
Saat aku dan Netta di fase yang sangat sulit, boleh di bilang di ujung kehancuran, aku merasa kapal yang kami tumpangi mulai di terpa badai, dari mulai ombak kecil hingga ombak yang besar.
Kini bahkan kapal itu bagai diterpa badai besar.
Aku tidak tahu apakah kami berdua akan tahan menghadapi semua ini, saat orang yang harusnya kami harapkan jadi pegangan kami, justru ingin kami hancur.
Mami memaksaku meninggalkan Netta.
Tidak cukup sampai disitu tiba-tiba Mikha datang lagi membawa bencana besar.
Ia datang membawa kabar membuatku terkejut dengan keberaniannya.
Ia mengaku hamil dan mengandung anakku, saat aku dan Netta merindukan dapat momongan Mikha datang.
Ini bukan jawaban dari doa yang kami inginkan, tapi ini hantaman ombak yang lebih besar lagi.
Tentu saja aku tidak percaya begitu saja karena aku tahu bagaimana otak Mikha.
Tujuannya menghancurkan rumah tanggaku dengan Netta.
“Aku datang kesini mau bilang sama abang Jonathan kalau aku mengandung anakmu,”
kata Mikha mengelus perutnya terlihat mulai melendung.
Aku hanya tertawa melihat kelakuan konyol Mikha,
ia wanita yang menjijikkan saat ini.
Tak lebihnya seperti wanita penyihir jahat, ia terlihat seperti pemeran antagonis dalam sinetron yang sering tayang di televisi.
“Kamu tidak malu mengaku hamil, kita bertemu sudah tidak pernah lagi bagaimana mau bikin kamu hamil, Netta tiap malam belum berhasil apalagi kamu yang tidak pernah aku sentuh lagi mengaku, aku bukan lelaki bodoh yang gampang kamu kibuli, sudah…! pergi sono,” kataku mengusir Mikha yang tiba-tiba datang ke rumah kami membawa bencana lagi, bibirnya tersenyum licik dan nekat.
“Aku mau bilang sama wanita itu, mana dia?”
kata Mikha mencari Netta.
Netta datang, tapi sikapnya kali ini terlihat sinis dan terlihat jutek, tatapan matanya menatap tajam kearah Mikha.
“Aku hamil anak Nathan, aku ingin ia bertanggung jawab, kata Mikha.
“Kamu yakin itu anak suami saya?”
“Apa?”
Mata Mikha melotot tajam.
“Kamu hamil dengan orang lain, tapi menyuruh Bang Nathan bertanggung jawab, apa kamu tidak tahu malu pada dirimu sendiri?
Bang Nathan sudah lama tidak menemui mu, terus kapan ia melakukanya?”
“Ha, kamu percaya pada suamimu?”
“Mikha, jaga bicaramu, aku tidak pernah lagi berhubungan denganmu sejak aku memutuskan tinggal dengan Netta jadi…
kenapa kamu minta pertanggung jawaban padaku bukan pada Juna, wanita bodoh,”
kataku ingin menamparnya.
“Abang jangan seperti itu, dulu saja kamu bilang ingin punya anak dariku, abang bilang tidak ingin punya anak dari wanita lain,”
kata Mikha ingin memanas-manasi Netta.
“Dengar iya MIkha, aku bukan lelaki bodoh yang ingin mempunyai anak dari wanita yang bukan istriku, itu kebodohan namanya.”
Kataku bernada serius.
“Tapi buktinya aku hamil, dan aku sudah memberitahukan Mami, ia mendukungku, ia bilang akan menceraikan gadis kampung itu dan menyuruhmu menikahi ku, bukankah itu hebat.” Kata Mikha.
“Hebat untukmu, tapi aku tidak pernah menduga kalau kamu jadi wanita yang rendah.”
“Aku tidak perduli, aku akan senang jika kamu berpisah dengan wanita itu, ini anak kamu ini yang dibutuhkan keluargamu, apa yang di inginkan keluargamu ada padaku, kenapa kamu tidak mengiyakannya dan kita bisa bersama seperti dulu lagi,”
kata Mikha.
“Pergilah Mikha, jangan sampai aku marah.”
“Aku harap kamu cepat sadar diri anak kampung, walau Ibu mertuamu bibimu sendiri, mereka tidak perduli padamu karena kamu tidak berguna,”
kata Mikha.
Tiba-tiba Netta berjalan mendekat wajahnya mengeras satu tamparan melayang ke pipi Mikha, aku membiarkannya Netta menampar pipi sebelah lagi, ia benar-benar marah.
“Aku sudah lama ingin melakukan ini sebenarnya, tapi untuk hari ini itu cukup karena kamu lagi bunting, kamu bukan siapa-siapaku, jangan kamu pikir selama ini aku diam karena takut, tapi kamu wanita hina, semakin hina lagi jika anak yang kamu kandung itu, anak orang lain kamu tuduh anak bang Jonathan, itu kamu benar-benar rendah dan menjijikkan sebagai seorang wanita,”
kata Netta.
