Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Kakak Baik, Tolong Dukungannya Untuk karya Baruku,.



Mari Mampir Kakak ini hanya Karya Fantasi yang isinya banyak adegan Dewasa kalau klien tidak suka yang vulgar gak usa di baca,


Bantu Like dan Vote saja, agar kontrak karyanya Lolos, terimakasih


Bab. #Terjerat Hasrat Suami


Para  penjahat itu masih mencari di sekitar Aresya, saat   Davino mendengar ada yang mendekat,  ia menarik tubuh Aresya semakin merunduk hingga dada Aresya menekan bagian dada Davino.


“Jangan lakukan itu … bayi dalam perut akan tertekan nanti, perutku lagi sakit,” bisik Aresya. Ia menggunakan lengannya untuk menahan perutnya agar tidak tertekan.


“Diamlah, mereka akan menemukan kita nanti,” bisik Davino.


 Tiba-tiba seorang  dari  para penjahat itu duduk di atas kayu besar itu,  duduk dan merokok, awalnya,  hanya satu orang,  namun,  bertambah jadi dua orang , karena gerakan tiba-tiba ada yang mendorong batang kayu itu dari atas,  wajah Aresya  terdorong maju dan bibirnya menyentuh bibir Davino,  matanya membulat  panik karena bibir Aresya  saling bertemu, ia tidak bisa melakukan apa-apa kalau ia bergerak mundur, mereka akan ketahuan,  jadi yang ia lakukan saat ini,  hanya diam dengan bibir saling menyatuh. Tetapi ia berusaha menjaga perutnya agar tidak menekan tubuh Davino.


 Davino bisa merasakan kepanikan yang dirasakan Aresya.


‘Kamu bilang,  aku bukan tipe pria idamanmu? Ucap Davino dalam hatinya, otaknya licik, aku akan memberimu pelajaran kali ini, selama ini,  kamu selalu menolakku,  maka saat ini,  kamu tidak akan bisa menolak apa yang aku berikan padamu ucap Davino dalam hatinya.


Ia menggerakkan bibirnya  dengan gerakan perlahan ia membuka mulut mengecup bibir Aresya  dengan lembut,  Aresya hanya bisa menolak dengan mata membulat dan dada mendongak mencoba menjauh, namun,  Davino   menahan kepalanya dan ******* habis   bibirnya dengan kuat Aresya sampai-sampai tidak di beri ruang untuk bernafas.


Davino tidak berniat melepaskanya,  kali ini ia menghiraukan rasa sakit di pundaknya,  ia memburu bibir Aresya lagi,  ia gulum bibir berwarna merah itu dengan gerakan lembut namun tangan  menahan kepalanya.


“Apa aku perlu mengajarimu untuk mengambil nafas saat seperti ini?” ucap Davino memberi Aresya waktu untuk mengambil nafas


 “Jangan lakukan itu,” ucap aresya dengan suara kecil tidak jelas. Napas Resya memburu,  ia bukan robot yang  bisa bertingkah diam saat di sentuh seperti itu.


“Davino hentikan!” suara Aresya,   tidak jelas karena Davino sudah *******  bibir itu lagi,  mengulumnya dengan nikmat, kini,  bukan lagi karena kemarahan tapi ini karena sebuah kenikmatan dengan rasa yang berbeda.


Davino menutup matanya  menikmati bibir Aresya  sendirian, Wanita itu hanya membatu menahan diri, namun, tiba-tiba napas Aresyah  tertahan sangat lama,  saat  tangan Davino bengerak menyusuri  lekuk tubuhnya. Tangan Davino  bergerak menyetuh bagian belakang Aresya, ia  diam, tidak bisa melakukan apa-apa orang yang bertengger di atas kayu itu masih belum pergi.


Davino tidak menghiraukan penolakan yang di lakukan Aresya, lidahnya semakin liar menikmati setiap sudut dalam rongga mulut Aresya. Davino menutup mata menikmati bibir yang dipoles dengan warna merah itu, kali ini Aresya hanya bisa menahan diri,  dadanya  naik turun menahan perasaan , namun  dada Aresya yang naik turun membangkitkan hasrat dari seorang Davino.


Ia  belum melepaskan lumatannya,  melihat Aresya diam tidak terusik, sebagai lelaki harga dirinya terusik,  ia semakin akresip, Davino mengigit bagian bibir itu dengan perlahan memberikan sentuhan dan gerakan yang membagunkan perasaan Aresya.


“Sampai kapan kamu bisa menahannya?” tanya Davino, ia benar-benar menguji kesabaran seorang Aresya.


 Kini tangan Davino, mengerak perlahan, masuk ke pakain Aresya  menekan bagian dadanya,  mengusap dengan lembut.


