Pariban Jadi Rokkap

Pariban Jadi Rokkap
Netta Butuh Liburan


Setelah pulang dari rumah sakit, aku dan Netta juga pulang, aku sengaja satu mobil hanya berdua dengannya, sepanjang  jalan Netta hanya diam, ia tidak mengatakan apa-apa.


“Dek … kita makan dulu ya,” bujuk ku karena wajahnya sangat pucat.


“Aku tidak lapar Bang, boleh aku tidur saja?”


“Tidak Dek, kita  makan dulu, aku lapar bangat  dari tadi malam, aku tidak makan, karena memikirkan kamu. Kamu tidak mengangkat hape kamu”


“Tadi malam aku di ruang operasi menggantikan almarhum ,” ujar Netta.


“Biar  pikiran jernih, perut juga harus kenyang”


“Baiklah, aku temenin abang makan saja”


Kepergian sahabatnya secara tragis meninggalkan luka yang dalam di hati istriku, aku tahu itu sangat berat untuknya, karena itulah aku  memberikan pundak ini untuk tempat ia menyadarkan kepalanya.


Setelah makan makan malam aku membawa Netta ke rumah mami.


“Kamu tidur saja, kamu pasti sangat lelah”


“Ya Bang.” Netta tidur di kamar.


Mami menganggap perhatianku sama Netta terlalu berlebihan dan memanjakan Netta, tetapi hanya aku yang tahu betapa dalam hubungan mereka selama ini, hanya aku yang tahu  disaat aku tidak ada  disisi Netta saat itu. Aldo datang bagai lilin kecil di dalam kegelapan untuk Netta saat ia sendirian, tetapi tidak sekalipun ia tidak ingin mengambil kesempatan dalam permasalahan rumah tangga kami dulu.


Aldo  hanya memposisikan dirinya sebagai sahabat, bukan sebagai kekasih.


Netta dulu pernah menceritakan saat Netta dipukuli mami dan Arnita di masa lalu, orang pertama yang ditemui , bukanlah keluarga melainkan Sabahat nya Aldo. Beberapa hari berada di rumah kakak perempuannya , setelah pulih barulah  Netta  ke rumah tulang ke Bekasi.


“Bang …”


“Ya”


“Terimakasih ya,”ujar  Netta saat kami duduk pagi itu.


“Karena abang mengerti apa yang aku rasakan, terimakasih karena abang  hadir sebagai sabahat di hidupku”


“Apa kamu sudah merasa tenang”


“Ya,” jawab Netta.


Tiba-tiba  badannya sangat panas, aku memberinya obat penurun panas,  saat Netta tidur di kamar,  Kak Eva memintaku membawa untuk liburan untuk menghilangkan perasaan sedih itu yang ia alami.


Kami duduk berunding di bawah.


“Ito … bawalah dia liburan, pasti dia masih sangat shock,” ujar kakak Eva untung ia wanita yang berpikiran moderen. Tetapi  mami punya pemikiran yang berbeda, masih berpikir kuno.


“Ah … idia adong pala sosongoni, holan dongan na do pala  stres, sedangkan calon nai hurasa dang pola songgoni”


(Ah, mana seperti itu, di hanya temannya kenapa dia stres, sedangkan  calon istrinya tidak seperti itu, ) ujar Mami.


“Mami kampungan bangat, inilah kenapa wanita dan para ibu rumah tangga itu rawan depresi, satu karena mertuanya seperti mami dan suaminya tidak pengertian,” ujar Kakak Eva kesal.


“Kok jadi mami yang kena.” Wajah mami  langsung mengeras bagai adukan semen yang dianggurkan dua hari dua malam.


“Tau ini Mami.” Arnita ikut membela, sementara papi dan kedua laeku hanya jadi team pendengar saja.


“Ya, karena mami gak  mencoba memahami perasaan eda Netta”


“Mami tahu, aku juga pernah kehilangan teman tetapi biasa saja”


“Teman banyak mami tetapi  belum tentu jadi sahabat kita, banyak yang mengaku teman pada kita, tetapi kita dibutuhkan di saat senang, pada susah kita ditinggalkan dan dijauhi itulah teman mami. Tetapi sahabat sejati akan selalu ada saat kamu butuhkan, saat kamu susah”


“Lalu apa mama Arkan punya sahabat?” tanya Lae Arkan tiba-tiba.


