Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Pelakor VS Istriku


Pelakor VS Istriku


Aku terpaksa membawa Netta ke Hotel terdekat menghilangkan ketakutannya,


berharap besok dan seterusnya tidak ada lagi kejadian seperti ini.


Aku berharap pernikahanku dengan Netta berjalan dengan baik.


Malam ini di kamar hotel yang kami sewa, aku benar-benar tidak bisa memejamkan mataku, mungkin apa yang di bicarakan Beny bisa jadi benar, kalau Mikha tidak akan berhenti sampai disini.


Aku berpikir keluargaku saja bisa di pengaruhi olehnya apa lagi Netta,


mungkin ini juga baru awal saja darinya, aku takut ia akan menyakiti Netta suatu saat nanti.


Ia wanita yang nekat, ia tidak akan mudah melepaskan ku.


Apa yang harus aku lakukan?


Aku tidak ingin menyakitinya, tapi aku lebih tidak rela lagi bila Netta tersakiti.


Aku berharap ia mendapat kebahagian dan bisa melupakan aku,


aku yakin ia punya kebahagian di luar sana,


aku tidak ingin suatu saat aku membencinya karena tindakannya pada Netta.


Biar bagaimana’pun ia pernah mengisi-hari-hariku selama lima tahun, kami menjalani hubungan bukan waktu yang singkat, kami bersama selama lima tahun, tapi mau bagaimana lagi kami tidak berjodoh.


“Ta, kamu sudah tidur?”


kataku melirik Netta yang tidur di lenganku


“Tidak bisa tidur,” katanya,


sama sepertiku sama-sama tidak bisa tidur juga.


“Ta, aku mau terus terang sama kamu , tapi jangan marah’ iya.”


Aku duduk, Netta juga ikut duduk, matanya menatapku dengan tatapan serius.


“Apa kamu tahu dalang semua ini?”


Aku bertanya padanya.


“Tidak”


kata Netta tatapan matanya memburuku, ia ingin sebuah jawaban.


“Mikha yang melakukanya.”


Tapi aneh, wajahnya terlihat datar dan tidak ada reaksi marah ataupun kaget.


embuatku menjadi bingung, aku berpikir jangan-jangan Mikha sudah mendatanginya sebelum menyuruh orang melakukan perusakan itu.


“Kok kamu tidak kaget atau marah Ta,


apa ia menemui mu?”


Tanyaku.


“Tidak, aku sudah menduga hal itu,


kapan ia akan melabrakku, aku sudah memikirkan hal ini beberapa kali, aku berpikir tidak semudah itu ia mau melepaskan abang,”


kata Netta sama seperti yang di katakan Beny.


“Tapi kamu percaya padaku’ kan Ta?”


Aku berharap Netta mempercayaiku, karena hanya itu kekuatanku saat ini.


“ Entahlah bang, aku berharap bisa percaya seutuhnya tapi terkadang hatiku ragu untuk percaya,”


ucap Netta, membuat jantungku lemas.


“Baiklah, susah memang percaya pada orang yang sudah melakukan kesalahan besar, tapi besok aku ingin bicara langsung padanya, aku ingin menyuruhnya berhenti secara langsung.


“Baiklah, abang pergi saja, aku mendukung abang,’ kata Netta.


Sudah hampir pagi, kami berdua baru bisa memejamkan mata.


Suara telepon dari kantor membangunkan ku, dengan mata berat, kepala terasa pusing aku mencoba melihat jam dari layar ponselku, aku menyambar benda berbentuk segi empat itu dari nakas di samping ranjang, mengusap layarnya sudah jam sembilan pagi.


Netta terpaksa tidak masuk kuliah karena telat bangun.


Setelah serapan di Hotel, karena Netta tidak kuliah aku berpikir untuk mengajak Netta untuk menemui Mikha.


Netta setuju juga, aku pikir itu akan lebih baik, jadi Netta bisa melihat sendiri usahaku, aku ingin Netta melihat kalau aku benar benar serius.


Aku mengajak Mikha untuk ketemuan di salah satu cafe, ia bisa, tapi agak siangan karena Mikha lagi ada pemotretan pagi ini.


“Ta, kalau kita ingin bertemu dengannya, aku dulu yang duduk sendiri,


karena jika melihatmu duduk denganku ia takutnya tidak mau bertemu,” kataku.


“Baik bang, tidak apa-apa,”kata Netta.


Suasana siang hari ini langit Jakarta terlihat mendung , aku memilih salah satu cafe yang enak untuk bersantai lama-lama, aku sengaja memilih di lantai dua, aku suka melihat pemandangan, maka itu memilih tempat duduk yang outdoor, menambah suasana yang menarik, tentu dapat nantinya menyegarkan hati yang panas.


