Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Ada Pelangi Sehabis Hujan


Ada Pelangi sehabis hujan.


Mungkin hal itu benar untuk menggambarkan kehidupan keluarga kami, terlebih untuk bapa uda dan anak-anak tante, setelah tante jadi tersangka, itu satu momen yang sangat menyakitkan untuk  mereka karena semua.


Keluarga membicarakan tante, tetapi yang paling tertekan dari semua mereka sebenarnya uda, ia yang selalu disalahkan keluarga menyebut, uda suami yang lemah yang tidak bisa mengatur bapa uda.


Tetapi aku dan papi memberi dukungan sama bapa uda, memintanya mengganti nomor dan menghapus akun media sosialnya, bapa uda menurut ia melakukannya.


“Jangan dengarkan bapa uda, kalau bapa uda sakit, anak-nak yang rugi, mereka hanya ngomong doang bisanya,” ujar ku malam itu, ketika bapa uda di telepon  keluarga dari Jakarta, Medan, Bandung telepon bapa uda tidak berhenti berdering.


“Sudah fokus saja sama anak-anak jangan sampai mereka stres, kamu harus kuat agar mereka juga kuat,” ujar papi selama beberapa hari ia berada di Bali bersama bapa uda.


“Baik Bang, aku tidak tahu, tanpa kalian kami jadi apa, padahal saat  Keluarga Abang ada masalah aku tidak pernah ada”


“Tidak apa-apa, yang lalu, biarlah yang lalu, kami bertahan sampai detik ini bukan karena kuat, kami tetapi karena kemurahan Tuhan.” Papi menyemangatinya, aku bangga sama papi saat semua keluarga mengucilkan bapa uda, papi hadir   sebagai garda paling depan.


Untungnya Candra membawa bapa uda ke Bali, tidak terbayang bagaimana ejekan semua tetangga jika saat itu rumah mereka masih di Bogor, tulang kembar sampai pindah rumah karena tidak tahan mendengar pertanyaan orang padanya.


Tetapi semua itu, anak-anak tante kuat menghadapi badai  tersebut, itu karena bapa uda ada bersama mereka dan memberi semangat.


Beberapa minggu sejak  kejadian itu.


Ada satu momen yang   paling berharga untuk rumah tangga Candra dan Tivani, awalnya mereka yang akan datang ke Prancis untuk bertemu maminya Tivani, tetapi saat itu, kami sedang ngumpul di Candra . Tiba-tiba seorang wanita paru baya berwajah cantik  berada di depan pintu.


“Mami!” Tivani berlari dan memeluk maminya.


Kami semua tidak menyangka kalau wanita itu akan datang ke rumah Candra, karena  dari awal mereka menikah, maminya Tivani tidak pernah setuju.


Tetapi saat ini,  melihat Tivani terlihat sangat bahagia, maminya akhirnya mendukung, padahal ia datang ke Bali ingin menjemput Tivani awalnya.


“ Amang saya titip Tivani untuk kalian, saya berharap anak saya bisa bahagia bersama keluarga ini,” ujarnya dengan sangat sopan.


Berbeda jauh dengan suaminya yang songong dan sombong, ternyata maminya Tivani wanita yang baik.


“Ya, Bu maafkan kami selama ini jika ada yang salah,” ucap bapa uda merasa bersalah.


“Buat Candra … Nak, tolong terima Tivani apa adanya, kamu mungkin sudah tahu apa kekurangannya, tolong bahagiakan dia Nak, restuku bersama kalian,” ujar wanita berkulit putih itu dengan mata berkaca-kaca.


Tidak diduga Candra mendekat dan memeluk ibu mertuanya seperti ibunya sendiri, aku tidak tahu kalau lelaki tampan ini memiliki hati yang baik seperti itu.


“Baik Mi, aku akan menjaga Tivani dengan baik, aku akan berusaha membahagiakannya, jaga kesehatan mami ya di sana, nanti suatu saat kami akan datang ke sana,” ujar Candra. Mami  Tivani hanya sebentar lalu ia pulang kembali Prancis.


Sejak saat itu, hubungan mereka akhirnya membaik bahkan lengket seperti prangko, kesehatan  bapa uda akhirnya pulih,  sudah tidak mengandalkan kursi roda lagi ia sudah sehat.


Hari itu mami dan keluarga datang dari Jakarta untuk  mendukung bapa uda.


“Lae … ayo kita bakar- bakar ikan juga.”  lae Rudi selalu menjadikan suasana lebih meriah.


