Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Siapa yang menerorku?


Keempatnya di bawa ke kantor polisi untuk dilakukan penyelidikan lebih lanjut. Sepertinya mereka akan mendapat penyelidikan yang lebih meluas lagi, mengingat penggeledahan yang dilakukan orang-orang Beny, ditemukannya barang-barang terlarang dalam dasbor mobil.


Para lelaki bertampang sangar itu akan mendapat masalah yang lebih besar, dari sekedar disuruh untuk membakar kantorku.


Aku sengaja ikut ke kantor polisi untuk mendengar  siapa yang menyuruh mereka melakukan itu, dan apa motifnya melakukan itu di kantorku.


“Harus  hati-hati lagi Bro,  bahaya  teror seperti ini,” kata Beny.


“Aku belum menemukan Perusahaan yang mereka maksud, aku sangat yakin mereka suruhan seseorang.”


“Iya, itu lebih berbahaya lagi,” ucap Beny.


“Aku percaya si bodoh Brayen, tidak bekerja sendirian, ada orang yang memanfaatkannya, aku suruh Lina untuk menyelidiki mantan karyawan perusahaan, aku kaget  ternyata mereka semua melakukannya,” kataku kesal.


“Parah bangat mantan karyawan lu, apa mereka tidak takut karma atau takut hukum?” Beny memberikan satu botol air  mineral ke tanganku.


“Setan tidak takut Karma Pak Beny, orang yang tamak tidak akan pernah marasa takut.”


“Eva  bilang lu belum sembuh total, jangan terlalu banyak beban pikiran dulu.”


“Bagaimana  tidak dipikirkan Bro? tadi aku hampir jadi daging panggang di kantorku sendiri,” ujar ku geram.


“Lu pulang saja, nanti  gue kabarin apa hasil penyelidikannya,” ujar Beny.


“Aku   tidak pulang Bro,” ujar ku ketus, aku paling malas di kasihani  seperti yang di lakukan keluargaku dan  seperti yang dilakukan Beny saat ini.


Melihatku marah, Beny tidak memaksaku pulang lagi, aku tahu apa yang di lakukan Beny saat ini demi kebaikanku , tetapi aku ini lelaki sejati punya harga diri tidak ingin di kasihani.


“Baiklah Bro terserah lu saja,” ucap Beny.


Hatiku rasanya sangat sakit, kerja kerasku membesarkan Perusahaan selama bertahun-tahun, kini hancur hanya hitungan satu dua tahun, rasanya tidak bisa di terima, apa lagi orang yang melakukan penghianatan itu, orang-orang yang aku percaya selama ini.


Bahkan orang yang aku ajak membangun bersama ikut menghancurkannya dan ia memperkaya diri sendiri, dadaku rasanya sakit dan terasa terbakar.


“Kamu sudah mendapatkan nama-namanya?” Tanya Beny melihatku yang terbawa emosi.


“Iya.”


“Berikan padaku, aku akan buat mereka semua membayarnya,” Beny meminta nama-nama mereka.


“Ini, tapi apa yang ingin kamu lakukan, bukanya kamu sangat sibuk belakangan? sebenarnya aku punya rencana sendiri untuk mereka,” ujar ku.


“Sebentar lagi aku mau cuti, sebelum aku cuti aku ingin kerjakan itu,  gue ingin orang yang mencoba mencelakai kamu itu untuk  mendapat ganjaran, mereka mencoba mencelakai mu sudah masuk ke ranah hukum, di tambah lagi banyak barang-barang terlarang yang kami temukan dalam mobilnya,  gue akan buat mereka mengaku, siapa, dari nama ini yang melakukan ini padamu, akan menyuruh  mereka berempat  mengaku, siapa yang melakukan semua itu padamu,” ucap Beny.


“Terimakasih Bro,” kataku, terasa tidak bertenaga lagi, karena siang itu aku belum makan, dengan  ada orang yang ingin mencelakai ku membuatku bertambah tidak bertenaga lagi.


“Ayo!  gue antar pulang.” Beny berdiri.


Beny, bukan hanya jadi teman sekolah, ia sahabat rasa saudara, Bantuan kecil yang aku lakukan dulu padanya menjadikan hubungan kami sangat dekat.


