
Setelah tiba di rumah kami, Tivani turun, ia memandang ke sekeliling halaman rumah. Rumah kami memang kecil, hanya seperempat dari rumah mami, rumah minimalis bergaya moderen, tetapi halamannya sangat luas, di tumbuhi rumput hijau yang terawat dan taman yang dimodifikasi, ditanami segala jenis kembang hias kesukaan si borneng.
Bukan hanya tanaman hias, tanaman ala kampung Netta juga ada di samping rumah, di belakang rumah kami ada kebun kecil yang isinya ada, Rias, rimbang, singkong, cabe, sirih, tomat dan sayuran organik milik si borneng.
Jadi rumah kami itu, minimalis moderen. Kamarnya hanya dua, Netta tidak suka rumah yang besar tetapi tidak punya taman. Rumah kami asri dan adem
“Wah ini bangus sejuk bangat, ini gaya Eropa,” puji Tivani, ia kagum dengan model rumah kami.
“Terimakasih, tapi rumah kami kecil, ayo masuk.” Netta mengajak Tivani.
“Siapa yang mengerjakan pembangunannya rumah ini aku ingin tahu?”
“Bang Jo, seorang kontraktor, dan dia punya banyak teman arsitek handal konsepnya dari aku”
“Nanti, aku mau rumah seperti ini.” Ia melirik Candra.
Dugaan ku benar, sepertinya Tivani mulai jatuh cinta dengan suaminya, tetapi sebaliknya, Candra masih bersikap dingin pada istrinya.
Tivani malah mengajak Netta untuk melihat keliling rumah, dan kami berdua seperti orang bego berdiri di depan pintu, Netta lupa membuka pintu, aku mengajak Candra duduk .
“Ayolah Brother, kamu kenapa bersikap dingin sama istrimu”
“Netta, kreatif bangat ya.” Ia malah mengalihkan pembicaraan, tidak suka membahas Tivani.
‘Baiklah, dia masih butuh waktu berpikir’ pikirku .
“Ya. Netta kalau lagi libur, selalu menata taman ini dan berkebun, tapi kalau aku tidak terlalu suka berkebun”
“Lalu, siapa yang mendesain taman bunga ini?”
“Aku, kalau dia yang minta aku pasti mengerjakannya, tanaman hias langka itu aku yang memesannya, sebagian dari China, dan anggrek hitam itu aku pesan dari kawan dari Papua”
“Ini tanaman mahal dan langka, kok abang bisa dapat?”
“Can, kalau kami mencintai istrimu, apapun kamu akan melakukannya. Jangankan istri, kekasih yang kita sayangi pun kita manjakan,” ujar ku.
“Entahlah … aku tidak ingin membahas cinta untuk saat ini”
“Tapi kamu yakin gak? Kalau dia sudah jatuh cinta dengan kamu”
Candra tidak menjawab, ia hanya menggeleng, matanya menatap taman bunga-bunga hias di sampingnya, tatapan matanya memikirkan hal yang lain.
“Tapi, apa kita harus duduk di sini?” tanyaku berdiri.
Netta lupa membuka pintu malah sibuk menjelaskan segala jenis tanaman herbal pada Tivani, obrolan mereka selalu nyambung karena sama- sama dokter.
“Borneng! buka dulu pintunya rumahnya , baru kau keliling,” seruku dari depan.
“Oh … iya aku lupa,” ujarnya terkekeh
*
Baru juga kami duduk di rumah, tante telepon, meminta Candra untuk pulang.
“Ma, Tivani butuh waktu biarkan dia menenangkan diri,” ujar Candra membela Tivani.
‘Apa itu perkataan yang tulus? Apa hanya ingin aman saja?’ Candra memperlakukan dan membela istrinya, tetapi tatapan matanya berkata lain.
“Apa nanti kata orang, kalau kalian tidak pulang-pulang ke rumah”
“Mama ini peduli amat omongan orang”
“Bapa udamu bertanya terus kapan kalian Pulang,” ujar tante di ujung telepon, seketika raut wajah Candra berubah saat mendengar bapa uda, orang yang merencanakan malam pengantin untuk mereka.
“Kami akan pulang Ma,” ujar Candra dengan nada suara kecil.
“Bilang saja kalian bulan madu, biar bou berhenti menganggu,” bisik Netta, Candra mengikuti arahan Netta.
“Kami akan bulan madu Ma”
“Kamu yakin? Tidak akan kabur?” tanya tante.
“Ya, kasihlah ke bapak dulu.” Terdengar tante memberikan ponsel ke bapa uda.
“Apa yang bapak rasakan, bapa masih merasa sesak napas?”
