
Samosir Dolok Martahan.
Raja parhata atau para tetua adat sudah datang ke rumah untuk rapat acara pesta adat saur matua oppung kami.
Hanya visual copas dari google.
Saat berkumpul di dalam rumah, dua mobil pribadi berhenti di depan halaman.
Melihat orang yang datang jiwaku mulai kepanasan, Tante Candra datang dan membawa ke empat anak-anaknya. Tulang dari Bekasi, tulang yang dari Bogor juga datang, jadi semua anak-anak oppung semua sudah datang.
Aku tahu akan ada drama dan keributan lagi nanti, itu sudah tradisi kami setiap kali berkumpul seperti ini, aku akan mempersiapkan diri mulai saat ini, apa lagi saat mereka tahu kalau Netta datang Dari Jerman.
Drama tante Candra pun dimulai...
“Inoooong” Tante mulai menangis mangandung.
Kenapa setelah orang tua itu pergi baru semua bertingkah seakan -akan mereka sangat kehilangan, padahal Tante Candra orang paling sibuk, jarang pulang menjenguk Mamanya, setelah meninggal baru di tangisi, di pesta kan dan dibuat tari-tarian.
Oppung yang sudah meninggal mana mengerti lagi.
Terakhir Mertuaku Mama Netta, pernah menelepon, oppung ingin anak-anaknya pulang sebelum Mami sakit, semuanya pulang, kecuali Tante Candra yang beralasan tidak punya cuti, saat kami pesta juga ia tidak datang.
Kini tangisan itu menggelegar sampai ke kampung sebelah, jadi omongan semua orang yang datang, karena andung-andung tante sedikit berlebihan alias lebay(andung-andung: tangisan untuk orang meninggal)
“Molo nungga monding soi nama tangisna, alai di uju ngolu nai di sukkun kabarnape so hea.”
(Kalau sudah meninggal menangis berlebihan, tapi saat masih hidup, di tanya kabar juga tidak pernah) kata seorang saudara oppung, Tante langsung diam, ia akhirnya menghentikan tangisannya yang sangat menganggu itu, karena di tegur salah satu keluarga yang dari kampung.
Ia duduk bergabung dengan kami, tapi saat Netta datang membawa minuman untuk para pelayat, Tante membuat sensasi.
“Ta, kamu datang?? Iya ampun.” Tante terlihat heboh lagi, ia memeluk Netta.
“Di pelan kan suaranya iya, kita akan mulai rapatnya,” tegur salah satu tulang yang memulai rapat untuk persiapan acara pesta saur matua oppung, sudah bisa dibayangkan, adat dan ***** bengek pesta akan panjang. saat pesta oppung saur matua.
kami nantinya, manottor, di ulosi (di kasih ulos) dan masih banyak lagi rentetan acara, apa lagi, keluarga oppung boleh di bilang orang kayalah di kampung tersebut.
Saat ini,
Tante seperti orang kesurupan atau orang stres, ia masih memeluk Netta dengan tangisan- tangisan, seakan -akan ia orang paling berjasa pada Netta.
Padahal semua orang sudah memintanya untuk duduk, tapi seolah-olah ia ingin menunjukkan pada orang, kalau Netta sangat dekat dengannya, dan karena dialah Netta bisa jadi dokter,
“Netta, sini duduk sama Bou." Tante meminta Netta duduk di samping Candra.
Papi memintaku untuk bersikap tenang, baik Mami juga seperti itu, dengan kode anggukan kepala, mereka tidak mau ada keributan saat itu, walau hatiku sebenarnya panas, lelaki mana yang rela istrinya ingin di rebut dan dijodohkan pada anaknya, Tanteku memang sudah gila.
“Nanti saja Bou, aku lagi bikin kopi.” Netta menolak halus dan sopan, aku tahu Netta tidak akan melakukan itu, ia boru Batak yang paham adat dan tata krama.
“Banyak orang di situ suruh saja orang lain, masa kamu yang disuruh,” kata tante.
“Bou …! justru ini tugas Bou, karena boulah di sini boru,” kata Netta terlihat jauh lebih bijak dan tahu adat daripada tante, Tante Candra langsung diam.
Aku tidak tahu apa yang di rencanakan tante Candra saat ini, tapi aku bisa lihat dari gelagatnya, kalau ia punya rencana.
Saat rapat selesai , bapak-bapak pada minta beli tuak untuk menghangatkan tubuh, karena kampung Samosir memang sangat dingin kalau malam hari, jadi kalau di kampung sering minum tuak untuk menghangatkan tubuh.
