
Masih berlanjut tentang obrolan tengah malam, itu bukan tengah malam tetapi, obrolan menjelang pagi, karena Netta menceritakan cerita horor, akhirnya mataku tidak bisa terpejam sama sekali, ceritanya jadi raratlah kemana- mana.
“Dek … berarti dia pernah dong melihat begu ganjang?” tanyaku.
Entah kenapa pula aku bertanya sampai Begu Ganjang.
“Dia bilang belum pernah Bang, tapi abang tahu …. almarhum oppung doli dulu pernah melihatnya katanya,” ujar Netta.
“Melihat si Begu Ganjang itu?”
“Iya.”
Cerita horor kami berlanjut sampai ke Begu Ganjang
(Hantu ganjang> Hantu tinggi)
Jadi cerita tentang begu ganjang sudah sangat melegenda, bahkan sampai saat ini masih ada orang yang percaya tentang hal tersebut. Begu ganjang cerita hantu dari Sumatra Utara, jika orang Samosir seperti Netta sudah tahu tentang cerita tentang Hantu Tinggi tersebut, bahkan sampai sekarang cerita itu masih tetap ada di Karo, Simalungun, Toba.
Saking melegenda nya si Begu Ganjang ini … filmnya pun sudah ada.
“Jadi kamu pernah lihat gak, Dek?” Tanyaku sama Netta.
“Aku mana bisa lihat setan Bang … juga tidak berniat melihatnya.”
“Kamu kan tidak penakut, kalau misalkan bisa melihat kamu takut tidak?” Tanyaku penasaran.
“Tidak.”
“Kamu yakin Dek, kalau misalkan mukanya hancur bekas ditabrak seperti di film horor. Lalu setannya datang, saat kamu bertugas di rumah sakit bagaimana, kamu bakalan dari gak?”
“Sudah biasa kali Bang melihat mayat hancur, mau kepalanya hancur, kakinya putus sudah biasa, aku kan dokter,” ujar Netta. Mendengar itu aku merasa semakin bergelidik
“O ya kamu benar, Lalu begu ganjang itu adanya di Sutmatra Utara saja?”tanyaku lagi.
“Abang ini tanya itu terus … nanti kalau aku ceritakan, takut abang,” ujar Netta.
“Tidak, aku tidak takut ceritakan saja,” ujar ku penasaran, sebenarnya aku takut tetapi aku penasaran dengan kisah begu ganjang ini. Aku baru sempat bertanya saat kami pulang saat oppung meninggal bekas rumah yang dibakar karena diyakini memiliki begu ganjang masih ada saat aku pulang.
Juga, beberapa kali tante Candra meneriaki mami dengan sebutan; Par begu ganjang, par uti-utian.
Baik di kantor juga sering sekali anak-anak bercanda memangil temannya dengan sebutan seperti ini’ Hei! begu ganjang’
“Jadi, Bang begu Ganjang itu setan yang tinggi yang dipercaya turun temurun di Samosir. Konon menurut cerita oppung Begu ganjang di pelihara orang yang di sebut paruti-utian atau pemilik pesugihan.”
“Apa dia makan orang?”
“Makanannya di beri pemiliknya darah ayam, percaya tidak sama cerita Begu Ganjang ini, dulu juga di samping rumah oppung ada yang di yakini par begu ganjang , di belakang rumahnya sering sekali kami temukan bangkai ayam, leher ayamnya bekas di potong , kata oppung dia paruti-utian, tapi orangnya sudah meninggal, tetapi bukan karena dibakar dia meninggal sendiri,” ujar Netta lagi.
“Untuk apa Begu Ganjang dipelihara Ta?” tanyaku lagi.
“Di manfaatkan untuk tujuan kejahatan, kalau misalkan keluarga yang memelihara itu tidak suka dengan orang lain, disuruh begu ganjang itu menyakitinya ada juga dipelihara untuk menjaga tanamannya. Misalkan di Berastagi disuruh Begu Ganjang itu menjaga ladang Jeruk, kalau misalkan ada yang mengambilnya tanpa pamit pada penjaga kebun jeruk itu, marahlah Begu Ganjang itu, dibuatlah orang yang mengambil itu sakit.”
