga akan hancur, lelaki kalau sudah menghianati pernikahan dan membohongi istrinya , yakinlah pondasi rumah tangga mereka  akan  lambat- laut akan runtuh, "ujar papi.


Aku berharap Candra tidak melakukan kesalahan, sekalipun mertuanya merendahkan dan menghinanya karena miskin.


Bersambung ...


Bantu like dan vote kakak