Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Mengurung Diri Di Kamar


Langit Bandung hari ini cerah, embun berwarna putih, tersingkirkan seiringnya datangnya mentari pagi.


Aku sudah tidak apa-apa sebenarnya, luka di kepala tidak begitu parah, hanya terkadang tiba-tiba pusing bila duduk lama.


Membuatku tidak bisa kemana-mana, hanya duduk berbaring di ranjang rumah sakit. Mendengar nama rumah saki membuatku mual.


Tempat yang paling aku benci iya salah satunya rumah sakit, tapi entah kenapa aku sering sekali masuk ke tempat ini.


Mungkin aku mengganti nama rumah sakit, tempat yang paling sering aku kunjungi.


Saat ini saat berbaring dalam ruangan ini, aku membayangkan Netta datang, saat aku sakit seperti ini, pasti ia sangat khawatir dan banyak pertanyaan yang ia lontarkan saat aku sakit dulu, yang paling sering ia tanyakan.


Apa yang abang rasakan?


Masih merasa sakit?


Abang ingin makan apa?


Netta aku sangat merindukanmu, cepatlah pulang dari sana.


Bagaimanapun aku mengalihkan pikiranku dari Netta, tetap saja bayangannya selalu menari-nari dalam ingatanku.


Aku berharap, Netta menjadi Dokter hebat nantinya, saat nanti ia sudah menjadi Dokter, mungkin aku akan menjadikan rumah sakit tempat favoritku, kadang melihat Dokter memakai jubah kebesarannya, aku membayangkan itu Netta.


Jika ia yang menyuntik ku dengan jarum besar sekalipun, aku tidak akan takut, karena aku salah satu yang lelaki yang menganggap jarum suntik sangat horor, bahkan lebih horor dari kuntilanak,


sama saat seperti saat ini.


Seorang Dokter perempuan sudah menjentikkan jarum suntiknya , menyentil nya, dan mengangkat keatas, hal itu juga membuatku semakin takut,


terpaksa menutup mata saat benda kecil tajam itu diarahkan ke tanganku, rasa sakitnya tidak seberapa, hanya serasa seperti di gigit semut merah yang kecil.


“Badan ber otot, masa takut sama jarum suntik kecil seperti ini,


jangan,jangan jarum suntik kamu lebih besar?”


Dokter bertubuh tambun itu bercanda denganku.


Hanya membalasnya dengan senyuman seadanya, tidak lagi mood untuk bercanda.


Aku tertidur pulas saat mendapat suntikan, terbangun saat ada suara isakan tangis di samping ku saat buka mata.


Oh… mereka sudah datang, yang membuatku tidak bersemangat, ada Mami dan kak Eva ikut datang bersama Papi.


“Iya ampun Tan, kenapa bisa seperti ini?” isak tangis Mami, menangis di sampingku, memegang tanganku.


Bukannya tidak hormat pada orang tua, atau menjadi anak durhaka, tapi kedatangan Mami saat ini membuat kepala tambah sakit, bahkan terasa sepeti dipukul pakai balok kayu lagi.


Aku mengalihkan pandangan mataku kearah jendela, menatap ke luar, tidak menghiraukan tangisan Mami yang menunjukkan rasa simpatinya untukku.


Mami bertanya, kenapa seperti ini? Jawabannya karena Mami, karena dialah aku seperti ini , karena ia juga Netta pergi.


“Bagaimana dengan motormu?”


Mami bertanya


dalam keadaan seperti ini, ia masih memikirkan harta, mungkin buat Mami motor lebih berharga dariku.


Harusnya saat melihatku masin bernyawa, harusnya ia bersyukur .


Aku mendengis kecil, mendengar Mami bertanya seperti itu.


“Pi motornya lagi di tanganin Polisi,” kataku menatap Papi.


“Mami lagian, ngapain menghawatirkan motor saat seperti ini sih?”


ucap papi, menghentikan Mami, dan menariknya untuk duduk di kursi,


karena saat datang, Mami berjongkok di sisi ranjang berakting menangis.


“Tidak Mami hanya bertanya saja.”


“Pi, motorku dalam penanganan Polisi,” kataku menatap Papi, tidak menjawab pertanyaan Mami.


“Baiklah Tan, tidak apa-apa, kamu selamat saja itu sudah sangat bersyukur,”


Papi menatapku.