“Lalu hanya sakit saja?” Tanyaku
“Kalau misalkan dia tidak minta maaf pada begu Ganjang itu di buat di mati tidak wajar, misalkan dia mencekik lehernya sendiri atau dia mati mendadak.”
“Kalau misalkan pesugihan yang sering kita dengar memelihara tuyul atau babingepet, Jadi, kalau di Samosir Begu Ganjang ya Dek?” Tanyaku lagi.
“Ya.”
“Lalu dari mana asal usul begu Ganjang ini dulunya?”
“Menurut Cerita almarhum bapak sih, Begu Ganjang itu dulunya hanya ada di daerah Karo dan Simalungun, digunakan untuk menjaga kebun dan pohon warga, kalau misalkan ada yang mau mencuri lalu dia akan muncul menakut-nakuti warga yang mau mencuri tersebut.”
“Lalu pindah ke Samosir?” tanyaku lebih penasaran.
“Katanya, ada orang dari Samosir sakit hati sama tetangganya, dengan bantuan dukun dibawa lah Begu Ganjang dari Karo ke Samosir untuk kejahatan atau mencelakai orang, dibuatlah tetangganya sakit dan mati.”
“Tunggu sebentar, ini dia Netta mengusap layar ponselnya dan menunjukkan gambar Begu Ganjang.
“Konon katanya dia mahluk abadi yang di tinggal di samping pohon pisang atau di samping pohon di dalam hutan, lalu orang jaman dulu memintanya menjaga kebun mereka.
Fisiknya kata Bapak kurus tingginya kira-kira 8 meter,” ujar Netta.
Saat Netta yang menceritakannya terasa sangat berbeda, seperti terasa nyata, seakan-akan aku pernah melihat hantu tersebut, padahal di kantor pernah di ceritakan salah seorang pegawai rasanya biasa saja, bahkan dia bilang mamanya yang bertemu begu ganjang karena ia berasal dari Berastagi
Namun saat aku mendengar ceritanya aku biasa saja saat itu bahkan cenderung tidak masuk akal. Tetapi saat Netta menceritakannya malam itu, aku marasa bergelidik bahkan bulu bagian bawah terasa ikut berdiri ,saking takut.
“Abang takut?” Tanya Netta saat aku melingkarkan tanganku di pinggangnya.
“Ya takut,” jawabku jujur.
“Abang gimana … sudah aku bilang tadi,” ujar Netta.
“Aku takut tapi penasaran, lanjut lagi,” ucapku setelah menarik selimut.
“Sudah itu aja.”
“Jadi rumah yang kamu tunjuk waktu itu?”
“Oh itu satu korban kegana, jadi begini … terkadang perlakukan yang mempercayai keberadaan begu ganjang itu yang lebih menakutkan dari begu ganjangnya sendiri ujar Netta.
“Memang di apain yang pemilik begu ganjang itu?”
“Ditusuk kepalanya dan dibakar hidup-hidup, sama orang kampung itu,” kata Netta.
jadi saat aku pulang pertama kali ke kampung Netta, ada satu kejadian tentang cerita begu ganjang ada satu rumah di kampung sebelah kampung Netta, rumah itu hangus terbakar, ternyata rumah itu bekas rumah yang di yakini masyarakat, milik parbegu ganjang.
Menurut cerita Netta satu keluarga di bakar hidup-hidup karena dituduh memelihara begu ganjang, memang, terkadang masyarakat di kampung-kampung itu gampang tersulut emosi dan gampang menyimpulkan sesuatu hal.
Jadi cerita begu ganjang itu masih dipercayai hingga sampai saat ini. Cerita Netta tentang begu ganjang mengingatkan kita agar tetap sopan, jika pulang ke kampung . Jika mampir ke ladang orang lain untuk selalu minta izin jika mengambil sesuatu dari ladang orang lain.
Karena bercerita horor sampai pagi aku dan Netta bangun kesiangan dan terlambat kerja.
Bersambung ….
KAKAK JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA.
Bantu share ya Kakak.
Fb Pribadi: Betaria sona Nainggolan
FB Menulis; Nata
Ig. Sonat.ha
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH
Baca juga karyaku yang lain
-Aresya(TERBARU)
-The Cured King(TERBARU)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (Tamat)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
Bintang kecil untuk Faila (tamat)