
Sekali aku dikecewakan, selamanya akan berbekas di hatiku.”
Kata Mami, masih saja tidak mau melunak.
“Terserah Mami lah kalau tidak ada niat memperbaiki rumah tanggaku dengan Netta.
Kamu Arnita!
kalau kamu tidak ingin masa depanmu rusak, jauhi Mikha,” Kataku meninggalkan kedua wanita keras kepala itu.
Aku duduk di kamar memikirkan langkah selanjutnya, Mami tidak akan bisa di harapkan lagi untuk memperbaiki hubunganku dengan Netta.
Aku memang sudah melakukan kesalahan, tapi aku akan memperbaikinya, tidak peduli Mami mendukungku apa tidak, karena aku bukan anak kecil yang harus bergantung pada orang tuanya.
Harusnya aku masih beristirahat karena sebenarnya badanku masih lemah, tapi saat ini bahkan tinggal di rumah ini membuatku juga sakit kepala, karena banyak pikiran.
Aku harus keluar dari sini, aku akan menemui Netta saja, aku merindukannya
aku melirik jam dinding masih jam 11pagi .
Tidak mungkin meminta pak Boy lagi untuk mengantarku meyakinkan diri sendiri aku pergi, aku akan menyetir dengan pelan-pelan saja.
Aku tidak mau berakhir di rumah sakit lagi, rumah sakit membuat kepalaku sakit.
Turun kembali ingin mengeluarkan mobil yang sudah sempat di masukkan Pak Boy ke dalam garasi, mungkin ia berpikir aku tidak memakainya lagi mengingat karena aku baru sembuh, harusnya sesuai anjuran Dokter aku masih beristirahat, tapi karena situasi yang mendesak terpaksa aku harus pergi sebelum semuanya makin sulit dikendalikan, dan aku tidak mau menyesal nantinya.
“Kamu mau kemana lagi bang, baru saja pulang,” teriak Arnita.
Ia menunjukkan perhatiannya tapi aku sudah terlanjur dikecewakan sama Arnita, karena ia memihak Mikha di belakangku.
Aku bersikap acuh,
aku masih marah pada kedua wanita itu karena mereka berdua bisa terpengaruh lidah manis Mikha,
kenapa Mami lebih mempercayai orang lain daripada keponakanya sendiri? Aku sering memikirkan hal itu.
Apa hubungan darah tidak ada lagi artinya, apa uang lebih bernilai dari keluarga, sepertinya iya, benar kata Papi,
Mami sudah di perbudak uang, dan mengutamakan uang di atas segalanya.
Aku pikir setelah Papi pergi dari rumah, Mamiku introspeksi diri dan memperbaiki sikap tamaknya.
Tapi ternyata tidak, aku meninggalkan rumah dengan tubuh masih lemah.
Aku merindukan Netta, aku akan menemuinya ke Kampusnya saat ini juga.
Aku tidak ingin rasa bersalah menghantuiku, terutama bersalah pada almarhum Tulang ku bapak Netta.
Aku masih ingat Tulangku( bapak Netta) memintaku untuk menjaga Netta, dan bersabar untuk membimbingnya,
sekarang aku mengerti arti ucapan Tulang ku, ternyata Netta punya sikap yang keras dan tegas, bahkan pada dirinya sendiri.
Maaf Tulang, kalau aku tidak bisa menjaga Netta dengan baik, aku berjanji akan memperbaiki kesalahan yang aku lakukan.
Mobilku menyusuri jalanan dengan santai, aku sengaja mengendarainya dengan lambat, mengingat tubuhku baru saja jadi pasien rumah sakit.
Seperti biasa jalanan Ibu kota selalu bermacet ria, dimana-mana sudah pemandangan biasa, walau sering kali membuat hati dongkol.
Aku ingin melihat Netta, aku harus melihatnya sendiri, aku merindukannya.
Hingga mobilku berhenti disalah satu Universitas Negeri di Depok.
Universitas yang terlihat sejuk karena dikelilingi banyak pohon di sekitar tamannya, dan di sampingnya terlihat Danau yang sangat indah, terlihat para mahasiswa sedang berteduh dan bercanda dengan teman di bawah pohon-pohon rindang, ada yang belajar.
Hingga mataku terarah ke sekelompok mahasiswa yang sedang duduk berkelompok tertawa lepas.
Aku melihat Netta tertawa lepas, seakan suara tawa membangunkan burung yang bertengger di pohon dan mampu memancarkan keceriaan di sekitarnya.
Apakah dirimu sesungguhnya seperti ini, Ta?
Kataku melihatnya tersenyum manis.