Aku baru menyadari, ternyata Candra sangat sayang dan perhatian sama bapa uda, terlihat dari tutur katanya yang lembut dan penuh perhatian, ia lebih sayang pada bapa uda dari pada mamanya, mereka persis seperti kami yang lebih dekat pada papi dari pada mami.
Ia ingin bapa uda segera sembuh, Tivani menatap suaminya dari atas sampai le bawah, wanita berkulit putih itu meneliti suaminya, ia seperti melihat lelaki asing yang tiba-tiba menjadi bagian hidupnya.
Aku semakin yakin, Tivani yang akan bucin duluan pada suaminya, karena pada dasarnya Candra itu, lelaki yang baik tidak neko-neko.
Setelah menelepon tante dan bilang mereka akan bulan madu, barulah tante diam.
Saat malam tiba, seperti biasa kalau ada tamu yang datang ke rumah kami, si borneng akan sibuk masak.
“Aku tidak bisa masak dan tidak pernah masak,” ujar Tivani.
“Tidak apa-apa, kamu duduk saja sama suamimu, kalian tamu di rumah kami”
“Biar aku saja, aku bisa masak.”Candra ingin berdiri.
“Eh, gak bisa, kalian tamu . Ayo Bang temenin aku masak”
“Haaa? Aku nemanin Candra duduk, masa tamu ditinggal”
“Ada istrinya yang akan menemaninya Bang, Ayo”
Netta langsung melotot tajam, saat aku menolak.
Baiklah, aku menurut saja dari pada gak dikasih jatah ranjang nanti, lebih baik menurut.
Saat tiba di dapur ia melirik ke ruang tamu.
“Biarkan mereka bicara berdua, Tivani bilang padaku tadi, dia ingin bicara empat mata dengan suaminya” ucap Netta.
‘Apa dia ingin minta maaf pada suaminya?’
“Tentang apa?” Tanyaku pada Netta.
“Eee Abang Kepo.” Netta meledek.
“Tidak kepo, aku hanya khawatir dia merasa tidak tahan, karena hal yang tadi lalu dia ingin minta pulang lagi ke rumah orang tuanya, kita juga yang repot lagi kan”
“Benar juga, sih, tapi dia bilang tadi, ingin menjelaskan yang terjadi tadi malam, dia bilang dia lepas kendali,” ujar Netta, kalau urusan ranjang dan cinta Netta masih polos , tetapi urusan masak, urusan adat Batak, Netta ahlinya.
“Maksudnya apa sih Bang?” Tanya Netta tetapi tangannya dengan cekatan mengupas bumbu dapur dan memasukkannya ke dalam blender. Biar mulut bicara, tetapi tangan tetap cekatan memasukkan bumbu ke dalam blender dan menggiling. Berbeda denganku , jika bicara fokus ku hilang, tanganku berhenti mengupas wortel.
“Gak tahu …. Mungkin masalah bekas cakaran di leher Candra,” ujar ku .
“Lagian kenapa juga mereka cakaran-cakaran saat belah duren,” ujar Netta, aku tertawa mendengarnya
“Mereka bukan cakar-cakaran borneng, si Vani ingin mencoba gaya cakar macan,” jawabku asal.
Ia tertawa lalu mendekatkan wajahnya ke hadapanku.
“Memangnya ada gaya seperti itu Bang?”
“Adalah, gaya monyet panjat pisang juga ada, kamu saja yang ga mau mencoba”
Netta tertawa ngakak saat aku menjelaskan model gaya ranjang.
“Kenapa … kamu mau coba gak?’ tanyaku menggoda Netta.
“Gaklah … aku masih normal Bang, cukup satu gaya saja,” balas Netta tertawa.
“Memangnya kalau banyak gaya ranjang gak normal? Itu seni Dek, biar gak jenuh,” balasku.
Karena Netta masih polos membicarakan banyak gaya ranjang masih tabuh untuknya, ia hanya tertawa geli mendengar penjelasan ku.
Mengobrol santai sembari menemaninya masak, hanya beberapa menit ia sudah selesai masak.
“Ayo makan”
“Sudah? Bu dokter bisa masak? Kenapa gak pakai asisten rumah tangga?”
“Kami masih berdua, tidak perlu pakai asisten rumah tangga, pekerjaannya kami kerjakan sama- sama,” ujar Netta.
“Nanti juga aku mau seperti itu jugalah,” ujar Tivani dengan sikap malu-malu, tetapi Candra pura-pura tidak mendengar.
Kasihan juga melihat ia diabaikan suaminya, tetapi aku yakin cinta itu akan tumbuh seiring berjalannya waktu.
Bersambung...