
Kami masih di rumah tulang Gres membahas tentang rencana pernikahan lae Rudi, ia mengatakan kalau lae itu belum siap untuk menikah, sementara keluarga calonnya mendesaknya untuk menikah.
“Boasa haroa borat roham, mangoli? Alani manukkuni do hami amang di suruh akkang sian huta dohot abang on hami ro”
(Kenapa memang kamu keberatan menikah? Karena itulah kami datang abang Gres dan kakak dari kampung meminta kami untuk bertanya padamu langsung) Tulang kembar duduk di samping lae Rudi.
“Godang kian dope si pikiranku bapa uda, adek-adekku sikkola dope asi roha mamereng omai uda”
( Banyak lagi yang aku pikirkan uda, kasihan mama itu , bapa uda) jawab Lae Rudi.
“Kami akan bantu Tulang untuk biaya menikah, ya kan Bang,” ujar Arnita padaku.
Arnita panggil tulang ke Lae Rudi, karena tulang mangulaki atau anak paman yang tertua akan di panggil tulang kembali, bukan sepupu dalam Batak.
“Masalahnya aku belum siap mental untuk menikah Ito, aku tidak mau nanti pernikahan yang kami jalani terputus di tengah jalan karena belum persiapan mental,” ujar Lae Rudi.
“Ake inang bohado pendapatmu, lean jo pendapatmu,” ujar tulang Gres.
“Kalau aku pribadi, ito lebih baik menikah, apa lagi orang tua calon eda itu yang meminta. Karena umur seseorang tidak ada yang tahu, jangan nanti jadi penyesalan, kalau soal adik-adik, ito jangan khawatir kami setiap bulan kirim. Kalau alasan belum siap, setiap pernikahan tidak ada yang lulus, semua belajar”
Apa yang dikatakan Netta sangat jelas, saat semua keluarga membujuk lae, ia selalu belum siap, tetapi setelah Netta yang memberikan tanggapannya ia membantah lagi.
“Bagaimana dengan abang saut Ito?’
“Apa hubungannya dengan abang Saut, ito kan tidak melangkahi”
“Dia belum mangadati,” ujar Lae Rudi.
“Ito, mereka sudah diberkati, mangadati bukanlah satu keharusan yang dipaksakan …. di berkati itulah yang paling utama, mereka bikin adat mereka setelah punya uang bisa”
“Aku inginnya abang Saut lah di adati dulu”
“Ito, tidak semua apa yang kita inginkan terjadi, mungkin ito memikirkan ito Saut, biar gak sepele orang padanya, itu bagus ito, tetapi kondisi dan situasinya tidak mendukung, ito Rudilah yang menikah dulu”
Lae Rudi selalu memikirkan keluarga dari pada hidupnya, karena lae Saut saat menikah dulu, hanya di berkati begitu saja, tidak ada resepsi adat, saat lae Rudi di kampung ia mendengar istri lae itu di ledekin ibu-ibu dengan sebutan boru naso martuhor.
Artinya tidak ada sinamot atau panaik saat pesta.
“Sejak saat itu aku bertekad bikin pesta adat abang”
“Kalau itu yang kamu pikirkan, kita bisa bikin adat mereka sekalian di pestamu,” ujar bapa Uda.
“Lagian mama juga sudah mendukung Ito, calom eda ito selalu membantu mama katanya ke rumah”
“Iya, dia tinggal di kampung, keluarganya tidak memperbolehkan merantau”
Kekasih lae Rudi tinggal di kampung, awalnya aku pikir lae Rudi berubah pikiran karena ia sudah polisi dan tinggal di Jakarta, ternyata semuanya serba di lema, calon istrinya anak perempuan satu-satunya, dan anak terakhir abang-abangnya semuanya dan tinggal di luar kota, jadi kalau mereka menikah, istrinya akan tetap tinggal di kampung untuk mengurus ibunya yang sudah lumpuh.
Jadi lae Rudi tidak setuju, ia ingin istrinya kelak mendampinginnya dan tinggal bersama, sementara pihak sana ingin anaknya dan suaminya tinggal di kampung. Susah memang kalau seperti itu harus ada yang mengalah.
“Itolah yang harus mengalah,” ujar Netta.
“Aku harus minta pindah tugas?”
“Tidak perlu, setelah menikah biarkan eda itu yang tinggal di kampung dan ito tetap bertugas di Jakarta. Lagian mama sangat mendukung”
“Baiklah,” jawab lae Rudi akhirnya.
