Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Rindu Punya Anak


Setelah berkendara sekitar  tiga puluh menit akhirnya aku tiba di rumah teman, rumah yang dijadikan tempat temu kangen teman  saat kuliah dulu.


Sebelum turun dari mobil aku menasihati Netta.


“Dek … teman-temanku ini semua mulutnya bar-bar semua, jangan tersinggung nanti ya.”


“Baiklah.”


“Nanti kalau ada bertanya tentang itu lagi, acuhkan saja jangan di tanggapi,” ucapku lagi.


“Baiklah Bang, aku mengerti.”


Sebenarnya aku sedikit  merasa khawatir pada Netta karena teman-temanku semuanya omongannya asal nyeplak aja.


“Selamat datang Bro …. Mana istri pariban mu?” Tanya Bona Sianipar, bapak dua anak itu  menyenggol pundak ku.


Ini salah satunya, jelas- jelas ia sudah melihatku   menggenggam telapak tangan Netta.


“Ah …  Bon, jelas- jelas lu lihat gue gandeng  cewek cantik, ini bini gue,’ ucapku.


“Mana tahu, lu bawa cadangan kayak dulu,” ujar Bonar.


‘Ah ... kampret benar ni si tiang listrik,  ungkit-ungkit masa lalu’ ucapku  dalam hati, untung Netta sudah kebal mendengar   ledekan seperti itu tentang aku.


Netta mengulurkan tangannya dan menyalami semua teman-temanku. Ia berbaur dengan mereka semua, ternyata Netta bisa  menyesuaikan diri juga dengan istri teman-teman.


“Jo,  benar istri lu dokter?” tanya temanku yang lain.


“Iya dong jawabku bangga.”


“Suek … benar lu Jo, anak berandalan bisa dapat istri dokter,” cletuk Rita, ia gadis populer dulu di kampus kami.


Melihat tanggapan mereka semua, aku bertanya dalam hati, se brengsek itukah aku di masa lalu?


Aku melihat Netta yang tertawa  manis saat bercengkrama sama seorang teman. Netta sangat baik  berjodoh  dengan lelaki berandalan sepertiku.


Memang ya setelah  aku sadari, Tuhan menjodohkan pasangan suami istri itu berbeda sikap dan karakter,  contohnya; Papi dan  mami.


Papi lelaki yang penyabar, di jodohkan dengan mami yang  memiliki sikap  keras kepala. Kak Eva wanita yang cerewet, tegas  berjodoh dengan suaminya baik, tidak banyak bicara, dan terakhir aku dengan Netta.


Teman -temanku tidak ada yang  mengejek dan bertanya aneh-aneh seperti yang di katakan tante Candra, justru mereka menyemangati ku.


“Jangan terlalu dibuat jadi beban bangat Lae, aku juga tujuh tahun baru dikasih” ujar Kevin si Regar.


Teman-teman kuliahku hampir tujuh puluh persen orang Batak karena aku dulu kuliah di UKI


“Iya benar itu, jangan pula kau bikin pusing lah ,” ujar si Bonar lagi, lelaki  Batak asal Parapat ini,  teman berandalanku juga saat kuliah.


“Takut , khawatir pasti ada Lae, bukan satu tahun atau dua tahun, tapi ini sudah enam tahun,” ujar ku.


“Lae … coba lakukan seperti cara kami dulu, mana tahu ya, aku bukannya meragukan  kuasa Tuhan, tetapi ada baiknya kita mencoba,”ujar Kevin.


“Apa lae?” Tanyaku penasaran.


“Pergi ke rumah tulang mu, minta di pasu-pasu sama mereka seperti yang kami lakukan.


(Pasu- pasu> Berkat)


“Tetapi tulang ku mertuaku Lae.”


“Tulang mu bukan satu kan,  datang  lae ke rumah tulangmu nanti kamu akan  di kasih ikan mas satu ekor di atas  nasi  di  nampan, kalian berdua disuapi dan lilitkan ulos ragi hotang, dalam adat di bilang di lilit andor na.”


