Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Ajakan tinggal bersama


Tok..Tok


“Desi kamu keluar…!”


Wanita berbadan tambun yang pertama mengatai Netta dengan kata-kata kasar.


Aku akan memberinya pelajaran hidup.


“Lu mendingan keluar dah dari sini, semua keributan ini gara-gara lu tadi’kan,


ngapain tadi kamu panggil keamanan lingkungan?


Mereka itu hal kecil bisa jadi besar di buat, karena mereka pikir akan dapat duit dari keributan itu,”


kata Ibu yang punya kost.


“Maaf bu, saya pikir tadi mereka bukan pasangan suami istri,” katanya dengan wajah menunduk.


“Tidak, kamu tadi ngatain istri saya, dan menuduhnya wanita yang tidak benar, itu menyakiti hati saya, saya akan tuntut kamu,” kataku marah.


“Maaf bang, saya minta maaf, jangan tuntut saya, nanti orang tua saya marah,” katanya dengan tangisan.


“Saya tidak perduli dengan orang tua kamu marah apa tidak, saya tidak terima dengan mulut kasar kamu yang menghina istri saya.”


kataku menatap tajam.


"Lin tuntut orang ini, sama wanita yang kurus-kurus di kamar paling ujung sana, tuntut mereka dengan pasal penghinaan, dan pencemaran nama baik dan Fitnah.”


Marlina pengacaraku mengurus laporan pengaduan.


“Jangan seperti itu bang, aku meminta maaf, saya salah.” Wanita itu menangis meraung-raung, minta ampun agar tidak di tuntut.


Tapi sayang keputusanku tidak bisa di ganggu- gugat.


“Maaf."


saya tidak bisa, kalau sudah saya katakan, iya, harus.


Makanya itu mulut di jaga jangan suka memfitnah orang lain.”


Wanita yang kurus yang ikut melemparkan telur ke Netta ikut meminta maaf tapi tidak cukup hanya meminta maaf saja.


“Maaf bang saya salah, jangan tuntut saya bang, saya sudah semester enam, saya tidak mau ada masalah."


“Tidak."


saya akan menuntut kamu paling berat, karena kamu melempari istri saya dengan telur.”


kataku dengan dada hampir meledak.


“Saya minta maaf Pak, suaranya bergetar menahan tangis.”


“Saya tidak perduli mau kamu semester 10 mau semester satu, tapi kelakuan kalian semua barbar.


Ada lagi yang berani!


kalian semua anak kuliahan, tapi kelakuan seperti preman pasar.”


“Pak Jonathan kita selesaikan dengan baik-baik iya, pak,”


lelaki yang punya kost itu membujukku.


Sedangkan Netta terlihat diam, tidak melarang tindakan yang aku lakukan.


“Bapak kalau tidak mau terseret ikut di periksa sebaiknya bapak usir mereka dari sini,” ucapku.


Lelaki itu terdiam, tidak mengira kedatanganku untuk mengunjungi Netta harus berujung penggerebekan dan hampir dikeroyok.


Nasib apes terjadi padaku.


Aku pastikan kedua wanita yang menghina dan melempari Netta dengan telur akan mendapat tuntutan.


Itu sebabnya penting menjaga lidah dan perbuatan. Sebab apa yang kita lihat belum tentu itu kejadian sebenarnya. Mereka pikir karena Netta berpakaian sederhana dan tinggal kost yang sederhana, mereka berpikir kalau ia wanita yang bisa di hina seperti itu.


Ketiga lelaki yang menarik bajuku dan tanganku sudah di bawa ke kantor polisi juga.


Tiba-tiba wanita penghuni kamar itu yang tadinya rame mendadak sepi seperti kuburan.


Aku dan Netta sudah masuk ke kamar nya lagi.


Kini diluar sana sudah gelap, matahari sudah meninggalkan cakrawala di gantikan malam yang gelap,


tidak terasa aku di tempat Netta sudah hampir setengah hari.


“Aku tidak suka kamu tinggal di sini Ta, ayo kita pindah.”


“Kemana?”


“Nanti aku kabarin, beresin barang-barang mu, kita pindah dari sini, kamu juga tidak bakal nyaman lagi berada di sini karena kejadian tadi,” kataku, aku mengajaknya untuk pindah.


“Iya sih, tapi yang murah yang pas buat anak kuliahan, pas,” kata Netta ingin bertahan di tempat itu juga.


“Kamu yang kuliah bukan aku,kan, kita akan cari tempat yang lain, beresin barang-barang mu.” pintaku.