“Gak, aku tidak punya, hanya banyak teman saja”


“Iyalah  kamu pun galak kayak harimau,” cletuk mami.


“Memang mami punya? Kayak, punya sahabat saja mami ini” ujar Kak Eva sewot, mereka berdua terkadang selalu berselisih pendapat.


“Punya”


“Tante Ros,” jawab mami dengan polos.


Kami semua tertawa, memang benar, hanya tante Ros belakangan ini teman mami curhat bahkan beberapa kali  mami ke Bandung berkunjung ke rumah adik bungsunya.


“Papi yang jadi sahabat mami, kalian jangan ketawa,” ujar papi membela istrinya.


“Aku juga Pak Arkan yang jadi sahabatku.” Kak Eva ikut-ikutan tetapi hanya di tanggapi senyuman kecil dari lae Arkan.


“ Mi, jangan khawatir almarhum hanya  sahabat Netta, aku tahu apa yang pikirkan mami, kakaknya semua baik sama Netta, dr. Dilla kakak perempuannya, dia seniornya, kami sudah beberapa kali ke rumahnya,” ucapku


“Lalu apa di Aldo seperti itu?” Tanya mami malam itu sebelum kami berangkat ke Bali.


“Ya, aku bukan mengungkit masa lalu, saat mami memukuli dia, saat dulu, dia ke rumah  kakaknya Nando. Mereka merawatnya di sana sebelum dijemput tulang Gres”


Mengungkit  kejahatan mami di masa lalu mami langsung terdiam, ia tidak berani lagi bicara apa-apa.


“Baiklah, kalau itu memang terbaik untuk ketenangan istrimu ya sudah  bawalah,” ujar mami


*


Setelah mengurus pekerjaanku di kantor dan menyerahkan pekerjaan sementara  pada Frans sebagai wakil direktur untuk sementara, waktu dan papi juga akan membantuku memantau.


"Pergilah, ajak Netta liburan jangan dengarkan omongan mami,  kantor dan si milon biar aku yang mengurusnya.


"Baik Pi"


Setelah mendapat dukungan dari papi dan kakak Eva, aku semakin bersemangat.


Hal yang pertama yang ingin aku dapatkan Villa di Bali, karena  liburan kami belum tahu berapa lama.. Jadi menyewa kamar lebih tepat


kami memutuskan liburan ke Bali menyewa Sebuah Villa dari teman di tepi pantai di Bali


Akhirnya mendapat dari teman.


Aku dan Netta duduk di balkon Villa menikmati matahari terbenam, ia duduk di depanku dan menyandarkan kepala di dadaku, butuh beberapa waktu bagiku untuk  bisa mengembalikan seperti Netta yang dulu.


Saat ini duduk dengan Netta menikmati keindahan alam ciptaan Tuhan, menikmati sunset.


“Ingin makan apa Dek malam ini? kita jalan-jalan keliling Bali  malam ini”


“ Aku tidak begitu tau tentang Bali Bang, aku ikut saja”


“Baiklah, kamu mandi aku akan membawaku jalan-jalan”


“Baiklah,” jawab Netta dengan anggukan kecil.


Walau bibirnya tersenyum tetapi tatapan matanya berkata lain, tetapi aku yakin semua itu akan berlalu, dan aku akan tetap di sampingmu  mendampingi mu untuk melewati proses  penyembuhan luka  di hatimu. Hingga suatu nanti,  senyum di wajah istriku kembali  menghiasi wajah cantiknya.


Bersambung …


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH


MUDAH MUDAHAN KAKAK SUKA DAN TERHIBUR DENGAN KARYA SAYA


Baca juga  karyaku yang lain


-Aresya(TERBARU)


-The Cured King(TERBARU)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (Tamat)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


Bintang kecil untuk Faila (tamat)