“Sian au nimmu attong Bere, boasa pala si Arnita”
“Dari aku bilang Bere, kenapa harus Arnita) Ujar tulang kembar.
“Aku gak kerja lagi Tulang, hanya mengharapkan gaji Paksu. Kalau si Arnita nyonya besar, usaha kontrakannya dari ibu mertuanya tiga puluh pintu tiap bulan. Juragan kontrakan dia sekarang”
“Langsung tiga puluh dibilang kakak ini, dua pulu pintu doang,” balasnya lagi.
Oh, ibu mertuanya memberi mereka lahan yang lumayan luas di daerah pabrik di daerah Cileungsi, jadi mami memberi saran agar di bangun kontrakan saja karena dekat PT dan rencana itu berhasil, apa lagi Arnita tidak tega bikin harga mahal, ia memberi harga kontrakan standar, padahal bangunannya bagus.
Ternyata pengalaman hidup telah mengubah adikku Arnita, saat kami bertanya kenapa tidak harganya di naikin saja dia bilang kasihan.
Ternyata saat mami dulu mengantarnya ke Subang karena ia hamil di luar nikah, ia pernah mengontrak rumah petakan saat ia kabur dari lelaki yang dibayar mami jadi suaminya, setelah ia dipukuli saat hamil.
Ia mengontrak rumah karena takut pulang ke rumah, pengalaman itulah mengubah hidupnya. Bahkan kontrakan mami di turunkan Arnita harganya, kalau orang biasanya tambah tahun naik uang kontrakan, tetapi saat ini uang kontrakan mami turun harga, jadi wanita yang dulu sangat angkuh dan sombong itu telah berubah sekali, ia jadi pribadi yang suka menolong.
Makanya saat Lae Rudi menolak untuk menikah tahun ini, ia menawarkan bantuan untuk membantu biaya pernikahan laeku, ia berpikir Lae Rudi menolak menikah karena kekurangan biaya, padahal tidak.
“Tapi, tidak apa-apa aku akan bantu juga tulang,” ujarnya lagi.
“Jangan khawatir, bukan hanya Arnita namboru juga akan bantu, kita akan pulang,” ujar mami.
Kami semua sangat bersemangat, aku sampai merinding mendengar dukungan mami, karena ini pertama kali borneng senior itu memberi dukungan seperti itu.
“Abang dan bapa uda juga pulang, kita akan gotong royong, jangan merasa kamu sendirian, aku tahu apa yang kamu pikirkan dari tadi, kamu merasa sangat sedih karena abang tidak ada lagi,” ujar tulang kembar.
Lae Rudi menangis sangat sedih, dulu memang keluarga kami tidak mau tolong menolong, tetapi semuanya telah berubah, kami akan saling membantu kalau kami mampu.
“Jadi pos ma roham da amang undukkon ma ajakan ni boru ni rajai, ”
(Jadi tekatkan lah hatimu ya Nak iyakan saja, ajakan calon istrimu) ujar tulang Gres.
“Iya Bapa uda.” Lae Rudi mengangguk .
Jadi sudah bisa kita atur mulai sekarang Bang, kita kordinasi sama kakak di kampung,” ujar tulang kembar.
Karena mereka bapa uda adik bapak Netta, merekalah yang bertindak, kalau biasanya di gedung pesta kedua tulang inilah yang duduk di panggung bersama pengantin.
“Jadi abang tidak di rumah ini lagi donk.” Gres tiba-tiba sedih.
“Jangan menangis kamu Nang, dia tetap Abang mu, walau pun dia sudah menikah”
“Tapi dia nanti tidak sayang lagi sama kami, perhatiannya pasti sama istrinya.” Kami semua tertawa sekaligus terharu, mereka semua sangat baik dan penurut.
“Tidaklah, lihat kakak Netta, dia sudah menikah tetapnya sayang sama kalian”
“Dia menikah sama keluarga kita sendiri coba sama orang lain,” protesnya lagi.
“Tidak Dek, kalau pun abang menikah nanti, kamu tinggal di rumah kami nanti.
Wajah Gres dan ketiga adiknya sangat bahagia.
Alu berharap saat saat pesta lae Rudi nanti, Netta mudahan dapat cuti agar kami bisa pulang sekalian untuk ziarah ke makam tulang agar semuanya
Bersambung....