Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Hotel Prodeo


Setelah mami dan kelurga yang lain pulang ke Jakarta, bapa udah juga ikut menjenguk istrinya,  ia terpaksa


pergi sendiri, karena  semua anak-anak tidak mau ikut, bapa uda tidak marah, ia paham apa dirasakan anak-anaknya.


 Edo juga menolak mengunjungi  tante, walau kami semua membujuk  memintanya  menjenguk tante sekalian memperkenalkan istrinya,  karena ada momen  tepat.


“Jangan Bang, mama itu tidak pernah setuju pada Lira, dan saat ini, aku yakin mama  masih marah momennya tidak tepat , nanti kalau keadaan mama sudah tenang aku akan mengunjunginya,” ujar Edo saat aku membujuknya hari itu.


“Baiklah, jangan dipaksakan, Lyra jangan terlalu capek.” Netta mengusap-usap punggung tangan sahabatnya.


Dari mulai Lyra datang ke Bali, mereka berdua seolah-olah tidak terpisahkan,  selalu lengket, bahkan tidurpun mereka bersama, Edo diminta tidur di sofa sementara Netta tidur di kamar tamu, aku dan Edo maklum, mendengar permintaan mereka berdua malam itu, sahabatnya menikahi sepupu, itu hal yang  indah untuk Netta, maka itu ia selalu memberi masukan dan membawa Lyra untuk periksa ke rumah sakit tempat Netta bekerja.


“Aku diabaikan sejak  bertemu Netta, padahal biasanya  dia banyak keluhan,” ujar Edo saat kami duduk.


“Memang keluhan apa kalau sedang hamil? Tanyaku penasaran. Aku  sudah membayangkan kalau tahun depan Netta juga akan seperti Lyra, karena setelah pesta lae Rudi selesai, kami akan memulai rencana program anak.


“Banyak Bang,   sikapnya berubah- ubah,  ngidamnya parah, pokoknya abang siap-siap saja nanti,” ujar Edo.


Mendengar hal itu, seketika otakku membayangkan Netta saat hamil, ia pasti terlihat lucu dengan perut besar, aku tersenyum bahagia, tidak sabar menunggu tahun depan.


Besok harinya Edo akhirnya pulang ke Malang, karena ia akan kembali bekerja,  masa cutinya juga sudah habis, bahkan  gak sempat tunggu bapa uda pulang dari Jakarta.


“Jangan pikirkan apapun yang terjadi pada keluarga kami, kamu sudah pasti sudah tahu, karena aku sudah pernah menceritakannya, fokus untuk kesehatanmu,” ujar Netta saat Edo mau pulang.


“Baiklah sayangku.” Lyra  memeluk Netta.


                             *


Hari  itu,  papi dan bapa uda kembali ke Bali


“Bagaimana keadaan tante Pi?” tanyaku saat menjemput mereka ke Bandara.


“Sangat memprihatinkan,” jawab papi.


“Apa tante sakit?”


“Bukan hanya sakit, dia hampir gila, kata penjaga lapas tante teriak-teriak tiap malam, dia bilang dia tidak bersalah, dia tidak ikut melakukannya”


“Tante memang tidak ikut melakukannya tetapi dia melindungi penjahat “


“Ya, itu benar, biarkan tempat itu jadi tempat untuk meditasi,” ujar bapa uda.


Keluarga sepakat membiarkan tante di sana dengan jangka waktu yang belum   ditentukan, menurut cerita .. saat mereka menjenguk tante, kondisi mentalnya yang memprihatinkan, ia tidak terima dikaitkan dengan kejahatan yang di lakukan oknum  lain.


Tante menuntut untuk dibebaskan, ia semakin gila saat semua keluarga tidak ada yang membantunya untuk membebaskannya.


Sebenarnya bukannya tidak mau membantu tante, tetapi atas persetujuan bapa uda dan anak-anaknya , membiarkan tante menjalani hukuman atas kesalahannya, bapa uda ingin  memberitahukan tante tidak semua yang ia inginkan dapat dicapai.


“Apa anak-anak tidak merasa keberatan  nanti?” Tanya papi.


