
“Dua-duanya,”
katanya menantang ku, terus terang saja nyaliku langsung ciut,
bagaimana mungkin seorang wanita muda menjadikan aset pribadiku sebagai bahan penelitiannya?
Aku menyerah menghadapi Netta, aku di buat benar-benar bodoh sama Netta.
Aku salah jika aku menganggap Netta wanita yang mudah aku dapatkan, aku salah jika aku sudah memberinya rumah aku bakal dapat memilikinya,
ternyata tidak.
Mungkin aku terlalu menganggapnya sepele karena ia wanita dari desa,
di sini akulah yang di cecar dan di ledek habis-habisan sama Netta.
Tapi, Aku pikir di umurnya yang masih muda, ia akan mudah aku rayu dengan menggunakan keahlian aku, ternyata Netta kecilku bukan wanita yang mudah didapatkan hatinya.
Ia terlihat jinak-jinak merpati, sekilas terlihat mudah didapatkan,
tapi saat didekati ia seperti ulat bulu, yang bila disentuh akan dibuat gatal.
Aku menatapnya dengan tajam,
tapi kali ini ia membalas tatapanku dengan senyuman yang tidak bisa aku artikan, apa itu sebuah senyuman meledek atau senyuman tulus.
“Apa senyum-senyum?”
kataku jengkel, saat aku merasa kalah lagi, gertakan ku tidak mampu membuatnya takut.
“Aku menunggu abang,”
kata Netta dengan wajah tersenyum meledek lagi.
“Menunggu apa?”
“Membuka celana,”
Katanya dengan wajah di buat serius.
“Kamu benar mau lihat?"
Aku benar-benar marah, saat ia meledekku habis-habisan.
“Iya.”
Netta menjawab dengan raut wajah di buat serius.
Entah setan apa yang merasukinya, bisa-bisanya aku terjebak dengan permainan anak kecil seperti Netta.
Aku benar-benar membuka celanaku, mataku menatapnya dengan tatapan serius,
aku berharap ia berlari keluar kamar saat melihatku buka baju, memperlihatkan pusaka ku, tapi Netta malah mengambil buku.
“Apa yang kamu lakukan?”
kataku hampir pingsan ditempat, belum lagi pinggangku yang sakit encok.
“Ingin melihat dan membandingkan dengan apa yang aku pelajari di ruang praktek, tentang alat reproduksi pria, ukuran telur dan batangnya,”
kata Netta.
Demi apapun juga, tindakan konyol ku, aku sesali.
Aku berpikir Netta akan lari dan berteriak histeris seperti di drama-drama.
Ternyata tidak,
malah… menjadikan barang ku, ingin di jadikan bahan percobaan, seperti praktek gratis.
’ ****** emang’
“Kamu tidak takut?”
kataku menatapnya dengan tajam, aku merasakan lutut ku tiba-tiba bergetar karena menahan malu saat Netta benar melihatnya.
“Kenapa harus takut, di ruang praktek kami sudah biasa melihat dan memegangnya dari mayat, boleh aku memegangnya?,” tanya Netta membuat perutku terguncang menjadi mual.
“Dasar gila,”
aku memaki Netta dengan kesal.
“Kamu keluar dari kamarku, kamu tidur di kamar sebelah saja,” kataku menatap dengan marah.
Bagaimana mungkin barang ku di samain dengan barang mayat, dan bagaimana mungkin, ia ingin menyentuhnya membandingkan dengan punya orang yang sudah meninggal.
“Lah kok abang mengusirku, katanya kita mau tidur bersama.”
“Kamu, wanita yang aneh Ta, sono pergi,”
kataku mengusirnya.
Aku bisa melihat pundak Netta terguncang menahan tawa, saat ia berbalik badan meninggalkanku yang masih berdiri dengan bodohnya.
Iya ampun,
gila! aku bisa dikerjai anak kecil seperti Netta,
gila aku kalah, niatnya tadi ingin mengalahkannya, malah aku yang di jadikan bahan mainan disini.
Jam sudah bertengger di angka jam tiga pagi tapi mataku tidak sedikitpun bisa terpejam, aku menyesali kebodohan ku yang membuka celanaku didepan Netta.
Waduh ini sangat memalukan, entah apa yang di pikirkan Netta, aku merasa kalah sebelum bertanding.
Aku kehilangan rasa percaya diriku, aku yakin Netta sudah menertawakan aku, ia pasti membanding-bandingkan ukuranya, dengan punya mayat yang ia pegang.
Ah bodohnya… aku memaki kesal.
