
Apa yang aku alami saat ini dan apa yang di alami Arnita, semua orang yang mengenal keluarga kami, pasti bilang karena karma,
Iya mungkin itu benar Karena hidup ada istilah ‘Tabur tuai’
Dalam bahas Batak dikatakan; Ulahonma na denggan, na ikkon dapotmu do na denggan
(Lakukan yang baik, maka kamu akan mendapat kebaikan)
Sebab, jika kamu menabur kebaikan maka kamu juga akan menuai kebaikan. Tetapi jika kamu menabur yang jahat, maka yang buruk lah yang kamu petik itulah hukum karma .
Hal itu telah aku terima dan keluargaku terima.
Aku terima karma dari perbuatan ku dulu, mungkin sama almarhum ayah mertuaku, aku juga harus meminta maaf karena tidak menepati janji untuk menjaga Netta, karena telah menyakiti anaknya.
Aku dulu selalu berpikir, tidak akan terjadi apa-apa karena hidup adalah pilihan, aku berpikir, kalau susah menjalani hidup dengan cara satu, gunakan cara yang lain.
Tapi pilihan hidup yang aku pilih menyeret ku ke lubang kegelapan, hingga aku susah mencari jalan keluar, Aku terperangkap di jalan yang aku pilih.
Aku menjadikan narkoba untuk pelarian ku, membuatku melupakan semua masalah, tetapi juga merusak masa depanku.
Tetapi, kata-kata tulang ku menyadarkan ku kembali, jika menyesali kesalahan, harus memperbaiki diri, bukan dengan cara merusak, benar kata tulang.
Jika ingin Netta kembali maka aku harus memperbaiki diri dan perilaku.
‘Baiklah … aku akan memperbaiki diri’ aku bertekad dalam hati.
Tetapi tiba-tiba tubuhku terasa pusing, aku meringkuk, tubuh ini mulai menggigil, aku duduk di depan toko yang sudah tutup, dan mulai tidur meringkuk, aku merasakan tangan terasa kaku dan mati rasa.
‘Ok baiklah aku mati’ bergumam dalam hati.
“Ia menggigil kasihan.” suara-suara sumbang terdengar di sampingku.
“Kasihan oi sakit, tolongin… kasih selimut,” kata sebagian lagi.
Semua menghindar, tidak ada yang menolong , memang kebanyakan seperti itulah masyarakat kita, mereka hanya gemar menonton.
“Tapi sepertinya tadi, dia mengobrol dengan pak Nainggolan, mungkin kenal, aku telepon dulu.” Bapak yang barang saya angkut ke mobil tulang, mengenal tulang ku dan melihat kami sempat mengobrol tadi.
Beruntung ia baik hati, menelepon tulang dan mungkin tulang menelepon ke rumah, itu artinya kematian ku di tunda, bukan hari ini.
Hampir satu jam mengalami kejang dan seluruh tubuhku kram, orang kalau sudah tegang seperti itu biasanya larinya ke otak, mulut berbusa dan mata melotot tajam dan aku mengalaminya.
Aku hanya merasakan tubuhku diangkat kedalam mobil, dan aku mendengar suara tangisan kepanikan, aku bisa pastikan tangisan itu tangisan Mami dan kak Eva.
Saat aku bangun, aku berada di tempat asing dan tempat menyeramkan, ini seperti sebuah ruang isolasi, tanganku di ikat di dua sisi ranjang rumah sakit, kaki juga dan bagian perutku juga.
“Aku dimana? Keluarkan aku dari sini!” aku berteriak dengan suara yang sudah hampir habis.
Melihat dari desain kamar yang aku tempati, ini ruangan khusus rehabilitasi, ternyata aku masuk pusat rehabilitasi di daerah Bogor.
Aku masih bisa sedikit berpikir, aku masih melihat jarum suntik besar di suntikkan ke tulang bagian belakang, dan masih merasakan betapa sakitnya saat jarum suntik itu menerobos kulitku.