Netta aku suruh duduk sendiri di meja di belakangku.


Tidak berapa lama Mikha datang dengan penampilan yang cetar membahana, memakai dress model Back leess yang memperlihatkan hampir seluruh bagian punggung,


mungkin kalau dulu aku akan melarangnya atau aku akan marah kalau ia berpenampilan seperti itu, tapi saat ini bagiku itu bukan urusanku lagi.


Kedatanganya mengundang perhatian para pengunjung, mata semua orang melihatnya terutama kaum adam, melihat Mikha dari atas sampai kebawah tanpa berkedip.


“Hai Beb,”


“Ayo, duduk Mikha,


terimakasih sudah datang,” kataku mempersilahkannya untuk duduk.


“Ada perlu apa beb ngajakin ketemuan siang-siang,”


sikapnya tidak sedikitpun berubah, seakan perusakan yang di lakukan orang suruhannya di rumah kami bukan apa-apa baginya.


“Lama tidak mau menemui ku, sekali bertemu, kamu kok tambah gemuk sih Beb,”


ucap Mikha, ia mulai berceloteh seperti burung beo.


“Mau minum apa Mikha, pesan saja.”


“Kamu saja yang pilih Beb, kamu tau kan minuman kesukaanku, masih sama seperti yang dulu kok ,”


kata Mikha sikapnya masih manja seperti itu,


aku khawatir Netta salah paham lagi.


“Mikha aku ingin bicara serius dengan kamu,”


kataku mencoba menahan jantungku semakin berdetak cepat.


Tiba-tiba perasaanku tidak enak saat aku membawa Netta bertemu dengannya.


“Ntar saja beb , aku pesan minum dulu,”


Mikha akhirnya menyerah, ia akhirnya memesan minuman untuknya sendiri.


Aku menuruti keinginannya setelah minuman pesanannya datang baru aku memulai obrolan, membiarkan tenggorokan Mikha dingin dulu.


“Mikha begini, aku ingin memperkenalkan seseorang dengan kamu”


kataku, memulai obrolan lagi.


“Ta, sini sayang,”


aku memangil Netta duduk di sampingku.


Mata Mikha menatap bak banteng spanyol, dihadapkan kain merah, matanya menatap Netta dengan tajam.


“Untuk apa kamu membawa wanita ini,


ia yang merebut kamu dariku,


ia yang pelakor disini.”


“Selama ini, aku belum pernah mengenalkan dengan baik-baik, jadi aku sengaja membawanya agar kita bisa bicara baik-baik, tentunya dari hati.”


“Aku tidak perduli dengan wanita itu, bagiku kamu selamanya milikku,


tidak akan aku biarkan siapapun memilikimu,”


Kata Mikha terdengar sangat horor bagiku.


Wajah Mikha benar-benar memerah ia marah.


“Wanita yang kamu maksud ia istriku Mikha.”


Kataku mencoba bicara lembut, karena kami sudah mulai mengundang perhatian pengunjung cafe,


itu karena suara Mikha mulai meninggi dan terlihat tidak terima karena Netta merangkul lenganku.


Terlihat jelas, ia sangat terganggu dengan tangan Netta yang menggenggam telapak tanganku.


Aku bisa melihat ia cemburu dan ia sangat marah, bahkan di puncak kemarahannya.


Sebenarnya aku sudah mulai merasa gelisah, ingin membawa Netta pergi dari tempat itu.


Tapi Netta tidak berucap sepatah katapun , ia terlihat tenang dan perlakuannya padaku mampu mengusik Mikha.


Netta bersikap seakan memperlihatkan pada Mikha ‘Bahwa ia adalah pemilik sesungguhnya.


Apapun yang dikatakan Mikha ia terlihat sangat tenang, sesekali ia tersenyum manis padaku, tangannya juga tidak mau lepas.


Melihat mata Mikha yang marah, aku mulai gelisah, aku takut Mikha murka karena Netta menempel padaku.


“Lepaskan tanganmu dari Nathan,


gadis kampung!”


ucap Mikha membuatku terkejut.


“Ia suamiku Mbak,


anda siapanya?”


jawab Netta dengan berani.


Pertikaian Antara Pelakor dan istri sah tidak terelakkan lagi.


Mungkin membawa Netta bertemu dengan Mikha sepertinya suatu kesalahan.


Sikap Netta terlihat tenang dan berkelas,


tapi di sisi lain Mikha terlihat seperti anak kecil yang tidak rela permen lolipop nya di ambil orang,


sikapnya tidak tahu malu.


Sebagai lelaki dewasa aku lebih malu lagi saat Mikha mulai marah-marah pada Netta dan padaku juga.


Bersambung....