Saat ia di terima jadi polisi, Papi membantunya, hanya bantuan kecil, menggantikan peran orang tuanya mendampingi Beny saat pelantikan menjadi polisi, saat ia tidak punya keluarga yang mendampingi karena orang tuanya saat itu sakit dan tidak bisa mengikut pelantikannya.


Mendengar kedua orang tuanya tidak bisa datang karena sakit, aku mengajak Papi dan Mami dan kak Eva, Arnita, waktu itu, datang layaknya keluarga yang mendampingi Beny.


Melihat kami datang saat itu, ia sangat terharu, aku masih ingat bagaimana  dulu Beny sangat bahagia karena ada keluarga yang mendukungnya.


Sejak saat itu, hubungan persahabatan kami sangat dekat, di tambah istri Beny teman kakak Eva, jadi apa yang terjadi di keluargaku, pasti Beny selalu tahu kalau tidak dari aku dari Kak Eva, baik tentang keluarganya, aku juga tahu banyak tentang keluarganya, ini namanya sahabat melebihi keluarga.


“Preman yang tadi, keluar masuk penjara sudah hal yang biasa untuk mereka, sebaiknya jangan berurusan dengan orang-orang itu, mereka orang-orang nekat, jika ada kejadian seperti ini lagi, kamu langsung hubungi aku,” ucap Beny.


“Gue takut, mereka itu punya teman yang lain yang mengawasi mu.”


Beni mengambil kunci dari tanganku, ia yang menyetir.


Saat tiba di rumah, Papi dan kak Eva terlihat sangat takut mendengar penyerangan yang dilakukan padaku.


“Jangan teruskan lagi Nak, Papi takut, kamu tidak bisa menangani mereka.”


Papi melarang ku untuk meneruskan Perusahaan karena adanya teror yang aku dapatkan hari ini.


Wajahnya terlihat sedih, aku tahu itu perusahaan yang ia mulai dari titik nol, hilang begitu saja, karena ulah Brayen anak dari abangnya.


Padahal, aku tahu dulu bagaimana Papi mempertahankan perusahaan itu agar tetap ber-operasi, ia selalu memikirkan para karyawan yang menggantungkan hidupnya pada Perusahaan.


Papi dulu sangat peduli pada para pegawainya, tapi saat ini justru karyawan yang selalu ia bela, yang selalu di perhatikan, kini ikut menghancurkan usaha yang ia bangun dengan keringatnya.


“Tidak mengapa Pi, aku harus berusaha bangkit lagi, walau dari nol, memang sangat susah, tapi aku akan mencoba membangun Perusahaan yang dibangun sama Papi.”


“Tapi apa artinya nak kalau kamu dapat bahaya nantinya.” Papi seakan -akan  kehilangan kepercayaan diri saat ini.


“Semua pekerjaan pasti ada resikonya Pi.” Aku mencoba mencoba meyakinkan keluargaku.


“Tapi lu harus tetap hati-hati Bro, kalau itu benar-benar karena hutang, sebaiknya jangan kekantor mengunakan mobil kamu, kalau lu harus masuk kantor, setidaknya lu harus memperkerjakan seorang keamanan untuk membantu lu,” Beny memberikan pendapat.


“Itu sepertinya aku harus mencari satu dua orang untuk membantuku, setidaknya keamanan dan untuk bersih-bersih di kantor,  bekerja di kantor sendirian ternyata mengerikan juga.”


“Apa kamu takut mati?” Tanya Beny.


“Iyalah Bro, aku tidak mau Netta jadi janda muda,” ujar ku.


“Dekat lu cuekin … giliran sudah jauh lu kangen,” ujar Beny tertawa miring.


Aku hanya diam apa yang dikatakan Beny memang benar, saat Netta  di sini   ia mendapat perlakuan tidak adil dari   suaminya yang tukang selingkuh, dan ibu mertuanya yang kejam, tetapi aku sudah berjanji pada diriku kalau aku akan berubah lebih baik lagi ke depannya.


Bersambung ….


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH


Terimakasih untuk tips ya


Baca juga  karyaku yang lain


-Aresya(TERBARU)


-The Cured King(TERBARU)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (Tamat)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


Bintang kecil untuk Faila (tamat)