Aku masih merasa dadaku panas, ingin rasanya menampar yang berlaku kasar pada kami tadi.


“Tapi yang dekat Kampus ya Bang, kalau bisa jalan kaki ke kampus.”


Netta ingin tempat yang dekat Kampusnya.


“Karena tidak ingin jauh dari Kampus, banyak teman-temanku di sini.”


“Teman-teman yang mana?


Yang cewek apa yang cowok,” menatapnya dengan serius.


“Cowok- cewek teman aku bang.”


“Oh yang Aldo itu,” tanyaku lagi.


Kali ini ia berhenti membereskan bukunya, memasukkannya ke dalam kardus Netta menatapku .


“Kok abang tau, abang kenal?”


“Taulah, yang kita waktu ketemu di kapal?


Lelaki satu sekolahmu dulu kan?”


“Oh iya-iya.”


“Iya itu juga tempatnya dekat dari sini, tapi ia tinggal sama kakak perempuannya, seorang Dokter.


Dia mah enak tidak bayar kost, kakaknya Dokter, maka itu, ia juga mengikuti jejak kakaknya,”


Netta bercerita panjang lebar tentang Aldo, ia bahkan tidak menyadari kalau hatiku panas.


Netta tidak tahu kalau aku tidak suka mendengar, ia membahas lelaki lain di depanku.


Aku tidak menyukainya, aku ingin melarang, tapi aku tidak ingin ia sakit hati.


“Ta, aku ingin bicara serius denganmu, bisa?”


Mendengar aku ingin bicara serius, ia menarik kursi belajarnya dan duduk di depanku.


“Mau bicara apa abang?”


“Pertama aku ingin meminta maaf, atas kelakuan Mami dan Arnita Iya.


Arnita sifatnya masih labil, maklum ia masih remaja, Mami hanya terpengaruh dengan omongan orang lain.”


“Iya tidak apa-apa Bang, aku mengerti.”


“Bukan Ta, dengar dulu, jangan langsung di potong,” kataku.


“Ok baiklah,” Netta membenarkan posisi duduknya, dan kembali posisi siap mendengar ku.


“Kamu bilang, jika aku benar-benar sudah siap baru aku datang lagi,


kan aku sudah memutuskan semuanya Ta, aku ingin memulai yang baru dengan kamu,”


kataku menatapnya dengan sendu.


Netta menatapku, ia seakan tidak percaya dengan ucapan ku, aku bisa lihat dari sorot matanya yang terlihat acuh menatapku.


Aku tahu tidak semudah itu untuk mempercayaiku.


“Ta, kok kamu diam saja, ayo bicara, kasih pendapatmu,” kataku lagi.


“Saya harus ngomong apa bang, terus terang sulit rasanya di terima otakku, dan aku belum yakin kalau wanita itu benar-benar bisa melupakan abang Nathan.


soalnya ia terakhir menemui ku, ia begitu yakin untuk hubungan kalian, ia percaya diri kalau abang akan memilihnya dari pada aku, dan ia juga bilang akan membuat semua keluarga memihak padanya dan membenciku ia berhasil,


kan Bou lebih percaya padanya dari padaku.”


“Tapi saya ngomong apa adanya Ta, suaraku memohon agar ia percaya.


Kalau kamu tidak percaya, aku akan membawamu padanya dan kamu lihat sendiri.”


“Ok, ayo kita lakukan, tapi sebelumnya, coba telepon dia,aku pengen dengar seperti apa.”


kata Netta menantang.


Mau tidak mau aku kembali menelepon Mikha, padahal nomornya sudah sempat aku delete.


Untung aku hapal nomornya, Netta membiarkan speakernya on.


“Halo Beb, suara Mikha dari ujung telepon.”


“Mikha, aku sudah bicara sama Mami tadi, jadi saya ngomong baik-baik sama kamu,


tolong berhenti untuk mengusik keluargaku, jalanin saja kehidupanmu Mikha.”


“Aku tidak mau, aku akan tetap bersamamu,”


suara Mikha di ujung telepon.


“Terserah, tapi aku ingin berhenti dan ingin memulai kehidupan yang baru dengan Netta istriku, bahkan saat ini aku bersamanya,” kataku.


“Itu tidak mungkin, aku akan menyingkirkan wanita itu, jika kamu memilihnya,”


kata Mikha terdengar menakutkan.


“Jangan coba-coba untuk menyentuh Netta, kamu berurusan dengan Saya kataku,” menutup teleponnya.


Bagaimana Ta, apa kamu mau tinggal bersamaku?


Bersambung...