
Kedatangan semua keluarga ke Bali saat ini sekalian membahas hal yang penting, setelah teman-teman papi semuanya pulang kini tinggal keluarga kami yang berkumpul kembali, tetapi bukan di hotel lagi, kali ini di rumah.
“Sebenarnya, kami ingin mengabari kalau si Rudi bulan ini di desak untuk pulang,"ujar tulang memulai obrolan setelah selesai makan siang.
“Memang kenapa To?” Netta panik.
Ia sempat berpikir ada hal buruk pada keluarga kami yang di kampung.
“Orang tua … si Nely memaksa untuk mempercepat pesta kami”
"Memang makin parah sakit nantulang itu?"
“Ya, dari gereja sudah dibikin acara Marulaon Na Badia”
(Maraluaon Na Badia> Acara Doa Penyerahan dari gereja, keluarga ikhlas melepas orang tua mereka dan menyerahkan semuanya pada Tuhan)
“Lalu bagaimana Ito? Apa kata mama?” tanya Nett lagi
“Aku tidak tau harus mengatakan apa”Wajh Lae itu bingung.
Keluarga sengaja datang ke Bali, sekalian untuk merundingkan tentang rencana lae Rudi.
“Begini saja, sudah, kita rubah saja semua rencana yang semula,” ujar tulang Bandung, tulang anggota dewan ini untungnya datang, jadi ada orang yang memberi masukan di saat semua pikiran keluarga buntu.
Bagaimana tidak bingung? bapa uda Kembar bahkan sudah mengajukan cuti kerja saat Desember, tiba-tiba akan berubah lagi.
“Bah gabe boratdo molo songonon ake, hape kebayaku dang sae dope”
(Repot juga kalau begini ya, padahal kabayaku beluma selesai juga)ucap mami.
“Kabaya dope di pikkiri inataaon, jolma nga pusing”
(Kebaya di pikirin ibu ini, padahal orang-orang sudah pusing) ujar Kak Ros tertawa.
“Gak tahu mami ini, mentel kali,” celetuk kakak Eva lagi.
“Bah ... ido attong ikkon bagak au molo marpesta si Rudi”
(Iyalah, harus cantik aku kalau pesta si Rudi)
“Dengarkan kalian dulu itu lae itu bicara,” tegur papi,mami baru diam.
Karena kesehatan calon ibu mertua Lae Rudi semakin memburuk, keluarga calon istri mendesak untuk mempercepat pernikahan mereka lagi, selalu saja krikil kecil yang menghalangi jalan kehidupan semua keluarga, kini lae Rudi dibuat pusing tujuh keliling.
Rencana yang sudah dipersiapkan dengan matang-matang kini berubah lagi
Bahkan jas pernikahan mereka juga belum selesai dijahit, tetapi di sinilah kekompakan keluarga Nainggolan di perlukan.
“Biarlah aku pulang sama inang udamu nanti untuk membantu kakak mengurus,” ujar bapa uda Gres.
Ia bertindak seperti bapak sama lae Rudi, tidak bisa memang di pungkiri kehadiran Lae Rudi di rumah mereka mengubah kehidupan tulang Gres.
Semua orang tahunya kalau anak pertama tulang Gres seorang polisi.
“Ya, sudah cocoklah itu, jadi ada yang membantu kakak di kampung , nanti kalau cuti yang ajukan ulang itu di setujui,” ujar Bapa uda Kembar.
Saat menikah pasti banyak halangan itu sangat benar, ini sudah ketiga kalinya rencana Lae Rudi di ganti, sebelumnya sudah ada dua kali ada pergantian dan kini di ganti lagi.
*
Semua keluarga kembali ke rumah masing-masing setelah kita sepakat tulang Gres dan tante Ros akan membantu inang di kampung.
Tetapi di saat genting seperti ini, ternyata saat ini, giliran Rudi yang tidak dapat cuti, karena ia sudah sempat mengurus untuk bulan Desember.
Malam itu saat menjemput Netta kerja ia menelepon .
“Aku jadi pusing bangat ito,” ucap Lae Rudi di ujung telepon Netta sengaja speaker.
“Kenapa Ito?”
“Tidak ada cara lain?”
