Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Perlakuan kasar Arnita


Mungkin mereka sangat bersyukur saat Netta datang kekantor, kalau tidak, bisa pulang sampai larut malam mereka, karena aku saat itu ketiduran, dan takkan ada yang berani membangunkan ku, kalau sudah marah seperti itu.


Semua orang di kantor hari ini, semua kena marah, semua bagian kena semprot olehku.


Hari ini, hari yang buruk, sepertinya akan berlanjut lagi karena ada bagian dalam diriku yang masih belum puas, aku merasa sangat kesal.


Netta mengekor dari belakang mengikuti ke menuju Mobil yang aku parkir kan di halaman depan kantor,


Walau matanya sembab karena menangis karena ulahku tetapi tetap saja Netta masih menyempatkan diri menyapa ramah anak-anak kantor,


saat aku berjalan dengan wajah kriting seperti kain lap kotor dijemur, tapi hal yang berbeda ditunjukkan Netta.


“Kami pulang duluan, iya,”


ucap Netta pada anak-anak yang menyibukkan di kursi masing-masing.


“Iya, bu.”


Lina berdiri tersenyum, membalas sapaan Netta.


Tiba di dalam mobil aku masih diam, Netta juga diam, aku melihat ia sudah membawa buah tangan untuk di bawa, jadi tidak usah lagi mampir ke toko buah untuk membeli.


Netta sudah mempersiapkan semuanya sendiri, padahal kami sudah merencanakan tadi malam akan membeli bersama oleh-olehnya, mungkin karena tadi pagi aku marah ia akhirnya menyiapkan sendiri.


Tadinya aku pikir Netta tidak jadi pergi, ternyata ia datang sendiri ke kantor.


Dalam mobil hanya hanya suara mesin mobil yang terdengar menderu halus, Netta menatap lurus kearah jalanan, aku sibuk dengan kemudi yang aku pegang.


Aku sebenarnya ingin buka mulut, tidak tahan sebenarnya dengan kesunyian ini, tapi aku ingin menunjukkan pada Netta kalau aku lelaki yang tegas, aku ingin menunjukkan padanya apa yang ia lakukan padaku tadi pagi sangat melukai harga diriku.


Maka mencoba menahan diri untuk menghadapi keheningan ini, Netta merogoh ponselnya dari tasnya dan sibuk menatap layarnya, dan sesekali terlihat tersenyum manis, entah pesan dari siapa dapat membuatnya tersenyum begitu.


Seseorang melintas membawa gerobak tanpa merentangkan tangannya, hampir saja depan mobilku menyenggol kaki si bapak.


Saat itu juga emosiku memuncak dan aku langsung menghentikan mobilnya, aku mengeluarkan kepalaku dan memarahi bapak dengan kasar.


“Bapak tidak punya mata ,iya? Bapak punya nyawa banyak!, lewat main lewat saja, tidak lihat kanan- kiri,”


kataku dengan marah.


Untungnya si bapak dengan cepat meminta maaf, kalau tidak masalahnya takutnya akan seperti tadi pagi, sama seperti kataku tadi.


Tidak bagus bawa mobil keadaan marah.


Mobilku jalan kembali


Netta hanya diam, ia tidak bilang apa-apa, matanya kembali ke layar ponselnya dari perjalan dari kantor hingga mau sampai ke rumah ia dan ku tidak ada omongan.


Hingga akhirnya tiba di rumah Mami, aku melihat hanya ada satu mobil di sana, mobil Arnita, itu artinya di rumah tidak ada orang hanya perempuan bawel itu, yang ada di rumah saat ini.


Masih dengan diam Netta keluar dan merapikan pakaiannya dan rambutnya sebelum masuk ke rumah.


‘Eh abang sama si kakak datang,” asisten rumah tangga menyambut kami di depan pintu.


“Mami ada Bi?”


Tanyaku mendudukkan tubuhku di sofa.


“Ibu pergi sama Bapak tadi menjenguk orang sakit, bang.”


“Ini bi”


Netta memberikan oleh-oleh yang di bawa Netta.


“Kakak Netta sudah lama tidak mampir kesini, bagaimana Kak, sudah isi belum?


Tanya Bibi basa-basi.