“Kalian berdua akan menerima penghinaan ini, aku pastikan kalian berdua akan menyesali semua ini,”
Mikha meninggalkan rumah.
Tapi aku yakin ia akan menyebabkan kehancuran untuk aku dan Netta, jika menemui Mami aku yakin Mami akan mempercayainya, aku yakin Mikha sudah melancarkan aksinya saat ini.
Netta terlihat diam, wajahnya masih terlihat marah.
“Kamu tidak percaya, kan Ta, apa yang di katakan Mikha tadi,”
aku bertanya.
“Tidak, karena itu tidak mungkin, karena abang…”
“Apa Ta?
Kenapa tiba-tiba kamu berhenti.”
Aku mengalihkan pandanganku kearahnya.
“Sudahlah bang, kita jangan membahasnya lagi,”
“Tidak…tidak aku tidak suka di gantung-gantung seperti itu,” kataku memaksanya untuk bicara.
Netta terlihat sangat berat untuk bicara, ia beberapa kali menatapku dengan ragu membuatku hampir gila.
“Abang berhentilah untuk merokok,iya.”
“Apa hubungannya sama rokok sih…!
Aku tidak bicara rokok, tapi katakan terus terang ada apa, jangan membuatku gila.”
“Abang itu sakit, jadi kita harus melakukan pengobatan.”
“Jangan sok pintar Ta, apa kamu mau menuduhku mandul tidak bisa punya anak?”
Netta terlihat diam, ia mengigit bibir bawahnya, saat itu juga aku merasa jantung bagai tercecer di lantai, dan lagi-lagi kakiku lemas bagai tidak bertulang, aku mendudukkan panggulku di halaman, aku mengenal Netta kalau ia bersikap seperti itu ia bicara kebenaranya.
“Katakan ada apa?”
kataku dengan volume suara yang hampir tidak kedengaran.
“Aku meminta maaf bila baru memberitahukannya sekarang, aku takut abang tersinggung jadi aku merahasiakannya, tadinya ingin mengobati bersama.
“Katakan saja apa intinya jangan berbelit-belit,”
Kataku tanpa menoleh.
“Abang tidak bisa punya anak karena cairan punya abang itu tidak bagus, itu di karenakan abang terlalu sering mengunakan pil KB untuk pria dalam jangka waktu lama bertahun-tahun dan benih-benih itu rusak, apa abang dulu mengunakan pil KB pria
Waktu bersama Mikha?”
Netta bertanya tenang seperti itu membuatku ingin menenggelamkan kepalaku kedalam tanah, aku malu pada diri sendiri, lebih tidak terima. Kebenaran itu terkadang tidak bisa kita terima dengan mudah.
“Kamu menuduhku Ta, kamu merendahkan ku?”
ia membawa hasil pemeriksaanya hasil laboratorium.
“Maaf jika aku memeriksanya secara diam-diam, tadinya aku ingin memberitahukan mu bang, tapi abang mudah tersinggung jadi aku menyimpannya.”
“Dari mana kamu mendapatkan pemeriksaan ini, padahal aku tidak pernah memberitahukan mu, aku tidak pernah memberikan, aku membuang airku pagi itu ketempat sampah, dari mana kamu mendapatkannya?”
aku mulai marah.
“Aku meminta maaf , saat abang pergi aku ke kamar mandi, tidak sengaja saat ingin membuang tissue ke tempat sampah, aku melihat botol itu masi tertutup dan air itu tidak tumpah jadi aku bawa sekalian, dengan punyaku untuk melakukan pemeriksaan.”
“Itu kamu lancang, kamu melakukannya walau aku tidak mengijinkannya, kamu keterlaluan , dengar! aku tidak rusak, kamu yang rusak, Aku mau bilang anak yang di kandung Mikha anakku, aku akan menikahinya,”
kataku Emosi, aku memalukan dan menjijikkan, rendah.
Harga diriku terluka di depan Netta, saat ia mengetahui selama ini akulah yang rusak, ia menyembunyikannya, aku menduga kalau Netta sudah menertawakan ku selama ini.
Aku sakit hati, aku merasa di rendahkan sama Netta, aku marah, aku terluka.
Fakta tentang kami tidak bisa punya anak karena aku yang yang rusak bukan Netta.
Padahal semua orang mengatai ia mandul ia diam, padahal ia sudah tahu kalau akulah yang bermasalah.
Aku meninggalkan Netta, aku pergi dari rumah, hidupku benar-benar hancur, aku meninggalkan Perusahaan jadi pengangguran.
Aku tidak bisa punya anak tapi seorang wanita gila mengaku punya anak dariku, ini sangat aneh kataku mulai mabuk dan mengoceh dan meranjau sendiri, kini hidupku berakhir di Bar, tempatku biasa kalau sudah penat.
Bersambung...