“Justru itu Bang, anak-anak belum bisa menerima kesalahan mama mereka, Riko malah bilang lebih baik mamanya dipenjara selamanya, takutnya kalau ia bebas malah tidak terkendali seperti saat itu”


“Tapi apa itu jalan yang tepat bapa uda?”


“Jangan khawatir Mang, itu yang terbaik untuk tantemu saat ini, sebelum kami menjenguk saat itu kita sudah berembuk sama semua keluarga, tulangmu  juga setuju kalau tante menjalani hukumannya, paling  juga beberapa tahun”


Tiba di rumah Candra, mereka bertiga hanya diam tidak bertanya tentang bagaimana keadaan mama mereka, tetapi aku tahu dalam hati ketiganya pasti mengharapkan mama mereka baik-baik saja.


“Bagaimana keadaan mama Pak, apa dia sehat?” Tanya Tivani, ia yang malah bertanya.


“Tidak baik,  ibu mertuamu stres berat. Tapi maaf kami tidak menjenguk papimu, Inang,” ujar papi.


Ia menghela napas panjang.


“Jangan khawatir  itu bukan yang pertama untuk papi, Vani yakin dengan kekuasan  yang dia miliki, paling dia hanya  hitungan bulan, justru aku khawatir pada mama mertua, mungkin semua tuntutan itu berat untuknya,” ujar Tivani.


Ia justru tidak menghawatirkan papinya, menurutnya ini bukan pertama kalinya papinya berurusan dengan hukum dan berakhir di penjara, menurutnya papinya sudah sering melanggar hukum  demi menjalankan  perusahaan obat miliknya. Jadi sebenarnya tante itu salah memilih besan


Menurut Tivani, ia dan  maminya sudah terbiasa jika rumah mereka didatangi polisi dengan membawa surat penangkapan untuk papinya..


“Sayang, kamu tidak bertanya tentang keadaan mama?” Tanya Tivani pada yang suaminya yang diam tersebut.


“apa aku harus bertanya apa”


“Tanya kesehatannya, bagaimana keadaanya di sana”


“Tadi kan sudah bapa  tua sehat,” ujar Candra.


“Biarkan dulu seperti ini, biarkan aku berdamai dulu dengan hatiku sendiri, aku tidak akan membenci mama,” ujar Candra.


“Baiklah jangan dipaksa Nak, ya dia benar biarkan kemarahan di hati mereka reda dulu,” ujat bapa uda.


Walau ada banyak keluarga yang menyayangkan  sikap anak- anak tante, karena tidak mau menjenguk mama mereka, tetapi bagi  tidak  mengenal bagaimana sikap tante yang sebenarnya pasti tidak akan menyalahkan mereka.


Tidak baik memang membenci ibu yang melahirkan  kita ke dunia ini, tetapi tidak ada asap kalau tidak ada api, mereka berempat juga tidak akan marah kalau saja tante tidak melakukan hal yang melewati batas untuk mereka.


Aku pribadi tidak menyalahkan Candra dan adik-adiknya, menurutku tante pantas mendapatkan kemarahan anak -anaknya.


Segala masalah akan berakhir tergantung bagaimana kita menghadapinya, begitu juga masalah yang terjadi dalam keluarga kami.


Setelah  semua anak-anak tante menolak  menjenguk  mama mereka, tidak ada yang memaksa lagi, kami takut Lasria semakin depresi jika dipaksakan.


Lasria benar-benar serius dengan kemarahannya, ia bahkan menolak untuk melanjutkan kuliahnya, semua keluarga sudah membujuknya tetapi ia tetap memilih bekerja.


“Kamu anak perempuan satu-satunya Las, kami semua kuliah masa kamu tidak.” Riko membujuk, karena ia juga sebentar lagi akan lulus.


“Tidak usah, aku kerja aja, sekolah tinggi tidak bukanlah  jaminan untuk sukses, yang  menentukan orang sukses kerja dan banyak berdoa,” ucapnya dengan yakin.


Lasria menolak kuliah ia memilih bekerja, entah apa yang ia pikirkan  … hingga ia menolak bantuan kami untuk membantu  uang kuliahnya, melihat sikapnya yang  sering murung semua keluarga  semakin khawatir.


Tivani dan Candra akhirnya mengajaknya  liburan ke Paris sekalian untuk  mengunjungi ibu Tivani.


Bersambung ….