“Aku menyerah sajalah Ito, dari pada ngerepotin semua orang”
“Maksudnya?” Wajah Netta menegang.
“Aku tidak ingin menikah dengannya”
“Ha … kamu segampang itu menyerah?” Netta kesal.
“Lalu bagaimana ito, aku tidak mungkin meninggalkan pekerjaanku, kalau aku menikah lalu tidak bekerja kami mau makan apa?”
“Jauh pikiran ito sampai ke situ, cari solusi untuk cutilah”
“Aku pusing, aku sudah kena marah sama atasan, karena ini ketiga kalinya aku minta pengajuan cuti, biar dia menikah dengan yang lain saja,aku pusing”
“Ito tenang dulu, jangan memikirkan segala sesuatu itu saat keadaan marah, ito istirahat dulu, tenangkan pikiran besok pagi kita ambil keputusan”
Benar nasihat Netta tidak baik mengambil keputusan saat sedang emosi, ia menurut dan menutup teleponnya, si borneng menghela napas panjang.
“Aku berharap itu hanya kemarahan sesaat, akan sangat malu keluarga di kampung kalau sampai gagal,” ujar Netta, itu resiko calon istri satu kampung.
“Ya, itu mungkin karena ia merasa tertekan Dek”
“Aku juga tidak tau, apa cuti ku bisa diganti apa tidak, kok jadi banyak rintangannya ya, kayaknya banyak masalah deh,” ujar Netta ikutan pusing.
“Sudah, jangan terlalu dipikirkan kita lihat saja besok, kamu pasti capek mau aku pijit apa mau mandi air hangat , apa kita mau berendam air hangat bersama?” tanyaku mengulum senyum.
Kedua alis Netta saling menyatu, lalu ia menoleh kearah kalender di atas meja.
“Hari apa sekarang?”
“Malam jumat”
“Dasar …ada maunya, pantas baik”
“Kita lagi bekerja keras Hasian, mana tau berhasil tanpa program,” bujukku lagi. Ia ngakak saat aku mengedipkan mata genit padanya.
“Tapi badanku capek, hari ini sibuk bangat di rumah sakit, ada bus besar yang kecelakaan dan hampir semuanya terluka parah”
“Apa ada yang meninggal?” Tanyaku ikut prihatin”
“Untungnya, tidak”
“Maka itu kamu butuh pijitan spesial," bujuk ku lagi, kalau suami sudah ada maunya ... apa saja dilakukan.
“Tapi aku pijit ya Hasian ….”
“Tenang atas bawah semua akan aku pijit”
Netta kalau di pancing dengan percapakan seperti itu, ia selalu tertawa ngakak.
"Baiklah aku ganti pakaian dulu"
Menungu Netta berganti pakaian, aku menaburkan kelopak bunga mawar di dalam bathtub dan menyalahkan lilin aromaterapi dan tidak lupa dua gelas wine untuk menambah kesan romantis malam itu.
Netta datang menggenakan lingeria seksi berwarna merah.
“Wow … indah sekali,"ucapannya kagum melihat dekorasi kamar mandi kami.
“Kesini Hasian … lupakan kepenatan sejenak nikmati malam indah ini.” Aku mengangkat gelas untuk Netta menyodorkan satu gelas untuknya, lelah bekerja seharian kami berdua layak menikmati malam romantis untuk malam itu.
Melihatnya berpakaian seperti itu, aku ingin sekali melahapnya, Netta masuk ke dalam bathtub dan ia duduk di depanku, menikmati saat berduan layaknya pengantin baru itulah yang kami lakukan, melakukannya di bathtub untuk mencari sensasi baru biar gak jenu dengan gaya yang itu-itu saja.
Memberi pijatan dan melakukan olah raga, mampu membuang kepenatan hati kami berdua, rencana pulang kampung untuk pernikahan Lae Rudi sangat menguras pikiran kami berdua, belum lagi masalah yang lainnya, setelah berendam dan melakukan olah raga ringan dalam bak mandi tersebut, aku dan Netta sama-sama kelelahan , lalu membersihkan diri , kami berdua tertidur pulas, berharap saat buka mata besok pagi ada titik terang untuk pesta Lae Rudi.
Bersambung.