“Aaah … hentikan,” rintih aresya menahan suara, namun suara ******* itu akhirnya lolos dari mulutnya


Davino tersenyum puas, ia terlihat seperti iblis, tersenyum licik, ia merasa menang karena akhirnya pertahanan Aresyah runtuh,  ia mendesah merintih karena sentuhan yang ia berikan.


Akhirnya kedua orang itu turun juga dari atas  kayu, namun, tidak pergi, masih terlihat mengobrol tidak jauh dari mereka.


Aresya mendonggakkan kepalanya menarik  bibirnya dari ******* Davino, ia menolaknya dan ingin mengangkat tubuhnya,  lagi-lagi tangan Davino menahan tubuhnya. “Jika kamu bergerak mereka akan melihat batang kayu bergerak dan mereka akan menemukan kita, kita berdua,  akan dihabisi dan buang di hutan gelap ini, jadi sebaiknya kamu diam jangan beregrak tetap posisi seperti tadi” pintah Davino memberi penekanan.


“Jangan melakun itu, lagi,” ucap Aresya menahan kemarahannya.


“Kamu diam,  ada empat orang lagi yang datang mendekat ,” ucap Davino menutup mata,  kupingnya tajam bisa mendengar   dari jarak jauh dari gerak kaki mereka,  ia bisa menghitung berapa banyak musuh yang mendekat. “Apa kamu lelah?” tanya Davino dengan satu alis terangkat.


“Kamu gila, kamu akan menyakiti kami,” ucap Aresya memegang perutnya, ia mengangkat badanya lagi, agar perutnya tidak tertekan,


“Diamlah, sebelum mereka menemukan kita,” ucap Davino membiarkan wajah Aresyah mendarat di pipinya, hembusan nafas hangat dari hidung Aresyah menyapu wajahnya.


Aresya pasrah, ia mengikuti apa yang di katakan Davino. “Aku sangat mengantuk,” ucap Aresya.


“Tidurlah jika mereka pergi aku akan membagunkanmu”


Saat ia ingin menutup mata Davino membalikkan tubuh Aresya menganti posisi,  kini ia  yang berada di bawah tubuh Davino.


“Apa yang kamu lakukan? Tanya Aresya semakin panik.


“Kamu istriku, apa salah jika aku melakukan ini?”


 “Kamu gila ” bisik Aresya


 “Apa kamu ingin kita tertangkap? Maka diamlah dan nikmati apa yang akan aku berikan padamu,” ucap Davino licik.


Aresya mendorong tubuh Davino dengan kedua lengan yang ia letakkan di atas dadanya, saat ini Davino seakan di atas awan bebas berbuat semaunya pada Aresya, ia menarik lemgan Aresya yang menghalangi bagian dadanya , ia letakkan di sisi tubuhnya,saat ia ingin brontak melawab , tiba-tiba ….


“Bos, kita sudah menyusuri semua tempat,  tidak ada jejak”


“Kita tunggu sebentar lagi,  mereka pasti akan keluar atau mati,  karena pak Davino terluka,  aku yakin wanita itu akan  membawanya ke dokter,  kalau tidak ia tidak bisa bertahan, kita hanya  ditugaskan  untuk menghabisi wanita itu”


Mendengar ada suara.  Aresya  diam,  membiarkan tubuhnya dinikmati Davino lagi. Davino  memang aneh saat lawan jenisnya terdesak atau dalam bahaya disitulah  hasratnya bangun.


Ia megangkat dres milik istrinya dan membuka kain pengaman terahir.


“Jangan lakukan itu, aku sedang hami-”


Belum juga Aresya meneruskan kalimatnya, Davino enutup mulut Aresya dengan telapak tangannya.


“Diamlah, biarkan aku melakukannya, apa yang kamu takutkan aku suamimu, aku paling malas bolak -balik ke ruma sakit, ayo kita lakukan di sini,” ujarnya lagi. Lalu melepaskan kancing celananya.


Kamu akan mengingat ini selamanya  dan jangan bilang kalau aku bukan lelaki tipemu lagi, gumam Davino.


“Kamu mengambil kesempatan di tengah kesulitan awas kamu nanti, kalau anakmu sampai kenapa-kenapa aku tidak akan tanggung jawab’ ucap Aresya dalam hati, ia menahan kemarahan atas sikap liar Davino padanya.


Tidak lama kemudian, Davino dengan leluasa menyentuh bagian inti istrinya. Aresya bergerak ingin menolak tapi detik kemudian Davino sudah memasukkan barng miliknya ke lubang milik istrinya.


“Aaa … sakit.” Aresya meringis kesakitan, saat Davino melepaskan mahkota berharganya, ia menekan telapak tangan Davino ke mulutnya sendiri agar tidak mengeluarkan suara.


Bersambung...


Mampir juga ke Karya Ini ya