“Jonathan, beli dulu tuak sana bere,” ucap tulang yang dari Bekasi.
“Iya tulang.” Aku baru mau berdiri, niatku tadinya untuk mengajak Netta, karena dari desa Netta lumayan jauh turun lagi ke bawah.
Tapi seperti dugaan ku, tante tidak suka dengan ke bersamaan kami dengan Netta.
“Candra saja To, kasihan si Jonathan, nanti dia capek temenin Netta, temenin Abang mu si Candra, beli ke kedai tuak sana,” kata tante.
Tidak ingin ribut aku memilih duduk kembali, Netta dan Candra pergi beli tuak menggunakan motor.
“Tan, mau temenin Papi cari rokok?” tanya Papi, aku tahu, ia hanya ingin menjaga perasaanku.
“Boleh Pi, kita naik mobil, Mami juga di bawa tidur saja, mba.” Perawat Mami membawa Mami untuk tidur.
“Biar Papi yang menyetir, iya,” kata Papi membawaku menikmati pemandangan pinggir pantai Danau Toba di malam hari.
“Aku tidak apa-apa Pi, percayalah jangan khawatir,” kataku, tapi hati ini jangan di tanya bagaimana panasnya di dalam, terasa terbakar, bagaimana tidak, saat aku sangat bahagia, karena bertemu Netta, tiba-tiba ada nenek lampir yang ingin merebut kebahagiaanku.
“Apa seharusnya aku tidak mengajakmu pulang kampung Tan? Apa Papi salah?”
“Tidak Pi, aku senang bangat bisa pulang, biarkan saja Tante melakukan apa yang ingin ia lakukan Pi, aku tidak ingin ribut dan tidak ingin mempermalukan Papi lagi,”ujarku.
“Terimakasih Bang, karena kamu mulai dewasa menanggapi masalah dan mau membantu Papi." Papi menyodorkan satu gelas minuman campuran jahe, susu, dan gula aren daun pandan, namanya kalau di Samosir di sebut minuman bandrek, minuman yang menghangatkan tubuh, rasanya enak apa lagi di minum pas lagi hangat-hangat.
Sudah sangat larut, Papi mengajakku pulang, aku tahu kenapa Papi mengajakku keluar dari rumah, biar aku tidak panas melihat perlakuan Tante yang berusaha menjodohkan Netta dan Candra.
Tidur bersama di rumah oppung, di susun seperti ikan rebus, ternyata Tante mengajak keluarganya tidur di hotel.
Saat kami pulang lagi ke rumah, orang-orang sudah pada tidur.
“ Abang sama Jonathan tidur di situ saja, tidak ada tempat lagi,”
kata Tante Bandung menunjuk tikar di pojokan.
“Baiklah,” kata Papi tidak keberatan, Papi memang orang yang sangat baik, bisa saja kami tidur di hotel juga tadi, tapi Papi menolak.
“Tidak apa-apa bang? Harusnya abang ke hotel seperti kakak Candra,” kata Tante Nisa yang dari Bandung.
“Tidaklah, kita kan’ kesini karena berduka, "jawab Papi.
“Iya … seandainya semua berpikir seperti Bang, sayangnya kakak orang kaya itu tidak,” kata Tante dan ikut tidur sejajar dengan kami.
Posisi tidur kami disusun seperti ikan asin biar muat, aku memilih menutup mata, rasa dingin dari alam samosir membuat kakiku meringkuk dan mulai tertidur, tapi saat ingin ke kamar mandi membuka mata, ada seseorang yang tidur di depanku membelakangi berbagi selimut denganku.
‘Aiis …! siapa yang berbagi selimut denganku? jangan-jangan salah satu inang -inang’ ucapku dalam hati.
Aku takut salah satu ibu atau namboru dari kampung yang tidur di depanku dan berbagi selimut denganku, dengan pelan-pelan aku mengintip ke depan melihat wajahnya,
Dug-dug...!
“Astaga ….”
Suara jantungku bergemuruh dan berpacu di dalam dada, ternyata istriku, Nettaku yang tidur di depanku, kalau seperti ini aku ingin malam yang sangat panjang agar aku bisa tidur di samping Netta lebih lama.
Kalau jodoh mah tidak akan kemana.
Bersambung ….
KAKAK JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH
Baca juga karyaku yang lain
-Aresya(TERBARU)
-The Cured King(TERBARU)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (Tamat)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
Bintang kecil untuk Faila (tamat)