Ia sangat berbeda dengan Netta yang biasa aku kenal, ia sangat berbeda jika sudah di rumah kami.
Aku melihatnya berbagi minuman dengan teman di depannya, aku tidak bisa melihatnya karena mereka duduk membentuk lingkaran dan temannya seorang lelaki, tapi ia terlihat sangat akrap, terlihat beberapa kali, berbagi minum dengan satu gelas dua sedotan.
Siapa lelaki yang berani berbagi satu minuman dengan istriku kataku membatin.
Hingga pertanyaan ku terjawab
seorang lelaki berwajah tampan, berkulit putih.
Aldo teman satu sekolah Netta saat di kampung, teman satu kelasnya, teman yang sepertinya menyukainya.
Tiba-tiba aku merasa panas, tapi mencoba menahan diri.
Mereka satu sekolah?
Apa bocah itu kuliah disini juga?
Melihatnya bercanda seperti itu, aku merasa tidak rela, tiba-tiba tanpa rencana aku mendekati mereka.
Panggilku setelah dekat, ia dan teman-temannya menoleh kearah ku sekilas ia terkejut.
“Bang Nathan?"
Matanya melirik kearah ku.
“Ada apa Bang?”
“Aku dari ruang administrasi bayar uang kuliahmu,” kataku beralasan.
“Teruskan dulu iya, nanti aku datang lagi,” kata Netta memasukkan buku-bukunya kedalam tasnya dan Laptopnya juga.
Netta punya laptop juga sekarang, siapa yang membeli?
Ah sudahlah.
Mataku menatap tajam pada Aldo, lelaki berwajah tampan itu sepertinya masih menyukai Netta, walau ia sudah tahu kalau Netta sudah menikah.
Aku bisa melihat dari tatapannya sejak pertama kami bertemu, bahkan saat itu aku sempat menegurnya karena ia menatap Netta di bandara silangit, dulu aku tidak begitu memperdulikannya, tapi aku tidak menduga kalau ia juga menyusul Netta kuliah di sini Juga, bahkan satu kelas dan satu jurusan dengan Netta saat ini.
“AyoBang,”
kata Netta, baru aku melepaskan tatapan mataku dari Aldo.
Lelaki berkulit putih dan memakai kaca mata itu terlihat menunduk, tidak berani menatapku, mungkin ia merasa takut juga aku lihatin.
“Apa kamu sudah makan, Ta?” tanyaku basa-basi.
“Belum sih, kalau abang belum makan ayo aku temenin makan siang,” kebetulan aku juga belum makan.
“Iya aku belum makan,
ayo kita cari makan, aku mau minum obat juga.”
“Di situ saja iya bang, kantin jam segini penuh soalnya ,” kata Netta membawaku menjauh dari kantin.
“Boleh,” kataku menatap sangat dalam, aku merindukannya.
Netta membawaku ke restauran cepat saji depan Kampusnya.
“Pesan apa Bang, biar aku saja yang membawanya ke sini,” katanya.
“Ayam bagian paha saja, minumannya jangan yang dingin, iya.”
“Baik,” katanya mengangguk.
Ia mengantri, saat aku membuka ponselku tiba-tiba ia balik ke mejaku.
“Berikan uangmu bang, aku tidak punya uang,” katanya dengan raut wajah apa adanya.
“Oh, iya maaf aku lupa kataku,” memberikan kartuku.
Ia membawa nampan, berisi pesanan kami.
“Kamu tidak makan, Ta?”
“Tadi sudah lapar bang, tapi tiba-tiba tidak ingin makan, aku makan ini saja, kentang goreng.”
Suasana kembali hening dan ia kembali seperti biasa, diam dan canggung denganku.
“Kamu tidak bertanya kenapa aku kesini Ta?”
“Tadi kata abang ke ruang adminstrasi,kan?”
“Iya, Tapi kata mereka uang kuliahmu sudah lunas, bisa kamu jelaskan?”
“Tapi tunggu…!
Bukannya abang habis sakit?
sudah gimana perasaannya?
Kenapa abang kesini bukanya istirahat, apa sudah sembuh?”
“Pertanyaan kamu banyak amat, yang mana dulu yang aku jawab?” aku berbalik bertanya.
“Apa abang sudah sembuh?”
“Aku sudah mendingan, penyakit ku masih seperti yang kemarin, itu tidak jauh dari lambung.”
Harusnya abang jaga kesehatan, masih mudah abang sudah sakit-sakit.”
Kata Netta tapi ia mengabaikan pertanyaan ku tentang uang kuliahnya,
dan tentang Aldo.
Bersambung.....