
Kami masih saling menangis haru karena bahagia, karena kehamilan Netta, aku tidak berpikir sedikitpun kalau ia sedang hamil, kalau aku tahu ia sedang hamil anakku, aku tidak akan marah-marah dan membentaknya.
Netta memang wanita yang luar biasa, saat aku marah-marah dan membentak beberapa kali, ia tidak pernah marah, padahal ia sudah hamil, ia bahkan selalu bercanda dan bicara lembut padaku, setiap kali aku emosi dan marah-marah tidak jelas belakangan ini.
‘Aku memang lelaki keparat, harusnya aku mengerti, kalau dia sedang hamil. Bodoh kamu Jonathan’ ucapku marah pada diri sendiri, aku meraih telapak tangan Netta, mengecupnya dengan hangat.
Aku tidak bisa membayangkan kalau kandungan Netta sampai kenapa- kenapa karena ulahku, seperti yang aku lihat, biasanya wanita hamil itu sensitif dan gampang stres, itulah yang aku lihat dari kakak Eva saat ia hamil. Namun, tidak begitu sama Netta, justru aku yang seperti orang yang kurang waras, selalu marah-marah dan sikapku menyebalkan .
“Maaf ya Hasian … kalau aku sering marah-marah tidak jelas belakangan ini, aku tidak tahu kalau kamu sedang hamil”
“Tidak apa-apa Bang, aku ngerti, makanya aku tidak pernah membalas jika kamu marah”
“Maaf ya Edaku, aku tidak tahu juga kalau eda sedang hamil waktu itu, makanya aku minta Eda jadi dokterku, Tidak ada niat menyepelekan Eda atau ito, sungguh … bagiku, ito dan eda itu hula-hula yang paling kami hormati sama kakak Eva, hanya, aku punya trauma sama dokter, waktu melahirkan Deon, karena itulah aku ingin Eda yang jadi dokterku,” ujar Arnita, ia memeluk Netta dan meminta maaf padanya.
“Tidak apa-apa Eda Deon, aku tahu, Eda Arkan sudah memberitahukannya”
“Oh, memang kamu tidak tahu kalau kamu hamil, waktu itu?” Tanya mami.
“Gak Bou, maaf”
“Oh allah, Bagaimana sih kamu … kalau dia kenapa- kenapa tadi bagaimana”
“Ih … mami ya!” Mata kakak Eva langsung melotot tajam pada mami. Itu mewakili kemarahan ku sama mami, karena memarahi istriku yang sedang hamil, mulai detik ini, aku akan menjaga mereka berdua dari siapapun termasuk dari omelan mami.
“Gak … mami hanya khawatir saja”
“Mi … Jangan ngomel-ngomel gak jelas lagi ya sama Eda, yang ada nanti dia stres, kalau mami suka ngomel dan mengurusi keluarga ito lagi, aku kurung mami di kamar,” ujar Kak Eva.
Arnita tertawa ngakak saat mendengar mami dikurung di kamar.
“Memang anak kecil di kurung”
“Kayak Arkan donk,” canda Juna
“Babami ma ma di kurung”
(Bulut itulah dikurung)ucap mami jengkel.
“Gak … mi, terkadang ibu mertua itu terlalu ikut campur urusan rumah tangga anaknya . Gini ya Mi … setiap rumah tangga itu, punya masalah masing-masing, mami tidak boleh, si A begini si B Begini, itu salah Mi, jika menantu dan anakmu bertengkar mami itu harus jadi penengah jangan memihak siapapun, jangan aku jangan helamu”
“Kayaknya ngeluarin unek-unek ni,” ujar Tante Ros.
“Gak loh Tan, terkadang mami ini … tidak mengerti, aku sama helamu terkadang maulah marsoal, salah paham, beda pendapat soal anak gitu, adalah percekcokan sedikit di rumah, mami ini mau ikut campur dan marah-marah, udah gitu marah sama helamu lagi”
“Terus aku bela siapa? Bela anakkulah,” balas mami.