Hari pertama aku masih bisa sedikit mengendalikan pikiranku, hari kedua mulai rasanya saraf bagian belakang bagai di gigit semut, hari ketiga mulai mengerakkan leher kanan –kiri belakang depan kesemua arah tidak terkendali lagi.
“Buka pintunya, kalau tidak aku suntik ini bagian lehernya biar ia mati.”aku mengarahkan ke leher salah seorang perawat, ia aku tawan untuk jalan membawaku keluar , tempat ruangan ku berbaring persis seperti penjara, semua jendela di pasang jeruji .
Tempatnya sepi membuatku semakin merasa frustasi, hanya aku sendiri penghuni kamarnya, kalau sudah seperti ini bukan kesembuhan yang aku dapat yang ada aku tambah gila.
“Pak Jonathan tenanglah, keluarga anda di sini, mereka melihatmu dari kamera pengawas, kamu lepaskan dia dulu, nanti kita bicara pada keluargamu,” bujuk dokter laki-laki bertubuh tinggi.
“Aku mau keluar, tidak butuh siapa-siapa, tidak kenal, aku hanya ingin keluar,” lidah, otak ,tidak sinkron lagi, berteriak marah tapi aku tertawa, sudah mulai miring otaknya.
Pusat rehabilitasi itu sepertinya memakai orang-orang besar seperti mereka, aku tidak perduli dan aku tidak takut dengan penjaga, yang badannya besar-besar, aku hanya tidak mau di ikat di ranjang , rasanya sangat menyakitkan dipaksa minum obat dipaksa disuntik, aku tidak tahan di perlakukan seperti itu, aku berontak ingin bebas dan ingin keluar.
“Pak Jonathan tenanglah, kami tidak akan melukai bapak,” ujar salah dokter dengan ramah terus mengikuti langkahku keluar dari ruangan.
Pak...!
Seseorang memukul kepala bagian kepalaku, Gila ini orang yang memukulku, apa ia tidak tahu kalau memukul kepala itu sangat berbahaya? Kamu perawat, dokter, apa satpam, itu perbuatan bodoh memukul kepalaku’ kataku memaki di dalam hati hingga akhirnya, aku terkapar dan tidak mengingat apa-apa lagi.
Ternyata obat setan itu telah membuatku rusak, menurut cerita kak Eva waktu di bar, bonar memberiku obat membuatku selama empat hari di Bar, ternyata waktu aku mengkonsumsi barang yang dosisnya bisa membuat orang yang memakannya bagai terbang.
Aku diberikan satu obat di mana kita tetap bangun, tapi seakan berhalusinasi dan tidak sadar apa yang dialami, hampir sama dengan jenis obat yang bisa membuat manusia bertingkah seperti jombi, itu juga yang membuat tagihannya sampai melonjak seperti itu saat itu, Bonar menarik ku ke dunia hitam hingga aku ikut rusak.
Aku sebenarnya tidak ingin membuat diriku rusak, tetapi seseorang yang memaksaku seperti ini, Bonar si gilalah yang membuatku rusak seperti ini.
Aku masuk pusat rehabilitasi, narkoba sialan yang di cekcokin Bonar padaku merusak otakku hampir merenggut nyawaku juga, jadi keluarga memutuskan untuk memasukkan ku ke tempat tersebut.
Memikirkan Netta dan masih ingin melihatnya, aku akhirnya menerima pengobatan, dan masuk ke pusat rehablitasi
Waktu begitu cepat berlalu, satu tahun sudah aku habiskan di pusat rehablitasi, di sana aku mendapat pengawasan yang sangat ketat, bahkan tidak bisa berhubungan dengan dunia lain, aku bahkan tidak tahu apa yang telah terjadi selama satu tahun itu.
Bersambung ….
KAKAK JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH
Terimakasih untuk tips ya
Baca juga karyaku yang lain
-Aresya(TERBARU)
-The Cured King(TERBARU)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (Tamat)
-Menjadi tawanan bos Mafia (on going)
Bintang kecil untuk Faila (tamat)