Iya, papi yang benar, harta bisa di cari, nyawa seseorang tidak akan bisa di beli, apalagi diisi ulang.


“Tempat itu memang rawan, Papi juga pernah kena di hadang lima orang, untung supir kantor yang membawa Papi saat itu orangnya berani,


saat di hadang, ia menabrak mereka karena menghalangi mobil kami dan mengacuhkan golok panjang. Supir itu berani, ingin menabrak mereka saat para berandalan itu minggir, ada kesempatan baru tancap gas, baru selamat.


” Papi menceritakan pengalaman buruknya, hampir kena juga di tempat sama denganku.


“Apa yang terjadi sih Tan, kenapa kamu sampai ke Bandung sih,?”


“Kita pulang saja, aku sudah tidak apa-apa.”


Tidak ingin dibahas kejadian malam itu, malas bangat rasanya menceritakan kejadian tragis malam itu, masih beruntung polisi lewat, kalau saja tidak lewat, bisa di pastikan aku tinggal nama saja.


Mereka tahu kalau aku tidak ingin membahasnya, segala administrasi dan biaya rumah sakit sudah di urus, tinggal


kembali ke Jakarta,


kebetulan hanya membawa satu mobil untuk menjemput ku.


Saat pulang, aku melewati satu cafe yang pernah kami datangin dengan Netta, mengingatkanku padanya lagi, saat Netta pergi, ia mengirim nomor barunya padaku, sekarang semua hilang karena ponselku juga hilang.


Itu artinya, aku tidak akan bisa meneleponnya lagi,


itu sangat menyiksaku.


Aku memilih duduk bersama supir didepan, menurunkan sandaran kursi, ku jadikan untuk tempat bersandar dan lanjut tidur.


Tidak ingin mendengar cerita atau membahas apapun saat ini, sepanjang perjalan aku menutup mataku.


Sebenarnya, aku pura-pura tidur, karena tidak ingin nantinya mereka bertanya kenapa aku bisa terdampar sampai ke Bandung dan mendapatkan musibah naas itu.


Keluargaku belum ada yang tahu, apa terjadi tentang cerita sebenarnya kenapa aku bisa sampai ke bandung,


melihat sikapku yang masih marah, mereka juga tidak mau membahasnya.


Setelah menempuh perjalanan panjang, karena di serang macet di mana-mana, akhirnya sampai juga di Jakarta, di rumah Mami.


Tiba di depan rumah, aku turun Papi berlari kecil ingin membantuku.


“Tidak usah Pi, tidak apa-apa hanya luka kecil ini.”


“Biar Papi bantu untuk naik ke kamar kamu iya.”


“Tidak usah.”


“Meninggalkan kedua orang tua itu, menatapku dengan tatapan iba.”


“Apa yang kamu butuhkan, katakan saja Tan sama Papi, Papi akan lakukan apapun untuk kamu,


apapun.”


Lelaki paru baya itu terlihat serius menatapku.


'Apapun?


Saat ini hanya Netta yang aku inginkan di sini, apa bisa melakukan itu?'


ucapku dalam hati.


Ah…sudahlah, jalanin aja dulu


Tidak menghiraukan ucapan Papi, aku berjalan dengan langkah buru-buru masuk kedalam kamar.


Kamar itu sekarang sudah bersih, tidak seperti saat aku tempati.


Masuk kedalam kamar,


tidak keluar-keluar dari kamar, mengurung diri di kamar, bahkan makan juga aku suruh di bawakan ke kamar.


Ini namanya bersemi didalam sunyi


Ini sudah hari kedua sejak hari naas itu, aku tidak keluar dan tidak pernah melihat sinar matahari selama dua hari,


saat lagi asik main game, aku mendengar suara ribut dan teriakan dari lantai bawah, suara Kak Eva.


Penasaran, aku keluar dan duduk di tangga turun, kak Eva menarik rambut Arnita.


“Katakan dengan jujur,


sekarang katakan siapa pelakunya? aku ini petugas medis, aku tahu cirri-ciri orang bunting,


sekali lagi aku tanya,


siapa yang menghamili mu?”


Deg....


Mendengar Arnita hamil di luar nikah membuat bulu kudukku merinding.


Hamil??


Bersambung....