“Belum bi, doakan biar cepat dapat iya,”


kata Netta.


Tiba-tiba dari tangga Arnita datang dengan sogongnya.


“Orang mandul mana bisa punya anak si Bi.”


Kata Arnita melonggos ke dapur, Netta masih diam.


Kataku menghentikan mulut Arnita, baru tiba sudah dapat Perlakukan penghinaan seperti itu.


“Benar,kan?


ia wanita yang mandul? abangnya yang bodoh, tetap mempertahankan wanita yang tidak berguna seperti itu, sudah mandul punya lelaki lain, tidak tahu malu,”


kata Arnita, ia merendahkan Netta.


“Jangan seperti itu Non Nita, non itu masih muda, nasehat si bibi menghentikan adik perempuanku.


Sepertinya otak mereka sudah dipengaruhi Mikha.


“Benar kok Bi, aku itu benar apa adanya, ia menikah dengan abang ku jadi kesialan buat keluarga ini,”


kata Arnita.


“Bisa diam gak Kamu!


Gak sopan kamu, sejak kapan kamu berani bicara lancang seperti ini? kamu itu masih kecil jangan biasakan bicara seperti itu.”


“Benar, Kan?


ia itu gadis kampung, abang menikahinya karena terpaksa, sebenarnya abang malu, coba abang tidak menikahinya abang sudah menikah dengan kak Mikha, gadis cantik, tidak kampungan seperti dia, sudah kampungan mandul pula, dasar tidak tahu malu.”


“Kamu lancang bangat sih,”


kata menghentikan penghinaan Arnita, aku menamparnya mengenai hidungnya, tidak di duga mungkin aku melakukannya terlalu keras, hidungnya mengeluarkan cairan warna merah mengotori wajahnya.


“Abang itu lelaki yang bodoh mau mempertahankan gadis kampung yang mandul seperti itu, harusnya abang meninggalkannya dan menikahi Mikha seperti yang di bilang Mami pada abang,”


kata Arnita lagi.


Ia menangis berteriak-teriak dan menelepon Mami, ia ngomong Netta dan aku memukulinya.


Tidak berapa lama Kak Eva datang dengan suami dan anaknya yang kecil, ia mau jalan mau pulang dari kerja, saat Mami menyuruhnya pulang karena Arnita menelepon.


“Ada apa ini, suaramu kedengaran sampai keluar Arnita kamu ngapain teriak-teriak,”


kata Eva menatap dengan tajam.


“Ini semua gara-gara gadis kampung ini, udah kampungan sok pintar, penipu lagi,”


kata Arnita,


Aku bisa melihat Netta menahan kemarahan beberapa kali, aku melihat ia mengepal tangannya.


Sebenarnya aku tidak mau main tangan sama perempuan, apa lagi sama adik sendiri, tapi dari pada Netta yang melakukannya lebih baik aku yang melakukannya.


“Kamu diam aku bilang masih saja menghina.”


“Aku tidak menghina abang, aku bilang untuk si gadis kampung itu,”


“Nitaa, mulutmu dijaga bodoh bangat sih kamu,”


kak Eva mendiamkannya.


“Aku tidak mau diam, aku ingin gadis kampung itu keluar dari rumah ini, dia itu penipu wanita mandul.”


Melihat Netta terus diam membuatku semakin terluka, ia tidak sedikitpun melawan Arnita, ia sebenar bisa menghajar dan memukulnya.


Tapi Netta tidak melakukannya karena ia berpikir kalau ia melakukannya yang ada masalah akan besar, ia tau Mami pasti akan membela Arnita, seperti biasa ia kan menahan perasaanya.


“Ah…kamu membuatku makin gila sih.”


kataku melempar vas bunga ke dinding dan dan menendang pot bunga besar di sudut ruangan, membuat semua jadi berantakan.


Aku emosi melihat kelancangan mulut Arnita saat ini,


ia dari dulu memang cerewet tapi tidak pernah menghina dan merendahkan siapapun.


Tapi kali ini sejak ia bergaul dengan Mikha dan sejak menjadi seorang model, ia makin sombong dan merasa paling di atas.


Arnita sudah salah bergaul dan salah memilih teman.


Bersambung...