
Aku meninggalkan Netta,
aku pergi dari rumah, hidupku benar-benar hancur,
aku meninggalkan Perusahaan jadi pengangguran.
Aku tidak bisa punya anak, tapi seorang wanita gila mengaku punya anak dariku, ini sangat aneh kataku, mulai mabuk dan mengoceh dan meranjau sendiri, kini hidupku berakhir di Bar, tempatku biasa kalau sudah mengalami hal sulit, yang tidak punya jalan keluar lagi.
Hidupku benar-benar rusak, aku berpikir tidak bisa selamat lagi, aku menghabiskan hari-hari dengan mabuk, hidupku sudah tidak punya tujuan lagi, kalau saja Mami tidak selalu mendesak kami untuk cepat-cepat punya anak, aku tidak akan seperti ini aku tidak akan berakhir seperti ini.
Aku sudah berhari-hari menghabiskan waktu di luar, mabuk-mabuk kan, aku tidak dapat menerima kalau aku laki-laki yang tidak berguna, aku malu pada Netta dan diri sendiri, karena terus terang saja, selama ini aku berpikir kalau Nettalah yang memiliki masalah , ternyata aku mengalami masalah, apa yang dikatakan Netta benar adanya, aku meminum pil pengaman sudah sejak lama, saat masih kuliah dulu, aku tidak mau Mikha hamil waktu itu, karena sebelumnya sudah pernah kebobolan, ia hamil saat kami kuliah, saat itu masih hitungan bulan jadi masih bisa kami gugurkan dengan racikan obat dari teman, mulai saat itu juga, aku sendiri yang meminumnya karena Mikha tidak mau mengunakan safety, dan tidak mau juga minum pil KB, karena alasannya takut gemuk, jadi aku memutuskan, aku yang melakukanya aku pikir tidak apa-apa.
Jadi saat kami bersama selama bertahun tahun, aku mengkonsumsinya.
Aku merasa seperti mendapat karma atas perbuatan ku di masa lalu.
Saat aku kembali ke rumah Netta sudah menunggu di ruang tamu, aku sudah mabuk biasanya suka mengoceh tidak karuan dan kadang kata teman, suka bikin ulah, tapi aku tidak sadar atas apa yang aku lakukan.
Baik saat ini, saat Netta melihatku dengan cemas aku menghampirinya .
“Aduh istriku sedang menunggu disini, apa yang kau tunggu sayang,”
kataku tapi saat itu masih setengah sadar dengan langkah sempoyongan.
Netta memapahku ketempat tidur, aku masih sedikit sadar saat ia mengganti pakaianku, yang sudah sangat berbau, karena memakainya berhari- hari.
Dengan sabar ia mengganti pakaianku, melap badanku dengan handuk basah.
Kalau biasanya, aku kalau sudah mabuk akan selalu berulah, yang sering sekali aku sesali kalau sudah sadar, tapi kali ini, aku tidak melakukan apa-apa seakan roh dalam ragaku tahu diri.
Suara alarm jam di nakas, di samping tempat tidur membuatku terbangun, jam 5:30 kebiasaan ku setiap pagi bangun pagi.
Aku masih dalam posisi duduk, saat menyadari kalau aku tidak bekerja lagi,
sudah pengangguran aku menenggelamkan diriku di bawa bantal lanjut tidur.
Ini sudah hari keempat aku jadi pengangguran, badan yang biasanya bekerja, tiba-tiba tidak bekerja membuatku seperti orang gila, terlalu banyak beban pikiran yang menimpaku, membuat otakku tumpul tak mampu berpikir.
Aku bangun, karena ada suara krasak-krusuk, saat aku menoleh asal suara, Netta memecahkan tabungan berbentuk ayam miliknya, untuk keperluan kuliahnya mungkin, sejak aku tidak bekerja lagi di perusaan keluarga, bibi yang biasa yang membantu kami di rumah di berhentikan juga sama Netta, tidak tahu kapan tepatnya, aku bukan tidak punya tabungan, saat aku menjabat sebagai Direktur, aku sudah menyisihkan tabungan tersendiri, niatnya ingin membangun usaha milik sendiri, ingin lepas dari bayang-bayang Mami.