“Mungkin lae dulu pernah tar allang sumpah, atau termakan sumpah. Kalau aku ya Lae jujur …. Aku memang melakukannya , aku pernah janji sama  tulang ku untuk menikahi anaknya dan membuatnya bahagia, tetapi aku mengingkarinya, aku lulus kuliah dan menikah dengan orang lain,” ujar Kevin.


Makanya saat aku  minta pasu-pasu, minta maaf  datang  ke rumah tulang sama istri, bahkan aku sampai mengajak mama sama bapa ke sana, akhirnya kami di kasih dekke sama tulang,  beberapa bulan kemudian istri langsung hamil,” ujar Kevin.


“Bukan Bon, bukan manonggoti, kalau  manonggoti atau di kejutkan, itu untuk yang kena musibah, ini acara minta di doakan agar di lilit andor” balas Kevin.


(Di lilit andor> istilah  punya anak)


Kevin tahu banyak tentang adat Batak, karena ia asli  lahir Samosir  sama seperti Netta, hanya Netta di Dolok Martahan dan Kevin di Mogang.


(Tar allang sumpah> termakan sumpah)


Mendengar penuturan  Kevin, jujur, bulu kudukku merinding, aku menyadari satu hal …  aku baru ingat. Hari sebelum tulang Netta meninggal,  sore itu sebelum tulang pergi untuk  memanjat pohon nira,  aku  berjanji padanya akan menjaga borunya dan tidak akan menyakitinya, tetapi aku menyakitinya.


‘Apa karena itu?’ tanyaku dalam hati.


Sebenarnya sebelum-sebelumnya juga, hal itu juga pernah di bilang namboru yang tinggal di London seperti itu samaku, aku kurang  menanggapinya karena aku pikir tulang ku mertuaku sendiri.


Namun, saat mendengar cerita Kevin, aku pikir tidak ada salahnya untuk mencobanya.


“Lae tahu kan istilah suhi- suhi appang na opat?”


“Tahu sedikit lae.”


“Sebenarnya kita harus terapkan itu dalam rumah tangga kita,” ujar Kevin.


Jadi, ada lagi cerita tradisi adat  dalam batak yakni, mambosuri, mamoholi, manonggoti atau bahasa indonesianya di bikin kaget, sebenarnya acara manonggoti ini, sering dipakai untuk yang kena musibah, misalkan rumahnya kebakaran, kecelakaan datang keluarga membawa  makanan ke tempatnya tanpa di ketahui  yang punya rumah, dan mereka di kasih makan atau disuapi dengan  ikan mas. Acara manonggoti inilah yang  di sarankan Kevin untuk  di lakukan pada kami.


Setelah saling bercerita panjang lebar dengan para bapak-  bapak muda ini, aku mendapat banyak pandangan, tadinya aku pikir aku baik-baik saja. Ternyata hatiku melempem juga, tepat setelah aku menyadari dari sekian banyak temanku hanya aku yang belum punya momongan, melihat anak-anak mereka berlarian dan memanggil bapak sama teman-temanku hatiku rasanya sedih.


‘Kenapa jadi seperti ini?  Di rumah juga ada keponakanku  berlarian anak Kak Eva dan anak Arnita, aku tidak merasa sedih apalagi iri. Tetapi kenapa di sini aku  merasa sangat rindu’ aku membatin.


Hatiku semakin sedih saat Netta menggendong anak Bonar yang paling kecil.


‘Tuhan berikan aku seorang anak aku juga ingin seperti mereka menggendong anak dan dipanggil bapak’ bisik ku penuh harap dalam hati.


Aku jadi memikirkan apa yang dikatakan Kevin, mungkin nanti kami akan membahas ini dengan Netta dan keluarga, kalau memang cara itu bisa, aku bersedia akan melakukannya.


Bersambung ….


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA.


Bantu share ya Kakak.


Fb Pribadi: Betaria sona Nainggolan


FB Menulis; Nata


Ig. Sonat.ha


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH


Baca juga  karyaku yang lain


-Aresya(TERBARU)


-The Cured King(TERBARU)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (Tamat)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


Bintang kecil untuk Faila (tamat