
Ulang Tahun Papi
Hari itu ulang tahun papi, seperti biasa kita akan mengumpul di rumah mami. Saat kami tiba papi sedang keluar, bertemu rekannya di luar, kami tahu papi tidak akan ingat ulang tahunnya sendiri, tetapi ia tidak pernah lupa tanggal kelahiran kami bertiga.
Saat kami tiba sore itu, Arnita dan Juna juga sudah ada di rumah.
“Ayo kita beri kejutan sama papi mumpung di belum pulang kita matikan lampu, lalu kita beri kejutan ,” ujar mami.
“Itu sudah biasa, aku butuh kejutan yang penuh drama untuk papi,” ujar Kak Eva.
“Iya, aku juga, sudah lama kita tidak melakukan itu,” ujar Arnita .
“Kakak mau drama sampai papi menangis gak”
Mereka semua diam menatapku.
“Jangan yang tragis Bang, takut anang boru shock, aku tidak setuju,” ujar Netta.
“Apa ito?”
“Tenang tidak tragis, tapi aku jamin papi akan menangis”
“Apa?’ Suara mereka serempak.
“Kakak bilang mau pindah ke luar kota sama anak-anak, bukan hanya kakak, mama Deon juga bilang pindah”
“Ya benar.” Arnita setuju
Karena papi itu, tidak bisa jauh dari cucu-cucunya, baginya cucunya segalanya, apalagi sejak cucu perempuannya lahir. Kalau papi pergi keluar selalu pulang bawa sesuatu untuk cucunya. Arkan anak pertama kakak Eva lebih dekat sama papi dari pada bapaknya dan mamanya begitu juga dengan Deon anak Arnita.
Ayah dan ibu Juna sampai protes karena Deon selalu minta diantar ke rumah papi, maunya tinggal dan tidur sama papi, tetapi kalau mami biasa saja, sayang sih hanya tidak seperti papi yang kelewat sayang.
Jadi kalau kakak bilang pindah dari rumah aku yakin papi itu akan sangat sedih.
“Iya, papi kan sayang bangat sama ketiga cucunya, kalau mereka bertiga pindah ke luar kota apa gak nangis bombai papi,” ujar kak Eva bersemangat.
“Aku gak ikut ah, nanti kalau sudah selesai aku pulang.” Lae Arkan pergi.
“Ya, Bapak pergi saja suka gagal kalau papa di sini,” ujar Kakak Eva.
“Aku juga tidak ikutan, gak tega lihat bapak sedih,” ujar Juna bagi merela papi itu mertua yang sangat baik.
Saat kami menyusun rencana ternyata mami juga ikut-ikutan, tidak lama kemudian terdengar mobil papi datang, untungnya Arkan sama Deon sedang tidur kalau mereka bangun pasti akan gagal kejutan untuk papi.
*
Drama pun di mulai
Tiga koper besar berjejer di lantai bawah dan beberapa tas kecil, sementara kakak Eva pura-pura sibuk menelepon dan Arnita juga pura-pura bertanya sama temannya yang mengurus paspor mereka. Mami duduk di dekat televisi dengan wajah marah.
Saat papi masuk, ia bingung melihat koper besar tersebut, tiba-tiba mami ber-akting , kit pura-pura tidak tahu kalau papi itu datang.
“Harusnya kamu ngomong dari jauh-jauh hari, kalau kamu mau pindah ke luar kota Mama Arkan!”
“Aku juga baru dikabarin baru siang tadi Mi”
“Siapa yang mau pindah?” Tanya papi wajahnya terlihat sangat cemas.
“Si Eva sama Arnita”
“Jadi sudah selesai semuanya pasporku kan?’ Tanya Arnita
Mendengar kedua putri kesayangannya akan pergi, papi mulai gelisah ia duduk dan mengusap-usap kepalan tangannya.
“Kenapa mendadak Nang. Duduk lah sebentar di sini,mari kita bicara baik-baik dulu”
“Sebentar Pi, aku lagi bertanya berapa biaya tiket kami bertiga ke papua, karena helamu sudah terbang tadi, kataya”
“Aku juga pi, ibu mertuaku meminta kami pindah ke Belanda”
Mendengar kak Eva mau pergi ia pergi ke kamar bayi mengangkat baby Jenny menggendongnya dengan sedih menciumi pipi bayi gembil itu dengan penuh sayang.