“Boleh- boleh Le, ide bagus itu”Aku mendukung.


“Aku yang beli ikannya ya.” Rikko  bersemangat.


Keluarga bapa uda lebih sering  tinggal di rumah kami dari pada tinggal di rumah Candra, setelah bapa uda bekerja di perusahaan kami, semakin banyak proyek milik pemerintah yang kami kerjakan karena bapa uda pensiunan dari sana, jadi ia mengenal banyak orang dalam.


Jadi aku membuka kantor cabang di Bali, tender besar di Bali bapa uda juga bisa mendapatkannya, jadi feeling ku benar, kalau bapa uda itu pintar dan pekerja keras.


Setelah ada kegiatan bapa uda juga semakin sehat.


“Sudah dia dan  kakak Vani mau datang,  abang nanti yang beli ikannya katanya”


Tidak lama kemudian saat kami sedang mengumpul, mereka bertiga datang sama Netta, kini rumah kami ramai.


Karena semua keluarga kami datang dari  Jakarta.


Menikmati suasana pantai di depan Villa rasanya sangat menyenangkan , bahkan Arnita ingin pindah ke Bali saat melihat kami bisa mengumpul seperti itu.


“Aku ingin minta mertuaku beli satu Villa di sini”


“Ya,  mintalah mumpung papi lagi baik-baik sama kamu karena kamu hamil, bilang saja kamu ngidam,” ujar Juna mengajari istrinya.


“Suami istri yang kompak,” ledek kakak Eva.


“Benar ya dad, nanti kamu dukung aku,” ujar Arnita.


“Pasti dia mau, kalau tidak mau kita ambil Deon dari mereka kita gak kasih cucu datang ke rumah mereka,” ujar juna  Kak Eva dan Natta tertawa ngakak.


“Gak, jangan seperti itu kalau minta, minta baik-baik,” ujar mami merepet, ia tidak tahu yang mana bercanda mana yang beneran.


“Mami sensi bangat, gak mungkinlah kami jauhi cucunya dari mereka, Mi hanya bercanda” Arnita tertawa.


“Tapi benaran  sayang, kita harus minta beli Villa di sini, biar kita bisa dekat sama lae,” ujar Juna.


“Ya, kita harus pelorotin mami kamu sampai habis hartanya,” ujar Arnita mengedipkan mata sama Kakak Eva.


Mami makin marah . ”Akka si rojan on,” ujar mami semakin panas


Mereka semua semakin bercanda.


“Ehe borneng parbada, kayak eda Netta donk Mi, borneng kalam lemah lembut,” ujar kakak Eva makin panas kuping mami.


Tivani akhirnya semakin terbiasa dengan keluarga kami yang rame, yang suaranya tinggi seperti orang bertengkar, akhirnya ia maklum semua.


Kalau biasanya keluarga kami mengumpul di rumah mami,  kali ini  ngumpulnya di rumah kami di Bali.


Papi mengobrol santai dengan bapa uda, mereka berdua berteman saat muda, kini setelah tua mereka berdua kembali bercerita saat muda dulu tertawa santai.


“Ayo kita, percepat pembukaan  cafe abang itu agar kita buat kopi spesial seperti dulu”


“Ide yang bangus, agar aku ada alasan datang ke sini sama si nyonya,” bisik papi saat kami duduk bertiga.


“Bagaimana kalau besok aku minta  orang kantor untuk melihat konsepnya pi”


“Jangan, biarkan papi dan bapa udamu yang mengerjakannya sendiri, kami ingin tempat ngopi seperti saat kami muda dulu”


Karena papi menolak, jadi aku membiarkan mereka berdua kerjakan, dengan adanya dukungan semua keluarga, bapa uda dan anak-anaknya melupakan semua masalah yang mereka hadapi.


Keluarga kami kompak satu sama lain, mami juga menunjukkan perhatiannya pada semua anak-anak tante, mencoba  menghadapi segala masalah dan tidak ada artinya saling menyalahkan, tetapi memberi dukungan dan bergembira melupakan semua masalah itulah yang kami lakukan saat itu.


Aku berharap tante mendapat pelajaran berharga di hotel prodeo, mudah-mudahan setelah ia keluar dari sana menjadi pribadi yang lebih baik lagi.


Bersambung …..


Bantu like vote dan  kasih hadiah kakak agar cerita Pariban Jadi Rokkap bisa dapat promosi terimakasih.