Netta membuatku tersiksa satu malam ini, tersiksa menahan perasaan, tersiksa karena sudah sempat menunggu momen berdua di rumah baru ini memulai hari yang indah dengannya.
Padahal aku sudah memimpikan saat ini, aku memimpikan dimana kami akan selalu merasa sebagai pasangan suami istri,
kalau sudah seperti ini bagaimana mau mesra, berperang yang ada.
Aku bangun saat wangi bawang goreng berasal dari dapur Netta menari –nari di depan hidungku,
Aku hanya tidur satu jam, tepatnya jam lima pagi.
aku tidak ingin bertemu dengannya kataku,
menggaruk kepalaku dengan kasar.
Aku sudah mandi, sudah siap untuk berangkat ke Kantor.
Netta terlihat masih sibuk di cabinet dapur, aku sengaja membuat desain rumah menjadi rumah impian buat Netta.
Dapur yang luas, memiliki jendela yang lebar, jika dibuka akan langsung menatap kolam renang di samping rumah.
Aku sengaja memasang jendela kaca memanjang, hanya di tutupi gorden, kalau gordennya dibuka, akan memperlihatkan tanaman bunga berwarna-warni, dari taman di halaman depan rumah.
“Mau kopi?”
Tanya Netta menatapku dengan alis menyengit.
“Tidak perlu."
Aku mau berangkat ke kantor, sudah terlambat.”
Kataku dengan sikap buru-buru.
Tidak ingin melihat wajah Netta, aku tidak percaya diri jadinya.
“Yakin terlambat?”
“Yakinlah,
mau apa?”
kataku menatapnya kesal.
“Ini abang terlambat mau kemana dulu?”
“Iya ampun Nettania…
Apa masalah tadi malam masih berlanjut lagi?.”
“Gak,
ini ‘kan hari minggu, sejak kapan abang masuk kantor hari minggu?”
Tuiiiiing
Saat itu juga aku merasa kepalaku bagai di timpuk pakai batu, kalau saat itu aku punya kekuatan menghilang, aku akan menghilang dan tidak akan kembali lagi.
Aku terdiam, dengan langkah buru-buru masuk lagi ke kamar,
membenturkan kepala di belakang pintu dengan kesal.
Kok aku bisa lupa kalau hari ini hari minggu.
Ah ini semakin memalukan saja.
Tok,tok
Suara ketukan pintu kamar,
“Ada apa?”
“Abang mau kopi, apa langsung serapan?
Serapan saja, iya,”
Ia yang bertanya, ia juga yang menjawab sendiri,
dasar Netta, ia akan semakin berani karena aku melakukan hal-hal bodoh.
“Terserah,”
jawabku dengan malas.
“Serapan saja iya,bang, biar bisa minum obat,” ucap Netta lagi.
Bahkan aku hampir melupakan makan obat, karena kelakuan Netta yang menjengkelkan.
Sejak saat itu, niat ingin melakukan malam pertama dengan Netta gagal total,
ia berhasil membuatku tidak percaya diri, aku seolah dapat hukuman dari kelakuanku.
Walau Netta menolak ku dengan caranya, bukan berarti aku menyerah, justru itu satu pacuan untukku untuk berusaha keras.
Mami tidak memperbolehkan ku untuk pindah dari rumah, apa lagi tinggal dengan Netta.
Tapi aku sudah memutuskan, apapun yang terjadi nanti, aku sudah siap menanggungnya.
Ini bulan ke empat aku tinggal dengan Netta, itu artinya pernikahan kami sudah dua tahun.
Aku belum menyentuhnya, kadang aku berpikir
ini pencapaian besar apa kebodohan besar?
Aku tidak tahu.
Aku sudah benar-benar meninggalkan Mikha,
aku sudah melakukan banyak cara agar ia tidak mengganggu hidupku.
Aku sudah melakukan mulai dari cara yang halus dan cara yang kasar, aku sudah melakukannya,
aku juga bertekad ingin bersama Netta, karena itulah hal yang benar.
Papi mendukungku walau Mami malah balik tidak menyukai hubungan kami.
Mami beralasan Netta tidak bisa memberiku keturunan.
Bagaimana bisa kasih keturunan, kalau di sentuh juga belum.
Tapi belakangan hubungan kami sudah ada kemajuan, Netta sudah mau sedikit terbuka padaku tentang kuliahnya dan teman-temannya.
Aku berharap, kejutan malam ini di ulang tahun Netta, mendapat hal yang indah-indah.
Mohon doanya reader tercinta, agar Netta percaya pada Nathan.
Bersambung....