
Kalau Papi berani melangkah sekali keluar dari pintu, selamanya tidak akan pernah harap aku memaafkanmu dan menerima lagi di rumah ini,”
kata Mami.
“Terserah!,”
ucap lelaki paru baya itu beliau keluar.
Disusul aku juga yang berdiri menarik tangan Netta.
Tidak tahu mau sampai kapan situasi tidak mengenakkan ini terus terjadi.
Mami semakin tua bukannya semakin dewasa. Tapi malah tambah mata duitan.
Bagaimana hubungan kami selanjutnya dengan Netta kalau seperti, ini?
Mami mendesak untuk segera punya anak, kami sudah berusaha tapi kalau Tuhan belum memberi momongan untuk keluarga kami, memang kami bisa apa?
Andai bisa dibuat dari adonan tepung, kami sudah mencetaknya sama Netta dari dulu supaya Mami berhenti menuntut itu terus.
“Kami pulang Mi,”
kataku pamit.
“Jangan kembali lagi ke rumah dengan wanita itu, kamu harus pilih Mami atau Netta,”
kata Mami.
Rasanya aneh mendengar hal itu datang dari Mami.
Karena ia dulu yang menjodohkan aku dan Netta, tapi sekarang ia ingin kami berpisah karena Netta belum bisa memberi anak, apa sebuah pernikahan yang sakral bisa di permainkan seperti itu?
Iya Tuhan!
ini membuat kepalaku sakit, kami sudah berusaha hanya belum waktunya kataku memijat keningku yang berdenyut makin hebat.
“Terserah Mamilah,”
kataku, malas rasanya berdebat, aku menarik tangan Netta membawanya menjauh dari rumah Mami.
Membawanya kedalam mobil, kami meninggalkan rumah Mami malam semakin larut, aku baru sadar aku lapar, karena perdebatan panas itu waktu makan terlewatkan.
Aku menghentikan mobilku di taman tidak jauh dari rumah Mami, tidak sanggup rasanya menyetir dengan pikiran kalut seperti saat ini.
Keluar dari mobil menyalakan satu batang, asap tembakau menyembul di udara, asap itu keluar dari hidung dan mulutku, cara itu bisa menghilangkan kepenatan sejenak di kepalaku, aku merasakan ada gemuruh dalam dadaku yang rasanya ingin meledak atas tuntutan Mami yang tidak bisa kami penuhi.
Aku melirik Netta yang berdiam diri menyandarkan kepalanya di jok mobil dan menutup matanya.
Aku tidak tahu apa yang di pikirkan Netta saat ini, melihat wajahnya ada beban berat yang dipikul.
Masalah yang kami hadapi kali ini aku berpikir kalau ini di luar kemampuan kami dengan Netta, aku sendiri tidak bisa berkata-kata lagi.
Habis satu batang membuatku sedikit tenang, masuk lagi kedalam mobil.
“Kamu tidak lapar?
Aku lapar, ayo kita makan.” Terpaksa aku membuka mulut memulai obrolan.
“Tidak,”
sahut Netta menggelengkan kepalanya, aku tahu ia belum makan, wajahnya terlihat sangat lelah dan pipi di bagian kanan terlihat memerah sepertinya terkena kuku tangan Mami.
Maaf boru ni Raja, karena kami melukai perasaanmu, aku berucap dalam hati.
“Tapi aku lapar Ta, aku ingin makan, kalau begitu temenin aku makan saja,”
kataku menghidupkan mesin mobil.
Netta masih diam tidak menyahut, mesin Mobil mulai menderu perlahan meninggalkan taman kecil di pinggir jalan.
Akhirnya kata yang paling aku takutkan keluar juga dari bibir Netta, tanganku terasa gemetaran memegang kemudi mobil, begitu jantungku yang berdetup semakin keras, aku berharap aku salah mendengar.
“Aku tidak tahan lagi,”
kata Netta menatapku.
Aku menghiraukannya, menganggap kata-kata itu tidak pernah aku dengar, aku melajukan kendaraan semakin cepat untuk pelarian pikiranku, kebetulan jalanan tidak macet, aku tidak menjawabnya, itu kata-kata yang paling aku takutkan datang dari Netta.
