
Kami masih di rumah mami hari itu.
Apa yang dikatakan Netta, ada benarnya juga, aku rakus belakangan ini.
Saat sore, aku ingin makan sayur asam buatan Bi Atun lagi.
“Sejak kapan abang doyan sama sayur asam?’ tanya papi tersenyum melihatku.
“Pengen saja Pi”
“Ya, biasanya kamu bilang sayur aneh sama si bibi”
“Abang suka makan yang asam- asam ya? "Tanya Netta.
“ Ya Enak soalnya ?”
“Seleranya berubah,” ucap Netta tertawa.
“Ito suka makan itu karena eda hamil,” ucap kakak Eva.
“Itu artinya kamu benar-benar mengidam!” Tante Ros tertawa.
“Aku tidak tau itu ngidam atau tidak, tetapi yang pasti aku merasa kelaparan, setiap satu jam"
“Apa kamu suka makan yang asam-asam?” Tanya tante lagi.
“Ya, tadi Abang pesan padaku untuk masak sayur asam untuk makan siang dan sekarang juga"
“Padahal Sayur asam selama ini, Ito tidak suka itu, seleranya berubah sejak eda ,” ujar Arnita.
*
Beberapa minggu kemudian.
Setelah Netta hamil kami merasa kalau duniaku terasa berubah, termasuk dari perhatian semua keluarga, hampir tiap hari inang mertua menelepon untuk mengingatkan Netta agar selalu menjaga pola makan dan jangan capek.
Siborneng selalu menjawab lembut, setiap nasihat orang tua kami, walau sebenarnya ia tahu makanan mana yang sehat untuk wanita hamil, mana yang boleh dan mana yang tidak boleh , ia tahu karena ia juga seorang dokter. Tetapi setiap nasihat orang selalu ia jawab dengan antusias.
pagi ini, setelah selesai serapan Netta ingin berangkat kerja.
“Bang, ayo antar aku dulu.” Ia meminum susu hamil dalam gelas dengan sikap tergesa-gesa.
“Dek, bisa gak kamu jangan terlalu banyak bergerak, kasihan dia ... kalau kamu goyang kiri-goyang kanan” Bola Mata Netta memutar mendengar ucapanku.
“Iyeee …! namanya masih hidup, harus bergeraklah Bang, masa diam kayak patung”
“Bukan, kasihan dia, di dalam perutmu, ikut capek”
“Capek ngapain …. memangnya dia lari -larian di dalam,” ucapnya bercanda, saat aku selalu bersikap khawatir, Netta malah selalu bersikap santai.
“Kamu gak perduli sama dia, Dek?”
“Kok … gak perduli bagaimana?” Netta Bukannya marah, malah tertawa lepas lagi.
“Kamu harusnya seperti wanita hamil pada umumnya Dek, jalan pelan-pelan, lalu tangannya memegang perut, terus apa lagi ya … oh mual-mual”
“Ih … gemas deh aku, sama kamu, pingin, tak gigit tuh bibir,” ujar Netta menyentuh bibir dengan tangannya.
“Memang benar, kan … aku lihat sejak kamu hamil, tidak pernah ngeluh, sakit pinggang atau mual gitu”
“Aku ini hamil kebo Bang … kan, aku sudah bilang ngidamnya sama abang dan aku sangat bersyukur dengan itu, jadi aku tidak terganggu kerjanya”
“Kamu gak pengen dimanja gitu ….?” Tanyaku lagi.
“Gak”
“Sebenarnya kamu hamil gak sih dek …. Apa kamu hanya prank aku?”
Netta tertawa ngakak lagi, bagaimana aku tidak khawatir menurut buku pedoman hamil yang aku baca belakangan ini, wanita yang hamil itu sangat manja, pola makannya berkurang karena ngidam, pusing dan masih banyak lagi . Namun Netta tidak merasakan semua itu, pola makannya masih tetap sama, jam tidurnya tetap sama dan Netta juga tidak pernah manja, selalu sabar.
“Ini loh Bang, anak kamu yang ada di perut aku ini … na!” Netta menyodorkan hasil USG padaku.