Aku masih bisa membiayai kuliah Netta, walau aku tidak menjabat seorang Dirut lagi.
Jadi untuk biaya kuliahnya Netta tidak perlu takut, uang bukanlah jadi masalahku saat ini,
“Abang sudah bangun, sini serapan abang, mau kopi apa susu bang?”
“Tidak usah, ini aku masih bisa membiayai kebutuhanmu walau aku tidak kerja lagi,”
kataku memberikan kartu atm padanya.
“Tidak usah Bang, aku tidak minta kok,”
kata Netta menolaknya.
“Iya kamu tidak meminta , dengan kamu membongkar celengan ayammu itu membuatku harus memberikannya padamu,” menuangkan segelas air putih ke gelas dan meneguknya sampai habis.
“Mari kita bicara baik-baik bang,”
kamu mau menertawakan ku kalau aku lelaki yang tidak berguna?
“Bukan aku ingin bilang, ayo kita hadapi bersama, saling mempercayai satu sama lain dan kita akan sembuhkan,”
kata Netta.
Berhadapan dengan Netta seperti ini membuatku kehilangan keberanian untuk bicara, saat Netta mengetahui rahasiaku aku malu dan kehilangan muka.
“Kamu mau bilang apa Ta?
Kamu mau bilang aku tidak bisa punya anak dan kamu bilang aku lelaki yang mandul yang tidak bisa memberikan keturunan, begitu,kan”
aku mulai kehilangan harga diri.
“Abang jangan seperti itu, semua masalah akan ringan kalau kita selesaikan dan kita hadapi bersama masalahnya,”
kata Netta menatapku dengan lembut.
“Harusnya kamu bicara dulu padaku Ta,saat kamu ingin melakukan pemeriksaan itu, bukan langsung mencuri sesuatu dariku”
“Abang… aku tidak mencurinya, aku menemukanya dari tempat sampah, itu aku lakukan untuk kebaikan kita, Bou ingin kita mempunyai anak, desakan itulah memaksaku untuk melakukannya bang, tolong mengertilah,”
kata Netta memohon.
“Netta aku ini lelaki, aku hanya ingin dihargai sebagai suami.” Kataku obrolan kami makin panas dan sudah bercampur emosi,
“Sudahlah, aku tidak ingin membahasnya lagi, aku hanya ingin terbaik untuk kita.”
Kata netta
“Ini bukan yang terbaik Netta, ini malah kamu mempersulit, saat semua orang mengira kamu tidak bisa melahirkan anak kamu diam saja, tidak membela diri, itu biar apa coba?,”
“Bang, aku pikir itu tidak ada artinya, aku ingin kita berdua berusaha mengobati dan menyelesaikan, karena aku berpikir, masalah abang masalah aku juga,maka saat tuduhan itu di tujukan padaku, aku ingin kita berusaha, ayo kita selesaikan dengan kepala dingin, mari kita kerja sama bang”
“Terus, kamu ingin kamu aku melakukan apa ibu Dokter? Kamu belum Dokter sudah sok tahu ini dan itu, kamu jadi Dokter baru kamu bicara ini dan itu padaku Netta,
mulai hari ini jangan bahas hal itu lagi padaku,”
kataku dengan marah.
“Aku tidak sakit, aku tidak punya masalah apapun, jadi jangan sok tahu.”
“Jangan seperti itu bang aku memberitahukan ini, agar rumah tangga kita tetap utuh, kemarin saat dari rumah bou aku sempat ingin menyerah, tapi aku ingin kita bersama dan hadapi bersama, jangan biarkan orang lain menghancurkan rumah tangga kita.”
“Terus kamu ingin aku melakukan APA NETTA??,” aku melemparkan gelas di tanganku hingga pecah mata Netta kaget.
“Baiklah, terserah abang saja, setidaknya aku sudah memberikan pandanganku, aku berangkat ke Kampus.”
Aku masih diam dan membatu, Netta sudah berangkat kuliah, aku masih mempertahankan egoku, aku tidak mau dan tidak terima saat Netta menuduhku.
Saat Netta pergi aku juga pergi ke Dokter dan memeriksaku.
Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya hasilnya keluar apa yang dikatakan Netta benar adanya, Apa yang harus aku lakukan?