Tidak ingin terjadi hal buruk pada papi kami menyudahi permainan.
Tiba-tiba kami datang membawa kue ulang tahun.
Saat lampu dinyalakan, benar saja mata papi sembab.
Ia menatap dengan bingung saat kami semu datang dengan membawa kue ulang tahun.
“Ada apa ini?”
“Selamat ulang tahun papi!” ucap kami serentak.
Papi masih mengendong cucu perempuannya.
“Pi, mereka tidak pindah hanya ngerjain papi , biar nangis,” ujar mami.
“Benar kalian tidak pergi?’
“Ga Pi ini ide abang bapa Paima ini,” ujar Arnita sembari tertawa, menyalahkan ku saat papi mengusap ujung matanya.
Setelah puas memberi kejutan manis untuk papi kami semua duduk di bawah . Tidak lama kemudian Juna dan Lae Arkan datang.
“Bagaimana sudah selesai pekerjaan kalian itu?”
“Sudah. Kami sukses bikin papi menangis bombai,” balas kakak Eva.
“Amang tahe, tega kalian bikin amang itu menangis,” ujar Lae Arkan, lelaki Batak yang satu ini hela terbaik menurutku, ia tidak banyak bicara dan tidak neko-neko dan selalu rendah diri.
“Selamat Ulang Tahun ya Amang.” Juna memberikan jam tangan mewah sebagai kado untuk sang mertua.
“Netta juga tidak mau ketinggalan.” Selamat ulang tahun amang boru, ini untuk amang boru.” Netta menyodorkan Bag hitam.
“Apa ini?”
“Buka Pi.” Mami ikut penasaran.
“Amang boru kan sering pegal di leher dan telapak sering kebas darah di tubuh amang boru tidak lancar.” Netta membuka dan memakaikannya di leher papi.
“Wah hangat ada aroma terapinya juga.” Baru di pakai sebentar saja papi sudah merasa enak di bagian leher.
“Wah beruntung aku punya menantu dokter,” ujar papi seketika wajahnya yang sedih tadi berubah suka cita.
Berkumpul di rumah papi hal yang sangat menyenangkan untuk mereka berdua, karena bisa melihat anak-anaknya bercanda bersama apa lagi kedua hela mereka baik, walau Juna anak orang kaya dan nakal di masa lalu, tetapi saat ini ia sudah sangat berubah, ia mandiri, bahkan belakangan ini karena mamanya sering mengatur-atur hidup Arnita dan putranya, Juna minta pisah rumah dari orang tuanya, padahal ia anak satu-satunya. Ia berubah karena Cinta.
Orang bilang, orang tua akan jauh lebih sayang pada cucunya dari pada anaknya, itu benar sekali, aku bisa lihat itu dari sosok papi. Jika papi ada kerjaan di luar kita tiga dalam satu haru ia akan vedeo call dengan cucunya, dan selalu membeli oleh-oleh untuk mereka bertiga tetapi tidak untuk istrinya.
“Papi sedih ya kalau kami pergi dari sini?” Tanya kak Eva.
“Sedih bangat, tidak terbayang rumah sebesar ini yang tinggal hanya aku sama mami. Papi bisa kesepian sepanjang hari”
“Pi, lebih sayang mana cucu apa anak? “ Tanya Arnita.
“Cucu,” jawab papi.
“Papi berharap tahun depan, cucu papi bertambah dua lagi,” ucap papi
“Tapi papi tidak akan memaksa dan jangan jadi beban untuk kalian, kita hanya bisa berdoa dan berusaha hanya Tuhan yang tau,” ujar papi.
“Amin doakan saja Pi,” ucapku santai. Aku dan Netta tidak ingin terlalu menjadikan hal itu jadi beban, tetapi kami tetap berusaha.
Banyak keluarga bilang aku dan Netta tidak mau jadi beban pikiran untuk punya anak.
Benar juga rumah papi akan sangat sunyi kalau tidak ada kakak Eva dan anak-anaknya, maka itu mereka tinggal papi, bukan karena tidak ada rumahnya seperti yang digosipkan orang-orang, tetapi karena papi sendiri yang melarang mereka pindah karena cucunya.
Bersambung …