Kata-kata yang paling tidak aku sukai di tengah runtutan keluargaku.
Niat mau makan tidak aku hiraukan lagi, aku melajukan mobil dengan kecepatan tinggi, aku ingin menutup mataku agar kami lenyap berdua saat itu.
Tapi tidak aku lakukan, melihat Netta ketakutan membuatku mengurungkan niat itu, aku kembali menormalkan kecepatannya.
Aku masih mengunci mulutku tidak ingin mengucapkan apapun.
Hingga tiba di rumah, memarkirkan mobil dan aku masuk kedalam kamar, hal yang pertama aku lakukan tidur membawa semua kepenatan ini alam tidurku, berharap saat bangun bisa semua menghilang dari pikiran.
Jarum jam sudah bertengger di angka jam 00:10 sudah terlarut malam sebenarnya untuk makan malam.
Tapi rasa lapar ku dikalahkan rasa yang sakit di bagian hatiku.
Netta masuk ke kamar mandi, membersihkan diri dan berganti baju, aku pikir ia akan tidur, tapi Netta duduk sendirian di ruang tamu, matanya menatap kosong, kami berdua begitu menderita.
Karena lapar aku terbangun juga, Netta masih duduk melamun, aku memasak ala kadarnya untuk mengganjal perut, padahal jam sudah menunjukkan jam 1 pagi.
Netta belum tidur tidak biasanya ia seperti itu, beban itu sepertinya begitu berat ia pikul sendiri.
“Apa kamu mau makan, aku memasaknya dua porsi,”
kataku memberanikan diri duduk disampingnya.
“Tidak, aku tidak lapar, abang saja,” kata Netta, ia memilih tidur meninggalkanku.
Hubungan kami benar-benar di ujung tanduk sejak malam itu, Netta kembali pada awal aku mengenalnya, bahkan lebih buruk, ia jarang bicara denganku, ia juga mengabaikan tugasnya sebagai istri, ia tidak pernah lagi memperlihatkan senyumannya.
Ia sudah mengabaikan ku dan tidak pernah serapan bersama, ia selalu berangkat duluan, berangkat pagi dan pulang malam.
Setiap kali aku tanyakan ia bilang ia bekerja lagi di Restoran yang ia dulu sempat ia tinggalkan.
Netta benar-benar mengujiku, ia ingin aku menyerah dan meninggalkannya.
Aku tidak tahan diperlakukan Netta seperti ini.
Aku sudah resmi meninggalkan Perusahaan beberapa hari yang lalu.
Aku mengembalikannya pada Papi biar beliau yang mengurusnya kembali, walau Papi memohon supaya jangan melakukannya, tapi aku sudah terlanjur setuju meninggalkan perusahaan,l.
Padahal banyak proyek yang harga Miliaran yang sedang berjalan, tapi karena Mami kau terpaksa meniggalkan Perusahaan.
Karena seorang lelaki tidak boleh plin-plan pada keputusannya.
Saat aku dan Netta di fase yang sangat sulit boleh di kehancuran, aku merasa kapal yang kami tumpangi mulai di terpa badai, dari mulai ombak kecil hingga ombak yang besar, Kini bahkan kapal itu bagai diterpa badai besar.
Aku tidak tahu apakah kami berdua akan tahan menghadapi semua ini, saat orang yang harusnya kami harapkan jadi pegangan kami, justru ingin kami hancur.
Mami memaksaku meninggalkan Netta itu adalah permintaan yang tidak mungkin aku penuhi karena aku sudah sangat mencintai Netta.
Aku sangat berharap Mami berubah bisa menerima dia sebagai menantu.
Untuk urusan keturunan itu adalah kehendak Tuhan, mudah mudahan di segerakan apa yang aku minta.
Tidak cukup sampai disitu tiba-tiba Mikha datang lagi membawa bencana besar.
Bersambung....
Mohon bantu Like ya kakak kakak,biar semangat bisa update banyak Bab,minta bantu share ya terima kasih kakak