“Kok … kamu berbeda sih Dek sama wanita yang hamil pada umumnya, aku khawatir”
“Aku tidak berbeda Hasian, justru kamu yang berbeda lihat perut kamu yang mulai buncit itu … kamu kayak kerbau bunting, kurangin porsi makannya”
“Gak bisa, aku bawaannya, ingin makan terus”
“Itu dia yang aku maksud, anakku pengertian sekali, dia tidak rewel, ngidamnya pindah samamu”
Dulu aku selalu berpikir tidak mungkin suaminya yang mengidam, karena yang hamil bukan suami, melainkan istri otomatis yang ngidam istri, ternyata pemikiran itu dan ucapan itu, aku tarik kembali. Karena laki-laki bisa mengidam sepertinya sepertiku, aku mengalaminya, saat Netta baik-baik saja santai saja. Tetapi tidak demikian denganku, aku yang banyak kemauan.
“Tapi Dek, aku maunya kamu bersikap manja padaku, kayak istri-istri yang lain”
Netta semakin tertawa menggeleng-geleng melihat sikapku.
“Aku beda Dek”
“Sudah Bang, aku terlambat nanti, sudahin saja makannya”
“Tapi aku belum kenyang”
“Ampun deh Bang, satu piring lontong sudah habis, sudah, ayo antar aku nanti kalau masih lapar makan lagi”
“Baiklah”
Melihat Netta sudah mau terlambat kerja, aku mengantarnya dulu, karena perut belum kenyang aku berniat, makan lagi setelah mengantar Netta.
Sebelum Netta turun dari mobil ia mengingatkanku, agar jangan makan terlalu banyak yang bersantan dan yang asam- asam karena aku ada riwayat penyakit mag.
“Jangan terlalu banyak makan yang asam-asam Bang, nanti asam lambungnya naik lagi seperti yang kemarin.
“Baik Bu Dokter selamat bekerja”
“Baik Bos”
“Oh ya boleh aku nanti video call kamu”
“Gak usah Bang, gak bakalan aku angkat, aku selalu simpan hp di loker kerjaku”
“Boleh, kita makan siang lagi nanti?”
“Gak usah Hasian dari kantormu ke rumah sakit jauh, aku pulangnya sore”
Sikapku belakangan ini memang lebay atau berlebihan, tapi itu aku lakukan karena sangat khawatir dengan Netta dan kandungannya, Sampai saat itu, kehamilan Netta bagiku sebagai mimpi.
Setelah mengantar Netta kerja aku juga berangkat ke kantor, mataku tidak sengaja melihat nanas madu di pinggir jalan, saat melihat nanas aku jadi ingin makan.
“Ais … aku kan tidak pernah suka makan nanas, karena gatal kenapa sekarang aku jadi suka.” Aku merasa semakin aneh pada diriku.
Dulu aku paling tidak suka makan nanas, karena lidahku suka gatal, tetapi hari ini aku benar-benar menginginkannya, berhenti di pinggir jalan dan membeli nanas yang sudah dikupas.
“Apa bapak punya garam?”
“Haaa ! Garam? Kagak punya Mas, ono no yang punya rujak ada garam,” ucapnya menatapku dengan tatapan aneh.
“Garamnya buat bersihin nanasnya pak, takut gatal”
“Jangan pakai garam Mas”
“Saya lebih suka pakai garam”
Tiba di kantor aku meminta Tiara untuk menyajikan dalam piring memintanya untuk dibawakan garam.
“Apa ini untuk Bapak?” tanya wanita muda itu menatapku dengan bingung.
“Ya, apa ada masalah Tiara?”
“Ada Pak, kata ibu Netta, saya harus memperhatikan makanan bapak, katanya bapak gak boleh makan yang banyak berlemak dan yang asam-asam”
“Ini tidak asam, ini namanya nanas madu. Madu rasa apa?”
“Manis”
“Ini Nanas madu, artinya nanas ….?”
“Nanas manis”
“Oh, itu kamu bilang, sudah kamu boleh keluar, jangan melaporkanku ke istriku atau kamu …” Aku mengarahkan tangan ke leher.
“Baik Pak,” jawabnya lagi setelah aku bilang akan memotong lehernya.
Jika ini sebuah proses perjalanan yang aku akan lewati untuk mendapatkan anak, tidak apa-apa bagiku, walau semua pakaianku semua jadi sempit, tidak masalah aku menikmatinya.
Bersambung …
.
.
.
.
.
.
Mohon Bantuannya Kakak baik. Untuk Like, karya Baru ku agar dapat Promosi dan kontra ya dapat di proses