“Mi, sebaiknya mami tidak ikut terlibat, mami tinggal bawa Jeny dan tinggalkan kami berdua …. nanti kami akan berbaikan sendiri. Papi kan selalu begitu, dia tidak pernah membelaku dan tidak pernah ikut campur, kalau hanya pertengkaran kecil, kalau mami harus membela, lebih baik helamu yang kamu bela,” ujar kakak Eva.
Terkadang aku kagum dengan pemikiran kak Eva, walau ia keras dan nada suaranya tinggi, tetapi pemikirannya luas, tidak seperti mami yang bersikap kolot, pemikirannya juga terkadang masih membawa ala-ala kampung.
“Loh … kok begitu?” Tanya tante.
“Karena aku tidak usah di bela Tan, kalau kami bertengkar itu sudah pasti karena aku yang salah,” ujar kakak Eva sembari tertawa, Lae Arkan hanya tersenyum kecil mendengar pengakuan istrinya.
“Parbada do attong ko”
(Tukang berantamnya kamu memang) ujar mami
Coba Helamu di suruh seperti itu, sudah pasti manyun dia, tapi aku kan tidak pernah memaksa, itulah yang aku mau bilang, setiap orang itu punya sikap yang berbeda-beda”
“Papi juga bisa mengerjakan pekerjaan rumah,” ujar mami.
“Kalau papi jangan mami bandingkan dengan siapapun, tidak akan ada lelaki sebaik papiku ya kan Kak?” Arnita melirik kak Eva.
“Ya betul dan anehnya papi kita sangat baik, namun mami kita … ah sudahlah.” Kak Eva sengaja menggantung kalimatnya, membuat mami semakin gondok.
“Eh … Eva parbada!”
( Eh … Eva tukang berantem!” Ujar mami kesal.
Kami semua tertawa melihat perdebatan sengit antara ibu dan anak itu.
*
Saat lagi bercanda bergembira malam itu, tiba-tiba inang mertuaku menelepon, ternyata kakak Eva memposting di media sosialnya kado dari Netta dan postingan itu di komentari semua keluarga kami, salah satunya Lae Rudi.
“Mama telepon Bang,” ujar Netta menunjukkan layar ponselnya.
“Angkat!”
“Halo Ma …” Netta melambaikan tangannya ke layar ponsel, inang mertua video call.
“Ake Inang toho nanidok ni itom si Rudi I?”
(Ya, Nak apa benar yang dikatakan itomu si Rudi itu?”
“Toho Ma”
(Benar Ma)
“Ago amang … Bapak Ni Saut, Oppung Ni Saut, Nungga dililit andor be Si Netta. Mauliate Tuhan di Jalo Ho Tamiang nami”
(Ya ampun … Bapak Ni Saut, Oppung ni Saut, sudah di berikan keturunan sama Si Netta, Terimakasih Tuhan, karena di terima doa kami) Inang Mertuaku menangis pilu.
“Sudahlah Ma, ngomonglah sama kakak Jangan nangis, jadi ikut sedih nanti kakak itu,” bujuk si Parasian, ia yang mengarahkan cameranya ke wajah Inang.
“Selamatlah Ya Inang, jaga kesehatanmu, banyak makan, jangan capek”
“Ya Ma”
“Doakan kami ya Inang,” ucapku mengarahkan wajah ini ke arah camera.
“Ya amang, jaga dia ya , jangan capek dulu dia kerja”
“Baik Inang”
Mami juga menyapa inang, mereka berdua sama-sama saling menangis, tadinya sudah tenang, kini kembali saling bertangis-tangisan.
Karena postingan kegembiraan kakak Eva, sosial medianya dibanjiri ucapan selamat. Telepon kami semua berdering ada banyak panggilan masuk dari keluarga dan teman yang ingin mengucapkan ucapan selamat dan doa.
Aku berterimakasih atas semua doa dan ucapan dari teman-teman, aku berharap Netta dan bayi kami sehat sampai lahir nanti.
Bersambung
Jangan Lupa like, komen dan Share ya kakak terimakasih